by admin | Feb 14, 2011 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Nomor: 161/I5.1.10/PP/2011
Diberitahukan kepada Mahasiswa FSRD ISI Denpasar Peserta Tugas Akhir (TA) Semester Ganjil 2010/2011 bahwa YUDISIUM akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Kamis, 17 Pebruari 2011
Jam : 10.00 Wita
Tempat : Gedung Natya Mandala ISI Denpasar
Pakaian : Atas Kemeja Putih Berdasi Hitam & Bawah Hitam
Demikian kami sampaikan untuk dapat dilaksanakan. Terima kasih.
Denpasar, 14 Pebruari 2011
A.n. Dekan
Pembantu Dekan I,
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP. 196107061990031005
by admin | Feb 14, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman : Drs. I Wayan Mudra, PS Kriya Seni FSRD ISI Denpasar.
Men Brayut adalah tokoh seorang ibu dalam ceritera klasik masyarakat Bali yang melahirkan anak banyak bahkan sampai 18 orang. Karena kegigihannya, ibu ini berhasil membesarkan anak-anaknya. Ceritra ini telah lama menjadi ikon seorang ibu beranak banyak bagi masyarakat Bali. Ceritra Men Brayut tidak lekang oleh waktu, kisahnya selalu menjadi model pembicaraan bagi masyarakat Bali dari waktu kewaktu dari generasi kegenerasi. Namun penulis belum menemukan kisah ikon Men Brayut dalam uangkapan drama, tari, seni rupa, maupun dalam pemestasan lainnya.
Tokoh Men Brayut pada kondisi jaman sekarang sering dipakai sebagai contoh seorang ibu yang tidak patut ditiru karena beranak banyak yang berarti menyusahkan hidup keluarga. Kondisi saat ini ada yang mengganggap seorang ibu mempunyai 2 orang sudah, kemudian ikut program Keluarga Berencana sebagai solusi mensejahterakan keluarga. Dengan model seperti ini tujuan hidup yang lebih baik pada sebuah keluarga diharapkan lebih baik. Dengan beranak 2 orang pasutri berharap kebutuhan sandang, papan dan pangan seorang anak akan terpenuhi. Beban hidup yang semakin berat membuat tokoh Men Brayut semakin jauh dari peradaban kondisi jaman sekarang.
Pemahaman masyarakat terhadap tokoh Men Brayut di atas hanya dilihat dari sisi yang negatif saja yaitu beranak banyak yang tidak sesuai dengan kondisi jaman sekarang. Namun sebetulnya ada sisi positif yang perlu diteladani, yaitu kegigihannya dalam membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi anak yang berhasil. Sisi ini yang tidak banyak ditiru oleh kebanyakan orang saat ini, bukti nyata dilapangan walaupun pasutri beranak 2 orang, namun mereka tidak mempunyai kegigihan untuk membela anak-anaknya dalam urusan kelangsungan pendidikan untuk hari tuanya. Mereka lebih banyak menyerah pada kondisi dan situasi lingkungannya. Akhirnya banyak anak-anak yang terlantar dan putus sekolah. Hal ini tidak perlu terjadi karena sebetulnya dia mampu kalau kegigihannya ada. Kadang terlihat prilaku yang kontradiksi dalam keluarga untuk hal-hal yang menyenangkan yang sifatnya memuaskan jasmani atau rohani keuangannya sedapat mungkin diusahakan. Namun sebaliknya untuk keperluan sekolah dan pengembangan anak usahanya menjadi kendor dengan alasan tidak ada biaya.
Dalam penciptaan karya keramik ini kami bermaksud mengungkapkan tokoh Men Brayut dalam wujud patung. Patung yang direncanakan bentuknya akan disesuaikan dengan kondisi bahan tanah liat sebagai media pembentuknya. Kami membayangkan keunikan seorang ibu dengan anak yang banyak dengan berbagai ekspresi seperti menangis, tertawa, dan lucu, dapat divisualisasikan dalam sebuah karya. Bentuk patung akan lebih banyak berfungsi sebagai media hias dalam suatu ruang, dan beberapa karya diselipkan fungsi praktisnya. Jadi penggarapan karya lebih dominan perencanaannya sebagai media hias, fungsi hanya sebagai pelengkap saja. Dari karya ini kami berharap image Men Brayut tidak dipandang dari sisi negatif saja namun juga dari sisi positifnya. Dari karya ihi juga kami berharap supaya tumbuh karya-karya patung dengan media keramik, untuk lebih meningkatkan khasanah seni patung di Bali khususnya. Karena belum banyak dibuat patung-patung keramik yang bersumber dari budaya kekhasan Bali.
