M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Bambu, Pohon Musikal Peneduh Sukmawi

Bambu, Pohon Musikal Peneduh Sukmawi

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Di tanah air kita, bambu sebagai media musikal setidaknya telah dicatat keberadaanya pada abad ke-12. Sastra kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh (1130 – 1160) dalam salah satu baitnya menulis: pering bungbang muni kanginan manguluwang yeaken tudungan nyangiring yang terjemahan bebasnya adalah bambu berlubang tertiup angin suaranya merdu meraung-raung bagaikan suara suling. Musik bambu yang dimaksud dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno itu adalah sunari yang hingga kini masih ditemukan di Bali, mengalun sendu di tengah persawahan atau berdesah magis dalam ritual keagamaan besar di pura.

Gambang sebagai salah satu gamelan bambu tua Bali juga telah dilukiskan dalam Candi Penataran di Jawa Timur (abad ke-14 Masehi). Prasasti yang dibuat pada zaman pemerintahan  Anak Wungsu di Bali (1045 Masehi) menyinggung pula tentang  anuling (peniup seruling), yang kemungkinan besar serulingnya terbuat dari bambu. Dua lontar tua tentang gamelan Bali, Aji Gurnita dan Prakempa memposisikan gamelan Gambang  dan Petangyan (gamelan Joged Pingitan) sebagai barungan (set gamelan) bambu yang menjadi representasi budaya dan presentasi estetik masyarakat Bali zaman kerajaan tempo dulu.

Selain memiliki martabat sebagai media ekspresi musikal, bambu di tengah masyarakat Bali, sejak dulu hingga sekarang, menempati posisi sakral-simbolik disamping tentu juga praktis multi fungsi. Dalam konteks sakral religius, ketika hari raya Galungan, sebatang bambu yang dihias janur ditancapkan di depan rumah setiap penduduk sebagai ungkapan syukur kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kezaliman).  Tiying gading (bambu kuning) secara khusus dipakai properti benda-benda suci keagamaan, dari upacara persembahan kepada Tuhan hingga upacara pembakaran mayat.

Kendati diupacarai begitu takzim, di tengah dinamika kehidupan yang dahsyat dalam era kesejagatan ini, kini seni tradisi pada umumnya mengalami guncangan hebat. Termasuk, beberapa bentuk gamelan bambu seperti Gambang dan Tingklik (gamelan Joged Pingitan) yang semakin langka. Bahkan Terompong Beruk, gamelan yang dulu menjadi bagian dari budaya agraris tradisional itu kini hampir punah. Namun demikian, di sisi lain, hak hidup tumbuhan bambu dan kesanggupannya sebagai wadah berkesenian masih tampak menunjukkan geliatnya.

Bambu, Pohon Musikal Peneduh Sukmawi

Work Shop  Finishing Batik Kayu Dan Bambu

Work Shop Finishing Batik Kayu Dan Bambu

Setelah menggelar workshop patung beberapa hari sebelumnya, hari ini Rabu (1/12), bertempat di Gedung Latha Mahosadi, ISI Denpasar melalui  Community Development  (Comdev)  I-MHERE  Sub- Compenent B1. Batch III menggandeng  Bali Indonesia Sculptor Association (B.I.A.S.A) menggelar workshop finishing batik kayu dan bambu yang menghadirkan I Dewa Gede Saputra, seorang pengusaha kerajinan batik kayu dan bambu dari Bangli sebagai pembina.

“Workshop” ini  dibuka secara resmi oleh Rektor ISI, didampingi para Pembantu Rektor, Dekan serta Ketua Jurusan dari kedua fakultas. Hadiri sebagai peserta para dosen, seniman B.I.A.S.A, alumni, dan mahasiswa. Workshop ini digelar untuk mendidik  para seniman dan kriyawan dalam proses pengerjaan  batik kayu dan bambu, agar mampu membatik sendiri apabila menerima pesanan dari wisatawan, serta dapat membuka kesempatan yang lebih luas untuk menciptakan lapangan kerja baru yaitu membatik kayu dan bambu pada seni kerajinan.

Ketua panitia Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. dalam laporannya mengatakan, sungguh sangat ironis, banyak seni kerajinan kayu dan bambu Bali yang difinishing dengan teknik batik, namun finishing dilakukan di Yogyakarta. Pengusaha kerajinan batik kayu yang ada di Yogyakarta memesan seni kerajinan Bali yang masih mentah dikirim ke Yogyakarta untuk dibatik, dan setelah selesai, dikirim kembali untuk dipasarkan pada para wisatawan dalam skala kecil maupun besar. Karena biayanya tinggi, belakangan ini banyak model seni kerajinan Bali yang mentahnya diproduksi langsung di Yogyakarta dan setelah selesai dibatik lalu dipasarkan kembali ke Bali, sehingga dipandang perlu untuk  mempelajari teknik batik di Bali.

Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada kelompok seniman BIASA, Pembina workshop, I Dewa Saputra, ketua panitia, dan semua elemen yang terlibat dalam workshop tersebut. ” Saya sangat bangga program I-MHERE sudah dilaksanakan dengan baik oleh kedua jurusan, yaitu Jurusan Karawitan FSP serta Jurusan Kriya FSRD. Pelatihan ini akan sangat bermanfaat bagi para seniman dan kriyawan  terutama dalam menyelesaikan sebuah karya seni, sehingga para seniman dan kriyawan  akan lebih mandiri dan percaya diri dalam menghadapi persaingan pasar, karena telah mempunyai kemampuan untuk berkreasi dalam menciptakan finishing baru. Para seniman dan kriyawan tidak lagi menciptakan karya setengah jadi, tetapi sudah sampai pada finishing.Semua kegiatan Tri Darma yang demikian padat pada akhir tahun ini, akan berjalan lancar dengan semangat dan kerjasama kita bersama,” harap Prof Rai.

Dalam work shop ini para seniman dan kriyawan akan dibekali berbagai materi, baik teori maupun praktek. Selain proses juga akan dibekali berbagai  motif,  serta wawasan berkreasi dalam membatik pada karya yang mereka ciptakan. Seniman dan kriyawan juga diberi kebebasan dalam berkreasi menciptakan motif dan pola baru dalam karyanya.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Puluhan orang gadis Rusia tampak begitu antusias belajar tari Bali. Akhir Agustus lalu, para penari ballet itu mengikuti pelatihan tari Bali yang diarahkan oleh dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.  Bertempat di Tartarstan State Choreography Theater, beberapa sikap pokok tari Bali seperti agem dan gerakan mata seledet, tampak sangat mengesan para peserta workshop itu. Sepenggal tari Pendet itu, rupanya mereka selami lekuk-lekuk keunikan dan keindahannya. Sensasi dari karakter estetik bahasa tubuh tari Bali tersebut agaknya mereka nikmati dengan suka cita. Tari Pendet tak hanya populer di Malaysia namun juga disukai gadis-gadis Rusia.

Adalah sekelompok seniman dari Pulau Dewata, pada pertengahan Agustus hingga awal September lalu melawat ke salah satu negeri pecahan Uni Soviet itu. Workshop tari Bali adalah salah satu program memperkenalkan kesenian Indonesia di belahan Eropa Timur itu. Kota Kazan, ibu kota Tartarstan—sekitar 18 jam perjalanan darat arah selatan Moscow–adalah tempat yang sempat disinggahi oleh tim kesenian ISI Denpasar tersebut. Selain memperkenalkan tari Pendet, dalam workshop yang bergulir sekitar satu jam itu, para peballet pria Kazan juga diberikan gerak-gerak tajam dan lugas tari Baris.

Kesenian Bali memang telah tampil di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, Rusia  mungkin salah satu negeri yang belum begitu banyak disambangi oleh para seniman Pulau Dewata. Tahun ini, untuk memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, seperti sudah disinggung tadi, sekelompok penari dan penabuh gamelan Bali melanglang Rusia pada 24 Agustus-3 September lalu, “Melalui kesenian, kita berharap dapat membuka jalan untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia,“ ujar Duta Besar Republik Indonesia, Hamid Awaludin, saat menyambut kedatangan 22 orang seniman Bali di KBRI Moscow.

Kesenian sebagai pembuka jalan memang banyak dipergunakan sebagai alat diplomasi budaya. Soft diplomacy yakni diplomasi dengan cara damai kini banyak dilancarkan dalam pergaulan antar bangsa dan diplomasi antar negara. Untuk kepentingan itulah, Pemerintah Indonesia, sejak Juni lalu mengutus para seniman Indonesia, salah satunya, ke Rusia. Para seniman Bali yang terdiri dari para mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ditampilkan sebagai puncak penampilan kesenian Indonesia. Para insan seni dari Pulau Dewata bukan hanya menyajikan tari dan gamelan Bali saja namun sajian seni pentas yang merepresentasikan keindahan kesenian Nusantara.

