by admin | Feb 3, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman : I Wayan Mudra, Dosen PS Kriya Seni FSRD ISI Denpasar.
Nama lengkapnya adalah I Made Rai Alit Sujana, seorang alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Seni Rupa Murni Program Seni Patung tahun 2004, lahir di Desa Munggu Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Karya-karya yang dibuat menampilkan wujud-wujud seperti patung Siwa, Ganesha dan lain-lain. Bahan yang digunakan adalah pasir dan semen menggunakan teknik cetak. Alit Sujana adalah seorang yang kreatif dan selalu berinovasi untuk menemukan sesuatu yang baru terkait dengan pengembangan kompetensinya dan aktif mengikuti berbagai pameran. Disadari dalam perwujudan bentuk patung Ganesa tidak terlalu banyak dapat diinovasi, maka inovasi inovasi dilakukan pada teknik pewarnaan untuk menampilkan kesan yang berbeda dengan patung Ganesa ada dipasaran, sehingga alternative pilihan terhadap konsumen menjadi lebih banyak. Bahan-bahan yang digunakan adalah seperti kuas, amplas, sikat kuningan, cat tembok, PK, semir lantai, gambir, cat prada, dll.
Jika lebih didalami tokoh Ganesha memiliki cerita yang menarik, sehingga sebagai pengetahuan perlu diketahui cerita tersebut. Ganesha adalah merupakan putra dari Dewa Siwa dengan Dewi Uma / Durga. Ganesha adalah putra yang sangat perkasa, para dewapun sangat hormat kepadanya. Ganesha kecil tidak mengenal wajah ayahnya dan belum memiliki kepala gajah. Adapun sebab ganesha memiliki kepala gajah adalah ketika dia ditugaska oleh ibunya Dewi Uma untuk menjaga Dewi Uma sedang mandi. Pada saat itu datanglah Dewa Siwa ingin bertemu dengan istrinya yaitu Dewi Uma. Karena gelisah tidak pernah melihat wajah ayahnya, Ganesha tidak percaya bahwa yang datang yaitu Dewa Siwa adalah ayah sendiri. Ganesha pun tidak mengijinkan Dewa Siwa menemui Dewi Uma serta mengusirnya. Karena merasa Ganesha adalah anaknya, Dewa Siwa masih bersabar dan pergi meninggalkan Ganesha kemudian Dewa Siwa mengutus para dewa-dewa yang lainnya untuk menasehati Ganesha. Tetapi Ganesha malah menghajar para dewa dan hal tersebut membuat Dewa Siwa sangat murka dan kembali mendatangi Ganesha, kemudian dipenggallah kepala Ganesha oleh Dewa Siwa menggunakan Trisula. Dewi Uma sangat marah kepada Dewa Siwa mendengar hal tersebut dan menyuruh Dewa Siwa untuk mengembalikan kepala anaknya dan menghidupkannya kembali. Kemudian Dewa Siwa mengutus Dewa Wisnu untuk turun ke bumi mencari pengganti kepala Ganesha, Dewa Siwa bersabda makhluk apapun yang pertama kali dijumpai sesampai di bumi itulah yang akan dijadikan pengganti kepala Ganesha. Di bumi Dewa Wisnu berjumpa dengan seekor gajah dan dipenggallah kepala gajah tersebut sebagai pengganti kepala Ganesha. Dari sanalah Dewa Siwa menganugerahkan kepada Ganesha sebagai Dewa utama, barang siapa yang tidak mengawali pemujaan tidak memuja Ganesha maka sulitlah doa-doanya tersebut terkabul.
Adapun atribut yang dibawa Ganesha ada 40 macam dan pada umumnya Ganesha menggenggam Parusa atau Kapak yaitu symbol Ganesha melindungi dengan Parusa-Nya pada jalan mulus dari kejahatan, Parusa jerat diibaratkan pikiran Ganesha yang luar biasa bagaikan jerat yang menarik mereka yang sangat dikasihi-Nya untuk mendekat dan menjauhkannya dari kepungan serta menyelamatkan yang tersesat. Padma, teratai Ganesha menghendaki seluruh pikiran menjadi potensi yang diajarkan oleh bunga teratai yakni yang muncul dari kedalaman Lumpur hingga pada pemekaran kuncup yang tinggi diatas permukaan Moda Kapatra atau semangkok manisan lambing dari apa yang paling dikasihinya yaitu moksa atau pembebasan, yang termanis dari segala yang manis. Demikian ceritra singkat Ganesha sebagai bahan pengetahuan.
