M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Prasasti Blanjong dan Gamelan Gong Beri

Prasasti Blanjong dan Gamelan Gong Beri

Kiriman Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Menurut beberapa sumber, nama Blanjong berasal dari kata blahjung. Blah atau belah berarti pecah, dan jung berarti perahu. Jung yang bocor, kemudian terdampar dan akhirnya pecah berantakan dekat Sawang. Kata sawang berarti palung laut yang dalam, dan sekarang menjadi Semawang. Pengertiang Blanjong adalah suatu tempat dimana perahu yang bocor kemudian pecah terdampar di dekat Semawang.

Rusaknya tulisan prasasti membuat para ahli hanya dapat mengira-ngira terjemahannya yaitu: Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Singadwala, bernama Sri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.

Prasasti Blanjong berbentuk pilar, tingginya 177 centi meter dengan garis tengah 62 cm, di atasnya (bagian kepala) ada mahkota yang berwujud bunga teratai, sama dengan yang ada di Malaya serta di Sriwijaya. Dalam prasasti itu terdapat kata satru dan bheri yang mana melukiskan keadaan perang serta kata-kata yang berarti mengalahkan musuh. Prasasti ini ditulis dalam dua bahasa, bagian pertama terdiri dari 6 baris, tiga baris berbahasa Sangsekerta dengan tulisan Pranegari dan tiga baris kemudian berbahasa Bali kuno dengan huruf Pranegari. Kemudian bagian kedua terdiri dari 13 baris dengan huruf Bali kuno dan bahasa sangsekerta terletak dibawahnya. Sedangkan angka tahunya ditulis dalam bentuk candrasangkala berbunyi Khecara – Wahni – Murti, rajanya disebut Sri Kesari Warmadewa, tahun Candrasangkala itu melukiskan  tahun  Icaka  835  atau  913 M. Kalau   kita   lihat   secara seksama, prasasti tersebut sulit untuk diartikan kata demi kata karena sebagian besar tulisannya telah rusak. Walaupun demikian, kita masih dapat dilihat dengan jelas pada akhir tulisan, bahwa gelar Sri Kesari ditulis dengan lengkap yaitu …samasta samantadhipatih Cri Kesari warma…

Dalam kawasan prasati berjarak sekitar 7 meter terletak sebuah pura yang dinamakan dengan Pura Blanjong. Di dalam pura ini banyak ditemukan berbagai barang peninggalan seperti: 1) Arca Ganesa, Arca perwujudan, diperkirakan berasal dari abad XIII–XIV (Majapahit), dan arca teracota berwujud binatang dan sandaran arca, berdasarkan atributnya, kemungkinan besar berasal dari jaman Majapahit. 2)  Lingga ditempatkan di sebuah pelinggih bersama-sama dengan stela arca dan fragmen arca. Terbuat dari batu padas dengan ukuran tinggi 36 Cm, panjang 40,5 Cm, dan lebar 38,5 Cm. 3) kereweng Cina dari beberapa dinasti yaitu zaman dinasti Sung (960-1280 M), dinasti Yuan (1280-1368 M), dan dinasti Ching (1644-1912 M), kereweng lokal yang persebarannya dipermukaan tanah dan populasinya cukup banyak, kereweng Annam yang berasal dari abad XIV-XVI, dan Kereweng Eropa yang berasal dari abad XVII-XIX.

Prasasti Blanjong dan Gamelan Gong Beri selengkapnya

Sajian Komposisi Karawitan Dalam Wacana Estetika Postmodern

Sajian Komposisi Karawitan Dalam Wacana Estetika Postmodern

Sajian Komposisi Karawitan Sebuah Kategori Contoh Dalam Wacana Estetika Postmodern.

Kiriman Saptono, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

1.Latar Belakang

Pengertian estetika sebagai filsafat, hakekatnya telah menempatkan pada satu titik dikotomis antara realitas dan abstraksi, dan juga antara keindahan dan makana. Estetika tidak lagi menyimak keindahan dalam pengertian konfensional, melainkan telah bergeser kesebuah wacana dan fenomena. Estetika karya seni modern jika dipahami melalui pemahaman filsafat seni yang merujuk pada konsep-konsep keindahan jaman Yunani (abad pertengahan), akan mengalami penciutan atau pembunuhan preseptual, karena estetika bukan hanya simbolisai dan makna, melainkan juga daya.  Setiap ungkapan atau ekspresi kesenian apapun bentuk dan media pengungkapannya pada dasarnya adalah ungkapan estetik seniman. Dalam dimensi estetis Noel Carroll (1999), pengalaman seni mencakup kepuasan rasa yang muncul tatkala menyaksikan suatu sajian karya atau obyek seni (merasa senang, dan puas menyaksikan sebuah ply) (Khanisar, 2004:65-78).

