M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Penerapan E-Learning Terhambat SDM

Penerapan E-Learning Terhambat SDM

BANDUNG  – Kebiasaan dosen atau guru melakukan pembelajaran secara manual menjadi salah satu kendala penerapan e-learning.Hal tersebut karena faktor kebiasaan yang dilakukan di sekolah atau universitas.
“Ini hanya soal kebiasaan, dosen terbiasa untuk mengajar dengan mencatat di depan papan tulis, sehingga kesadaran menggunakan metode e-learning masih kurang,” ungkap praktisi e-learning dan dosen Universitas Widyatama Jadja Achmad Sardjana usai seminar nasional “Peran E-learning Dalam Mengembangkan Kualitas Pendidikan Indonesia”di Aula Timur ITB, Jalan Ganeca,kemarin. Dia mengatakan,di Widyatama sendiri baru sekitar 40–50% mata kuliah yang sudah menerapkan elearning.“

Untuk mata kuliah dasar e-learning banyak diterapkan untuk efisiensi dan efektivitas.Namun, pada mata kuliah tertentu belum banyak digunakan. Untuk itu, perlu ada peningkatan penggunaannya,” jelasnya. Untuk lebih memperbanyak pengguna e-learning,kata dia,perlu adanya penyediaan infrastruktur yang murah. Selain ini, Dinas Pendidikan memberikan alokasi dana kepada tiap sekolah, namun jumlahnya masih kurang.

Praktisi e-leraning ITB Arief Bachtiar mengatakan, ITB telah memulai program e-learning sejak 2009 lalu dengan infrastruktur seperti komputer dan internet. Namun, dosen sebagai digital imigrant belum begitu akrab dengan dunia digital. Berbeda dengan mahasiswa yang merupakan digital natif. “Dari 120 dosen, baru sekitar 20% dosen yang memanfaatkan aplikasi e-learning,”jelas Arief. Dari 600 mata kuliah, kata dia, baru 130 mata kuliah dilakukan dengan tatap muka dan e-learning, dan 400 mata kuliah dengan e-learning.
Arief mengatakan perlunya sosialisasi semua stakeholder tentang pentingnya e-learning. Penggunaan e-learning, menurut Arief,justru banyak digunakan di luar jam kuliah. Hal ini karena mahasiswa bisa mengaksesnya kapan saja sehingga tidak terpaku pada jam kuliah. Penggunaan elearning memiliki banyak keuntungan, antara lain bisa mempunyai standar pembelajaran, meningkatkan akses,feedbacklebih cepat, arsip kuliah lebih mudah terekam dan jangkauannya lebih luas. (masita ulfah)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/368546/

Rakorbang ISI Denpasar Di Jemberana

Rakorbang ISI Denpasar Di Jemberana

Pembantu Rektor II ISI Denpasar, I Gede Arya Sugiartha,SSKar.,M.Hum. selaku ketua panitia Rapat Koordinasi Pengembangan (Rakorbang) ISI Denpasar menghimbau seluruh pejabat struktural ISI Denpasar di masing-masing unit  untuk bersinergi dalam melaksanakan kegiatan demi kemajuan ISI Denpasar di tahun 2011. Rakorbang yang didakan selama tiga hari, dari Jumat (3/12) s/d Minggu (5/12) ini diselenggarakan di hotel Jimbarwana Jemberana, diikuti oleh seluruh pejabat struktural ISI Denpasar, dan dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor I, Drs. I Ketut Murdana,M.Si.

