by admin | Nov 3, 2010 | Berita
Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus ISI Denpasar senantiasa berjalan dengan harmonis. Kegiatan belajar-mengajar, ”workshop” dan seminar, pengabdian masyarakat, serta penelitian selalu mewarnai kampus seni ini. Di bidang penelitian, ISI Denpasar telah menelorkan sebuah hasil penelitian teks lontar Kidung Gambang Gita Gegrantangan yang ada di Desa Sidemen Karangasem dengan sembilan jenis Puh Kidung diantaranya Puh Ratricetana, Puh Jayendriya, Puh Pangalang Sumaguna, Puh Manjaya Saluaga, Puh Rangga Kikis, Puh Larangan, Puh Singanalang, Puh Ukir Padelegan, dan Puh Pamandana yang ditransformasikan ke dalam seni karawitan. Lontar ini menjadi obyek penelitian dalam mendukung industri kreatif yang merupakan hibah kompetitif penelitian sesuai priyoritas nasianal dengan tema seni dan sastra.
Penelitian yang diketuai oleh Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., dosen jurusan karawitan yang juga Rektor ISI Denpasar ini menggandeng ahli sastra dari Fakultas Sastra UNUD, Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. yang mentransliterasi lontar dari aksara Bali kedalam tulisan latin Bahasa Kawi dan menerjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum. dan I Gde Agus Jaya Sadguna, SST.,Par., M.Par. menerjemahkan kedalam Bahasa Inggris, serta I Gst Ayu Srinatih, S.ST.,M.Si. dan Drs. Rinto Widyarto, M.Si., dari Jurusan Tari. Hasil penelitian ini, kemarin Selasa (2/11) telah memasuki tahap perekaman proses transformasi dari Kidung Gambang Gita Gegrantangan kedalam Gambelan Gambang. Proses perekaman ini didukung oleh para seniman pengerawit ISI Denpasar yang handal dalam bidang Gambang diantaranya I Gede Yudartha, SSKar., M.Si., I.B. Nyoman Mas, SSKar.,M.Si., I Ketut Sudiana, SSKar., M.Si. dan mahasiswa serta alumni Jurusan Karawitan.
Prof. Rai mengatakan bahwa hasil penelitian ini akan menjadi sumber referensi dan inspirasi bagi seniman Bali dan dunia pendidikan. “Lontar Kidung Gambang Gita Gegrantangan yang ditranformasikan ke dalam seni karawitan, seni tari, pedalangan, serta seni lukis, yang sarat dengan makna filosofi, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang cukup potensial ini, akan dapat dijadikan media informasi, edukasi, ritualisasi, pembinaan watak dan hiburan,” harapnya.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Nov 3, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan
Kompetisi seni merupakan arena pacu yang telah melecut gairah bercumbu dengan nilai-nilai keindahan dan mereguk esensi kasih jagat seni. Seperti tampak sejak pagi hingga sore hari pada tanggal 24-25 Juli lalu itu di Bale Wantilan Puri Ubud. Ratusan remaja yang datang dari seantero Bali hadir sarat gairah unjuk kebolehan membawakan tari Baris, Legong, Margapati, Tarunajaya, Kebyar Duduk, dan tari Topeng Keras. Gelora menjadi yang terbaik memompa semangat mereka untuk menunjukkan totalitasnya menari. Namun demikian, dalam persaingan lomba seni tersebut, riak-riak damainya kasih seni mengemuka sangat kental. Rona kegirangan menyembur pada para peserta lomba.
Kreativitas dan inovasi seni tabuh dan tari secara bersaing dan bersanding telah menunjukkan fenomena menggembirakan terhadap pewarisan nilai-nilai estetik bangsa, misalnya tampak dalam peristiwa seni yang bersifat kompetitif. Di kalangan anak-anak Bali, seperti yang mencuat dalam Festival/Parade Gong Kebyar, menabuh atau menari dengan dorongan lomba menggedor motivasi mereka untuk berprestasi seni yang biasnya bukan hanya sebatas hasrat berprestasi dalam jagat seni semata namun bisa jadi pula dalam kehidupan yang lebih luas. Lewat kancah seni ini, anak-anak Bali yang sejak dini berasyik masyuk dengan nilai-nilai keindahan seni akan tumbuh menjadi generasi kontributif bagi masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan berbangsa.
