by admin | Dec 30, 2010 | Berita
Melalui hibah program I-MHERE ( Indonesia- Managing Higher Education for Relevance and Efficiency) ISI Denpasar menggelar seminar sehari hasil penelitian program I-MHERE ISI Denpasar tahun anggaran 2010 dengan tujuh pemenang penelitian, dua diantaranya sudah mengikuti seminar tingkat nasional pada tanggal 19/11/2010 di Jakarta, yaitu I Wayan Suweca, SSKar., M.Mus dengan judul penelitian Nilai Estetis Tabuh Lelambatan Klasik Pagongan Banjar Tegal Tamu, Batubulan dan bapak Drs. I Made Jana, M.Sn dengan judul Identifikasi Seni Kriya Di Kabupaten Jembrana. Selain itu dua orang alumni mahasiswa penerima bantuan tugas akhir, satu orang dari Jurusan Kriya Seni, dan satu orang dari Jurusan Karawitan juga mengikuti seminar tingkat nasional tersebut.
Lima pemenang lainnya yaitu I Ketut Parta, SSKar., M.Si, Drs. I Ketut Muryana, M.Si, I Nyoman Pasek, SSKar., M.S, Dr. drs. I Made gede Arimbawa, M.Sn, Drs. I Nyoman Dana, M.Erg, dengan judul penelitian masing-masing Repertoar, Konsep Musikal, dan Nilai-nilai Gamelan Semara Pagulingan Teges Kangin, Nilai dan Konsep Gamelan Gong Kebyar Pinda, Gianyar, Gong Luang Di Desa Singapadu, Tinjuan Nilai-Nilai Estetis dan Ritualitas, Macam dan Jenis Kerajnan di Kabupaten Tabanan, Identifikasi Produk Kriya Di Kabupaten Badung.
Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan seminar hasil penelitian ini sangat penting, sehingga hasilnya harus diterbitkan dalam jurnal terakreditasi. “Hal yang terpenting dalam sebuah penelitian adalah penemuan baru. Untuk itu setiap dosen harus meningkatkan kualitas diri dengan terus belajar dan melakukan penelitian secara berkesinambungan,” harap Prof.Rai.
Selain Rektor, seminar sehari ini juga dihadiri oleh Para Pembantu Rektor, Dekan kedua Fakultas beserta jajarannya, dosen dan mahasiswa jurusan Karawitan dan Kriya Seni. Ketua panitia seminar, I Made Berata, S.Sn., M.Sn., dalam laporannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor dan jajarannya, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya seminar hasil penelitian tersebut, serta ucapan selamat kepada para pemenang hibah penelitian pada program I-MHERE tahun anggaran 2010.
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Dec 29, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Kebyar Legong yang disuguhkan grup gamelan dan tari dari Amerika di Taman Budaya Bali pada awal Juli itu, menggugah masyarakat Bali terhadap ekspresi artistik karya para maestro terdahulu. Sebab, Kebyar Legong adalah salah satu karya agung yang menjadi tonggak penting awal berbinarnya gamelan Kebyar yang menggeliat fleksibel dalam kancah kesenian dan ritual keagamaan masyarakat Bali. Seperti kita ketahui, Gong Kebyar yang hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa tersebut, perkembangannya kini, secara kuantitas dan kualitas, semakin semarak. Penyebarannya bukan hanya di Bali dan kota-kota besar di Indonesia namun telah mendunia. Perkembangan tata garap musikalnya pun bukan hanya mengawal gending-gending klasik namun juga kian kreatif dan progresif berkontekstualisasi dengan perkembangan zaman.
