by admin | Jan 28, 2011 | Berita, pengumuman
Unduh Pengumuman Pelatihan PKM : Klik disini
Peserta Pelatihan PKM 2011 Penerima Beasiswa wajib : Klik disini
PENGUMUMAN
Nomor : 383/I5.12.1/KM/2011
TENTANG
PELATIHAN PENULISAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA (PKM)
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR TAHUN 2011
Diumumkan kepada seluruh mahasiswa ISI Denpasar, (terutama mahasiswa semester II, penerima Beasiswa PPA, BBM, Bidik Misi dan Supersemar) wajib mengikuti pelatihan Penulisan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2011 yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Senin – Selasa/7 – 8 Februari 2011
Pukul : 12.00 – 14.00 Wita
Tempat : Gedung Natya Mandala ISI Denpasar
Untuk mengikuti kegiatan tersebut mahasiswa agar mendaftarkan diri di Sub Bagian Kemahasiswaan ISI Denpasar dari tanggal 31 Januari – 4 Februari 2011 pukul 09.00 – 12.00 Wita.
Bagi mahasiswa penerima beasiswa PPA, BBM dan Supersemar tahun 2010 yang tidak mengikuti pelatihan PKM, akan dipertimbangkan untuk mendapatkan Beasiswa tahun 2011 sesuai persyaratan masing-masing beasiswa.
Demikian untuk ditindak lanjuti.
Denpasar, 28 Januari 2011
a.n. Rektor
Pembantu Rektor III
ttd.
Drs. I Made Subrata, M.Si.
NIP. 195202111980031002
Tembusan :
1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar sebagai laporan
2. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan untuk diketahui
3. Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain untuk diketahui
by admin | Jan 28, 2011 | Berita, pengumuman
Unduh pengumuman Tambahan pengisi Kuisioner Beasiswa PPA dan BBM 2010 : Klik disini
Daftar Tambahan Pengisi kuisioner Penerima Beasiswa PPA dan BBM 2010 : klik disni
PENGUMUMAN
Nomor : 382/I5.12.1/KM/2011
TENTANG
TAMBAHAN PENGISIAN KUISIONER MONITORING
PENERIMAAN BEASISWA PPA DAN BBM
TAHUN 2010
Menyusul Pengumuman kami Nomor 292/I5.12.1/KM/2011 Tentang Pengisian Kuisioner Monitoring Penerimaan Beasiswa PPA dan BBM tahun 2010 tertanggal 20 Januari 2011 dengan ini kami umumkan kembali tambahan pengisi kuisioner penerima beasiswa PPA dan BBM tahun 2010 (nama-nama terlampir), untuk segera mengisi kuisener secara online di internet dengan mengaksesnya pada alamat http://simb3pm.dikti.go.id/mahasiswa/, sehingga muncul tampilan seperti pada Gambar di bawah :

Untuk mulai melakukan pengisian mahasiswa dapat memasukkan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) dan kode ISI Denpasar yaitu 002007 pada kolom yang disediakan, kemudian tekan tombol Masuk untuk mulai mengisi Kuisioner, dan setelah mengisi pertanyaan-tanyaan kuisionernya tekan tombol Simpan, dan di cetak/print untuk dikumpulkan ke Sub Bagian Kemahasiswaan ISI Denpasar paling lambat tanggal 4 Februari 2011 .
Demikian untuk segera di tindaklanjuti.
Denpasar, 28 Januari 2011
a.n. Rektor
Pembantu Rektor III
ttd
Drs. I Made Subrata, M.Si.
