Rahajeng Nyangra Rahina Nyepi, Tahun Baru Caka 1933
Keluarga Besar ISI Denpasar Mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Caka 1933
Rahajeng Nyangra Rahina Nyepi Tahun Baru Caka 1933.
Dumogi ngemolihang Rahajeng Sinamian
Rahajeng Nyangra Rahina Nyepi Tahun Baru Caka 1933.
Dumogi ngemolihang Rahajeng Sinamian
Kiriman Kadek Suartaya, dosen PS Seni Karawitan
I Nyoman Partha Gunawan (60 tahun) adalah seorang seniman alam dari Desa Tenganan Pagringsingan, Karangasem. Sebulan belakangan ini, ia tampak dengan tekun mengajar gamelan Slonding, salah satu gamelan tua Bali, di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sekelompok mahasiswa menyerap gending-gending yang diberikan oleh empu gamelan Slonding itu. Ketika program “kuliah kilat“-nya itu hasilnya dipentaskan dan sekaligus didokumentasikan, Gunawan tampak berseri-seri karena telah menularkan sejumput nilai keindahan pada generasi penerus.
Di Tenganan Pagringsingan, gamelan Slonding menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritual keagamaan. Gamelan yang terbuat dari lempengan-lempengan besi tebal ini disimpan di bale agung dan hanya dikeluarkan dan ditabuh pada prosesi upacara penting. Gamelan yang dimainkan oleh 7-10 penabuh ini misalnya tampak mengalun magis mengiringi tradisi Abuang, tari sakral yang dibawakan oleh pasangan pria dan wanita. Slonding juga hanya berdentang garang saat menyemangati tradisi makare atau perang pandan.
Di luar Tenganan, Slonding masih dijumpai di beberapa desa tua yang termasuk desa Bali Age. Namun jika di Tenganan, Slonding masih diusung secara takzim oleh komunitasnya, di tempat-tempat lainnya kondisinya memperihatinkan bahkan hampir punah. Perkembangan masyarakat dan kebudayaan menyudutkan bentuk-bentuk seni terdahulu seperti Slonding semakin marginal. Masyarakat Bali generasi kekinian sedang kepincut dengan seni yang lebih modern. Gong Kebyar yang muncul tahun 1915 kini banyak menyambil alih alunan teduh gamelan renta seperti Slonding atau Gambang misalnya.
Kesenian tua memiliki kandungan nilai estetik dan ekspresi kultural yang patut diselamatkan. “ISI Denpasar sebagai lembaga akademis sudah sepatutnya memerankan dirinya menyelamatkan bentuk-bentuk kesenian langka seperti Slonding,” ujar I Wayan Suharta, SSKar, M.Si, Ketua Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI. Dalam rangka rekontruksi gamelan langka itulah, tambahnya, ISI mengundang selain nara sumber gamelan Slonding dari Tenganan Pagringsingan, pada momentum yang sama juga menghadirkan maestro gamelan Babarongan, I Wayan Jebeg, dari Batubulan, Sukawati.
Kendati agak gamang, tampaknya kepedulian terhadap keberadaan kesenian langka belum sirna sama sekali. Sabtu (28/11) lalu misalnya, saat Tumpek Krulut, ritus masyarakat Bali terhadap gamelan, Pemkot Denpasar menghadirkan sekian jenis gamelan langka di lapangan Puputan Badung, berkumandang secara bergantian. Demikian pula apa yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, secara periodik menyuguhkan bentuk-bentuk kesenian langka di Taman Budaya Denpasar. Sajian kesenian langka juga dapat disimak masyarakat di arena Pesta Kesenian Bali (PKB). Berbagai upaya konstruktif itu tentu mesti disyukuri.
Penyelamatan bentuk-bentuk kesenian luhur yang telah mengisi dinamika kehidupan masyarakat, memang mesti disikapi dengan langkah kongkret. Cermatilah, pencapaian estetik yang pernah diraih kesenian langka kita belakangan tergerus tak terurus. Fungsi-fungsi sosial dan religius yang sempat diisinya terkikis. Makna-makna kultural dan filosofis yang dulu mengawalnya terpental entah kemana. Tragisnya, kesenjangan bentuk-bentuk kesenian itu dengan generasi muda, semakin lebar. Orientasi masyarakat kita di tengah gelombang globalisasi yang cenderung materialis-kapitalistik, sungguh membuat butir-butir budaya itu tergelincir.
