M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Penelitian Agar Dikecualikan Dalam UUKIP

Penelitian Agar Dikecualikan Dalam UUKIP

SUMEDANG, Pada penerapan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), penelitian akademisi perguruan tinggi diharapkan dapat dipertimbangkan sebagai dokumen yang dikecualikan untuk dibuka kepada publik.

“Masih terdapat banyak penyalinan dokumen penelitian, yang sebenarnya dapat dikategorikan plagiarisme,” kata dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Suwandi Sumartias, saat dihubungi di Kampus Unpad, Jatinangor, Sabtu (22/1).

Dalam penelitian, menurut Suwandi, data yang sedang dikaji oleh akademisi sering sudah disalin orang lain, yang saat ini sering diistilahkan copy and paste. Kecuali jika telah menjadi kesimpulan maka hasil riset tersebut dapat atau bahkan harus dipublikasikan.

“Dari beberapa penelitian dosen atau mahasiswa, ada beberapa yang berkaitan dengan dokumen negara yang dirahasiakan. Dengan sendirinya, dokumen tersebut tidak dapat dibuka kepada publik, jika diminta,” ujarnya.

Selain itu, hasil penelitian akademisi juga terkadang harus menunggu paten atau pendaftaran hak cipta, sebelum dapat dipublikasikan. Hal ini bertujuan untuk melindungi hasil karya akademisi dari kemungkinan munculnya pihak yang dengan mudah dapat melakukan plagiat, terlebih bagi pihak yang akan memanfaatkannya untuk kepentingan bisnis individu.

“Beberapa dari hasil penelitian ada yang harus menunggu didaftarkan ke Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Kepentingan hasil penelitian kan memang ditujukan untuk masyarakat luas. Jika ada pihak yang membajak hasil penelitian dan memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi, tentunya hal itu akan memberatkan juga merugikan masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Komisioner Komisi Informasi Pusat Subkomisi Informasi Pelayanan Dasar Abdul Rahman Ma’mun mengatakan, tidak semua hasil naskah dapat dikategorikan sebagai dokumen publik yang dikecualikan. Namun, secara umum, penelitian dapat dipertimbangkan menjadi dokumen atau informasi publik.

“Semuanya tergantung penelitiannya. Jika ada proses atau prosedur penelitian yang belum didaftarkan menjadi hak paten, dan ada keterkaitan draf dengan HAKI, dokumen itu dapat dipertimbangkan menjadi dokumen yang dikecualikan,” tuturnya. (A-196)***

Sumber: http://pikiran-rakyat.com

Televisi sebagai Konstruksi Realitas, Bagian II

Televisi sebagai Konstruksi Realitas, Bagian II

Kiriman Arya Pageh Wibawa, Dosen PS Desain Komunikasi Visual

Analisis

1. Iklan

Menurut Jeffkins (1997), iklan adalah cara menjual melalui penyebaran informasi, dimana merupakan suatu proses komunikasi lanjutan yang membawa para khalayak ke informasi terpenting yang memang perlu mereka ketahui. Dengan kata lain, iklan adalah suatu cara membicarakan hal-hal tertentu kepada khalayak ramai, sebagai calon konsumen, mengenai suatu produk, baik barang maupun jasa, melalui berbagai media komunikasi massa, baik cetak maupun elektronik, dengan bermacam metode untuk mempengaruhi atau mendorong masyarakat, sebagai calon konsumen, agar tertarik untuk membeli barang atau jasa tersebut. Sebagai contoh adalah iklan pemutih kulit Pond’s Flawless White. Secara tekstual, pencitraan yang diberikan adalah penyamarataan antara kulit yang putih dengan kecantikan. Hal ini dapat dilihat dari narasi yang dibangun berupa adanya ketertarikan pria hanya kepada wanita yang memiliki kulit yang putih. Secara wacana, iklan pemutih kulit pada wanita ini menunjukkan ketundukan seorang wanita terhadap kekuasaan pria, dimana dapat dilihat dari cara wanita yang harus mengubah warna kulitnya yang berwarna menjadi putih. Khalayak pemirsa diajak untuk beropini bahwa kulit yang putih adalah superior dan wanita diajak untuk mengganti warna kulitnya dengan warna putih. Ini adalah bentuk konstruksi realitas yang ada dimana menurut Wolf (2004), model pencitraan yang mensyaratkan perempuan bisa dikatakan cantik dengan harus putih dan langsing adalah merupakan mitos yang menghanyutkan. Dia menjelaskan bahwa mitos tersebut telah merusak perempuan dan membuat mereka terobsesi meraih citra ideal tentang kesempurnaan fisik. Bahkan tidak sedikit perempuan tega merusak diri sendiri karena terpenjara oleh mitos kecantikan tersebut. Mitos kecantikan perempuan adalah suatu bentuk destruktif dari kontrol sosial dan juga merupakan reaksi terhadap meningkatnya status perempuan, ketika perempuan kini lebih dihargai dan diperhitungkan secara profesional baik dalam dunia bisnis maupun politik.

