by admin | Jan 27, 2011 | Berita
JAKARTA – Berdasarkan laporan Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional penyimpangan seringkali terjadi di perguruan tinggi negeri. Penyimpangan bisa berbentuk rekening liar maupun pembangunan fisik yang tak sesuai aturan.
Menanggapi soal penyimpangan, Sekretaris Jenderal kementerian, Dodi Nandika menyatakan ada satu cara menghapus penyimpangan dana di perguruan tinggi negeri, yaitu dengan merubah statusnya menjadi Badan Layanan Umum atau BLU. “Perubahan ini suatu cara untuk mengikis penyimpangan di PTN,” ungkapnya ketika ditemui Republika, Senin (24/1).
Dodi menjelaskan, selama ini sumber pendapatan yang didapatkan tiap kampus berasal dari tiga sumber. Sumber pertama dari anggaran negara atau APBN, kemudian kedua berasal dari riset dan penelitian yang dana berasal dari kerjsama dengan pemerintah daerah dan industri (swasta). Ketiga, berasal dari SPP mahasiswa, yang disebut Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Selama ini, menurut Dodi, terkadang kampus menggunakan SPP mahasiswa untuk proses belajar para mahasiswa. Padahal seharusnya dana tersebut langsung disetor ke kas negara dan kemudian kampus boleh meminta lagi dana tersebut untuk keperluan kegiatan perkuliahan.
Meski ia mengakui perkuliahan tak bisa melulu menunggu kucuran dana dari Pemerintah. “Ini karena memang perkuliahan, matrikulasi, praktikum dan praktek tidak bisa menunggu,” ungkapnya. Baginya meski dana digunakan untuk tujuan mulia, akan tetapi jika tak sesuai undang-undang maka sudah pasti salah.
Maka untuk mengatasinya, perguruan tinggi harus diubah menjadi BLU, sehingga tak selalu menimbulkan masalah. “BLU ini seperti rumah sakit dimana dana dari masyarakat dapat dipakai langsung tanpa melaporkannya ke negara,” ucapnya. Sejauh ini sudah ada 20 perguruan tinggi yang menjadi BLU, termasuk lima kampus besar Badan Hukum Milik Negara.
Bukan hanya soal status yang diubah akan tetapi juga Kementerian memberikan pelatihan untuk pengelolaan keuangan. “Jadi mereka mengetahui jenis anggaran yang melanggar peraturan perundangan,” ungkapnya. Akan tetapi jika masih melanggar, kementerian tak segan-segan memotong anggaran atau Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyebutnya sebagai sanksi finansial.
Penggunaaan PNBP atau SPP ini seringkali menjadi sorotan Badan Pemeriksa Keuangan. Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan seringkali menyoroti penyimpangan pembelian barang milik negara yang tidak dicatat dan pembukaan rekening yang tidak dilaporkan ke Kementerian Keuangan.
Sejauh ini mengenai kasus diatas Kementerian Pendidikan telah mendapat arahan dan rekomendasi dari BPK. Selain itu Irjen Kementerian Pendidikan telah membentuk satgas khusus untuk mengusut kasus dana tak jelas Rp 2,3 triliun.
Sumber: http://www.republika.co.id/
by admin | Jan 26, 2011 | Berita
Wacana untuk menjadikan ISI sebagai Perguruan Tinggi Seni yang berbasis keunggulan lokal dengan kwalitas bertaraf internasional segera akan terealisasi. Diawali dengan kunjungan ISI Denpasar ke University of Western Australia (UWA) pada tanggal 16-20 Agustus 2010, dilanjutkan dengan workshop International bertajuk “Wood Cut and Printing” pada 28 Oktober 2010 oleh dua Profesor dari UWA di kampus ISI Denpasar, lalu pameran lukisan kolaborasi ISI Denpasar dengan UWA dengan tajuk ”All Agree” di penghujung tahun 2010, Rabu (26/1) kemarin, kembali ISI Denpasar menerima kunjungan dari UWA untuk memantapkan rencana kerjasama yang akan dilanjutkan dengan penandatanganan MoU bulan Pebruari depan.