NIP. 195202111980031002
Tembusan :
1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar sebagai laporan
2. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan untuk diketahui
3. Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain untuk diketahui
by admin | Jan 28, 2011 | Berita
Geliat ISI Denpasar untuk menjadi Perguruan Tinggi Seni yang berbasis keunggulan lokal dengan kwalitas bertaraf internasional semakin mendekati garis kesuksesan. Seperti diberitakan sebelumnya, kunjungan ISI Denpasar ke University of Western Australia (UWA) pada Agustus 2010, workshop International bertajuk “Wood Cut and Printing”, Oktober 2010 di kampus ISI Denpasar, lalu pameran lukisan kolaborasi ISI Denpasar – UWA dengan tajuk ”All Agree” pada Desember 2010, ISI Denpasar terus memantapkan persiapan untuk penandatanganan MoU bulan Pebruari yang akan datang.
Profesor Paul Trinidad dari Fakultas Arsitektur, Landscape, dan Visual Arts (Faculty of Architecture, Landscape, and Visual Arts) UWA yang masih berada di ISI Denpasar, kemarin (27/1) bersama Rektor ISI beserta jajarannya kembali membahas segala persiapan yang berkaitan dengan penandatangan MoU. Dekan kedua fakultas juga hadir dalam pertemuan tersebut. Selain membahas penandatanganan F to F (Fakultas dan Fakultas) antara Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) ISI Denpasar dengan Fakultas Arsitektur, Landscape, dan Visual Arts UWA, serta U to U yaitu ISI Denpasar dan UWA, UWA juga melirik Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) untuk kerjasama F to F antara FSP dengan Departemen of Music UWA.
”Kami sangat bangga dengan keberhasilan ini, yang merupakan hasil kerja keras kita bersama. Jalinan kerja sama antara ISI Denpasar dengan UWA, adalah bukti bahwa ISI Denpasar juga mendapat perhatian masyarakat internasional. Ke depan, kita harus dapat mengimplementasikan MoU dengan kegiatan Tri Dharma, seperti pengiriman dosen ISI Denpasar untuk studi di UWA, selain juga mahasiswa UWA akan belajar di ISI Denpasar mulai 12 Juni nanti. Hal ini merupakan tantangan besar bagi para dosen ISI Denpasar untuk meningkatkan kemampuan diri, agar mampu bersaing di tingkat internasional,” harap Prof. Rai.
Dekan FSP, I Ketut Garwa akan hadir pula dalam penandatanganan MoU tersebut, untuk memantapkan kerjasama F to F, antara FSP dan Department of Music di UWA.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 28, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Arya Pageh Wibawa, Dosen PS Desain Komunikasi Visual
I. Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya akan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi adalah sebuah bentuk komunikasi. Macam-macam komunikasi sebagai bentuk interaksi manusia terdiri dari intrapersonal, interpersonal, kelompok kecil (small group), publik komunikasi, mass komunikasi (adler, 2006, p.6-8). Pembagian ini merupakan berdasarkan jumlah orang yang berkomunikasi, dimana tentunya mass komunikasi merupakan jumlah terbesar orang dimana memerlukan media yang harus memediasi komunikasi diantara mereka. Media yang mereka gunakan biasanya disebut mass media seperti koran, majalah, televisi, radio dan sebagainya.
Mass media berasal dari dua kata yaitu “mass” dan “media”. Mass mengacu pada penerimaan media secara besar-besaran (massive) seperti televisi, film dan sebagainya (Laughey, 2007, p. 1). Media merupakan bentuk jamak dari kata medium yang pada dasarnya adalah sarana teknis atau fisik untuk merubah pesan menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui saluran tersebut (Fiske, 1990, p.29). Sehingga mass media adalah no interaction among those co-present can take place between sender and receivers (tidak adanya interaksi diantara kehadiran media-media tersebut yang dapat mengambil tempat antara pengirim dan penerima) (Luhmann, 2000, p.2). Media bisa dibagi-bagi menjadi tiga kategori dasar (Danesi, 2002, p. 8) yaitu medium alami, medium buatan dan medium mekanis. Medium alami yaitu yang memancarkan gagasan dengan cara berbasis biologis (suara, ekpresi wajah, gerakan tangan, dan sebagainya). Medium buatan yaitu bagaimana gagasan direpresentasikan dan dikirimkan menggunakan satu artefak tertentu (buku, lukisan, patung, surat dan sebagainya). Medium mekanis, bagaimana gagasan dikirimkan menggunakan peralatan mekanis temuan manusia seperti telepon, radio, pesawat televisi, komputer, dan sebagainya.
