by admin | Jan 17, 2011 | Berita
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 3 jam, rombongan ISI Denpasar tiba di Pura Maksan Salak Desa Tista Karangasem, Sabtu (15/1). Di pura yang memiliki 301 pengempon ini, dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI disambut hangat oleh penduduk dan pemuka desa, dalam kegiatan Tri Darma, yaitu pengabdian masyarakat dengan ”ngaturang ayah”. Mengiringi ”pemedek” yang menghaturkan ”banten” malam itu, penabuh Asti Pertiwi memainkan beberapa tabuh, yang kemudian disusul dengan persembahan Tabuh Gesuri, Goak Macok, Tari Selat Segara, Tari Wiranjaya, serta Pragmentari Ciwa Wisaya ditampilakn oleh mahasiswa FSP semester VII, sedangkan mahasiswa asing asal Jepang, Mariko Inui dan Tashiro Cia membawakan tari Margepati. Yang sangat menarik adalah, para penabuh yang memainkan gemelan Gong Kebyar berumur 2 abad milik Desa Adat Tista, tidak hanya mahasiswa Karawitan semeter VII, namun turut serta Pembantu Rektor (PR) II dan IV, Dekan FSP, Kejur serta Sekjur Karawitan.
”Kami, atas nama ”krama” menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada ISI Denpasar yang telah bersedia ”ngayah”di pura ini, dan kami sangat bangga ISI Denpasar sudah terkenal di Manca Negara sebagai pelopor seni budaya Bali,”ujar I Nyoman Sarjana, Klian Pura Maksan Salak saat ramah-tamah dengan Rektor ISI didampingi PR II,IV, serta Dekan FSP. ”Kami juga sangat berterima kasih telah diberi kesempatan untuk ”ngayah”, dan berdoa bersama untuk memohon keselamatan. Apresiasi yang mendalam juga kami sampaikan untuk mahasiswa dan dosen yang selalu semangat dalam setiap kegiatan ”ngayah” ini,”ucap Prof. Rai.
I Nyoman Karang, salah seorang penduduk desa Tista, pemain kendang yang telah menerima Satya Lencana pada tahun 2007 ini tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya dengan kedatangan rombongan ISI Denpasar di daerah kecil ujung timur Pulau Bali tersebut. Demikian juga animo masyarakat sangat tinggi, sehingga walau hujan turun malam itu, masyarakat tetap memenuhi ”jaba” pura untuk menyaksikan keindahan tarian mahasiswa ISI Denpasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 17, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Bukan hanya gunung Merapi, Bromo, dan Anak Krakatau saja yang belakangan meletus. Sabtu (27/11) malam lalu, gunung Mandara juga meletus dahsyat. Yang mengerikan, wedhus gembel yang dimuntahkan gunung Mandara mengandung halahala yaitu racun yang mematikan. Racun yang dimuntahkan dari puncak gunung itu mengancam segala mahluk hidup.
Tetapi masyarakat Jawa Tengah yang menyaksikan letusan gunung Mandara itu tampak tenang-tenang saja bahkan menikmatinya dengan rona suka cita.
Meletusnya Mandaragiri itu adalah sebuah pementasan sendratari yang digelar di Pendhapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah. Sendratari berjudul “Siwa Wisaya“ itu merupakan persembahan para mahasiswa ISI Denpasar yang disuguhkan sebagai penampilan pamungkas dalam pentas Mebarung Gong Kebyar Se-Jawa dan Bali yang diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Duel Gong Kebyar yang berlangsung dua malam, 26-27 Nopember lalu itu, menghadirkan empat grup Gong Kebyar yakni ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, Puspa Giri Semarang, dan ISI Denpasar.