Teknik-teknik pewarnaan yang diterapkan Alit Sujana pada patung Ganesha adalah :
1. Teknik Pewarnaan Menyerupai Batu Antik Kemerahan
Teknik pewarnaan ini menggunakan bahan seperti cat tembok berwarna hitam, merah, coklat tanah, semir lantai, dan cat prada. Tahap pertama teknik ini adalah mengecat patung dengan cat tembok hitam menggunakan kuas. Perlu diperhatikan cat tembok yang digunakan haruslah kental, dioleskan ke patung dengan cara di cok-cok hingga memunculkan tekstur kasar. Setelah selesai tahap tersebut kemudian proses pengecatan dilanjutkan dengan menggunakan cat tembok warna merah yang tidak terlalu tebal. Diatas warna merah kemudian dilapisi cat warna coklat tanah yang tipis untuk menimbulkan kesan antic. Tahap selanjutnya adalah menghaluskan dengan amplas ukuran medium secara merata sehingga muncul corak berbintik-bintik dari kombinasi lapisan cat tersebut. Pada bagian ornament patung seperti ukiran pada gelang, mahkota dan hiasan badan lainnya ditambahkan cat prada. Terakhir adalah melapisi patung dengan semir lantai sebagai penguat warna, menghindari patung dari jamur dan lumut juga menghindari pengelupasan.
2. Teknik Pewarnaan Menyerupai Batu Kali (Bulitan)
Teknik ini bertujuan menghasilkan warna patung yang menyerupai warna batu kali (Bahasa Bali: bulitan).Bahan yang digunakan adalah cat tembok warna hitam. Tahapannya adalah pertama patung dilapisi cat tembok warna hitam, setelah kering kemudian dipoles dengan campuran PK dengan minyak tanah. Berbeda dengan teknik pewarnaan yang pertama cat hitam dalam teknik ini tidak di cok-cok melainkan dioleskan biasa tidak terlalu tebal sehingga tidak bertekstur. Tahapan selanjutnya patung ditaburi dengan talk atau bedak tipis dan merata. Untuk menampilkan kesan halus, terakhir digosok hingga mengkilap menggunakan semir lantai.
3. Teknik Pewarnaan Menyerupai Tembaga Antik
Teknik pewarnaan ini untuk menghasilkan warna patung yang menyerupai tembaga antik. Alat yang digunakan : kuas dan sikat kuningan, dan bahannya adalah semir sepatu hitam, cat besi warna tembaga, dan thiner A. Tahapan kerjanya adalah pertama mencampur cat tembaga dengan thiner A diaduk merata. Kemudian patung di cat menggunakan campuran cat tersebut dan dioleskan secara merata. Setelah cat benar-benar kering dilanjutkan dengan mengoleskan semir sepatu berwarna hitam. Selanjutnya digosok menggunakan sikat kuningan, hal ini bertujuan untuk menimbulkan efek mengkilap kekuning-kuningan dan menghilangkan jejak sapuan kuas pada waktu proses sebelumnya.
4. Teknik Pewarnaan Menyerupai Batu Antik Kehijauan
Teknik ini hampir sama dengan teknik yang pertama, yang berbeda adalah adalah penggunaan cat tembok warna merah diganti dengan cat tembok warna hijau.
PUSTAKA
Chinmayânanda Svâmî, 2002. Kejayaan Ganesha. Surabaya : Penerbit. Paramita.