Eksistensi kesenian Bali, seni pertunjukan khususnya, kiranya ikut disangga oleh penyelenggaraan kompetisi seni. Lomba-lomba tari Bali, gamelan Baleganjur, Gong Kebyar yang belakangan sering digelar memiliki kontribusi yang signifikan terhadap internalisasi nilai-nilai estetik bagi generasi muda. Melalui arena lomba ini, diantaranya, muncul generasi pewaris bangsa yang teruji dalam bidang seni pertunjukan. Globalisasi yang mencengkeram segala aspek kehidupan direspon dengan penuh respek oleh kalangan generasi seniman belia Bali terhadap nilai-nilai budaya lokalnya. Lomba adalah sebuah strategi menempatkan dan memberdayakan energi kesenian Bali dalam konteks kekinian.
Seni adalah nilai keindahan yang hidup dan berkembang seturut dengan peradaban kebudayaan manusia. Dipercaya, binar lahiriah keindahan seni menyemburkan kedamaian nurani dan aura terdalam dari jagat seni memiliki dimensi spiritual yang berkontribusi kuat pada moralitas subjek kemanusiaan. Idealnya, seni malahan dianggap mampu memanusiakan manusia. Untuk mengawal moralitas setiap individu–dengan keyakinan seni sebagai penyejuk moral—jagat kesenian sangat fungsional dijadikan sebagai media pendidikan moralitas bangsa. Kebhinekaan Indonesia yang memiliki puspa warna ekspresi seni, dengan demikian, sangat memungkinkan menjadi bangsa yang menjunjung moral dengan penuh takzim. Mungkinkah?
Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni
by admin | Nov 3, 2010 | Berita
SEMARANG- Perguruan tinggi (PT) baik negeri maupun swasta mengaku pesimistis untuk memenuhi target penyelesaian proses akreditasi pada 2012.
Pasalnya, selain karena menambah prodi baru di institusinya, pihaknya juga terkendala pengisian borang (lembaran pengecekan penilaian akreditasi dari BAN PT) sebagai syarat akreditasi.
’’Kalau proses akreditasi ditargetkan harus selesai 2012, jelas akan ada persoalan terutama pada pengisian borang yang dilakukan PT,’’ kata Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang Wijaya SH MHum, kemarin.
Pengisian borang memerlukan waktu lama, karena harus mengumpulkan data mahasiswa, kegiatan tri darma pendidikan, dan penelitian yang merupakan syarat proses akreditasi.
Wijaya menuturkan, perlu ada pengecualian bagi PT yang membuka prodi baru terutama pada 2010 dan 2011. Sebab, jangan sampai keinginan PT untuk berkembang dihambat sebuah aturan. Karena itu, dia mengharapkan aturan yang diadakan untuk memenuhi target tersebut diarahkan pada inovasi yang lebih baik.
Perkembangan prodi baru saat ini memang sangat dinamis di mana PT terus melihat peluang untuk meningkatkan daya tampung. Apalagi bagi mereka yang telah beralih status dari dinaungi Kemenkes menjadi Kemendiknas. Dengan demikian, perkembangan ilmu tidak dapat dibendung.
Untag dalam waktu dekat akan membuka dua prodi baru dan mengajukan proses akreditasinya pada tahun 2011, sehingga sangat sulit untuk menyelesaikan pada tahun 2012.
BAN PT Wijaya menjelaskan, kendala lain di luar PT bisa saja terjadi dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) sendiri. Apakah BAN mampu mengakreditasi semua prodi di Indonesia dan dapat melakukan visitasi untuk penilaian di tiap PT? Sementara yang sudah divisitasi belum ada hasilnya. Karena itu, BAN perlu mengeluarkan perpanjangan sementara dengan berkoordinasi dengan Dikti.
Kendala serupa juga dialami Rektor Unissula Prof Dr Laode M Kamaluddin. Pihaknya menyatakan kurang setuju dengan target penyelesaian proses akreditasi pada 2012. Hal ini dianggapnya amat cepat.
“Beri waktu perguruan tinggi untuk mengisi borang akreditasi dan mengaktifkan kegiatan tri dharma PT, terutama pada prodi-prodi baru untuk menggairahkan kegiatan akademis,” ujarnya.
