by admin | Nov 10, 2010 | Berita
Bukti kecintaan masyarakat Bali terhadap kampus ISI Denpasar tercermin pada kesempatan-kesempatan yang selalu diberikan untuk kampus seni ini dalam melaksanakan kegiatan ngayah di pura-pura yang ada di Bali. Di samping itu, masyarakat juga merasakan bahwa ISI Denpasar adalah milik masyarakat . Hal ini diungkapkan oleh Prajuru Adat Br. Lebah, Desa Sumerta dalam pertemuannya dengan Rektor ISI Denpasar pada hari Senin (8/11) dengan agenda mengundang Rektor dan jajarannya untuk menghadiri upacara pemlaspasan dan mendem pedagingan Banjar Lebah yang dilaksanakan pada hari Selasa (9/11).
Prajuru adat Br. Lebah mewakili seluruh komponen masyarakat Br. Lebah, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kampus ISI Denpasar, karena dengan diijinkannya Br. Lebah menggunakan lahan kampus ISI Denpasar sebagai fasilitas parkir dan penyewaan warung-warung pada ajang tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB), Banjar Lebah dapat menyelesaikan pembangunan fisik banjar, sampai upacara melaspas kemarin.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. didampingi jajarannya menghadiri upacara melaspas yang juga dihadiri oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Denpasar. Kegiatan kampus ISI Denpasar ini adalah merupakan implementasi dari Tri Hita Karana, yaitu harmoni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. Prof. Rai mengatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih kepada masyarakat Banjar Lebah dengan hubungan baik yang terjalin selama ini dengan seluruh komponen masyarakat serta dilibatkannya kampus ISI Denpasar dalam upacara tersebut untuk mengadakan persembahyangan serta memohon keselamatan bersama. Kegiatan lainnya, sebagai upaya menjaga harmoni hubungan dengan lingkungan, sebelumnya masyarakat turut serta dalam penanaman pohon di kampus ISI Denpasar. “Semoga dengan hubungan baik ini, bersama-sama memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kita semua diberi keselamatan, sehingga mampu melaksanakan setiap kegiatan dengan baik demi kemajuan ISI Denpasar,”harap Prof Rai.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Nov 9, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman: I Gde Made Indra Sadguna, mahasiswa pascasarjana ISI Surakarta
Sebagai seorang lulusan institusi seni seperti Institut Seni Indonesia Denpasar, penulis telah banyak mendapatkan pengetahuan mengenai kesenian Bali khususnya yang terkait dengan seni karawitan Bali. Pada institusi tersebut telah dikenalkan berbagai jenis barungan gamelan, persoalan teknis gamelan, serta pembelajaran mengenai istilah-istilah yang melekat pada gamelan Bali. Salah satu istilah yang sering kita dengar dipergunakan baik oleh para mahasiswa, alumni, serta dosen yang membidangi karawitan adalah ‘oktaf’. Di sini saya akan mencoba memberikan suatu argumentasi mengenai merubah paradgima ‘oktaf’ dalam gamelan Bali.
Dalam suatu pembicaraan sehari-hari di lingkungan kampus, acap kali terdengar suatu dialog seperti:
“A: seperti apakah bentuk pelarasan gamelan Gong Kebyar?
B: Gong Kebyar merupakan salah satu gamelan yang memiliki laras pelog lima nada dalam satu oktafnya.”
Apakah ada yang salah dalam percakapan tersebut? Tidak. Hanya saja ‘Keliru”. Kasus-kasus seperti di atas merupakan satu dari sekian banyak contoh yang terjadi di dalam dunia karawitan Bali dan istilah ‘oktaf’ telah menyebar hingga ke desa-desa. Lalu yang menjadi pertanyaan pertama adalah: kenapa istilah ‘oktaf’ tersebut menjadi keliru? Untuk menjelaskan hal tersebut, sebaiknya terlebih dahulu kita memahami betul apa yang dimaksud dengan ‘oktaf’ itu sendiri.
Dalam dunia musik Barat, oktaf memiliki arti octavo atau menunjuk pada nada ke delapan. Ada suatu pemahaman mendasar mengenai oktaf yang telah menjadi suatu konvensi dalam dunia musik barat di seluruh dunia, yakni istilah ‘oktaf’ itu sendiri telah memiliki ukuran yang tepat dan pasti dalam dunia musik Barat (absolute pitch). Tiap-tiap nada memiliki ukuran interval yang pasti dalam jenis instrumen apapun di dalam orkestrasi musik Barat.