Bandem, I Made, 1996, Etnologi Tari Bali. Denpasar : Penerbit. Forum Apresiasi Kebudayaan
DATA DIRI
| 1. Nama Lengkap |
: Drs I Wayan Mudra, MSn. |
| 2. Alamat Email |
: [email protected]
|
| 3. Nomor Rekening |
: PT. BPD Bali Kantor Cabang Kamboja,
No. 037 02.12.01300-6. |
| 4. Surat Pernyataan |
: keaslian artikel dan belum pernah dimuat dimedia online dan atau diberbagai jurnal ISI Denpasar. |
by admin | Feb 3, 2011 | Berita, pengumuman

Dalam rangka seleksi proposal Program Pengabd ian kepada Masyarakat Tahun
2011, dengan hormat kami sampaikan beberap a informasi sebagai berikut :
1. Usulan Program Pengabdian kepada Masyarakat Multi Tahun harus telah
diterima oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Ditjen Pendidikan Tinggi paling lambat tanggal 31 Mei 2011 jam 16.00 WIB,
sedangkan untuk usulan Ipteks bagi Masyarakat (I bM) dikirim ke LPM/LPPM
Perguruan tinggi masing-masing khusus perguruan tinggi negeri (PTN) dan
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ke Kopertis diwilayah masing -masing paling
lambat 31 Maret 2011. Usulan ditulis lengkap sesuai format yang telah
ditentukan dalam panduan.
2. Struktur usulan harus dibuat dan disusun l engkap sesuai Panduan
Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2011, termasuk warna sampul
muka, halaman pengesahan, judul dan isi proposal serta lampiran –
lampirannya.
3. Usulan Proposal Multi Tahun dikirim ke DP2M dalam bentuk hard Copy
sebanyak 2 (dua) eksemplar dan soft copy proposal serta data lembar isian
dalam format Excel 2003 harus dalam bentuk CD dan email
([email protected])
Form Isian dapat di down load (diunduh) di http://dikti.kemdiknas.go.id/
Panduan Program Pengabdian kepada Masyarakat sele ngkapnya dapat
diunduh pada web Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat,
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan alamat sebagai berikut :
http://dikti.kemdiknas.go.id/
– Surat Edaran
– Panduan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun 2011
– Form Usulan Pengabdian Kepada Masyarakat Elektronik Bagi Pengusul
– Form Pengumpul Usulan Pengabdian Kepada Masyarakat Elektronik Bagi Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat
by admin | Feb 2, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Tari Gandrung mungkin sudah identik dengan kawasan ujung timur pulau Jawa, khususnya Banyuwangi. Namun jika ditelusuri, seni pentas yang digolongkan sebagai tari pergaulan ini sebenarnya juga dapat dijumpai di pulau Lombok dan Bali. Keberadaaan kesenian ini di tengah budaya Jawa Timur, Bali, dan Sasak, hadir dengan kekhasan dan keunikannya masing-masing. Hanya, jika di Banyuwangi tari Gandrung hingga kini masih bergelinjang mesra dan di Lombok tetap berlenggok riang, di Bali kesenian ini hampir punah.
Seni pertunjukan sejenis Gandrung banyak dijumpai di Nusantara. Kesenian ini masih satu genre dengan Ketuktilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Penampilannya senantiasa disertai unsur-unsur erotisme seperti tampak dalam tari Ronggeng di Jawa Barat dan juga Joged Bumbung di Bali.
Dalam bahasa Jawa, ’gandrung’ berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’. Pada masa lalu, penari Gandrung memang banyak mengundang debur asmara kaum pria, padahal para penari Gandrung itu sendiri adalah laki-laki. Di Banyuwangi kesenian Gandrung pada awalnya dilakoni oleh kaum pria, setidaknya hingga tahun 1890-an. Baru pada tahun 1914 penari wanita dihadirkan setelah kematian penari pria terakhir, Marsam. Gandrung wanita pertama Banyuwangi bernama Semi, seorang gadis kecil yang sakit-sakitan yang berkaul jika sembuh akan menjadi penari Gandrung.