Perwakilan UWA, Profesor Paul Trinidad dari Fakultas Arsitektur, Landscape, dan Visual Arts (Faculty of Architecture, Landscape, and Visual Arts) UWA diterima Rektor didampingi para PR (Pembantu Rektor), serta Dekan kedua fakultas untuk membahas penandatanganan F to F (Fakultas dan Fakultas) antara Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) ISI Denpasar dengan Fakultas Arsitektur, Landscape, dan Visual Arts UWA, serta U to U yaitu ISI Denpasar dan UWA.
”Pada zaman global saat ini, ”networking” sangat signifikan peranannya dalam memajukan kampus ISI Denpasar. Jalinan kerja sama antara ISI Denpasar dengan UWA, adalah bukti bahwa masyarakat internasional juga sangat mencintai kampus ISI Denpasar. MoU tidak hanya diatas kertas, tapi juga diimplementasikan dalam kegiatan Tri Dharma, salah satunya didatangkannya mahasiswa UWA untuk belajar di ISI Denpasar bulan Juni mendatang. Hal ini merupakan tantangan besar bagi para dosen ISI Denpasar untuk mengasah diri, demi citra ISI Denpasar di tingkat internasional,”ujar Prof. Rai berharap.
Dekan FSRD, Ni Made Rinu mengucapkan terima kasih kepada Rektor yang selalu memberi dukungan positif sampai terealisasinya kerjasama dengan UWA. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), I Ketut Garwa, guna menjajaki lebih lanjut kerjasama F to F, antara FSP dan salah satu Fakultas di UWA.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 26, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Drama tari Gambuh adalah mata air seni pertunjukan Bali. Para peneliti dari Barat seperti Walter Spies dan R. Goris dalam karangannya yang berjudul “Overzicht van Dans en Tooneel in Bali” (1937) menyebut drama tari ini oertype van alle tooneel on alle muziek (asal atau sumber dari drama dan gamelan yang ada di Bali). Tetapi kini semakin sulit menjumpai pementasan seni pertunjukan kebesaran zaman kejayaan keraton Bali tersebut. Ternyata, jika diteliksik, agaknya drama tari ini telah lama tersungkur. Para seniman pegiatnya kian langka. Masyarakat Bali masa kini seperti tak memiliki relasi kultural dan subyektifitas estetik lagi dengan teater sepuh Gambuh.
Namun, Minggu (19/12) siang lalu, sebuah ritual keagamaan di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, berhasil menghadirkan pementasan drama tari Gambuh. Menariknya, teater Gambuh yang disimak asyik penonton dalam suasana religius-komunal itu, dibawakan oleh para seniman muda, baik para penari maupun penabuhnya. Adalah para mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang ngayah dengan penuh kesungguhan mementaskan kesenian langka tersebut. Berorientasi dari sebuah episode cerita Panji yang memang lazim diangkat dalam Gambuh, penonton dapat menyaksikan keagungan seni pentas bergengsi era feodalisme Bali itu yang kini berteduh dalam payung ritual keagamaan.
Pada era keemasan raja-raja Bali, khususnya pada masa Dalem Waturenggong (1416-1550), tari Gambuh adalah seni pertunjukan prestisius kesayangan seisi istana. Hampir setiap puri di Bali memiliki panggung khusus untuk pagelaran Gambuh yang disebut bale pegambuhan. Para seniman Gambuh yang menonjol direkrut menjadi seniman istana dan diberi status sosial yang terhormat. Namun ketika kolonialisme kemudian menggedor Bali yang menggerogoti kekuasaan kaum bangsawan, Gambuh limbung tanpa ampun. Sekarang, seni pertunjukan yang diduga berasal dari Majapahit dan jejak-jejaknya sudah muncul di Bali saat pemerintahan Udayana pada abad ke-11 ini, hanya dapat dipergoki bila ada upacara keagamaan yang dianggap penting, seperti yang diselenggarakan masyarakat Desa Bona tersebut.
Beruntung, di Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, kini teater Gambuh masih diusung oleh masyarakatnya. Dalam bingkai sosial adat dan ritual keagamaan, seni pertunjukan ini cukup bernafas normal. Pun Gambuh gaya Pedungan yang telah kehilangan maestronya, I Gede Geruh, kini dengan segala daya berusaha dikawal oleh seniman setempat. Dua gaya drama tari Gambuh ini, Gambuh Pedungan (Denpasar) dan Gambuh Batuan (Gianyar), masih mencoba eksis di tengah ketakpedulian masyarakat Bali. Baik Gambuh gaya Pedungan maupun Gambuh gaya Batuan dianggap memiliki ciri dan identitas yang masih dianut oleh pendukungnya masing-masing. Di ISI Denpasar, kedua gaya ini wajib dipelajari oleh mahasiswa yang menerjuni seni tari.