2. Berita (News)

Klaus Jensen (1995) mengambil pendekatan kepuasan dalam menyimpulkan empat kegunaan berita bagi khalayak :

1.      Kegunaan dalam konteks, misalnya menonton televisi berita menjadi bagian dari ritual domestik, terutama laki-laki

2.      Kegunaan informasional, televisi berita mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia

3.      Kegunaan legitimasi, memirsa televisi berita memberikan khalayak pemahaman terhadap kontrol atas pelbagai peristiwa dan pengertian berbagi makna perihal dunia bersama orang lain

4.      Kegunaan diversional, televisi berita seperti hiburan, ketika misalnya pemirsa menikmati mengikuti beberapa kisah yang tengah berkembang

Burton (2000) mendefinisikan berita menjadi :

1.      Berita sebagai genre, formula elemen kuncinya dibatasi oleh konvensi yaitu materi presentasi berita, nilai berita, dan kelayakan berita. Contoh sederhana adalah seperti liputan6 (SCTV), materi presentasinya adalah seputar kejadian yang sedang bahkan baru berkembang dengan penyajian gambar dan efek suara yang lebih bersifat formal, sorotan kamera serta narasi yang ditunjukkan adalah bersifat formal. SERGAP (RCTI), materi representasi yang dihadirkan adalah tentang seputar kejahatan yang meresahkan masyarakat dan lain sebagainya. Penyajian acara berita ini, agak sedikit mengarah ke informal dan bahkan menampilkan sosok selain pembaca berita yang dominan.

2.       Berita sebagai drama, berita bersifat dramatis dikarenakan watak sebuah cerita, seperti penceritaan tentang seorang satgas bencana yang sedang menolong korban bencana di suatu lokasi.

3.      Berita sebagai praktik profesional, ketika seorang wartawan mengklaim sebagai profesional seperti yang mereka lakukan

4.      Berita sebagai komoditas

Bertolak dari pemikiran marxis tentang produksi massal, tentang cara-cara di mana relasi sosial kekuasaan dikendalikan oleh kepentingan komersial atau determinisme ekonomi.

5.      Berita sebagai Wacana

Berita mengandung wacananya sendiri, didalamnya terdapat makna tentang apa berita itu, makna yang dihasilkan lewat cara penggunaan kode-kode didalamnya.

Televisi sebagai Konstruksi Realitas, Bagian II, selengkapnya

Pameran Fotografi Berkonsep Ala Mahasiswa Fotografi, FSRD  ISI Denpasar

Pameran Fotografi Berkonsep Ala Mahasiswa Fotografi, FSRD ISI Denpasar

Kiriman Arba Wirawan, Ketua Program Studi Fotografi

Denpasar -Pembukaan pameran akhir semester, mahasiswa Program Studi Fotografi, FSRD, ISI Denpasar Senin, (24/01) di gedung Green Room oleh Dekan FSRD, didampingi oleh PD II, PD III, dan ketua Program Studi Fotografi, serta dosen pembimbing. Saya mengucapkan syukur dan selamat atas kreativitas mahasiswa fotografi, walaupun kurang dari segi jumlah namun kualitas mahasiswanya memberi  warna positif kampus. Ini dibuktikan awal tahun ini menyerahkan piagam prestasi menjuarai lomba foto tingkat nasional Piala Kemenpora. Hadir pula pada pembukaan pameran Prof/A Paul Trinidad menyaksikan langsung pameran mahasiswa dan memberikan masukan dan salut atas karya-karya dan akan dipamerkan pada program kerjasama ISI-UWA di web sitenya.