Penampilan tari Nusantara sebagai ekspresi estetik dari keberagam budaya Indonesia itu ditutup dengan pementasan Kecak atau Cak. Seluruh penari dan penabuh bergabung menyajikan Cak Ramayana berdurasi 25-30 menit. Keunikan suara dan jalinan vokal dari 22 orang seniman Bali ini mengundang decak penonton. Seusai pementasan di kota tua Tula–sekitar 4 jam perjalanan darat dari Moscow–misalnya, penonton seakan histeris dan secara kompak memekikkan ocen ichorosho (bagus sekali) berkali-kali sembari mencoba mengocehkan cak cak cak dengan amat girang. Rangkain bunga dibawa penonton ke atas panggung sebagai ungkapan suka cita mereka. “Syukur, mereka kagum dengan penampilan kita,“ ujar Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar dengan wajah berseri-seri sumeringah yang bertugas mengkomandoi Cak.

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet selengkapnya

Choir Of ISI Denpasar Raih Juara II  “Bali Choir Festival 2010”

Choir Of ISI Denpasar Raih Juara II “Bali Choir Festival 2010”

Sejumlah 34 mahasiswa  Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar berada di Singaraja sejak  29/11 untuk  mengikuti “Bali Choir Festival 2010” pada 30/11 di Undiksa. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk  membangkitkan paduan suara yang ada pada Perguruan Tinggi di Bali.

“Choir of ISI Denpasar” yang merupakan kegiatan kemahasiswaan dibawah pembinaan Pembantu Rektor III, dalam penampilanya menyanyikan lagu Serangan Pulau Kenangan sebagai lagu wajib serta lagu Bungan Sandat dan Kebyar-Kebyar sebagai lagu pilihan, dengan pembina I Komang Darmayuda,SSn., M.Si,  Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si,  I Ketut Sumerjana, S.Sn, Wahyu Sri Wiyati, S.Sn. Ni Ketut Nordi, Suminto,S.Ag.

Penampilan ISI Denpasar yang memukau juri di ruang Auditorium Kampus Undiksa dengan koreografi yang mempesona arahan koreografer I Nyoman Sura, S.Sn. berhasil merebut juara II, dengan Gita Pati/dirigent terbaik, UNUD dan Undiksa masing-masing sebagai juara I dan III. Festival paduan suara ini diikuti oleh  perguruan tinggi diantaranya UNUD, ISI Denpasar, UNWAR, IKIP PGRI, UNDIKSA,  dan Dyana Pura. Masing-masing pemenang mendapatkan piala,sertifikat dan uang pembinaan.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. didampingi Pembantu Rektor III, I Made Suberata, M.Si., Dekan FSP beserta jajarannya yang hadir menyaksikan festival tersebut mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh mahasiswa yang sudah berlatih dengan kesungguhan serta para pembina yang sudah melatih mahasiswa sampai pada acara ini. Mahasiswa ISI Denpasar yang mengikuti lomba ini, sebagian besar adalah mahasiswa semester I, yang baru pertama kali pentas dengan 17 kali latihan.”Saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta dan Undiksa sebagai panitia. Kemenangan ISI Denpasar adalah kemenangan kita bersama, dan ISI Denpasar siap mengadakan pentas bersama semua team berbakat dari semua Perguruan Tinggi di Bali dalam kolaborasi seni yang indah, sehingga seni dapat merekatkan kita semua”harap Prof Rai.

Humas ISI Denpasar melaporkan

ISI Denpasar Ikuti “Bali Choir Festival 2010”

ISI Denpasar Ikuti “Bali Choir Festival 2010”

Kampus ISI Denpasar memang tidak pernah surut aktifitas. Setelah Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) melaksanakan studi exkursi dari 26-29/11, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) mengadakan kolaborasi dengan Saint Louis Artists’ Guild Amerika, sejumlah 34 mahasiswa  Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar berada di Singaraja sejak  29/11 untuk  mengikuti “Bali Choir Festival 2010” pada 30/11 di Undiksa. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk  membangkitkan paduan suara yang ada pada perguruan tinggi di Bali.

Rombongan “Choir of ISI Denpasar”  dalam penampilanya menyanyikan lagu Serangan Pulau Kenangan sebagai lagu wajib serta lagu Bungan Sandat dan Kebyar-Kebyar sebagai lagu pilihan, dengan pembina I Komang Darmayuda,SSn., M.Si,  Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si,  I Ketut Sumerjana, S.Sn, Wahyu Sri Wiyati, S.Sn. Ni Ketut Nordi, Suminto.

Penampilan ISI Denpasar yang memukau juri di kampus Undiksa dengan koreografi yang mempesona ini, arahan koreografer I Nyoman Sura, S.Sn. Festival paduan suara ini diikuti oleh 7 perguruan tinggi diantaranya UNUD, ISI Denpasar, UNWAR, IKIP PGRI, UNDIKSA, IHDN, dan Dyana Pura.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. didampingi Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan, yang hadir menyaksikan festival tersebut mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh mahasiswa yang sudah berlatih dengan kesungguhan serta para pembina yang sudah melatih mahasiswa sampai pada acara ini. “

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Loading...