Target dari Kemendiknas, jelas amat sulit diikuti. Kalau ini benar-benar diterapkan tanpa ada waktu perpanjangan, menjadi sebuah blunder bagi pemerintah. Itu artinya, pemerintah kurang merestui pengembangan seluruh perguruan tinggi, terutama yang berstatus swasta.
Ternyata tak hanya PT swasta yang kesulitan mematuhi aturan Kemendiknas. PT negeri juga mengeluhkan. Meski begitu, Rektor Undip Prof Dr dokter Susilo Wibowo menyatakan tidak mau pusing dengan aturan Kemendiknas.
“Kalau kami terpancang, pengembangan prodi yang benar-benar akademis tak akan bisa tercapai. Kami tetap menunggu hingga prodi-prodi baru meluluskan mahasiswa. Harusnya Pemerintah Pusat mengerti akan hal tersebut. Keterlambatan pengiriman borang ke pusat bukan dikarenakan kesalahan PT, melainkan kesalahan aturan dari pusat,” tutur dia seraya menguraikan beberapa prodi baru yang dibentuk Undip, yakni Geologi dan Teknik Sistem Komputer. (K3,hdq-37)
Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/02/128807/PT-Terkendala-Pengisian-Borang
by admin | Nov 2, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman I Wayan Mudra, Dosen PS Kriya Seni
Gerabah Pejaten adalah sebuah sebutan terhadap produk gerabah hasil perajin di Desa Pejaten, Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan Bali. Menurut cerita Pak Mangku Kuturan hanya keluarganya sendiri yang mengembangkan kerajinan gerabah ini sejak lama hingga sekarang. Sedangkan penduduk lain menekuni kerajinan genteng dan keramik halus seperti Pak Tantri. Dengan pertimbangan biaya yang relatif lebih murah, lebih midah mengerjakan, dan berbagai pertimbangan lain, beliau tetap konsisten menekuni kerajinan gerabah ini. Perajin ini tetap mengambangkan usaha kecil bersama istri dan anak walaupun di samping kiri dan kanan penduduk kebanyakan mengembangkan kerajinan genteng. Karena kecintaannya terhadap gerabah mereka selalu berusaha menemukan sesuatu yang baru. Akhirnya beliau menghasilkan sebuah produk patung gerabah yang telah menjadi image baik sebagai perajin, patung tersebut dikenal dengan nama patung Kuturan. Patung Kuturan telah menjadi model pengembangan gerabah dalam bentuk patung bagi perajin gerabah lain. Perajin-perajin lain mencoba membuat model yang sama namun kualitasnya tidak bisa dibuat sama. Patung ini berbentuk manusia memvisualkan aktifitas budaya Bali seperti bermain musik tradisional lengkap dengan peralatannya. Menurut cerita perajin ini, patung tersebut adalah hasil kreatifitas panjang, diawali dengan kebosanan mereka melihat produk gerabah berupa jun, kemudian benda tersebut dibalik dengan kepala kebawah. Kemudian di atasnya ditambah bulatan / setengah lingkaran yang dipungsikan sebagai kepala. Kepala kemudian disempurnakan dengan penambahan tangan, kaki, alat musik serta dengan perlengkapan pakaian. Penampilannya sederhana namun memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh patung gerabah hasil perajin lainnya di Bali. Wujud patung tersebut dapat dilihat pada halaman berikutnya.
Pak Kuturan adalah satu-satunya perajin gerabah di Desa Pejaten ini dan selalu berfikir mengikuti untuk maju namun tetap konsisten dalam bidang gerabah. Perajin ini telah mengembangkan teknik cetak dengan bahan gift untuk memproduksi barang yang sama dan lebih cepat. Sedangkan perajin gerabah lainnya di Bali belum menggunakan bahan tersebut. Desain-desain produk-produk Pak Kuturanpun modern, mereka tidak lagi mempokuskan membuat alat-alat untuk kepentingan upacara dan perlengkapan rumah tangga lainnya, namun memproduksi produk-produk yang dipesan pembeli dari luar negeri seperti Itali. Disamping itu melayani permintaan beberapa hotel di Bali. Perajin in telah mengembangkan areal usahanya untuk bisa melayani pesanan yang lebih banyak. Perajin ini selalu terbuka terhadap kritik dan menerima saran sesuai kemampuannya. Untuk kemajuan usahanya beliau selalu mengirm anaknya dalam setiap kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh departemen terkait. Mereka selalu belajar dan belajar untuk kemajuan usahanya. Dulu mereka bekerja sebagai usaha keluarga, namun saat ini mereka telah mampu mempekerjakan orang walaupun dalam jumlah yang sedikit. Secara ekonomi perajin ini telah mengalami kemajuan hidup lebih baik dibanding sebelumnya, contohnya mereka mampu membangun rumah Bali model saat ini. Pak Kuturan bekerja hanya mengawasi karyawan, yang dulu mereka lakukan sendiri. Pekerjaan sebagai perajin telah menjadi tulang punggung keluarganya sehingga mereka saling bau membau membangun dan mengembangkan usaha ini. Walaupun mempukuskan untuk melayani kebutuhan hotel dan tamu asing, mereka masih tetap mengerjakan produk-produk unuk konsumen lokal sesuai kebutuhan.