Ujian akhir semester tidak melulu diwarnai ketegangan oleh mahasiswa yang ikut dalam suatu mata kuliah. Hal itu tampak jelas pada pameran karya fotografi ujian akhir semester program studi fotografi ISI Denpasar Senin, 24 Januari kemarin. 29 orang dari semester I hingga semester VII yang tergabung dalam himpunan  mahasiswa fotografi ISI Denpasar dengan antusias menggelar pameran bersama dalam rangka menampilkan karya terbaik mereka selama mengikuti proses perkuliahan. Ekspresi kegembiraan terlihat dari seluruh mahasiswa yang terlibat dalam pameran di Grandroom kampus setempat. Dalam pameran terlihat jelas variasi karya yang ditampilkan, karena memang setiap semester menampilkan genre fotografi yang berbeda. Karena memang setiap jenjang diberikan teknis yang berbeda, dan semakin tinggi jenjangnya, eksplorasi mereka tidak hanya teknis saja melainkan konsep foto.

Pada Karya foto mahasiswa semester I yang mengikuti maka kuliah Fotografi I, terlihat beragam teknis dasar fotografi seperti permainan tata cahaya, komposisi dan permainan kamera yang ditampilkan dalam karya-karya yang cukup variatif, mulai dari permainan kecepatan rana, pengkombinasian depth of field lensa hingga teknik multiple flash (strobe) yang memerlukan perhitungan cukup rumit. Senior mereka yang duduk di kelas Fotografi II tampak sudah lebih diarahkan kepada karya tematik yang sudah ditentukan temanya oleh pengajar, namun mereka mengolah dan mengkemas tema tersebut menjadi karya berciri khas pribadi. Tema-tema yang disajikan antara lain karat, bunga, binatang, landscape, batu, daun, air hingga nude photography.

Sedangkan untuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Fotografi V dan Fotografi VII, karya-karya mereka sudah tidak lagi terbatas pada tema yang ditawarkan pengajar karena dianggap sudah mampu menciptakan gaya fotografi pribadi, namun tetap dalam arahan dan bimbingan tim pengajar. Dari karya-karya yang disajikan tampak kenakalan berkonsep ala mahasiswa dalam mengkemas karyanya. Pada 6 karya yang ditampilkan Sri Wahyuni misalnya, fotografer wanita ini dengan berani menampilkan berbagai anatomi tubuh wanita yang dikemas dengan teknik overlapping  cahaya,tekstur dan warna lewat  piranti LCD Proyektor. Menurut Deyu, panggilan Sri Wahyuni, posisi perempuan sebagai fotografer dimanfaatkannya untuk mengkritisi masalah sosial mengenai wanita seperti kesetaraan gender, pelacuran, kekerasan dalam rumah tangga hingga woman trafficking dalam karya-karyanya. Deyu juga menyatakan bahwa fotografer perempuan tidak kalah kreatif dengan fotografer pria baik dari segi ide, konsep dan keseriusan penggarapan karya.

Beberapa foto karya Novian Wahyu Firmansyah yang mengkemas permainan asap dalam karyanya juga sangat menarik perhatian pengunjung. Dia berhasil menyajikan penumpukan-penumpukan asap menjadi sesosok figur wayang. Dalam karyanya yang berjudul Bisma berkaca misalnya, pemuda asal Malang ini menyajikan  pesan pentingnya pelestarian wayang pada generasi muda dan kebijakan Bisma yang selalu berkaca alias introspeksi diri, bukannya memaksakan kehendak pribadi untuk berkuasa seperti pemimpin pemimpin di masa sekarang sindirnya. Selain karya-karya fotografi yang spesifik mengulas tentang isu-isu dan makna tertentu, masih banyak pula yang menyajikan human interest, landscape serta model ke dalam karya mereka.

Menurut Ngurah Sutawan yang merupakan ketua himpunan mahasiswa fotografi ISI Denpasar, pameran ini selain menjadi ajang untuk menampilkan karya – karya terbaik mahasiswa, juga sebagai media apresiasi kepada mahasiswa sendiri. Jadi setiap orang yang berkunjung ke pameran dapat menyampaikan kritik dan saran mereka untuk membangun kualitas kekaryaan dari mahasiswa bersangkutan. Selain itu Sutawan menjelaskan bahwa pameran yang rutin digelar setiap akhir semester ini juga sebagai media komunikasi antar mahasiswa yang berbeda semester untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri.