Agenda rapat diawali dengan pemaparan uraian kegiatan dari para Pembantu Rektor, yang masing-masing membidangi bidang akademik, keuangan, kemahasiswaan, dan kerjasama. Kegiatan masing-masing bagian tersebut untuk tahun 2011 adalah: untuk bidang akademik, diantaranya penyempurnaan kurikulum, akreditasi, Diesnetalis dan Wisuda Sarjana. Hal baru yang sangat  menarik dalam bidang akademik  tahun 2011, ISI Denpasar akan menyelenggarakan program studi baru, yaitu Program Studi Musik dan Pendidikan Seni, serta Program Studi S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni. Dalam bidang kemahasiswaan, program kewirausahaan, Debat Bahasa Inggris, PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa), LKMM (Latihan Kegiatan Manajemen Mahasiswa), POMNAS(Pekan Olah raga Mahasiswa Nasional), PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) masih mendapat prioritas seperti tahun sebelumnya. Sedangkan dalam bidang kerja sama, tahun 2011 ISI Denpasar akan mengadakan muhibah seni ke University of Western Australia, Perth dan juga ke Thailand. Kegiatan ”ngayah” dan partisipasi dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan kegiatan rutin tahunan ISI Denpasar. Dalam hal penelitian, Ketua LP2M ISI Denpasar memaparkan kegiatan penelitian yang dapat direbut oleh para dosen baik dalam bidang pengkajian maupun penciptaan.

Rektor ISI, Prof.Dr. I Wayan Rai S.,M.A. dalam pengarahannya sesaat sebelum menutup secara resmi Rakorbang tersebut, mengucapkan terima kasih kepada seluruh pejabat struktural ISI Denpasar yang telah bekerja keras untuk menyusun program, dengan ide-ide yang sangat konstruktif. ”Dengan mengevaluasi semua kegiatan di tahun 2010, kiranya kita mampu melakukan yang terbaik di tahun 2011, untuk kemajuan kita bersama, dengan selalu berupaya meningkatkan Knowledge, Skill, dan Attitude untuk membangun ISI Denpasar ke arah yang semakin baik,”harap Prof. Rai.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Segera Dibuat Data Prodi di Seluruh PT

Segera Dibuat Data Prodi di Seluruh PT

Bisa Diketahui Prodi Favorit dan Prodi yang Sepi Peminat

JAKARTA –Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Djoko Santoso mengatakan, hingga sat ini pihaknya tidak memiliki data-data penyebaran mahasiswa di seluruh Indonesia termasuk data program studi (prodi). Menurutnya, hal ini disebabkan karena panita pelaksana seleksi nasional tidak tetap dan tidak memiliki sekretariat.
“Salah satu penyebabnya adalah panitia seleksi sejak dulu hingga saat ini tidak tetap. Oleh karena itu, kami (Kemdiknas) akan mulai menyusun panitia pelaksana seleksi tetap. Sehingga, nantinya diharapkan ada data yang akurat mengenai mahasiswa dan juga akan mempermudah dalam proses evaluasinya,” ungkap Djoko kepada wartawan di Jakarta, Minggu (5/12).
Mantan Rektor ITB ini menjelaskan,  ke depannya data yang diperoleh setiap tahunnya akan dimasukan dalam Pengakalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) dan bisa diakses seluruh masyarakat. Dengan begitu, lanjut Djoko, akan dapat  terlihat Prodi terbanyak peminatnya dan Prodi yang terancam ditutup karena sepi pendaftar. “Prodi yang terancam ditutup itu ada. Tapi datanya tunggu tahun depan. Setelah seleksi nasional pasti kelihatan penyebaran dimana saja dan Prodi apa saja,” ujarnya.
Selain itu, terang Djoko, Pendidikan Dasar Perguruan Tinggi (PDPT) akan menyediakan data-data yang baik bagiyang memerlukan. Data-data itu berisi tentang seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta. Program tersebut merupakan salah satu bentuk pelayanan yang cepat dan akurat bagi masyarakat, khususnya kalangan pendidikan tinggi. Data tersebut terkait dengan segala hal mengenai infrakstruktur dan orang di pendidkan tinggi. “Sehingga melalui PDPT, masyarakat yang membutuhkan bisa dengan cepat mengaksesnya,” paparnya.
Lebih jauh Djoko menambahkan, hingga kini hanya sekitar 200 perguruan tinggi yang websitenya tergolong bagus dari seluruh perguruan tinggi yang mencapai ribuan di seluruh Indonesia. Kenyataannya banyak perguruan tinggi swasta yang belum menyadari pentingnya ketersediaan data di website. “PDPT ini secara resmi di luncurkan pada Januari 2011 dan bisa diakses di www.dikti.go.id. Persiapan Pangkalan Data sudah dilakukan dalam satu tahun,” bebernya. (cha/jpnn).