Kami menemukan kesulitan dalam mendapatkan pustaka yang memuat khusus ceritera tentang Men Brayut. Namun demikian ternyata dari penelusuran beberapa sumber ceritra Men Brayut tersebut telah puluhan tahun lalu dikenal oleh masyarakat Bali dan banyak dikaitkan dengan pola pengasuhan anak. Seperti yang dikutif pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 1939 di Denpasar, berikut ini.
Hari Ibu yang jatuh tiap 22 Desember untuk pertama kalinya diperingati pada Sabtu, 23 Desember 1939, di Gedung Taman Siswa, Denpasar. Peringatan Hari Ibu pertama di Denpasar diprakarsai oleh organisasi Peroekoenan Isteri Denpasar (PID), sementara yang ditunjuk sebagai ketua panitia adalah Nyonya Ida Bagoes Geredeg. Informasi tentang peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan pertama kali di Denpasar ini bisa diketahui dari artikel berjudul “Peringatan Hari Iboe” yang dimuat majalah Djatajoe (terbit di Singaraja) edisi 25 Januari 1940. Artikel ini merupakan sambutan Nyonya Ida Bagoes Geredeg, yang dibacakan pada resepsi peringatan Hari Ibu tersebut.
“Men Brayut” Sumber Inspirasi Karya Patung Keramik Kreatif selengkapnya
by admin | Feb 13, 2011 | Berita, pengumuman
Institute of International Education (IIE) and
The Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Multiple Positions for USAID Project
IIE is one of the world’s largest and most experienced global higher education and professional exchange organizations. IIE, in collaboration with IIEF, is seeking Indonesian candidates for multiple positions for the upcoming Higher Education Leadership and Management (HELM) Project, funded by USAID/Indonesia. We are seeking long-term senior managers, team leaders, and short-term experts with skills in the following areas related to higher education: financial planning and management, access and financial assistance, management and administration, transparency and accountability, strategic planning, quality assurance, public-private collaboration.
Technical experts for full-time staff positions and short-term consultancies should have the following qualifications:
Minimum of 10 years of experience required
Graduate degree in a relevant field
Experience working with institutions of higher education in Indonesia
Fluency in English and Bahasa Indonesia with strong verbal and written communication skills
Experience on USAID or other donor-funded projects preferred
Full-time project management staff should have the following qualifications:
Minimum of 5 years of experience managing donor-supported projects, including experience with USAID contract management
University degree required
Experience working with institutions of higher education in Indonesia preferred
Fluency in English and Bahasa Indonesia with strong verbal and written communication skills
For more information about IIE go to http://www.iie.org, for IIEF go to http://www.iief.or.id/, and for HELM, go to https://www.fbo.gov/.
Please send your resume and cover letter to [email protected]This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it . Please specify short term or full time position. No phone inquiries accepted. Only qualified candidates will be contacted.
Closing date: 20 February 2011.
Sumber : dikti
by admin | Feb 13, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan
Eksotisme tentang sebuah pentas seni komunal yang dulu dapat disimak dalam rangkaian hari suci Galungan, kini selalu mengundang romantisme. Pentas seni nomaden yang dikenal dengan ngelawang itu, di masa lalu, memang pernah mengkristal menjadi peristiwa kesenian yang mewarnai Galungan bahkan tetap meriah hingga ritual Kuningan. Tetapi belakangan, pertunjukan keliling yang mementaskan puspa ragam seni tradisi Bali itu telah digerus perubahan zaman. Seperti tampak pada Galungan pertengahan Mei ini, begitu sulit memergoki sekaa-sekaa seni pertunjukan tampil penuh keintiman di tengah masyarakat.
Ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan. Pada awalnya ngelawang adalah sebuah ritus sakral magis yang disangga oleh psiko-relegi yang kuat. Benda-benda keramat seperti Barong dan Rangda misalnya diusung ke luar pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa yang dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat. Kehadiran benda-benda yang disucikan itu ditunggu dan disongsong dengan takzim oleh komunitasnya. Penduduk yang dapat memungut bulu-bulu Barong atau Rangda yang tercecer, dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah.
Tradisi ngelawang dalam konteks sakral magis sebagai persembahan penolak bala itu juga bermakna sama pada pentas ngelawang Galungan. Namun dalam perjalanannya, masyarakat Bali yang kreatif tak hanya ngelawang mengusung benda-benda sakral namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai ngelawang tontonan. Dalam tradisi ngelawang Galungan tersebut, bentuk-bentuk seni balih-balihan seperti Arja, Janger, atau Joged misalnya juga dapat disaksikan masyarakat sebagai hiburan. Masyarakat yang haus hiburan menstimulasi pentas ngelawang menjadi wahana berkesenian yang konstruktif dan apresiatif.
Sebagai seni tontonan, ngelawang adalah suguhan seni pentas yang serius tapi juga santai. Untuk mengapresiasinya penonton tidak harus duduk kaku, namun bisa jongkok, berdiri atau bergelayutan, bersentuhan dan bergesekan sembari menikmati alam bebas. Hampir tak ada jarak antara pelaku seni dengan penonton, semua lebur dan menyatu. Kehadiran seni pentas ini tidak terikat oleh tempat, ruang dan waktu. Pertunjukan tari Topeng misalnya bisa terjadi di bawah pohon besar yang rindang, pementasan Barong bisa digelar di tepi sungai, drama tari Arja bisa hadir di jalan umum atau bahkan di tengah keramaian pasar. Ia bisa dijumpai pada sore atau malam hari dan mungkin juga di pagi hari.
Atmosfer pentas seni tontonan nan komunal kini telah sayup-sayup. Begitu pula ngelawang dalam konteks sakral-magis agaknya semakin redup. Pada tahun 1970-an, aura magis ngelawang itu masih berbinar. Rumah-rumah penduduk sekonyong-konyong didatangi misalnya oleh Barong Kedingkling. Figur-figur topeng yang bersumber dari cerita pewayangan Ramayana ini disongsong dengan antusias oleh seisi rumah. Diawali dengan sepotong tembang, misalnya tokoh punakawan Malen dan Merdah, lalu disusul tokoh Subali dan Sugriwa menari semenit dua menit di halaman merajan. Selesai. Kendati singkat, umumnya masyarakat senang dan percaya aura ritual-magis yang dipancarkan ngelawang Galungan itu akan memberikan keselamatan dan perlindungan.
Hasrat hidup damai dan terlindung dari segala bencana tersebut itulah kiranya yang menjadi akar ngelawang. Diduga, ngelawang berkiblat dari sebuah mitologi Hindu, Siwa Tatwa. Alkisah ketika Dewa Siwa dan Dewi Uma bercinta tidak pada tempat dan waktunya, harmoni terguncang. Akibatnya adalah kesengsaraan bagi umat manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Sadar akan kekhilapannya itu, Dewa Siwa mengutus para dewa untuk menenangkan dan menenteramkan kembali seisi alam. Setiba di bumi, para dewa itu menciptakan dan mementaskan beragam bentuk kesenian. Lewat kasih pagelaran seni itu seisi jagat kembali damai. Makna ruwatan dalam mitologi Siwa Tatwa tersebut juga senafas dengan kandungan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang kemudian disyukuri atau jadi pijakan awal Galungan, perayaan kemenangan dharma atas adharma.
Eksotisme Ngelawang, Romantisme Usang selengkapnya
by admin | Feb 12, 2011 | Berita
JAKARTA – Komisi X DPR akan memanggil kalangan perguruan tinggi negeri dan swasta terkait persoalan sistem pemilihan rektor di perguruan tinggi yang ditentang sejumlah pihak.