Lalu kenapa istilah ‘oktaf’ tidak tepat dipergunakan dalam sistem pelarasan gamelan Bali, padahal ada kemiripan cara kerja dalam sebuah tuning system? Pertama, perlu dipahami bahwa dalam karawitan Bali tidak akan pernah mengenal absolute pitch. Tidak ada satu barungan gamelan di Bali yang benar-benar sama pelarasannya. Coba saja ukur pelarasan suatu gamelan Gong Kebyar A dengan Gong Kebyar B, tidak akan mungkin semuanya sama. Itu bukan dikatakan falsch seperti di dalam musik Barat, namun pemahaman mengenai estetika dari bunyi gamelan Bali dengan musik Barat itu berbeda. Jika sebelumnya sudah dikatakan bahwa musik Barat sudah mengenal suatu konvensi tersendiri dalam menentukan tuning system, namun bagi pelaras Bali perbedaan antar suatu barungan gamelan itulah yang dikatakan indah. Sebuah “harmony in diversity”. Meskipun dalam dunia pelarasan dikenal istilah petuding – sebuah contoh laras yang biasanya dibuat pada beberapa potongan bambu kering – namun jarang sekali ada yang benar-benar tepat dengan petuding tersebut. Ada pemesan gamelan yang minta dipercepat lagi sedikit ataupun diperlambat gelombang ombaknya. Sesungguhnya apa yang diinginkan oleh si pemesan gamelan? Identitas. Suatu sistem pelarasan tertentu akan menghasilkan ciri yang tertentu pula pada suatu barungan gamelan. Simak saja beberapa contoh gamelan Gong Kebyar, seperti saih Gladag, saih Peliatan, saih STSI, semuanya memiliki pelarasan yang berbeda. Umumnya suatu daerah akan bangga dengan memiliki sebuah sistem laras yang bisa dikenal di Bali.
Meng-angkep-kan Oktaf Dalam Gamelan Bali, selengkapnya
by admin | Nov 9, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman: Nyoman Lia Susanthi, Dosen PS Seni Pedalangan
Artikel ini diawali dengan kisah seorang mahasiswa pada akhir sementer tengah sibuk menyiapkan tesisnya. Mahasiswa ini bingung menentukan judul tesis agar kata-kata dalam judulnya keren dan ilmiah sehingga langsung disetujui dosen pembimbingnya. Setelah termenung beberapa hari, akhirnya dia menemukan judul yang keren dan spektakuler. Hari pertama bimbingan, mahasiswa mengajukan judul “Mengukur Kadar Kemiskinan Lewat Komunikasi”, sang dosen langsung mengutarakan bahwa judul itu tidak pantas untuk tesis, karena menurut sang dosen argumentasinya kurang kuat. Dengan lemas dan gontai akhirnya mahasiswa ini pulang. Setelah termenung beberapa hari lagi untuk menentukan judul, akhirnya dengan semangat dia kembali melakukan bimbingan. Dia kembali menyampaikan judul dengan kata-kata ilmiah yaitu “Mengontrol kemiskinan dengan komunikasi”. Sang dosen kembali menolak judul yang diajukan. Akhirnya dia putus asa, dan tidak berani melakukan bimbingan lagi.
Dari kisah diatas terungkap bahwa kesalahan terbesar seorang mahasiswa yang ingin menyelesaikan tesis atau skripsinya adalah berangkat dari judul. Sebelum menentukan judul penelitian, point pertama yang dilakukan peneliti adalah mengidentifikasi topik serta masalah atau kesenjangan, merumuskan masalahnya, dilanjutkan dengan menentukan tujuannya, kemudian barulah menentukan judul. Topik yang bagus akan melahirkan masalah yang baik pula dan tentunya memunculkan judul yang menarik. (Kriyantono, 2009: 51) Memilih topik penelitian bagaikan memilih seorang dalam pasangan hidup. Kita harus mencari topik yang cocok untuk kapasistas kita sendiri, serta sudah memiliki bayangan masa depan yang jelas setelah topik tersebut kita pilih.
Dalam sistem pendidikan di perguruan tinggi, tesis atau skipsi merupakan persyaratan utama bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar magister/ sarjana. Penulisan tesis/ skipsi merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebagai pertanggungjawaban hasil akhir masa studi. Tesis/ skipsi merupakan karya ilmiah yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau kaidah ilmiah. Penulisan tesis dihasilkan dengan cara melakukan penelitian atau dikenal juga dengan research. Secara etimologi research terdiri dari suku kata yaitu re yang artinya kembali, search artinya menemukan. Menurut Henry Mannaheim, riset dalam ilmu pengetahuan adalah “an inter-subjective, accurate, systematic analysis of determinate of body empirical data in order to discover recurring relationship among phenomena” (Ruslan, 2003:4). Jadi reset bertujuan menemukan hubungan diantara fenomena melalui analisis yang akurat dan sistematik terhadap data empiris (Kriyantono, 2006:3). Dalam buku ‘Metode Survey untuk Penelitian Komunikasi”, (Prajarto, 2010: 1) menguraikan bahwa aktivitas penelitian meliputi mengungkapkan persoalan, mencari landasan pemahaman untuk persoalan tersebut, usaha untuk memecahkan masalah, menentukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, serta diakhiri dengan membuat laporan.