Berbeda dengan di Banyuwangi, di Bali hingga kini tari Gandrung masih dibawakan penari laki-laki. Salah satu grup seni pertunjukan Gandrung yang masih bertahan adalah Sekaa Gandrung Banjar Ketapian Kelod, Denpasar, masih mempertahankan penari pria. Kesenian Gandrung yang disakralkan oleh komunitasnya itu lebih menampilkan diri sebagai presentasi estetik. Melalui iringan musik bambu yang disebut gandrangan, Gandrung Bali menyuguhkan raga keindahan tari yang lazim dijumpai dalam tari klasik Legong Keraton.
Seperti di Banyuwangi, diduga kuat tari Gandrung di Lombok pada awalnya juga dibawakan oleh kaum pria. Gandrung Lombok yang kini lazim dibawakan kaum wanita itu masih eksis sebagai sajian profan, menampakkan karakter Bali dan Banyuwangi. Nuansa Bali tampak kental pada tata tarinya yang sebagaian besar memakai perbendaharaan gerak tari tradisional Bali. Unsur Banyuwangi dihadirkan dalam balutan busananya khususnya pada gelungan atau tutup kepalanya. Struktur penyajian Gandrung Lombok adalah bapangan, tangis, penepekan, dan pengibingan. Pada bagian pengibingan, penonton pria masuk ke arena pentas berpasangan dengan sang penari. Urut-urutan penampilan Gandrung Lombok tersebut hampir sama dengan tari Joged Bumbung di Bali dimana bagian terakhir, pengibingan, yang paling ditunggu-tunggu partisipan pria dan penonton pada umumnya.
Interaksi fisik antara penari Gandrung dengan partisipan pria juga menjadi bagian utama pementasan Gandrung Banyuwangi. Struktur penyajian konvensional Gandrung Banyuwangi memang diurut menjadi tiga yaitu jejer, maju, dan seblang subuh. Jejer adalah bagian yang merupakan pembuka seluruh pertunjukan Gandrung dimana penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan dengan tenang. Maju atau ngibing adalah bagian terheboh yang berlangsung hingga larut malam bahkan sampai menjelang subuh. Dalam perkembangannya belakangan, bagian seblang subuh yang merupakan semacam ritual magis sering tak ditampilkan.
Banyuwangi Hormati Erotisme Gandrung selengkapnya
by admin | Feb 2, 2011 | Berita
Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) ISI Denpasar masing-masing dibawah komando I Ketut Garwa, S.Sn.,M.Sn., dan Dra. Ni Made Rinu, M.Si. semakin melaju untuk meraih cita-cita untuk go international. Di sela-sela pelaksanaan kegiatan Tri Darma, kedua Dekan ini sangat bangga menerima dua mahasiswa ISI Denpasar, yaitu I Wayan Diana Putra dari Jurusan Karawitan FSP, serta I Wayan Eka Laksana Satiaguna dari Jurusan Desain Interior FSRD yang baru saja menyelesaikan tugas belajar selama enam bulan dalam program ‘Student Mobility MIT Program (Malaysia-Indonesia-Thailand)” di Thammasat University Thailand. Kedua mahasiswa mahir berbahasa Inggris ini tampak sangat bangga dan bahagia saat menceritakan pengalaman mereka.
“Kami tinggal di Amarin Mansion bersama mahasiswa dari berbagai negara yang juga belajar di Thammasat University, dan persahabatan kami menjadi sarana memperdalam Bahasa Inggris dan Bahasa Thai.”ujar Diana bangga. “Kami juga terkabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Thailand (Permitha) yang terpusat di Athen Apartement dekat lokasi Kedutaan Besar RI di Bangkok. Selama bergabung dengan “Permitha” kami pernah mengikuti Seminar Internasional di Eastin Makasan Hotel Bangkok dengan tema “The Role of Indonsian Student on Scientific Development” kerja sama antara Atase Pendidikan RI untuk Kerajaan Thailand dengan Permitha,”Eka menambahkan.