Denpasar – Sebanyak 6.000 ogoh-ogoh, boneka besar yang umumnya dengan wajah menyeramkan, akan diarak di wilayah desa adat di Bali pada malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1933 pada 5 Maret.
“Polda Bali bersama jajarannya akan mengantisipasi dan melakukan pengamanan ketat atas ritual pengusungan ogoh-ogoh yang berlangsung sejak Jumat (4/3) petang hingga larut tengah malam itu,” kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Gde Sugianyar di Denpasar, Rabu.
Ia menyebutkan, upaya pengamanan ketat itu dilakukan pihaknya untuk menghindari timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan.
Dikatakan, upaya pengamanan pada malam pengerupukan itu juga dilakukan pihaknya bersama-sama dengan petugas keamanan desa adat (pecalang), dengan harapan arak-arakan ogoh-ogoh dapat terlaksana dengan baik.
Petugas telah melakukan pendataan terhadap kelompok anak-anak muda (sekaa teruna-teruni) yang telah membuat ogoh-ogoh untuk diusung pada malam pengerupukan terkait Nyepi tahun ini.
Dari pendataan tersebut, terhitung sekitar 6.000 buah ogoh-ogoh telah dibuat warga tersebar di desa atau atau pekraman pada delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini, ujarnya.
Karya seni generasi muda Bali itu akan diarak keliling desa pekraman, sebelum dipralina (dibakar) pada larut malam.
Sumber: antaranews.com
Oleh : Drs. I Wayan Mudra, MSn, Drs. I Made Suparta, MHum, PS. Kriya Seni FSRD ISI Denpasar
Para penulis mengulas Pura Luhur Uluwatu pada berbagai media seperti buku, majalah, jurnal dan website, biasanya lebih tertarik menulis tentang kesucian, ketenaran, filosofi dan asal usul pura sampai kenakalan satua kera yang sering mengambil bawaan pengunjung. Sebaliknya belum ditenemukan ulasan yang membahas secara detail bentuk candi, motif ornamen dan filosofi ornamen bangunan-bangunan kuno yang terdapat pada kawasan pura tersebut. Bangunan tersebut dalah candi bentar menuju jaba tengah yang berbentuk sayap dan candi kurung padu raksa bersayap menuju utama mandala yang memiliki ornamen cukup unik. Ada yang berpendapat sayap mengandung makna pelepasan. Kekhasan candi tersebut terlihat dari bentuknya yang berbeda dengan candi kurung yang dibuat masyarakat di Bali saat ini. Dari visualisi ornamen sebetulnya dapat ditelusuri tahun pembuatan candi, karena style ukiran dapat menunjukkan periode pembuatannya. Style ornamen ukiran dari kejaman–kejaman akan mengalami perbedaan walaupun jenis motifnya sama.
Pengertian padu raksa menurut Gusadi dalam tulisannya “Penyengker” menjelaskan sudut-sudut pertemuan antara tembok panyengker disebut padu raksa. Secara filosofis-etis, padu raksa tersebut memiliki nama masing-masing berdasarkan titik sudut peletakannya, seperti sari raksa (terletak di sudut timur laut), aji raksa (di tenggara), rudra raksa (sudut barat daya) dan kala raksa berkedudukan di barat laut. Padu raksa memiliki bagian-bagian yang diidentikkan sebagai kepala, badan dan kaki, lengkap dengan hiasan atau pepalihan-nya.
Keunikan lain yang terlihat dari kawasan Pura Luhur Uluwatu ini adalah bangunan pokok yaitu meru tumpang tiga masih terlihat bangunan lama. Walaupun ada informasi yang mengatakan bangunan tersebut sebenarnya telah mengalami perbaikan ketika terjadi musibah kebakaran yang diakibatkan oleh petir. Menurut beberapa sumber bahan kayu yang dipakai bangunan meru tersebut adalah kayu majegau. Salah satu jenis kayu yang disucikan oleh umat Hindu di Bali. Bahan kayu bangunan tersebut terlihat masih utuh tanpa diberi pelapis cat atau tanpa ornamen, sehingga dapat memunculkan kesan kesederhaan dan kuno. Berbeda dengan kondisi bangunan-bangunan pura lainnya di Bali saat ini, umumnya menggunakan batu hitam, bagian atas penuh ornamen dengan finishing lapisan prada.Hal ini dapat memunculkan kesan megah dan kemewahan.