Analisis Perancangan Penelitian Selengkapnya
by admin | Nov 8, 2010 | Berita
Dalam upaya meningkatkan kualitas SDM bidang pelarasan (tuning system), ISI Denpasar telah mengirim seorang dosen Jurusan Karawitan untuk belajar metodologi tuning system (pelarasan) piano selama 2 bulan di Department of Piano Tuning, Kunitachi Music Academy, Tokyo, Jepang. Misi akademis ini dimaksudkan sebagai persiapan ISI Denpasar untuk membuka S1 Jurusan Pelarasan Gamelan. Dosen yang telah mengikuti program magang yang dibiayai oleh hibah I-MHERE (Indonesia- Managing Higher Education for Relevancy and Efficiency) dengan program metodologi tuning system ini adalah I Made Kartawan, S.Sn.,M.Si.
Kemarin, Senin (8/11) Kartawan menemui Rektor untuk melaporkan hasil program magang tersebut. Di Jepang, Selain belajar metodologi tuning system, Kartawan juga mengajar gamelan di Kanda University, serta memberikan “workshop” tentang tuning system gamelan Bali bagi mahasiswa dan dosen Kunitachi Music Academy. Yang menarik dari kegiatan magang yang bertajuk “Program Methodology of Piano Tuning System” ini, dengan latar belakang kemampuan pelarasan gamelan Bali, program metodologi tuning system piano yang semestinya di tempuh dalam waktu 2 tahun dapat diselesaikan dalam waktu 1 bulan sehingga Kartawan berhak memerima sertifikat tanda tamat belajar dari Kunitachi Music Academy.
Rektor ISI Denpasar, Prof.Dr. I Wayan Rai S.,M.A, didampingi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan dan jajarannya, mengucapkan selamat atas keberhasilan Kartawan yang juga merupakan keberhasilan Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar dalam misi akademis dengan program kegiatan I-MHERE ini. Selama ini Jurusan Karawitan ISI Denpasar masih minim dosen yang ahli di bidang pelarasan gamelan. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan comparative study antara pelarasan musik barat dan gamelan Bali dan juga sebagai upaya memperluas networking antara ISI Denpasar dan Jepang. Setelah Kartawan, dosen lain sudah disiapkan untuk improvement SDM di tingkat internasional.. “Ilmu yang didapat dari hasil magang untuk pelarasan gamelan ini, hendaknya diaplikasikan dan dibagikan kepada dosen dan mahasiswa demi kemajuan kampus ISI Denpasar,”ujar Prof. Rai berharap.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Nov 8, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman I Gede Suwidnya, Mahasiswa Semester III, PS Seni Karawitan
Mengacu kepada kebijakan kampus ISI Denpasar tentang workshop pelarasan pencon dan bilah yang bertempat di kampus ISI Denpasar, yang dimana kegiatannya dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2010 s/d tanggal 31 oktober 2010 dengan dengan instruktur I Made Sutama dari Desa Tiingan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Kegiatan workshop ini bersifat obyektif, dimana yang dijadikan obyek yaitu hanya barungan Gong Kebyar yang berbentuk bilah dan pencon.
Dengan dilaksanakannya kegiatan workshop pelarasan pencon dan bilah di kampus ISI Denpasar , Mahasiswa khususnya semester III diarahkan untuk mengembangkan nalar dan kreativitasnya sehingga pada akhirnya bisa menambah wawasan budaya yang berorientasi pada matakuliah yang didapat pada jurusan Seni Karawitan.
Adapun materi-materi yang diterapkan dalam kegiatan workshop ini yaitu :
Tehnik membedakan Frekuensi nada pengumbang dan pengisep.
Tehnik memanggur instrumen berbentuk bilah dan pencon.
Tehnik mengasah panggur.
Tehnik menyesuaikan frekuensi antara bilah dengan bumbung.
Instumen barungan gambelan yang berbentuk bilah adalah giying, pemade, kantil, penyacah, jublag dan jegogan.Instrumen barungan gambelan yang berbentuk pencon adalah terompong, reong, kajar, bebende, kempur dan gong.
Tehnik-tehnik yang diterapkan dalm kegiatan workshop ini adalah :
Tehnik Melaras
Yaitu sebuah tehnik dimana dilakukan untuk membedakan antara pengumbang dengan pengisep, pengumbang yaitu suatu nada pada instrumen gamelan yang memiliki getaran nada panjang atau bergelombang, sedangkan pengisep yaitu suatu nada pada instrumen gamelan yang memiliki getaran nada pendek. Tehnik untuk membedakan antara pengumbang dengan pengisep didalam memanggur gambelan berbentuk bilah yaitu membenturkan bilah gambelan tersebut dengan memegang pada lubang atau tempat tali, dari hal ini akan dapat dirasakan jika pada saat dibenturkan salah satu bilah bergetar lembut,perlahan dan lebih lama maka itulah yang disebut pengumbang dan jika sebaliknya itulah yang disebut dengan pengisep. Agar nantinya tidak keliru didalam mengambil bilah pengumbang dengan pengisep maka salah satu harus diberi tanda. Tanda yang sudah lazim digunakan oleh pande gambelan di Bali adalah tampak dara atau tanda X yang di goreskan pada bilah gambelan sekaligus menjadi tanda bahwa itulah pengumbang.
Pelarasan Pencon Dan Bilah Di ISI Denpasar Tahun Ajaran 2010/2011