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/12/05/78842/Segera-Dibuat-Data-Prodi-di-Seluruh-PT-

Plagiat Mudah Dideteksi dengan IT

Plagiat Mudah Dideteksi dengan IT

MEDAN – Kasus penjiplakan (plagiat) yang saat ini tengah mencuat di kalangan akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) mendapat respons dari seorang profesor asal Indonesia yang bekerja di Universty Teknologi Malaysia (UTM), Prof Hadi Nur.
Hadi Nur yang merupakan insinyur jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan aksi plagiat merupakan bentuk tindakan bodoh dan tak bisa ditolerir. “Apalagi untuk saat ini, di mana teknologi informasi (information technology/IT) sudah sangat berperan. Saya kira kalau ada yang melakukan plagiat adalah tindakan bodoh,” ujarnya saat dihubungi lewat seluler, kemarin.
Hadi menegaskan untuk mendeteksi tindakan plagiat ini,sebenarnya cukup mudah, apalagi untuk ilmu-ilmu sosial. Berbeda dengan ilmu eksakta (pasti), yang biasanya beraksi dengan memberikan data palsu. “Saya kira akan sangat mudah untuk mengungkapnya.Tapi, menurut saya plagiat ini tidak lebih dari persoalan mental pada orang yang bersangkutan, tergantung orangnya.
Atau juga tekanan karier, di mana untuk melancarkan karier, seseorang terpaksa melakukan penipuan,”tukasnya. Untuk mengantisipasi plagiat ini, Prof Hadi Nur menyarankan kalangan perguruan tinggi di Indonesia mulai menggunakan teknologi, seperti program turnitin (turnitin.com), sebuah perangkat lunak yang mampu mendeteksi apakah sebuah karya ilmiah itu hasil plagiat atau tidak.
“Kami di UTM sudah berlangganan, dan terbukti efektif. Kalau bisa, langganan ini saja,”sebutnya. Lebih jauh dalam artikelnya di www.hadinur.com, Hadi Nur menyimpulkan tindak plagiat menyangkut etika. Dia merasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek pendidikan (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung memberikan knowledge kepada mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai pengajaran.
“Aspek pendidikan yang saya maksud termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Saya berpikir dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa, dapat membantu membentuk kepribadian,” sebutnya. Namun terlepas dari itu semua, menurutnya pengajaran etika sains kepada mahasiswa sarjana, magister dan doktoral diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa untuk menjunjung tinggi kejujuran.
Sebelumnya diberitakan, Irwansyah, staf pengajar di Fakultas Sastra USU menggugat mantan dekannya di Fakultas Sastra USU, Wan Syaifuddin. Tesis S2 Wan Syaifuddin berjudul “Syair Lisan Melayu Deli,Tumpuan Khusus Terhadap Syair Puteri Hijau”, yang dipertahankannya pada Mei 1994 di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK-USM), diduga plagiat dari tesis Irwansyah berjudul “Syair Puteri Hijau: Telaah Sejarah Teks dan Resepsi” yang dipertahankan dalam ujian tanggal 30 Agustus 1989 di Universitas Gadjah Mada.
Kasus plagiat yang melibatkan staf pengajar USU ini sudah mendapat respons dari para akademisi Sumut. Rektor IAIN Sumut, Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis menegaskan jika akademisi melakukan plagiat, maka itu merupakan kesalahan sangat fatal. Fadhil menyebutkan, di masyarakat kecenderungan plagiat disebabkan ingin instant dan mempermudah simbol. Jadi, bukan ilmunya yang dinilai penting.“Ini juga gejala dari komersialisasi pendidikan,”terang Fadhil.
Di IAIN Sumut sendiri, kata Fadhil, ada beberapa lapis pengawasan terhadap karya ilmiah sehingga tidak terjadi plagiat, terutama dalam memilih judul. “Ketika mahasiswa memilih judul, kita ingin judul diseleksi betul. Sesama IAIN di 36 daerah sudah memiliki data online karya ilmiah yang di-update setiap semester. Jadi tidak boleh pada semester yang sama ada judul yang sama. Ini saja tidak boleh, apalagi bila beda semester,” jelas Fadhil. (fakhrur rozi/lia anggia nst)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/368074/

Loading...