by admin | Jan 4, 2011 | Berita
Salam “Om Swastiastu” bila diucapkan oleh orang Bali akan disambut salam yang sama oleh audien. Tapi ketika wanita Jepang di atas panggung memberi salam “Om Swastiastu”, malah aplaus meriah dan kagum yang diberi penonton. Demikianlah suasana di Jaba Pura Kayangan Desa Angantaka, Abiansemal, Badung, malam hari (2/1), ketika 6 orang mahasiswa asing ISI Denpasar asal Jepang usai menarikan Tari Margapati dengan indahnya, diwawancarai MC yang juga PD I Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), I Dewa Ketut Wicaksana, SSP.,M.Hum.
Selain tari Margapati, ISI Denpasar juga mementaskan tari Selat Segara, Wiranjana, Jauk Manis, Fragmentari Ciwa Wisaya, yang ditarikan oleh mahasiswa Jurusan Tari, diiringi mahasiswa Karawitan, dan orator dari jurusan Pedalangan. Rombongan disambut hangat oleh penduduk setempat. “Kami mengucapkan terima kasih kepada ISI Denpasar yang telah berpartisipasi dalam acara pujawali di Pura Kahyangan Angantaka ini. Semoga kegiatan “ngayah” ini bisa dikembangkan terus ke desa-desa lainnya,”ujar klian dinas Br./Ds. Angantaka, I Wayan Buaka. Pementasan ISI Denpasar malam itu menuai decak kagum penduduk setempat. Sejumlah anak-anak yang mendekati ‘stage’ tertawa riang ketika menyaksikan tari jauk Manis yang demikian interaktif, serta Fragmentari Ciwa Wisaya yang atraktif.
Rektor ISI, Prof. Rai didampingi PR II dan IV, turut hadir dalam kegiatan “ngayah”tersebut. Hadir pula Dekan FSP, PD I, Kejur Tari, Kejur Karawitan, para dosen, mahasiswa, dan juga alumnus ISI Denpasar. “Kami sangat berterima kasih kepada panitia Pujawali dan juga seluruh masyarakat Angantaka, yang telah memberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk “ngayah”. Dengan kemampuan seni yang telah dikaruniakanNya inilah kami “ngayah”, serta berdoa bersama demi keselamatan kita bersama dalam mengisi tahun baru 2011, agar kita dituntun untuk selalu berada di jalanNya,”harap Prof. Rai.
Hal senada juga disampaikan PR IV bidang kerjasama, I Wayan Suweca,S.Skar.,M.Mus. Pihaknya sangat bangga dan berterima kasih kepada seluruh dosen dan mahasiswa yang ikut dalam kegiatan tersebut, dalam situasi liburan, masih tetap semangat melaksanakn Tri Darma, demi kemajuan ISI Denpasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 4, 2011 | Berita
BANDUNG.- Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, menghentikan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) pada 2011. Padahal, program yang telah dilakukan selama dua tahun berturut-turut itu, telah menghasilkan ratusan bibit wirausahawan dari kalangan mahasiswa.
Hal itu dikatakan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi (Kopertis) Wilayah IV, Abdul Hakim Halim, saat ditemui di kantornya Jln P.H.H. Mustofa, Bandung, beberapa waktu lalu. Dia mengatakan, pemberhen-tian program ini tidak hanya untuk perguruan tinggi swasta melainkan juga negeri.
Hakim mengatakan, dia tidak mengetahui secara pasti mengapa Kemendiknas menghentikan program tersebut. Padahal, sebelumnya dia sudah mengusulkan agar program tersebut kembali digulirkan. “Mungkin Kemendiknas sedang merumuskan formula yang tepat bagaimana seharusnya program ini digulirkan, sehingga nantinya bisa tepat sa-saran,” ujarnya.