Dosen muda  PS  Fotografi ISI Denpasar I Made Bayu Pramana, S.Sn. M.Sn. menyatakan bahwa pameran ujian akhir semester yang digelar secara rutin oleh mahasiswa ini merupakan ajang yang sangat penting bagi perkembangan kualitas kekaryaan mahasiswa secara akademik, karena dalam pameran mereka dituntut untuk dapat menjelaskan serta mempertahankan konsep yang melandasi karya mereka. Menurut Bayu karya fotografi akademis tidak saja indah secara visual, tetapi mengandung berbagai unsur seperti ide, teknis yang baik, serta keunikan yang spesifik sebagai gaya pribadi seorang fotografer, sehingga secara keseluruhan karya mahasiswa harus mengandung sebuah maksud tersembunyi yang ingin disampaikannya kepada apresiator, baik berupa pesan, isu, dan bisa saja berupa kritik. Bahkan, Bayu menyampaikan fotografi saat ini sudah tidak terbatas sebagai media rekam semata-mata, kemajuan teknologi telah membawa fotografi dapat disejajarkan dengan karya seni rupa lainnya seperti lukis karena kini karya fotografi dapat dicetak pada media apapun dan dapat menyampaikan pesan apapun.

Anis Raharjo, S.Sn. M.Sn.  Seorang dosen fotografi senior  menambahkan bahwa keberanian  dan kepekaan seorang fotografer dalam mengkemas objek-objek tertentu sangat dituntut dalam berkarya. Misalnya saja dalam beberapa karya milik Sri Wahyuni, Budi Wijaya, Rai Raharja, Dicky setiawan dan Petra Yosi yag menampilkan erotisme tubuh wanita namun tidak ditampilkan secara vulgar dan melawan koridor undang-undang pornografi yang diterapkan pemerintah. Dengan kata lain fotografer tetap menyampaikan apa yang mereka ingin sampaikan namun dalam balutan simbol-simbol dan tanda-tanda tertentu yang dikemas secara kreatif dan estetis .

Sejalan dengan paparan Anis di atas, Komang Arba Wirawan, S.Sn. M.Si selaku ketua PS Fotografi ISI Denpasar menegaskan bahwa pameran ujian akhir semester ini bertujuan  untuk menggali jati diri dan potensi masing-masing mahasiswa, sesuai  dengan gayanya masing-masing serta memacu mahasiswa agar mengerjakan tugas-tugasnya secara optimal dan tepat waktu. Jadi dalam menghadapi dunia kerja nantinya, mereka diharapkan mampu mengolah ide menjadi karya yang bernilai tinggi, selain juga dapat bekerja sama secara koperatif dan mutualis dengan pasar, baik ke arah fotografi seni, jurnalistik maupun mereka yang nantinya terjun total ke arah fotografi komersial. Arba juga menyampaikan bahwa pencapaian mahasiswa Fotografi ISI Denpasar sudah meningkat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa mahasiswa telah berhasil menjuarai berbagai kompetisi fotografi tingkat local maupun nasional, ke depan diharapkan prestasi tersebut dapat diikuti oleh prestasi mahasiswa lainnya.

CP:     Ketua Program Studi Fotografi, FSRD, ISI Denpasar

Hp. 081338738806

Tunjangan Bisa Dihentikan

Tunjangan Bisa Dihentikan

Guru Besar yang Tak Selesaikan Kewajiban

SOLO – Tunjangan profesi dan kehormatan yang diberikan pemerintah pada guru besar bisa dicabut, jika tidak menyelesaikan kewajibannya dalam durasi waktu yang telah ditentukan.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah M Chamdi Rochmat. Chamdi mengatakan, ada tiga kewajiban yang harus ditunaikan oleh pendidik di universitas yang berstatus guru besar, yakni menulis buku sesuai dengan bidangnya, melakukan pengabdian pada masyarakat, dan menulis jurnal. Tiga hal tersbut mutlak dilakukan dalam jangka waktu maksimal tiga tahun. “Salah satu dari kewajiban itu tidak dilaksanakan, atau belum selesai dalam tiga tahun maka tunjangan bisa gugur,” jelas Chamdi, saat ditemui seusai memberikan sambutan pada acara wisuda mahasiswa STIE Atma Bhakti Surakarta di gedung Graha Sabha Buana, Sabtu (23/1).
Dia mengungkapkan, saat ini peran kaum intelektual dalam peningkatan dan pengembangan ilmu di tanah air masih sangat kurang. Hal itu bisa dilihat dari sedikitnya jurnal yang ditulis oleh mereka, baik berskala nasional maupun internsional. Padahal, sumbangsih ilmu pengetahuan sudah selayaknya diwujudkan dalam bentuk nyata. Sebagaimana tujuan diberikannya tunjangan untuk meningkatkan profesionalisme dan menularkannya pada masyarakat.
Tidak Terserap Besarnya tunjangan profesi dan kehormatan adalah satu kali gaji yang sudah disetarakan dengan gaji PNS. Namun untuk tunjangan kehormatan, guru besar mendapatkan dua kali lipat tunjuangan gaji. “Tunjangan ini tidak main-main. Guru besar mendapatkan tunjangan tiga kali lipat dari gaji. Besarnya bisa mencapai Rp 12 juta,” ungkapnya.
Tunjangan tak hanya diberikan pada guru besar. Dosen tetap di semua PTS dan PTN juga ikut mencicipi. Namun, mereka hanya diberikan tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji, tanpa ada kekhawatiran pemotongan tunjangan. Dikarenakan tak ada kewajiban sebagaimana yang diharuskan pada guru besar.
Dia juga menyayangkan banyaknya dana beasiswa S2 dan S3 yang tidak terserap oleh dosen. Padahal semua dosen, baik di PTN, PTS maupun sekolah yayasan diberikan kesempatan sama.
Ia menuturkan, hal itu dikarenakan tidak sinkronnya waktu penyeleksian dari pihak universitas pelaksana dan pengucuran anggaran dari DIKTI. “Beasiswa di luar negeri juga banyak yang belum dimanfaatkan. Faktor utamanya kendala bahasa,” ungkapnya. (han-75)