II. Sejarah Perkembangan Media
Sebelum munculnya mass media yang ada sekarang manusia menurut sejarahnya menggunakan bahasa lisan dalam berkomunikasi. Bahasa lisan berbentuk tutur yang bersifat mitologis. Mitos-mitos lisan yang pertama adalah “teori tentang dunia” yang dikenal sebagai kosmogonik, kisah-kisah ini memiliki fungsi dalam menjelaskan bagaimana dunia terbentuk dan peran apa yang diberikan kepada manusia dalam tatanan kosmologis yang ada (Danesi, 2002, p.67).
Bahasa tulis muncul pada awalnya dipakai untuk merepresentasikan kisah-kisah karakter, dan simbol mitis. Piktograf sebagai awal munculnya bahasa tulis ditemukan datang dari zaman neolitik di Asia Barat. Mereka adalah bentuk-bentuk dasar pada benda-benda tanah liat yang mungkin dipakai untuk membuat cetakan pembuat citra (Schmandt-Besserat, 1978). Pemakaian yang teratur untuk pelbagai fungsi praktik sosial adalah yang dipakai di dalam sistem Sumeria sekitar tahun 3500 SM. Ini adalah sistem yang sangat luwes karena didalamnya terdapat tanda-tanda gambar yang dipakai untuk suatu pengertian abstrak seperti “tidur” direpresentasikan dengan gambar seseorang yang sedang telentang. Piktograf yang dipakai untuk merepresentasikan abstraksi kemudian akan lebih tepat disebut sebagai ideograf. Ideograf Sumeria disebut sebagai “cuneiform” yang artinya “berbentuk baji”. Kemudian Mesir sekitar tahun 3000 SM menggunakan sistem piktograf yang dikenal dengan nama “Hieroglif” yang dipakai untuk pelbagai fungsi-fungsi sosial, untuk mencatat nama-nama serta gelar para tokoh dan dewa. Tata penulisan Hieroglif pada tahun 2700 SM diganti menjadi bentuk yang dikenal “hieratik” ini dilakukan dengan menuliskan pena jerami tumpul dan tinta pada sebuah papyrus (awal dari penemuan bahan kertas), bukan pada kepingan tanah liat atau pada dinding.
Ketika piktografik menjadi semakin dipakai luas didalam peradaban kuno, lambat laun ia menjadi sistem yang semakin canggih, dengan cirri-ciri gambar yang semakin “padat”, sehingga bisa digunakan dengan lebih efisien. Dari perkembangan ini, terkristalisasilah sistem alphabet sejati. Alphabet adalah sistem simbol abstrak yang disebut huruf atau karakter, yang tidak mewakili seluruh konsep, melainkan bunyi-bunyi yang menyusun kata-kata. Alphabet ini merupakan capaian yang luar biasa. Ia memungkinkan dilakukannya perekaman secara efisiensi, pengabadian, dan penghantaran pengetahuan dalam bentuk buku. Seperti diungkapkan McLuhan (1964), kemelekhurufan buku merupakan sumber dari istilah obyektifitas. Tidak seperti nenek moyangnya yang melakukan komunikasi secara lisan, masyarakat-masyarakat yang sudah melek huruf cenderung memahami pengetahuan dan gagasan sebagai sesuatu yang terpisah dari yang memberikannya, dan dari sini mereka melihat bahwa sistem pengetahuan adalah kumpulan data obyektif yang mandiri.