Kisah gunung Mandara yang disuguhkan oleh 60 orang mahasiswa ISI Denpasar itu terasa kontekstual dengan bencana alam letusan gunung yang kini sedang merisaukan masyarakat Indonesia. Cerita tentang Mandaragiri sangat akrab pada masyarakat Jawa pencinta wayang kulit. Karena itu, Pemutaran Mandaragiri yang merupakan bagian awal dari epos Mahabharata yang digarap dalam sendratari berdurasi 25 menit, menjadi komunikatif. Penonton yang memenuhi Pendhapa menyimak dengan antusias dan tekun tampilan artistik dan lontaran pesan yang digarisbawahi secara verbal oleh dalang atau narator dalam bahasa Jawa Kuno dan Indonesia.
Alkisah pada zaman satyayuga, para dewa dan raksasa bersepakat bekerja sama mencari tirta amerta atau air kehidupan abadi. Untuk mendapatkan air suci itu adalah dengan cara mengaduk lautan susu, ksiarnawa, dengan sebuah gunung. Pada hari yang telah ditentukan, gunung Mandara di Pulau Sangka digotong oleh Hyang Antaboga dan diceburkan ke tengah samudra. Agar gunung mengapung, kura-kura Kurma menyangga di dasar laut dan dewa Indra menduduki puncak gunung. Naga Basuki yang membelit gunung, kepalanya dipegang para raksasa dan ekornya ditarik oleh para dewa. Mandaragiri diputar. Samudra mendidih dan topan menyamuk. Para penghuni gunung terpelanting binasa dan habitat lautan bergelimpangan.
Dari puncak gunung mandara menyembur gumpalan hitam pekat. Para dewa dan para raksasa bersorak girang, berebut hendak mereguk gumpalan yang mencair itu. Dewa Siwa yang mengawasi sepak terjang para dewa dan raksasa itu dengan sigap merebutnya dan dengan seketika meminumnya. Leher Dewa Siwa menjadi biru legam terbakar karena yang diminum oleh Dewa Siwa adalah halahala alias racun pembunuh. Para dewa dan raksasa penasaran dan kembali memutar gunung Mandara yang kemudian mengeluarkan cairan bening wangi, tirta amerta. Para raksasa dengan garang menguasai dan melarikan. Beruntung Dewa Wisnu dapat merebut dengan tipu rayu menjadi bidadari. Tirta amerta itu kemudian ditebar Dewa Wisnu untuk kebahagian segenap manusia dan kedamaian jagat.
Wedhus Gembel Halahala Mandaragiri, Bagian II, Selengkapnya
by admin | Jan 16, 2011 | Berita

Kunjungan Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. beserta PR II, ke Palu pada pertengahan Desember 2010 sebagai wujud gagasan untuk mendirikan ISI Palu, ditindaklanjuti oleh Kadisbudpar Drs. H.Suaib Jafar, M.Si. Jumat (14/1) Suaib berkujung ke ISI Denpasar untuk membahas lebih lanjut sarana dan prasarana guna pendirian ISI Palu. Bertempat di Ruang Sidang ISI, Rektor didampingi para Pembantu Rektor, Dekan kedua Fakultas beserta jajarannya memaparkan kesiapan ISI Denpasar untuk kerjasama guna tingkatkan SDM dan Seni Budaya Sulawesi Tengah.
”Kami sangat berterima kasih kepada kampus ISI Denpasar, yang telah bersedia bekerja sama dengan Pemda Sulteng, dan kami ”menyerahkan” seni budaya Sulteng ke tangan Bapak-Ibu dosen ISI Denpasar. Untuk itu, kami mengundang Rektor ISI beserta jajarannya, untuk datang ke Palu dalam rapat koordinasi HUT Provinsi Sulteng, sekaligus penandatangan MoU pada tanggal 14 Februari mendatang,” ujar Suaib, yang tentu disambut anggukan setuju pejabat ISI.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, I Ketut Garwa mengutarakan bahwa pada Bulan April 2011, serangkaian HUT Provinsi Sulteng, ISI Denpasar akan mengunjungi Palu dengan anggota yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 100 orang. Mahasiswa dan dosen ini akan menciptakan karya baru dengan konsep budaya Palu. Hal ini disambut baik oleh Suaib, dan dalam waktu dekat akan dikirim dua orang pegawai Pemda Sulteng untuk belajar tari Bali seta mempersiapkan kolaborasi tersebut. Disamping itu, Dekan FSRD, Ni Ketut Rini juga memaparkan rencana pameran yang akan digelar serangkaian HUT Prov.Sulteng.