Seni pertunjukan pada dasarnya adalah presentasi ide, gagasan, atau pesan pada penonton oleh pelakunya melalui peragaan. Sebagai sebuah karya seni, seni pertunjukan memadukan hampir semua unsur seni; seni rupa, seni sastra, seni gerak, seni suara, sehingga mampu memberikan kepuasan estetis yang sangat lengkap (Dibia, 2004:3).  Untuk lebih rampingnya fokus dalam tulisan ini secara spesifik melihat karya seni sebagai kasus dalam beberapa komposisi (gending/lagu) karawitan Jawa dan Bali (tabuh), ditinjau dari kacamata estetika postmodern, dengan lima (5) idiom; pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia.

2. Komposisi dalam Karawitan

Dalam Ensiklopedi Musik Indonesia (1985:12), dewasa ini istilah karawitan adalah musik dengan sistem nada (laras) slendro maupun pelog, atau tangga nada non diatonis yang pernah berkembang atau masih hidup di Indonesia, sebagai musik tradisional di daerah-daerah.

Gendhing adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut komposisi musikal dalam karawitan Jawa. Secara konvensional, repertoar gending Jawa telah memiliki cara dan pola penyajian, bentuk dan struktur, serta karakterisik yang berbeda dengan lagu atau komposisi jenis musik lain. Secara musikal di dalam penyajian karawitan, saat para seniman memainkan instrumen yang   memiliki fungsi dan teknik permainan yang berbeda, mereka tidak sekedar terpaku terhadap instrumen yang dimainkannya, melainkan mereka saling memperhatikan dengan sesama penyaji yang lain. Mereka saling melempar dan merespon ide musikal, sehingga terjadi dialog dan interaksi musikal yang hidup dan menarik. Sehingga bila dianalisis ketika masing-masing ricikan (instrumen) yang mereka sajikan memiliki cara permainan, warna suara, dan kaidah-kaidah (vokabuler) yang beragam, dan ketika seluruh permainan instrumen dimainkan secara terpadu tetap menjadikan satu kesatuan yang enak didengar (harmonis). Dalam sajiannya karawitan juga sangat memungkinkan adanya perbedaan penyajian pada saat yang berbeda. Perbedaan penyajian tersebut antara lain ditentukan oleh fungsi dan kegunaan karawitan.

Pada prinsipnya kesenian seperti di atas sudah berlangsung dan dipertahankan secara turun-temurun dan diikuti kaidah-kaidah secara tetap. Sebuah karya seni  menjadi baku dalam pengertian tetap, stabil, dan tidak berubah-ubah lagi setelah mengalami proses koreksi, perbaikan dan penyempurnaan di sana-sini secara efolutif jangka panjang di dalam komunitas budayannya (Suka, 2003:77). Berlangsungnya pada suatu pertunjukan atau permainan seni tradisi dan kesenian rakyat sebenarnya adalah suatu proses rekonstrksi atau reinterpretasi dari komposisi karawitan yang dianggap baku.

Sajian Komposisi Karawitan Sebuah Kategori Contoh Dalam Wacana Estetika Postmodern selengkapnya

Bentuk Tari Kreasi Baru Siwa Nataraja Karya I Gusti Agung Ngurah Supartha

Bentuk Tari Kreasi Baru Siwa Nataraja Karya I Gusti Agung Ngurah Supartha

Kiriman I Ketut Sariada, SST., MSi., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar

Bentuk

Penelitian berparadigma budaya yang dalam realitas pendekatannya menekankan konsep bentuk (Bagus, 1988 : 55) menyatakan bahwa konsep bentuk menyoroti dan membatasi (aspek ontologi) yang ingin diketahui. Dalam kaitan ini, keterwujudan atau bentuk menandai keberadaan sesuatu yang fenomenal dapat digapai dan dicapai secara indrawi sehingga dapat diperoleh fakta-fakta empirik. Fakta-fakta emprik seperti peristiwa dan gejala kealaman yang terlihat dengan manusia, masyarakat, dan kebudayaan itu dihubungkan dan diangkat saripatinya. Dengan demikian, maka pengetahuan kebenaran obyektif tentang sesuatu apa yang terbentuk itu menjadi lebih menyeluruh dan tuntas.