Menurut Hakim, program tersebut berdampak sangat positif, karena melahirkan banyak wirausahawan baru. Berdasarkan monitoring yang dilakukan Kopertis, usaha peserta PMW tetap bertahan sampai saat ini. “Bahkan, ada kasus seorang lulusan yang diterima di perusahaan besar tidak jadi bekerja di sana, karena memilih mene-ruskan usaha yang telah dirintisnya tersebut,” katanya.
Pada 2010, Kopertis Wilayah IV Jawa Barat Banten menerima kucuran dana Rp 1,25 miliar untuk PMW. Bantuan diberikan kepada 40 perguruan tinggi swasta yang terpilih berdasarkan proposal yang masuk ke Kopertis. Sebelumnya, setiap perguruan tinggi melakukan seleksi untuk memilih satu kelompok, yang proposalnya akan diajukan ke Kopertis.
Setiap kelompok menerima anggaran dana yang berbeda, sesuai dengan jumlah anggota dan jenis usahanya. Setiap orang rata-rata menerima Rp 8 juta. “Jadi, kalau kelompok tersebut terdiri dari dua orang, maka dia berhak menerima Rp 16 juta. Akan tetapi, ada juga kelompok yang menerima dana kurang dari itu, sesuai dengan yang dibutuhkan,” kata Hakim.
Hakim mengakui, jatah perguruan tinggi swasta tidak sebesar perguruan tinggi negeri. “Untuk perguruan tinggi negeri, dana Rp 1 miliar hanya untuk satu perguruan tinggi, sementara untuk di swasta, dana Rp 1 miliar untuk 400 perguruan tinggi,” ujarnya.
Meskipun demikian, sayangnya tidak semua perguruan tinggi swasta memanfaatkan program ini. Dari 400 perguruan tinggi swasta yang ada di bawah naungan Kopertis Wilayah IV, hanya 63 perguran tinggi yang mengirimkan proposal kepada Kopertis. Padahal, Kopertis sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh perguruan tinggi tersebut. “Kami bahkan melakukan sosialisasi dengan jemput bola ke beberapa spot. Akan tetapi, mungkin mereka tidak memiliki ide,” ujarnya.
Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=170091
by admin | Jan 4, 2011 | Berita
JAKARTA — Upaya Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) untuk melahirkan dosen S3 terhambat. Pemicunya bukan persoalan uang. Tapi, minat dan kemampuan dari calon dosen S3 tersebut yang kurang. Meskipun begitu, tahun ini mereka tetap menggenjot kenaikan jumlah dosen S3. Dana sampai Rp 3 triliun siap digelontorkan.
Percepatan peningkatan jumlah dosen berkualifikasi akademik S3 atau doktor masuk dalam fokus program Kemendiknas 2011. Pada 2010 yang baru lewat, Kemendiknas mencatat di Indonesia ada 270 ribu dosen. Namun, hanya ada 23 ribu dosen yang bertitel doktor. Jika diprosentase, jumlah tersebut tidak sampai sepuluh persen. Dikti mencatat, pada 2010 lalu pertambahan dosen berkualifikasi doktor hanya sekitar 3.500 sampai 4 ribu doktor. Rata-rata, dosen doktor itu berusia maksimal 50 tahun.
Padahal, Kemendiknas menarget pada 2015 dosen yang berkualifikasi S3 harus mencapai 20 persen. Atau sekitar 54 ribu dosen harus berkualifikasi doktor. “Jika ngomong ideal, ya harusnya 100 persen dosen harus doktor,” terang Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendiknas Djoko Santoso kemarin (2/1).
Untuk mencetak dosen bertitel doktor sesuai target tersebut, Kemendiknas siap menggelontorkan anggaran super jumbo. Djoko memperkirakan, setiap tahun pihaknya menyiapkan anggaran Rp 2 triliun sampai Rp 3 triliun. Dengan anggaran tersebut, Djoko mengatakan cukup untuk mencetak lima ribu sampai tujuh ribu dosen berkualifikasi doktor setiap tahun.