Dihubungi terpisah, Rektor ISI, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. memberi apresiasi dan penghargaan kepada kedua mahasiswa tersebut.”Kami sangat berterima kasih kepada Direktur Akademik Dirjen Dikti serta SEAMEO RIHED, yang telah memberi kesempatan dan motivasi kepada ISI Denpasar untuk mengikuti program MIT ini, sehingga dua mahasiswa ISI Denpasar mendapat kesempatan berharga untuk belajar di Universitas terbesar di Thailand. Hal yang sangat membanggakan lagi, dalam acara “MIT Review Meeting” di Thailand, Senin (31/1) kemarin, Diana dan Eka dijadikan “model” dan ditayangkan di depan Perdana Menteri Thailand, saat laporan kegiatan MIT tersebut oleh Ketua SEAMEO RIHED,” ujar Prof. Rai bangga.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Feb 1, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Sudiatmika, mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Sebelum penulis menguraikan mengenai sejarah Gamelan Gong Kebyar yang ada di Br.Batannyuh Belayu, penulis akan sedikit mengulas kemunculan Gamelan Gong Kebyar. Gamelan – gamelan Bali khususnya tentang Gong Kebyar sudah banyak ada yang melakukan untuk diteliti, baik oleh para penulis dalam negeri ataupun penulis asing. Namu masalah asal mula Gamelan Gong Kebyar belum dapat terungkap secara jelas dan lengkap. Untuk mengungkap dan menguraikan asal mula Gamelan ini memang merupakan tugas yang tidak begitu mudah. Penulis menyadari begitu sulitnya menelusuri asal mula daripada gamelan ini, yang mana disebabkan sangat sedikitnya terdapat data – data mengenai asal mula gamelan ini, terutama data – data tertulis yang dapat dijadikan pegangan menelusuri asal mula gamelan ini lebih lanjut. Data – data yang berhasil dikumpulkan hanyalah besifat informasi.
Gamelan Gong Kebyar yan apabila dilihat berdasarkan skema semua dari pada semua jenis gamelan Bali yang ada di Bali dimana di dalam skema itu terdapat gamelan golongan tua, golongan madya dan golongan baru/muda. Nampak secara jelas bahwa Gamelan Gong Kebyar adalah tergolong gamelan Bali yang sangat muda usianya, temasuk kelompok gamelan Bali baru. Disini sedikit lebih tua dari gamelan jejangeran jejogedan dan lain sebagainya yang sama – sama tergolong kolompok gamelan Bali Baru.
Sejarah Gamelan Gong Kebyar di Br. Batannyuh
Pada awal adanya atau terbelinya Gamelan Gong Kebyar di Br. Batannyuh yaitu pada tahun 1996. Sumber – sumber yang didapatkan oleh penuli yaitu dari I Wayan Windia, beliu juga adalah seorang seniman karawitan Bali, sekarang umur beliau sudah hamper menginjak kepala 7.
Beliau menceritakan bahwa alasan dibelinya gamelan ini yaitu tidak lain karena sangat pentingnya peranan gamelan di Bali dan khususnya di Br. Batannyuh sebagai sarana Upacara Yadnya dan sarana hiburan bagi masyarakat sekitar.Dan beliau juga mengatakan gamelan yang ad di Br. Batannyuh ini sudah banyak masa – masa perkembangan dan perbaikan. Pada tahun 1996 gamelan tidak berisi ugal dan penyahcah yang sering disebut dengan istilah gong mini, namu seiring berjalannya waktu satu persatu instrument gamelan ini ditambahkan atau dilengkapi sehingga sampai saat ini terdapatlah barungan Gamelan Gong Kebyar yang lengkap di Br. Batannyuh saai ini. Gamelan ini biasanya dimainkan hanya pada hari – hari tertentu saja, misalnya pada saat Upacara Yadnya, untuk pementasan dan latihan – latihan bagi generasi penerus.
Berdasarkan uraian – uraian di atas beserta argumentasi sebagaimana dikemukakan di atas kiranya telah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keberadaan atau di belinya barungan gamelan Gong Kebyar di banjar batannyuh yaitu sekitar tahun 1996 dan bentuk – bentuk tabuh kekebyaran sudah diciptakan pada tahun tersebut yang juga di pelopori oleh I Wayan Windia.
Sejarah Gamelan Gong Kebyar Di Banjar Batannyuh Belayu selengkapnya