Sumber: http://suaramerdeka.com

Jauk Manis Gelitik Masyarakat Sibetan

Jauk Manis Gelitik Masyarakat Sibetan

Fakultas Seni Perstunjukan (FSP) ISI Denpasar tidak pernah sarat aktifitas. Kegiatan “ngayah” yang merupakan salah satu model kegiatan Tri Dharma Perguruan  Tinggi yakni pengabdian pada masyarakat, yang mulai dilirik oleh DP2M ((Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Dikti, seperti dibincangkan dalam acara pelatihan penyusunan usulan program Pengabdian Kepada Masyarakat, Jumat pagi (21/01/2011) yang lalu, digelar kembali di Pura Bale Agung Sebetan, Karangasem, Jumat malam (21/01/2011).

Beberapa warga masyarakat mengungkapkan kekagumannya akan pementasan FSP ISI Denpasar malam itu. “Luar biasa. Kami sebelumnya hanya kenal ISI lewat media masa. Pemantasan malam ini sangat memukau, tapi kurang banyak.” kata seorang warga. Penampilan Penabuh Wanita Asti Pertiwi bagaikan ”appetizer” yang membuat masyarakat semakin terpesona dengan pementasan berikutnya, yakni Tari Selat Segara, Wiranjana, Jauk Manis, Satya Brasta, Margapati, Oleg Tamulilingan, serta Fragmentari Ciwa Wesaya yang seluruhnya berdurasi hampir 3 jam belum cukup bagi masyarakat. Tari Jauk Manis yang mengisahkan kewibawaan dan karisma seorang Raja Raksasa ini, mengelitik gelak tawa masyarakat, lebih-lebih ketika penari mengundang salah seorang anak keatas panggung.

”Kami sangat berterima kasih kepada kampus ISI Denpasar yang telah ”ngayah” di pura ini, kegiatan yang sangat berarti bagi masyarakat kami, yakni sebagai upaya pelestarian budaya, dan juga memberi dampak sosial yang sangat menghibur masyarakat. Semoga dengan menyaksikan pementasan ISI Denpasar, masyarakat tergugah untuk mendalami seni budaya Bali ,” harap Kepala Desa Sebetan, I Nengah Sumerta,S.Pd.

Dekan FSP, I Ketut Garwa, S.Sn.,M.Sn. menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia Aci Usaba Sri Pura Bale Agung, yang telah memberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk ”ngaturang ayah”. ”Mari kita bersama-sama berdoa, demi keselamatan kita bersama, sehingga karya suci ini bisa terlaksana dengan baik.”harap Garwa. Tampak hadir dalam kegiatan ”ngayah” ini, Rektor, PRIV, PD I,II,dan III FSP. PD I FSP, I Dewa Ketut Wicaksana, SSP.,M.Hum. menjadi MC dalam pementasan tersebut, juga mewawancarai mahasiswa ISI Denpasar asal Jepang yang menarikan Tari Margapati. ”Wanita Jepang menarikan tari Bali, lalu bagaimana dengan kita orang Bali?,” tanya Rektor dalam sambutan singkatnya.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Loading...