Keunikan lain yang menjadi daya tarik wisatwan asing maupun wisatawan nusantara adalah disebelah kiri jaba tengah terdapat sebuah bak air yang selalu berisi air meskipun musim kering sekalipun. Hal ini dianggap suatu keajaiban dari Pura Luhur Uluwatu. Sebab, di wilayah Desa Pecatu adalah daerah perbukitan batu karang berkapur yang mengandalkan air hujan. Bak air itu dikeramatkan karena keajaibannya. Keperluan air untuk bahan tirtha cukup diambil dari bak air tersebut. Bak air tersebut saat ini berada dalam bangunan kecil mendatar menyerupai candi.
Ornamen Candi Kurung Padu Raksa Bersayap Di Pura Luhur Uluwatu, Bali Selengkapnya
Jakarta — Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional sedang mengkaji aturan yang memungkinkan untuk berbagi sumber daya tenaga dosen di lingkungan pendidikan tinggi. Fleksibilitas ini dilakukan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi dengan keterbatasan dosen yang ada.
“Kita sedang me-review aturan-aturan yang ada, sehingga memungkinkan melakukan sharing resources yang terbatas untuk meningkatkan kapasitas,” kata Sekretaris Ditjen Dikti Kemdiknas Harris Iskandar pada Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Jakarta, Selasa (22/2).
Harris mengatakan, target pemerintah untuk menggenjot APK dengan menambah jumlah mahasiswa perguruan tinggi (pt) harus dibarengi dengan penambahan kapasitas tenaga dosen. Namun, kata dia, dengan keterbatasan dosen yang ada saat ini maka perlu upaya untuk mengatasinya yaitu dengan berbagi tenaga dosen. “Kalau kapasitas (dosen) segitu-segitu saja tidak masuk akal, kecuali kapasitasnya diperbesar. Cara memperbesarnya dengan melakukan berbagai fleksibilitas,” katanya.
Haris mengatakan, kebijakan ini merupakan bagian dari reformasi yang dilakukan di dikti. Kebijakan lainnya, kata dia, adalah melakukan pembenahan data. Dikti saat ini sedang mengembangkan pangkalan data pendidikan tinggi (PDPT) menggantikan aplikasi evaluasi program studi berbasis evaluasi diri (EPSBED). “Kami ingin mewujudkan data yang lebih akurat, sehingga mengambil kebijakan yang lebih adil bagi semua perguruan tinggi,” katanya.
Senada dengan Harris, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti Kemdiknas Illah Sailah menyampaikan, berbagi sumber daya tenaga dosen dikembangkan dalam dua bulan terakhir dan sedang disusun kisi-kisinya. Dia mencontohkan, seorang dosen yang tidak memenuhi jam mengajar sebanyak 12 SKS, misalkan hanya delapan jam, maka kekurangan empat SKS dapat dipinjamkan ke perguruan tinggi lain dengan sepengetahuan rektor. “Jadi nanti di pangkalan data yang kita lihat adalah berapa jumlah SKS dosen tersebut,” katanya.
Illah meminta kepada perguruan tinggi agar berhati-hati dalam melakukan administrasi penilaian. Karena hal ini, kata dia, merupakan bagian dalam sistem penjaminan mutu internal (SPMI) dan penilaian akreditasi. Menurut dia, pihak kampus harus mencermati kecocokan antara perencanaan pembelajaran dengan berita acara perkuliahan. “Oleh karena itu, benchmarking sesama PT Muhammadiyah (PTM) diperlukan,” ujarnya.
Rektor Uhamka Suyatno menyampaikan, pihaknya berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi, melakukan penguatan kelembagaan, melahirkan kepemimpinan di PTM, dan mengembangkan jejaring. Dia menyebutkan, dari 4,6 juta mahasiswa Indonesia berusia 19-24 tahun, jumlah mahasiswa di bawah naungan Muhammadiyah sebanyak 450 ribu atau 10 persen. “Dari jumlah itu, kontribusi Muhammadiyah besar,” katanya. (agung)
Sumber: Kemdiknas.go.id