Sebagai warisan kesenian kraton, pada dasarnya drama tari Gambuh adalah ungkapan seni yang serius dan rumit. Polanya ketat dan penyajiannya protokoler. Bobot artistiknya mencuat dari kompleksitasnya, baik koreografinya maupun komposisi musiknya. Elemen musik dan tari dalam gambuh sangat terikat. Setiap tokoh, di samping masing-masing memiliki tatanan tari tersendiri, harus mempergunakan bahasa Jawa Kuno dengan alunan retorika yang telah terpola juga. Setiap tokoh memiliki iringan musik tersendiri yang jelimet berliku-liku, rata-rata berukuran panjang. Beberapa suling panjang adalah instrumen utama dari ansambel gamelan Gambuh. Alat musik bambu ini bertugas membawakan seluruh melodi gending, baik tabuh instrumental maupun gending iringan tari. Untuk memainkan suling-suling panjang ini cukup sulit, diperlukan tehnik permainan nafas dan keterampilan bermain suling selain juga kepekaan musikalitas yang tinggi.
by admin | Jan 26, 2011 | Berita
Oleh M. Imam Zamroni
Peneliti Pusat Studi Asia Pasifik UGM, sedang melakukan penelitian EFSD di Yogyakarta
Saat memasuki musim hujan, warga Indonesia di sejumlah tempat, di kota-kota besar seperti Jakarta dan kota-kota lain di Jawa, Sumatra, Sulawesi serta Kalimantan, harus bersiap-siap menghadapi bencana banjir, tanah longsor, bahkan puting beliung.
Seringnya terjadi bencana alam yang selalu menelan kerugian bagi masyarakat seolah sudah menjadi satu paket dengan perubahan musim. Ini merupakan ekses dari pola pembangunan yang miskin dari aspek sustainabilitas bagi kehidupan di muka bumi ini dan mengesampingkan kelestarian ekologis.
Pola kehidupan umat manusia di muka bumi ini juga lebih banyak memanfaatkan dan mengeksploitasi daripada melestarikan sumber daya yang ada di muka bumi ini. Dari tahun ke tahun Indonesia selalu kehilangan hutan 1,6 s.d 3,5 juta ha hutan, yang kemudian berdampak pada menurunnya kapasitas ketersediaan air tanah, saat musim kemarau kita mengalami kekeringan, ketika musim hujan kita didera bencana banjir dan longsor. Lebih dari itu, akibat illegal logging Indonesia dirugikan 20 triliun setiap tahunnya.
Implikasinya, berbagai macam bencana yang melanda bangsa ini dalam beberapa tahun terakhir semakin sering terjadi. Seperti tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, kerusakan terumbu karang, gempa bumi, dan tsunami. Fenomena tersebut menjadi bukti nyata bahwa pola hidup umat manusia di muka bumi ini lebih banyak mengeksploitasi dari pada melestarikan sumber daya yang ada. Yang berakibat pada semakin menipisnya ketersediaan sumber daya alam di nusantara ini.
Adanya kemerosotan kualitas sumber daya yang ada di muka bumi ini telah mengakibatkan merosotnya kualitas hidup umat manusia pada taraf yang mengkhawatirkan yang ditandai dengan adanya stagnasi kehidupan masyarakat dalam kondisi keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Pada tahun 2009 sudah mencapai hampir 40 juta jiwa.
Jika pola pembangunan yang tidak berimbang dan mengabaikan aspek sustainabilitas kehidupan umat manusia di muka bumi ini terus dibiarkan, maka bencana akan selalu mengancam kehidupan di muka bumi ini. Kenyamanan, keharmonisan dan ketenangan jiwa merupakan hal yang langka bagi seluruh isi alam ini.
Pendidikan merupakan sarana yang tepat untuk memperkenalkan sustainabilitas kehidupan dimuka bumi ini kepada anak-anak, agar mereka sejak kecil dibekali dengan wawasan sustainabilitas bagi generasi yang akan datang dan solidaritas sosial yang tinggi antar sesama.