Tari Kebyar Legong yang tak bisa dipisahkan dengan perkembangan awal Gong Kebyar juga mencerminkan aspek estetik fisikal dan muatan spirit mental yang lentur terhadap perkembangan zaman. Simaklah koreografi tari ini yang merepresentasikan karakteristik seni Bali Utara (kebyar) dan Bali Selatan (legong). Secara artistik konseptual, tari ini sebagian menampilkan unsur-unsur kebyar yang cepat, energik, dan dinamis serta sebagian lagi memasukkan unsur-unsur legong yang lembut, luwes, dan anggun. Konsep artistik perpaduan kebyar dan legong dalam tari Kebyar Legong tersebut seakan melontarkan pesan mengakuan terhadap keragaman ekspresi seni dan budaya Bali, yang, kini semangatnya dapat dikontekstualisasikan secara lebih luas, baik dalam kancah kesenian maupun dalam interaksi antar budaya.
Sebagai ekspresi artistik budaya, kesenian Bali kini diapresiasi masyarakat mancanegara. Grup Dharma Swara New York telah menunjukkan kepada masyarakat penonton betapa mereka begitu respek terhadap nilai estetika dan dimensi kultural dari gamelan dan tari Bali. Selain tampil di arena PKB, dengan antusias nan bahagia mereka pentas berkeliling Bali seperti di Jagaraga (Buleleng), Kerambitan (Tabanan), Tulikup (Gianyar) dan Ubud. Kesempatan pentas di tengah masyarakat Bali ini juga dipakai kesempatan untuk memberikan penghormatan dan sekaligus menawarkan kreativitas seni dengan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan musikal pada gamelan. Andy McGraw, salah satu anggota Dharma Swara yang telah lama belajar gamelan di Bali, menjelajahi nada-nada Gong Kebyar dalam bingkai musik eksperimental yang diberi judul “Sikut Sanga“, menghidangkannya pada masyarakat Bali untuk dicicipi.
Hidangan konser gamelan dan pentas tari Dharma Swara New York di Bali tampaknya dinikmati lahap masyarakat penonton. I Nyoman Saptanyana, komposer alumnus ISI Denpasar yang sejak tahun 2001 membina Dharma Swara, merasa bersyukur atas perhatian tinggi masyarakat Bali terhadap penampilan pecinta gamelan dan tari Bali warga Amerika itu. Saptanyana yang juga staf konsulat RI New York mengungkapkan, kesukacitaan itu dirasakan oleh 28 orang penabuh dan penari Dharma Swara yang datang ke Bali dengan biaya sendiri-sendiri. Apresiasi tulus masyarakat Bali tersebut, tentunya, kata Saptanyana, semakin memompa semangat Dharma Swara mengibarkan kesenian Bali, budaya luhur Indonesia, di negerinya Barack Obama.
Kadek Suartaya
Konser Gamelan Dharma Suara Memukau Bali Selengkapnya
by admin | Dec 28, 2010 | Berita
Tarian Bali ditarikan oleh penari Bali sudah biasa. Tari Bali ditarikan oleh gadis Jepang, membuat nuansa panggung Gebyar Pariwisata Budaya Kabupaten Buleleng menjadi sangat luar biasa. Lima gadis cantik asal Jepang menarikan tari Pendet dan seorang lagi menarikan tari Truna Jaya menuai decak kagum masyarakat dan pejabat Pemda Buleleng, dan juga wisatawan asing yang memenuhi areal Pelabuhan Buleleng, Senin, (27/12) yang lalu.
Pengamat pariwisata Buleleng, Dr. I Gede Budasi, MED, mengatakan bahwa minimnya “market” yang ada di Kabupaten Buleleng menyebabkan rendahnya minat masyarakat untuk mengembangkan seni budaya Bali, sehingga Pemda Buleleng mengundang ISI Denpasar untuk menampilkan Mahasiswa Asing dalam pentas Gebyar Pariwisata dan Budaya, sebagai upaya untuk meningkatkan animo masyarakat dalam bidang seni budaya, sehingga mampu mengembangkan pariwisata di Buleleng. Penampilan 6 mahasiswa asing ISI Denpasar ini memang sangat menggelitik setiap mata yang menyaksikannya, sehingga mengundang tanya, mereka orang asing saja mampu, kenapa kita tidak?