”Kami sangat berterima kasih atas kunjungan Kadis Budpar Sulteng, dan atas kerjasama baik demi kemajuan SDM dan seni budaya Sulteng. Konsep Tri Hita Karana yang kita miliki yang sama dengan konsep Roso, Risi, Rasa di Sulteng akan semakin mempermudah implementasai rencana kerja dalam kerjasama ini, demi kemajuan ISI Denpasar serta Pemda Sulteng,” harap Prof Rai.
Seusai pertemuan, Kadis Budpar didampingi Rektor dan jajarannya mengunjungi Gedung Pameran ISI Denpasar, serta menyaksikan Penabuh Asti Pertiwi yang sedang berlatih untuk persiapan ngayah di Karangasem pada tanggal 15 dan 21 bulan ini.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 16, 2011 | Berita
JAKARTA–Menteri Keuangan menerbitkan aturan pengelolaan dana pengembangan pendidikan sebagai panduan agar pengelolaannya oleh badan layanan umum (BLU) berlangsung transparan dan akuntabel. Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Keuangan, Yudi Pramadi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (14/1), menyebutkan, Menteri Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238/PMK.05/2010 tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan, Pengelolaan, dan Pertanggungjawaban “Endowment Fund” dan Dana Cadangan Pendidikan.
Yudi menyebutkan, dalam APBN dan/atau APBN Perubahan dialokasikan dana pengembangan pendidikan nasional berupa “endowment fund” dan dana cadangan pendidikan yang pengelolaannya dilakukan oleh BLU. Endowment fund adalah dana pengembangan pendidikan nasional yang dialokasikan dalam APBN dan/atau APBN-P yang bertujuan untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi berikutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban antar generasi (intergenerational equity).
Dana cadangan pendidikan merupakan dana pengembangan pendidikan nasional yang dialokasikan dalam APBN dan/atau APBN-P untuk mengantisipasi keperluan rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam. Sementara satuan kerja (satker) BLU pengelola “endowment fund” dan dana cadangan pendidikan merupakan satuan kerja yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLU.
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) merupakan pengguna anggaran atas endowment fund dan dana cadangan pendidikan. Pencairan endowment fund dan dana cadangan pendidikan dari kas negara ke satker BLU dilaksanakan dengan pencairan dari rekening kas umum negara dan ditampung dalam rekening dana endowment fund pada satker BLU.
Atau pencairan dari rekening kas umum negara ditampung dalam rekening dana cadangan pendidikan pada satker BLU. Menteri Keuangan juga mengatur penerimaan pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan endowment fund dan dana cadangan pendidikan. Pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan endowment fund ditampung dalam rekening pendapatan endowment fund pada satker BLU.
Sementara pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan dana cadangan pendidikan ditampung dalam rekening pendapatan dana cadangan pendidikan pada satker BLU. Jika satker BLU belum terbentuk, pengelolaan endowment fund dan dana cadangan pendidikan dilaksanakan oleh Pusat Investasi Pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan.