Inovasi pendidikan
Melihat problematika yang dihadapi oleh umat manusia yang semakin komplek, bahkan mengarah pada kondisi chaostic, maka kita memerlukan perubahan paradigma pembangunan ke arah yang lebih berkelanjutan (more sustainable development) untuk anak cucu kita pada generasi yang akan datang.
Pendidikan mampu menjadi wahana untuk memperkenalkan kepada anak cucu kita tentang paradigma pembangunan berkelanjutan dengan tujuan untuk mempersiapkan generasi penerus yang dibekali dengan wawasan berkelanjutan dalam berbagai aktifitas yang dilakukan untuk terciptanya kehidupan yang lebih baik, lebih nyaman dan aman di muka bumi ini.
Inovasi pendidikan ini penting dilakukan untuk mengantisipasi semakin parahnya kerusakan lingkungan, krisis sosial maupun krisis kebudayaan. Pendidikan berparadigma pembangunan berkelanjutan (education for sustainable development atau EFSD) memang bukan ditujukan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik secara instant dan cepat, melainkan bertujuan untuk mempersiapkan kehidupan generasi akan datang yang lebih baik, aman dan nyaman. Inilah esensi dari EFSD yang merupakan manifestasi dari pemahaman bahwa pendidikan merupakan sarana investasi jangka panjang untuk terciptanya kehidupan yang lebih baik.
EFSD sebagai ruh pengembangan pendidikan dapat diinternalisasikan pada kurikulum pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Bahkan lebih dari itu, EFSD juga dapat diterapkan dalam keluarga maupun masyarakat dengan cara melakukan pembiasaan-pembiasaan kepada anak-anak untuk melakukan kegiatan yang mengarah pada aspek pembangunan keberlanjutan, seperti menjaga kebersihan, menjalin hubungan baik antar sesama, menanam pohon, membiasakan jujur, membuang sampah pada tempatnya, menjaga kelestarikan lingkungan dan lain sebagainya.
Cerminan dari kurikulum berparadigma pembangunan berkelanjutan adalah adanya metode pembejaran yang kontekstual (contextual teaching and learning) dengan fenomena yang ada di sekeliling kita yang mengarah pada kelestarian lingkungan, kelestarian budaya dan keadilan sosial. Yang dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua.
Dalam praksis pembelajaran, sejak awal anak-anak dikenalkan pada fenomena riil yang ada di sekitar mereka dan kemudian guru memfasilitasi dan memberikan pemaknaan-pemaknaan ke arah pembangunan berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran lebih bersifat induktif, dengan memberikan contoh terhadap fenomena riil yang ada di depan kita, dan mengkontekstualisasikan dengan teori-teori yang relevan dengan mata pelajaran yang ada di kelas.
Anak-anak dibiasakan berpikir jangka panjang untuk keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini dan bukan berpikir instan dan pragmatis seperti halnya ketika mereka menghadapi Ujian Nasional (UN).
Sinergi pendidikan agama
Selain dapat diimplementasikan dalam kurikulum mata pelajaran umum, EFSD juga dapat diimplementasikan dalam mata pelajaran agama. Spirit pendidikan agama yang selalu mengajarkan keselarasan dan kearifan dalam kehidupan umat manusia dapat dijadikan sebagai basis fundamental untuk mendesain penyelenggarakan pendidikan berparadigma EFSD. Keduanya dapat saling melengkapi dan saling menguatkan, sehingga terbentuklah suatu desain kurkulum terpadu dan holistik.
model pendidikan agama berparadigma EFSD juga sebagai salah satu upaya untuk mensinkronkan, mengintegrasikan dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama dalam pembangunan berkelanjutan yakni, aspek ekonomi, aspek keadilan sosial dan aspek kelestarian lingkungan. Aspek ekonomi meliputi: pertumbuhan berkesinambungan, kesetaraan hak dan kesempatan, keseimbangan produksi dan konsumsi. Aspek keadilan sosial meliputi: harmoni, selaras dan empati, demokrasi, partisipasi, diversitas kultur, etnik dan budaya lokal. Aspek kelestarian ekologi meliputi: keseimbangan beberapa sistem dan WEHAB (water, energy, health, agriculture, biodiversity).