Mantan rektor ITB itu menjelaskan, hambatan yang dialami Ditjen Dikti untuk menelorkan dosen doktor baru adalah kemampuan dan minat dari dosen itu sendiri. Bukan persoalan ketersediaan pendanaan. “Buktinya, selama ini anggaran yang disiapkan (untuk program S3) selalu tersisa,” ujar Djoko.
Pejabat 57 tahun itu menjelaskan, kecenderungan tersebut semakin menempatkan posisi dosen sebagai ahli berwacana. Padahal, lanjut Djoko, dosen tidak hanya pandai berwacanan. Tetapi juga bisa menciptakaan pengetahuan-pengetahuan baru. Sehingga, bisa mendongkrak kualitas pendidikan tanah air. “Intinya kalau mau pintar, dosennya harus pintar dulu,” kata dia.
Djoko menerangkan, sebagian besar anggaran yang dialokasikan untuk mencetak dosen berkualifikasi doktor diberikan setelah dosen calon doktor itu ditermia di perguruan tinggi. Baik itu di dalam maupun di luar negeri. Yang pasti, Djoko menegaskan kualitas kampus tersebut harus jempolan. Tidak boleh kampus ecek-ecek yang mudah mengeluarkan ijazah S3.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Heri Akhmadi menjelaskan, perogram menggenjot dosen berkualifikasi akademik S3 itu memang cukup penting. “Itu juga bisa mendungkun peningkatan kualitas pendidikan,” kata dia. Namun, Heri mengatakan Kemendiknas juga harus fokus mendongkrak dosen-dosen yang masih berkualifikasi akademik S2.
Heri tidak bisa menutup mata jika untuk kota-kota besar dan kampus-kampus unggulan, kuantitas dosen S3 sudah melimpah. Tetapi di kampus-kampus daerah yang masuk kategori kelas dua, politisi PDIP itu mengatakan masih kekurangan dosen S2. Padahal, pada 2014 dosen wajib S2. Ketentuan itu merupakan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang selesai masa transisinya pada 2014 nanti. “Kami berharap tidak hanya fokus meningkatkan jumlah doktor. Untuk dosen S2 juga penting,” pungkas dia. (wan)
Sumber: http://www.jpnn.com/read/2011/01/03/80941/Genjot-Jumlah-Dosen-S3,-Siapkan-Rp-3-Triliun-
by admin | Jan 3, 2011 | Berita
ISI Denpasar menggelar acara perayaan Natal dan menyambut Tahun Baru 2011 bagi mahasiswa asing ISI Denpasar Tahun 2010/2011, bertempat di Gedung Natya Mandala (29/12). Dalam acara tersebut Ketua Panitia sekaligus koordinator Mahasiswa Asing Ni Komang Artini S.S. dalam sambutannya memberi apresiasi kepada seluruh mahasiswa asing yang telah memilih ISI Denpasar sebagai tempat study. Jumlah mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan berjumlah 41 orang tahun 2010-2011, 4 diantaranya kuliah dengan biaya sendiri, yang berasal dari 21 negara.
Dalam kesempatan ini Rektor ISI Denpasar juga memberikan penghargaan kepada pemenang yang mengikuti berbagai perlombaan diantaranya piagam penghargan dari Kodam untuk kedua fakultas, penghargaan bagi peserta Bali Choir Festival yang meraih Juara II serta dirigen favorit, peserta Lomba Parodi Pajak yang meraih juara III, juara III peserta Lomba Parade Busana, untuk panitia penggalang bantuan bencana alam (BANDALAM). Penghargaan juga diberikan kepada mahasiswa asing atas partisipasinya dalam rangka pengabdian masyarakat yaitu Ngayah di pura Pucak Penulisan, Bangli : Tashiro Chie, Chino Sakai, Chiaki Watanabe dan ngayah di Pura Agung Bungkulan Singaraja yaitu Tashiro Chie, dn Mariko Inui., serta penghargaan lainnya.