“Jika kemudian satker BLU terbentuk, maka pengalihan endowment fund dan dana cadangan pendidikan dari Pusat Investasi Pemerintah kepada satker BLU diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan tersendiri,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/01/14/158567-aturan-pengelolaan-dana-pengembangan-pendidikan-diterbitkan
by admin | Jan 15, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan
Di Bali masih ada nama Igor Tamerlan. Seniman musik idealis ini bahkan sedang berkreasi lebih maju, membuat apa yang disebutnya techno gong. Wujudnya berupa alat musik berbentuk vibes atau kolintang besi tapi electric dan setengah synthesizer. Alat ini masih harus disempurnakan lagi, seperti penuturan Igor Tamerlan sendiri. Sementara proyek rekaman kontemporernya tengah dijajaki lagi, dan tetap berdekatan dengan aroma etnik Bali. Sekedar mengingatkan, pada awal 90-an, Igor pernah melejit dengan Bali Vanilli, yang berbau rap dan bercerita tentang turis asing dan Bali. Dan dari Pulau Dewata masih ada juga, I Wayan Balawan. Solois dengan dua gitar yang barusan tour di Eropa. Ia juga mempunyai kelompok musik etnik, Batuan Etnik Fusion. Di sana fusion dipadukan dengan musik tradisi Bali. Dari generasi muda musisi kita, boleh dicatat olah kreasi Tipe-X yang pernah mengajak Bandung Percussion Society untuk tampil di salah satu acara di stasiun teve swasta. Atau Naif, yang sampai mengajak orkes tanjidor terlibat dalam rekaman bahkan konser mereka nanti 25 Oktober 2000.
Cuplikan wawancara seorang wartawan Bali Post dengan Belawan mengutarakan pandangannya terhadap world music karena dia telah banyak menggeluti bidang spiritual, mau tidak mau, akhirnya musik saya juga sangat berdampingan dengan hal-hal atau nuansa spiritual. Musik dan spiritual itu sama. Menyuguhkan suatu musik, sama dengan mantra. Untuk pembuatan musik dimotivasi dari konsep Tri Hita Karana. Hal ini dilakukan dengan cara tidak sengaja, baik dalam membuat musiknya, liriknya, atau yang lainnya. Intinya, musik Belawan lebih banyak mengarah ke kemanusiaan. World music adalah musik yang mengarah ke universalitas, global, cinta, dan kemanusiaan.
Gede Yudana tahun 1990-an sudah mulai menggarap musik komputer. dia lebih populer negeri orang dari pada di Bali sendiri. Berbagai karya yang lahir dari hasil kontemplasinya, tidak terlepas dari pengalaman pribadinya sebagai orang Bali, walaupun kadangkala terlepas dari semuanya itu, toh rasa ke-Baliannya masih melekat dalam dirinya. Kadek Suardana seorang pelaku teater di Bali bergelut dengan Roland sintasizer E 86 bergelut memasukan berbagai unsur musik Bali dalam berbagai garapannya. Hasil yang didapat dengan pengolahan komputer menggunakan sofware cakewalk 8, Suardana telah menempatkan diri sebagai seorang musisi yang cukup handal. Berbagai alasan yang keluar dari pengakuan Yudana dan Suardana adalah efisiensi dalam berbagai karya cukup dipikirkan oleh sendirian saja, tanpa mengeluarkan biaya banyak untuk latihan.
Dalam berbagai kesempatan Suardana tampil dengan sistem live dimana rolandnya tidak pernah tertinggal. Pementasan musik live yang dibawakannya dengan membawa berbagai atribut seni tradisional yang dikemas cukup baik. Di sisi lain I Ketut Lanus berpendapat bahwa bermain dengan menggunakan format tekno akustik baik secara dubing maupun lipsing, sangatlah mudah untuk dilaksanakan dari pada bermain musik tekno akustik secara live karena berdasatkan hitungan. Lanus berpendapat jikalau bermain dengan DJ maka yang seharusnya menyesuaikan adalah sang DJ bukannya instrumen musik akustik. Namun dari berbagai pernyataan yang keluar, satu hal yang seragam adalah pendapatan secara finansial jauh lebih besar dibandingkan dengan bermain musik tradisional.
Sekelumit Perkembangan Musik Kontemporer di Bali, Selengkapnya