Kajian Relasi Desain Dan Media, Selengkapnya
by admin | Jan 27, 2011 | Artikel, Berita
Analisis Tekstual Gending Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Slendro Pathet Sanga, Bagian II
Kiriman I Nyoman Kariasa, Dosen PS Seni MKarawitan
Perangkat Gamelan
Dalam menyajikan gending Gambir Sawit, menggunakan perangkat gamelan ageng. Dalam satu kesatuan perangkat gamelan ageng terdiri dari dua kelompok. Satu kelompok berlaras pelog dan satu lagi berlaras slendro. Setiap kelompok tadi dalam karawitan Jawa disebut dengan Pangkon. Jadi dalam menyajikan gending Gambir Sawit memakai gamelan ageng pangkon slendro lengkap. Adapun ricikan-nya adalah ; rebab plonthang, gender barung, gender penerus, bonang barung, bonang penerus, slenthem, demung, saron barung, saron penerus, gambang, clempung, siter, kenong, kempul, kethuk kempyang, engkuk (kemong dua pencon), sepasang kemanak, suling, gong suwukan, gong ageng, seperangkat kendang. Gending Gambir Sawit tidak hanya dimainkan dalam gemelan pangkon slendro pathet sanga, terkadang juga dimainkan dalam pangkon pelog pathet nem. Dimainkanya dalam pelog nem gending Gambir Sawit kurang memiliki gereget. Karena dalam pelog nem terkesan lebih girang dan riang. Hal ini tentu tidak sesuai dengan esensi gending yang diinginkan. Namun dalam slendro pathet sanga-lah kecocokan rasa didapat dengan nuansa hening, agung dan wingit.
Beberapa pakar karawitan Jawa menyatakan bahwa dalam penggarapan gendhing, pengrawit diberikan kebebasan untuk menterjemahkan, memberi makna, serta menafsirkan garap sesuai dengan rasa estetik musikalnya. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Rahayu Supanggah menyatakan bahwa karawitan bersifat fleksible dan multi interpretable. Artinya para pemain ricikan terutama ricikan garap bebas menafsirkan kemungkinan-kemungkinan garap sebuah gendhing. Hal ini kemungkinan ‘salah’ atau ‘benar’ tidak terjadi. Yang terjadi hanyalah penak dan ora kepenak atau munggah dan ora munggah. Ricikan-ricikan yang melakukan interpretasi tersebut antara lain ; rebab, gender, kendang,dan bonang. Dalam gending Gambir Sawit menurut pengamatan dan rasa musikal kami, peranan rebab dan sinden sangat dominan dalam melakukan cengkokan. Dengan tuntunan rebab, pesinden mampu membuat cengkokan mengalun sangat indah. Hal ini juga didukung oleh pola tabuhan gender dengan pola tabuhannya mampu membuat cengkokan yang enak didengar. Ricikan gambang dan siter bertugas memainkan tempo dan membuat pola tabuhan mengisi ruang-ruang balungan dengan lincah dan enerjik. Tak kalah penting adalah ricikan bonang dengan teknik permainan atau pola tabuhan imbal dan sekaran memberikan warna garap sangat kaya. Kendang dalam hal ini selain sebagai pemurba irama, juga membuat variasi pukulan terutama dalam permainan kendang ciblon yang masuk menjelang inggah. Selain ricikan-ricikan tadi peranan gerong juga tak kalah pentingnya. Selain melantumkan syair-syair gerongan, juga melakukan senggaan dan keplokan untuk meramaikan dan mendukung suasana. Sistem garap inilah letak estetika, keunikan gending ini, yang didukung oleh keahlian para pemain ricikaan garap dalam menafsirkan balungan gending dengan variasi-variasi cengkokan-nya. Sehingga para penikmat hanyut dalam keasyikan menikmati cengkok dan tabuhan. Mungkin tidak hanya penikmat yang hanyut dalam menikmati gendhing, melainkan pemain juga hanyut dalam menikmati tabuhan-nya sendiri.
Analisis Tekstual Gending Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Slendro Pathet Sanga, Bagian II, Selengkapnya