Sesuai dengan pendapat di atas tari kreasi baru Siwa Nataraja adalah sebuah bentuk seni pertunjukan yang merupakan hasil karya cipta I Gusti Agung Ngurah Supartha yang secara empirik dapat diwariskan sampai sekarang, serta dilestarikan di sanggar tari Wrhatnala Abiantuwung, Kediri, Tabanan yang sangat bermakna bagi masyarakat pedukungnya, serta dapat menambah khasanah seni pertunjukan Bali.

Susan K. Langer (dalam Gie, 1996 : 18-20) menyebutkan, seni sebagai bentuk harus merupakan suatu kebulatan yang sifatnya organik. Kebulatan organis ciri berbagai sumber unsur ekspresif tersebut tertuang ke dalam bentuk tertentu. Langer membedakan bentuk fisik dan dinamik. Bentuk fisiknya tetap seperti bangunan arsitektur, sedangkan bentuk dinamik seperti tarian merupakan suatu yang dapat dimengerti (perceptible). Suatu bentuk yang merupakan kebulatan organis, yaitu setiap bagian atau unsurnya memainkan peranan tidak hanya dalam rangka dirinya sendiri tetapi juga dalam rangka semua bagian atau unsur lainnya. Tidak ada bagian yang berdiri sendiri melainkan harus bersama-sama dengan bagian lainnya untuk membentuk kesatuan organis.

Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan, isi pandangan dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera. Maka di dalam bentuk seni terdapat hubungan antara garapan medium dan garapan pengalaman jiwa yang diungkapkan, atau terdapat hubungan antara bentuk (wadah) dan isi yang dikandungnya. Bentuk merupakan sarana untuk menuangkan isi, dan isi sebagai bentuk ungkap merupakan pengalaman jiwa yang wiganti (significant). Dalam ungkapan karya seni, seniman mengajak penonton untuk menyelami pengalaman berbagai macam di luar wilayah pengalamannya sendiri. Seniman dapat mencari berbagai pengalaman, seperti: kebaikan yang berhasil menolong, hal-hal yang menakutkan, kejahatan, dan sebagainya (Humardani, 1982/1983: 11-12).

Ungkapan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk merupakan suatu kebulatan yang sifatnya organik, bersumber dari unsur ekspresif; tertuang dalam bentuk fisik maupun dinamik yang isinya dapat ditangkap melalui panca indra. Bentuk juga merupakan unsur abstraksi seperti misalnya garis, warna, gerak, nada, dan kata. Selain dari unsur abtraksi unsur dramatikpun tertuang didalamnya seperti penggambaran orang atau kejadian-kejadian lainnya.Bentuk (wujud) yang dimaksudkan adalah kenyataan yang nampak secara konkrit di depan kita (berarti dapat dipersepsikan dengan mata dan telinga) dan juga kenyataan yang tidak nampak secara konkrit dimuka kita. Tetapi secara abstrak wujud juga dapat dibayangkan, seperti sebuah cerita yang kita baca dalam buku. Di dalam seni tari juga ada yang berbentuk abstrak, yang mewujudkan suatu “ide”, “konsep” suatu pemikiran. Misalnya, Tari Nelayan ide atau konsepnya menirukan orang menangkap ikan (Djelantik, 1990: 17).

Dilihat dari koreografinya bentuk dan struktur garapan, tari-tarian Bali dapat dikelompokan menjadi: tari-tarian tunggal (solo), tari berpasangan (duet), tari kelompok (group) kecil dan besar, dan drama tari. Tari tunggal hanya dibawakan oleh seorang penari, tari berpasangan menampilkan dua orang penari saling medukung (bukan kembar), tari kelompok melibatkan sejumlah penari (dari tiga sampai puluhan orang), dan dramatari menampilkan sejumlah penari dengan membawakan lakon (Dibia, 1999: 8).

Bentuk Tari Kreasi Baru Siwa Nataraja Karya I Gusti Agung Ngurah Supartha selengkapnya

Dosen Karawitan Jadi Pembicara Pada Simposium  Di Jepang

Dosen Karawitan Jadi Pembicara Pada Simposium Di Jepang

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar seolah tak henti memberangkatkan mahasiswa maupun dosennya ke luar negeri (LN) untuk misi pendidikan. Kini, yang berkesempatan terbang lagi ke LN adalah I Made Kartawan SSn MSi.

Dosen Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ini diundang ke Jepang sebagai pembicara dalam simposium internasional bertajuk ‘Audiovisual Ethnography of Gongs in Southeast Asia’ yang bakal digelar 14-15 Maret 2011, di Museum Nasional Ethology, Osaka.