Acara tutup tahun ini juga merupakan ajang ramah-tamah seluruh civitas akademika ISI Denpasar. Rektor ISI, Prof.Rai dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang sangat dalam kepada seluruh dosen, pegawai, mahasiswa, serta seluruh pihak yang sangat membantu ISI Denpasar dalam mengarungi kehidupan kampus selama 2010. “Banyak hal yang terjadi, bitter-sweet memories, kenangan indah dan pahit hendaklah menjadi bekal bagi kita untuk terus melangkah ke arah yang lebih baik di 2011,”ujar Prof Rai. tersenyum.
Acara yang ditutup dengan santap siang bersama ini juga mengundang dua mahasiswa ISI Denpasar yang baru saja menyelesaikan study di Thailand melalui program MIT (Malaysia-Indonesia-Thailand) yang dibiayai DIKTI. Selamat tinggal 2010, selamat datang 2011…ISI Denpasar maju terus dengan penuh semangat dan percaya diri demi nusa dan bangsa tercinta, Indonesia Jaya.
Humas ISI Denpasar Melaporkan.
by admin | Jan 3, 2011 | Berita
JAKARTA–Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh menjamin, untuk sementara ini tidak akan ada kebijakan menarik guru berstatus pegawai negeri sipil ( PNS) dari sekolah swasta. Mendiknas mengakui, masalah ini cukup berat. Pasalnya, kenyataannya memang ada peraturan yang mengatur bahwa pegawai negeri sipil (PNS) harus bekerja di bawah lembaga milik pemerintah.
“Kami berikan garansi kepada masyarakat bahwa Kemdiknas tidak punya kebijakan untuk menarik guru negeri dari sekolah swasta,” ungkapnya di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Kamis (30/12). Penegasan ini disampaikan, lanjut Mendiknas, lantaran dirinya banyak menerima kritikan bahwa Kemdiknas yang sudah memberikan dana bantuan operasional sekolah (BOS) kepada sekolah swasta, tetapi tidak bisa memberikan bantuan tenaga pendidik berupa guru berstatus PNS.
Dijelaskan, jaminan itu bukan hanya untuk sekolah dasar dan menengah, tetapi juga terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Hingga saat ini masih cukup banyak dosen yang berstatus PNS juga diperbantukan untuk mengajar di beberapa universitas atau perguruan tinggi swasta yang dikoordinir oleh kopertis. Diakui, terkadang hal ini menimbulkan permasalahan tersendiri.
“Untuk menjawab kondisi seperti ini, maka kami (Kemdiknas) masih melakukan pembahasan dengan pihak Kementerian Pemeberdayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Kami ingin merumuskan suatu kebijakan yang dapat memberikan suatu pengecualian untuk guru atau tenaga pendidik. Saat ini pembahasan masih berlanjut. Namun untuk sementara, kami tegaskan kembali tidak akan ada penarikan guru PNS dari sekolah-sekolah swasta,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo menyebutkan, beberapa tahun lalu memang ada surat edaran dari Kemenpan-RB yang intinya melarang penempatan guru PNS di sekolah swasta. PGRI sudah lama menolak kebijakan itu, tetapi tidak ada respons. Sejumlah pemerintah daerah ada yang mengikuti, ada yang masih membiarkan,” ujar Sulistiyo.
Menurut Sulistiyo, sekolah-sekolah swasta, terutama SD dan SMP swasta kecil dan yang kemampuannya keuangannya terbatas, tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah. Adanya bantuan guru PNS di sekolah swasta mampu mengurangi biaya operasional sekolah sehingga bisa menggratiskan biaya pendidikan dasar. (cha/jpnn)
Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/12/30/80789/Nuh-Jamin-Tak-Tarik-Guru-PNS-dari-Sekolah-Swasta-