Melalui inovasi pendidikan berwawasan pembangunan berkelanjutan, kita secara bersama-sama mempunyai komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, dunia yang lebih aman-nyaman bagi kita semua dan generasi yang akan datang, bagi anak cucu kita dan seluruh isi alam ini. Ini merupakan sebuah pemahaman tentang kompleksitas dan diversitas secara komprehensif dan berkelanjutan. Serta pemahaman tentang bagaimana cara mengubah segala perkembangan dan pengembangan kearah sustainibilitas dengan inovasi pendidikan berparadigma pembangunan berkelanjutan. Semoga.
Sumber: http://www.dikti.go.id
by admin | Jan 25, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Nyoman Kariasa, Dosen PS Seni Karawitan
4. Deskrepsi-Analisis
Sebagai komposisi karawitan Bali, Tabuh Kreasi Lemayung tetap menggunakan tiga konsep dasar yaitu konsep Tri Angga (kepala, badan, dan kaki) Kepala dalam hal ini karawitan Bali disamakan dengan kawitan dalam bentuk gineman. Tabuh kreasi Lemayung ini menggunakan model gineman dengan motif kalimat-kalimat lagu pendek yang dibawakan oleh masing-masing kelompok tungguhan yakni gangsa, reyong, kendang secara bergantian. Disini pola tabuhan-nya sudah mulai keluar dari kebiasaan seperti terlihat pada pola kekendangan, pengrangrang trompong, dan gegenderan. Yang dimaksudkan dengan keluar dari kebiasaan adalah, jalinan pola kekendangan-nya memakai hitungan ganjil, menggantung dan putus pada tengah-tengah hitungan. Pola kekendangan ini bagi pengendang yang mempunyai ketrampilan dan pengalaman terbatas akan terasa sangat sulit. Pengrangrang trompong memakai dua model patet dan di tengah-tengah permainan diselingi oleh permainan gangsa dan reyong yang permainan reyong-nya diluar kebiasaan yakni memainkan reyong secara berundag-undang atau model stratapikasi dari nada tinggi ke rendah bergulung gulung seperti ombak di pantai. Pada segmen kedua permainan gineman trompong berganti patet bernuansa slendro dan memasukan instrumen violin yang alunan melodinya terkesan sangat sedih dan menyayat hati. Melodi ini juga dirangkai dengan memadukan pukulan nyogcag oleh tungguhan kantil yang menggambarkan kesedihan masyrakat “cilik”. Pada pola gegenderan memakai kotekan tungguhan gangsa dengan pembagian lima hitung pada satu pukulan kajar yang bisanya atau lazimnya dalam satu ketukan, kotekan-nya dibagi menjadi empat sub divisi. Selain gangsa, reyong turut bermain dengan pola yang tidak lazim pula yaitu disamping memakai pola hitungan lima, reyong dibunyikan dengan memukul dan menutup secara bersamaan sehingga menghasilkan suara enek atau suara yang tidak los.
Selanjutnya dari bagian satu menuju kebagian dua dijembatani dengan sebuah kebyar pendek sebagai pertanda pergantian struktur dari kawitan ke bagian pengawak. Bagian pengawak, tabuh ini bermain dalam pebedaan tempo dan hitungan pada tungguhan pembawa melodi dengan tungguhan garap yakni reyong dan gangsa. Dibentuk dengan kalimat lagu yang terdiri dari empat baris dalam satu gongan memakai patutan selisir. Setiap barisnya dilakukan penonjolan-penonjolan kolompok tungguhan secara bergantian. Perbedaan yang selaras ini mengasilkan harmoni yang enak didengar dan dinamika yang dinamis dengan penonjolan masing-masing kelompok tungguhan tadi. Permainan ini mengingatkan kita pada situasi pemilu yang masing –masing kelompak masyarakat saling berlomba mencari dukungan menonjolkan diri. Sehingga kelompok-kelompok masyarakat netral bingung dalam menentukan pilihan. Untuk mencari pengulangannya diselingi dengan satu kalimat lagu yang melodi dan ritmanya lebih lincah dan menggugah yang lazim disebut dengan pengelik. Bagian ini terjadi perpindahan patutan dari selisir ke patutan tembung. Pada tungguhan reyong dan gangsa dalam memainkan tabuhannya memanfaatkan nada-nada pemero untuk memperkaya ornamentasi dalam memainkan kotekan. Bagian kedua ini diulangi dua kali putaran dan langsung menuju ke bagian ke tiga.
Tabuh Kreasi Pepanggulan Gamelan Smarandhana “Lemayung”, Bagian II, selengkapnya