Gebyar Pariwisata dan Budaya ini mendapat sambutan hangat dari seluruh masyarakat Buleleng, walau hujan lebat mengguyur Pelabuhan Buleleng, masyarakat dari 148 desa yang ada di wilayah Pemda Buleleng tetap mengikuti rangkaian acara dengan hidmat, diantaranya parade gebogan bunga dan buah, tari Megoak-goakan, Tari Sang Hyang Memedi, Gong Kebyar Eka Wakya, tari Janger, Tari Panyembrama, serta tari Pendet dan tari Truna Jaya dari mahasiswa asing ISI Denpasar. “Saya sangat berterima kasih kepada ISI Denpasar yang telah ikut terlibat dalam acara ini, dan saya berhartap dapat bekerja sama dengan ISI Denpasar sebagai upaya pengembangan Pariwisata Kabupaten Buleleng,”ujar Bupati Buleleng saat ramah-tamah dengan rektor ISI seusai acara.
Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., yang hadir dalam acara tersebut, mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam kapada Pemda Buleleng yang telah memberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk ikut serta dalam acara Gebyar Budaya dan Pariwisata ini. “Semoga dengan semakin dicintainya seni budaya Bali, kita semakin mampu mengembangkan Pariwisata di Kabupaten Buleleng khususnya, Bali pada umumnya,”harapnya.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Dec 28, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Suara gamelan Bali yang renyah, lincah, dan membuncah terasa menghangatkan dinginnya kota Moskow. Sore hari pada pertengahan Agustus lalu, di sebuah institut musik klasik yang sangat prestisius di Rusia, Moscow Tchaikovsky Conservatory, para musisi dan peminat musik setempat menikmati konser gamelan Bali yang disajikan oleh para seniman Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Suguhan tabuh Gambang Suling yang melodius dan tabuh Kebyar Ding yang dinamis dicermati sekitar 300 penonton yang memenuhi Rachmaninov Hall itu.
Adalah peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia yang mengantar hadirnya konser gamelan Bali di Republik Federasi Rusia itu. Atas kerja sama KBRI Moscow dan Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional, 22 orang insan seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar diutus menampilkan kesenian Nusantara di tiga kota Rusia itu. Di tengah sajian puspa warna tari Nusantara itulah, tim kesenian ISI menampilkan konser gamelan yang di tengah masyarakat Bali lazim disebut pentas tabuh. Dua tabuh, Gambang Suling dan Kebyar Ding, menggetarkan dan memukau masyarakat penonton yang menyimaknya dengan sumeringah.
Masyarakat Bali yang intim dengan seni tabuh pategak tentu cukup mengenal tabuh Gambang Suling dan Kebyar Ding. Gambang Suling adalah tabuh kreasi karya empu karawitan Bali I Wayan Beratha. Tabuh berdurasi sekitar 10 menit ini berungkap melodius, menstranformasikan gending Jawa, “Suara Suling“, yang menjadi sumber inspirasi tabuh ciptaan tahun 1963 ini. Sedangkan Kebyar Ding adalah kreasi lawas zaman pra kemerdekaan, sekitar tahun 1930-an, karya I Made Regog, memiliki komposisi rumit, sarat dinamika, kaya ornamentasi dan dimainkan dalam tempo cepat.
Musik Timur, gamelan dari Indonesia, termasuk amat asing
di Rusia. Senandung gamelan (Jawa dan Bali) hanya dapat dipergoki secara insidental di KBRI Moscow. Berbeda dengan keberadaan gamelan di negara maju lainnya seperti Eropa Barat, Amerika, dan Jepang, yang perkembangannya pesat, baik dipelajari dan dikaji secara formal di universitas-universitas maupun disuntuki sebagai kancah eksploratif estetik-musikal. Kini, di benua Eropa, umumnya geliat gamelan Bali dapat dijumpai di belahan barat seperti Inggris, Jerman, Belanda dan Swiss. Sedangkan di daratan Eropa Timur gamelan Bali hampir tak terdengar dentingnya
Musik asli Indonesia, gamelan, kini telah mendunia. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan, sejak komponis Prancis Claude Debussy (1862-1918) menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Prancis. Masyarakat benua belahan Eropa semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika kemudian pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Perancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah kolonial Belanda.