Wakil Ketua Komisi X DPR Rully Chairul Azwar mengatakan, pemanggilan ini terkait laporan dari sejumlah sivitas akademika perguruan tinggi negeri (PTN) tentang mekanisme pemilihan rektor yang dinilai masih dicampuri oleh pemerintah. Salah satu kasus yang terjadi adalah saat pemilihan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. “Tidak hanya rektor negeri, universitas swasta seperti Trisakti juga akan kami panggil untuk rapat dengar pendapat dengan kami secepatnya,”tegas Rully di Jakarta kemarin. Wakil Ketua Komisi X DPR Heri Akhmadi mengungkapkan, sejauh ini banyak laporan dari perwakilan perguruan tinggi terkait Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 24 Tahun 2010 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor Perguruan Tinggi yang Diselenggarakan Pemerintah.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menyatakan, persoalan seputar Permendiknas No 24/2010 tersebut akan diagendakan untuk dibicarakan secara langsung dengan Mendiknas Mohammad Nuh.“Saat ini kami sedang meneliti dan membahas tentang pengaduan dan permendiknas tersebut,”katanya. Permendiknas tersebut membagi dua suara dalam proses pemilihan rektor PTN yakni 65% suara ditentukan oleh sivitas akademika dan 35% diberikan ke mendiknas. Anggota Komisi X DPR Tubagus Dedy Gumelar menilai, pemilihan rektor sudah tidak demokratis lagi karena ada campur tangan pemerintah.Faktor suka dan tidak suka masih sangat berperan dalam pemilihan rektor.
Dia pun meminta pemerintah mengkaji ulang permendiknas tersebut sebab sampai saat ini masih ada kuota sebesar 35% untuk mendiknas dalam pemilihan rektor.Padahal, sebelumnya pemilihan rektor hanya diputuskan di senat mahasiswa kemudian ditetapkan presiden. Keanehan lain, ungkapnya, saat ini jabatan rektor pun bukan eselon I sehingga tidak sewajarnya pemerintah mengintervensi dalam proses pemilihan. Senada diungkapkan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Edy Suandi Hamid.Menurut dia, adanya aturan pembagian kuota suara dalam pemilihan rektor sudah tidak dapat diadopsi lagi dalam era reformasi seperti sekarang ini.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini mengatakan, jika masih ada suara pemerintah dalam prosesi pemilihan rektor, pemerintah masih tidak percaya dengan kebijakan kampus yang seharusnya otonom. Persentase tersebut juga masih memberikan porsi dominan kepada pemerintah sehingga terlalu kuat intervensi yang bisa dilakukan pemerintah. Karena itu, tegas Ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BK PTIS) ini, permendiknas tersebut perlu dikaji ulang. Pengamat Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan juga berpendapat sama.Menurut dia, meski PTN milik pemerintah, rektor bukanlah wakil menteri. Rektor tetap harus memiliki kebebasan akademis tinggi dan kekuatan politik untuk mengelola perguruan tinggi yang dipimpinnya.
Dalam hal ini,kata Said, mendiknas seharusnya hanya berperan secara formal atau dalam arti hanya berfungsi mengangkat dan mengesahkan rektor yang dipilih senat. Suara senat seharusnya memiliki integritas yang tinggi dalam pemilihan, bukan suara mendiknas. “Pemilihan rektor harus dilakukan terbuka. Bisa saja dipilih dari orang luar kampus tersebut,” tandasnya. Dia juga meminta sistem ini dikaji ulang karena tidak boleh seorang rektor terbatasi independensi dan otonominya.Pengkajian ulang ini juga dimaksudkan untuk mencegah intrik dalam pemilihan rektor.“Apalagi, jika ada manuver politik yang terlibat di dalamnya,” tegasnya.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal ketika dikonfirmasi mengenai polemik pengangkatan rektor PTN ini tidak mau menjawab apa pun. Persoalan ini lebih baik langsung ditanyakan kepada mendiknas. “Aduh, saya tidak mau menjawab hal itu,”tegasnya. (neneng zubaidah).
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com