“Di sana saya sebagai pembicara mengenai ‘Pande Gong di Bali, Produksi dan penyebarannya,” ujar  I Made Kartawan.

Simposium ini, kata Kartawan juga bakal dihadiri sejumlah seniman dari beberapa negara yang mempunyai alat gamelan gong seperti Kamboja, Malaysia, Filipina, dan Jepang.

Setelah simposium, lanjut Kartawan, dirinya akan mengikuti workshop tentang teknik penyelarasan gong (tuning technique of gong) bertempat di Okinawa Prefectural University of Arts. “Saya akan memaparkan teknis penyelarasan gong, baik lewat video maupun mempraktekkannya secara langsung,” ujar Kartawan yang keberangkatannya ke Jepang ini semuanya ditanggung pihak pengundang. Namun demikian, kata dia, dari pihak kampus juga sangat memberikan support tentang keberangkatannya ini. “Ini juga kan salah satu bagian dari dari promosi ISI ke mancanegera,” imbuh seniman asal Banjar Tengah, Desa Sidakarya, Denpasar ini.

Sejatinya, keberangkatan Kartawan ke ‘Negeri Matahari Terbit’ ini, bukanlah yang pertama kali. Tahun 2010 lalu, bapak dua ini, juga pernah melaksanakan magang di Unitachi Music Academy di Tokyo, selama dua bulan. “Sepertinya, saat magang itulah, saya dikenal di sana sehingga akhirnya sekarang diundang sebagai pembicara,” kata pria kelahiran 10 Oktober 1972, ini.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

ISI Denpasar Kembali Raih  Quota Kirim Mahasiswa Ke  Malaysia Dan Thailand

ISI Denpasar Kembali Raih Quota Kirim Mahasiswa Ke Malaysia Dan Thailand

Pada tanggal 22-23 Februari 2011, ISI Denpasar menghadiri Workshop Koordinasi Program “Student Mobility Credit Transfer- MIT di Jakarta. Program ini merupakan program kerjasama pendidikan cetusan SEAMEO-RIHED yang dilaksanakan oleh 3 negara di Asia Tenggara; Malaysia-Indonesia-Thailand (MIT) yang melibatkan perguruan tinggi masing-masing negara, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas peserta didik melalui program pengiriman peserta didik ke perguruan tinggi di tiga negara tersebut diatas, dan di Indonesia sendiri, program ini dilaksanakan di bawah arahan DITJEN DIKTI.

Workshop ini diahadiri oleh DITJEN IMIGRASI, DITJEN DIKTI, ISI Denpasar, ISI Surakarta, UI, UAD,UK Maranatha, UBINUS, UNS, UNSRI, IPB, dan UPI. “Tahun 2010, Indonesia mengirim 77 mahasiswa ke Thailand dan Malaysia, dan menerima 14 mahasiswa dari Thailand saja. Tahun 2011, Dikti menyediakan beasiswa program M-I-T untuk 50 mahasiswa, Biro PKLN menyediakan 30,  dengan rincian 37 ke Thailand dan 43 ke Malaysia. Indonesia akan menerima 30 mahasiswa dari Thailand, sedangkan Malaysia akan mengirimkan 50 mahasiswa,” papar Direktur Pembelajaran dan Akademik, Illah Sailah. Untuk PT Seni, ISI Denpasar dan ISI Surakarta mendapatkan privilege untuk mengirimkan mahasiswa ke  PT Seni di Thailand yang telah memiliki MoU, diluar kerangka M-I-T Programme

Dalam program MIT 2010, ISI Denpasar mengirimkan 2 orang peserta didik ke Universitas Thammasat Thailand, dari bulan Juli-Desember 2010. Mereka adalah Diana Putra dari FSP, dan Eka Laksana dri FSRD. Tahun ini, kami merasa sangat bangga, karena dari 80 beasiswa yang disiapkan, ISI Denpasar  mendapatkan 4 quota, 2 orang untuk belajar Language and Culture di Thailand, dan 2 orang di Malaysia. Untuk itu kami telah mempersiapkan tahap seleksi mulai awal Maret ini, dan seleksi diadakan mulai tingkat fakultas, dan terbuka bagi seluruh mahasiswa, dengan nilai TOEFL 500. Kami telah mensiosialisasikan program ini lewat spanduk, selebaran, disamping juga mengumumkan di kelas,”papar Dewi Yulianti yang hadir dalam Workshop selama dua hari tersebut.

Serangkaian dengan program MIT 2011, ISI Denpasar juga sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti IOA (International Office Award) yang akan diadakan oleh DITJEN DIKTI dalam waktu dekat ini.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Loading...