Gerabah Pejaten selengkapnya
by admin | Nov 2, 2010 | Berita
JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) tidak pernah melarang jika ada organisasi yang berniat untuk mendirikan sebuah badan akreditasi untuk perguruan tinggi, layaknya Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT). Hal ini dikatakannya, terkait dengan adanya desakan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) agar Kemdiknas mengizinkan adanya badan akreditasi lain selain BAN-PT.
Seruan itu sendiri muncul, karena BAN-PT yang ada saat ini dinilai tidak mampu menangani akredikasi program studi seluruh PT secara obyektif, transparan, terbuka dan komprehensif. Selain itu, Aptisi juga mendesak Kemdiknas agar mengevaluasi proses penilaian BAN-PT, sekaligus personalia atau anggota BAN-PT yang melakukan penilaian terhadap perguruan-perguruan tinggi swasta.
“Secara undang-undang, boleh saja mendirikan badan akreditasi selain BAN-PT. Tetapi, tetap harus memiliki izin dan pengakuan dari pemerintah (Kemdiknas),” ungkap Wamendiknas, ketika dihubungi JPNN, Senin (1/11).
Fasli — sapaan akrabnya – menerangkan, dalam proses pendirian suatu badan akreditasi, diperlukan waktu yang cukup lama sebelum pemerintah melakukan penilaian terhadap bakal badan akreditasi baru tersebut. “Dulu BAN-PT sebelum mendapatkan pengakuan dari pemerintah, harus melakukan persiapan selama lebih dari 6 (enam) tahun. Selain itu, pemerintah juga harus menilai track record kinerjanya, dan mengecek secara keseluruhan fungsi dan keberadaannya, karena hal itu yang akan menjadi bukti pemerintah dalam memberikan pengakuan terhadap badan akreditasi,” jelasnya.
Menurut Fasli pula, hingga saat ini belum ada suatu organisasi yang memiliki track record kinerja yang sesuai dengan segala ketentuan dan syarat yang ditetapkan oleh pemerintah, termasuk badan akreditasi asing. “Walaupun ada perguruan tinggi yang memperoleh akreditasi dari badan akreditasi asing, tetap tidak diakui oleh pemerintah,” tegasnya, sambil memastikan bahwa hingga saat ini hanya BAN-PT saja yang diakui oleh pemerintah.
Mantan Dirjen Dikti ini pun menyebut, bahwa dalam hal pembiayaan proses akreditasi terhadap PT dan program studi, semuanya ditanggung oleh pemerintah, mengingat BAN-PT mendapatkan dana dari pemerintah yang berasal dari APBN untuk melakukan akreditasi setiap tahunnya. “Pengajuan akreditasi gratis, dan tidak ada biaya yang dibebankan kepada klien (perguruan tinggi). Jadi, BAN-PT tidak diperkenankan untuk memungut atau menerima dana dari klien,” imbuhnya.
Sementara itu, terkait semakin bertambahnya jumlah perguruan tinggi di Indonesia, Fasli juga mengakui kalau kualitas assessor (penilai) masih rendah dibandingkan jumlah PT dan program studi yang harus dinilai. “Oleh karena itu, sudah banyak assessor yang dikeluarkan dari tim. Tetapi saat ini masih terus dilakukan peningkatan kualitas assessor, dengan cara pelatihan dan pengembangan kapasitas, (baik untuk) assessor lama dan baru,” tukasnya. (cha/jpnn)
Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/11/01/76035/Kemdiknas-Tidak-Larang-Dirikan-Badan-Akreditasi-