Rusia sebagai negara federasi pecahan Uni Soviet—musuh utama Amerika saat era perang dingin—kini baru mulai berkenalan dengan gamelan. Kendati sedikit terlambat, sebagai rumpun bangsa-bangsa penyayang keindahan yang banyak melahirkan seniman kaliber dunia, masyarakatnya begitu peka dengan muatan keindahan budaya bangsa lain seperti tampak saat menyaksikan suguhan konser gamelan Bali di Moscow itu. Margaritha Karatygina, Kepala Departemen Hubungan Internasional Moscow Tchaikovsky Conservatory menyambut gembira konser gamelan Bali yang disajikan ISI Denpasar itu serta optimis bahwa pementasan tersebut akan mendorong minat mahasiswa musik Rusia untuk mendalami lebih jauh seni musik Timur, khusunya gamelan dari Indonesia.
Kadek Suartaya
Keterangan gambar:
MEMUKAU—Tari dan konser gamelan Bali menggetarkan jantung kota Moscow dan memukau para musisi Rusia.
Gamelan Bali Menggetarkan Jantung Moscow selengkapnya
by admin | Dec 27, 2010 | Berita
Puluhan lukisan dipampang di gedung pameran Museum Bali. Karya-karya spektakuler mahasiswa Seni Rupa semester I ini menghiasi Museum Bali dari tanggal 23-25 Desember 2010. Hal yang sangat menarik dalam acara pameran bertajuk “Panen Hasil Study” Visual Art Exhibition ini, seorang mahasiswa Seni Rupa semester I Wayan Wahyu Mahameru, yang menderita cacat sejak lahir, dengan kursi rodanya mendapatkan perhatian khusus Rektor ISI yang hadir mrmbuka pameran tersebut secara resmi. Wahyu dengan karyanya yang berjudul “Galungan” sangat bangga mendapat perhatian dan pujian Rektor. Wahyu yang fasih berbahasa Inggris dan Prancis ini, sangat bahagia dan bangga mendapatkan pujian tulus Rektor.
Ketua panitia Kadek Andi Aryawan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dekan FSRD dan Rektor serta undangan semuanya yang telah menghadiri acara pembukaan pameran tersebut. A.A. Wiramerta yang mewakili Ketua Panitia, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pameran yang digelar tersebut merupakan hasil kreatifitas mahasiswa dengan karya-karya yang sesuai dengan pembelajaran yang telah diikuti selama perkuliahan.
Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak Museum Bali, seluruh panitia dan seluruh mahasiswa yang telah memiliki gagasan untuk mengadakan pameran tersebut, dan semua Dosen pembimbing yang selalu penuh semangat mendampingi mahasiswa, demi kemajuan kampus ISI Denpasar. “Saya akan memberikan “award” 5 besar terbaik kepada mahasiswa semester I karena keberaniannya mengadakan pameran” ungkap Prof Rai bangga. Prof Rai juga menghimbau seluruh mahasiswa dan dosen FSRD ISI Denpasar untuk mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan mahasiswa UWA, University of Western Australia yang akan belajar di ISI Denpasar 2011 nanti.
Pihak UPT Museum Bali menyambut baik kegiatan pameran ini, sebagai upaya menarik minat wisatawan untuk mengunjungi museum Bali. “Semoga pameran ini dapat lebih membangun kreatifitas mahasiswa serta mampu meningkatkan seni dan budaya Bali pada umumnya,”pungkasnya.
Humas ISI Denpasar melaporkan.