by admin | Mar 21, 2011 | Berita, Lain Lain
1. INTERAKSI
Interaksi pada sistem informasi adalah proses yang terjadi antara penguna dengan sistem, sistem dengan sistem dan penguna dengan pengguna. Pada proses inilah sistem akan melakukan proses pengumpulan data. Data yang dikumpulkan sistem pada proses ini akan digunakan sebagai salah satu pengukuran kinerja pada proses sistem informasi, yang akan menyediakan data lanjutan pada bagian lain sistem informasi yang akan digunakan sebagai sumber acuan pada proses sistem lainnya seperti contohnya pada sistem penentuan reward & punishment, kinerja secara keseluruhan, dan pelaporan.
Proses interaksi terjadi pada data yang human readable atau data yang dapat langsung digunakan oleh pengguna, data yang dapat langsung diproses oleh sistem tanpa memerlukan proses lebih lanjut serta data hasil proses layanan yang diinginkan oleh pengguna itu sendiri.
Proses interaksi terjadi secara interaktif dan berlangsung dua arah. Terdapat satu sisi sebagai peminta data dan sisi lainnya sebagai penyedia data. Peminta data dan penyedia data dapat bertukar posisi pada proses interktif tersebut secara langsung. Sebagai contoh ketika pengguna meminta data email kepada sistem, disini terjadi adalah pengguna sebagai peminta data sedangkan sistem sebagai penyedia data. Akan terjadi sebaliknya pada proses interaksi dimana pada proses selanjutnya sistem akan meminta username dan password pada pengguna untuk bisa mengakses layanan email, dimana pada proses ini pengguna adalah penyedia data sedangkan sistem adalah peminta data. Proses ini adalah proses yang paling sederhana dalam proses interaksi. Pada sistem informasi akan terdapat banyak proses yang kompleks dan berjalan bersamaan baik pada sistem dengan penguna atau pada sistem dengan bagian bagian pendukungnya seperti user interface, aplikasi, database, server layanan dan lain lain.
Interaksi pada system informasi dapat berupa :
1. Mail/surat
2. Dokumen
3. Chat (percakapan)
4. Web
5. Aplikasi
2. PROSES
Proses adalah kegiatan atau aktifitas yang terjadi dalam sistem informasi baik dalam pengumpulan data, pengolahan, penyimpanan, pencarian kembali dan lain lain.
Proses dalam sistem informasi dibagi menjadi 3 bagian penting yaitu ;
1. Logging
Logging adalah pencatatan seluruh aktifitas yang berhubungan dengan interaksi terhadap sistem informasi itu sendiri seperti; waktu akses, lama akses apa saja yang diakses dan lain lain.
2. Documenting/Dokumentasi
Documenting atau dokumentasi adalah proses dimana sistem akan mengumpulkan data dari proses interaksi yang terjadi pada sistem informasi, baik yang merupakan data langsung maupun data tidak langsung. Pada proses ini sistem akan menyimpan data dengan sistem database dengan pengelompokan tertentu untuk memudahkan penemuan kembali.
3. Charting
Proses charting atau pengurutan data dilakukan sistem berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditentukan. Pengurutan disini diperlukan sistem untuk melakukan penilaian pada data untuk menentukan sistem penilaian pada penentuan urutan data.
Penyusun Sistem Informasi ISI Denpasar selengkapnya
by admin | Mar 21, 2011 | Berita, pengumuman
Nomor : 749/I5.1.10/PP/2011 21 Maret 2011
Perihal : Pelaksanaan Evaluasi I Tugas Akhir (TA)
Semester Genap 2010/2011
Yth. : Semua Ka. PS./Minat
FSRD ISI Denpasar
di Tempat
Dengan hormat, dengan ini kami instruksikan kepada Semua Ketua PS/Minat untuk segera melaksanakan Evaluasi I Tugas Akhir (TA) Semester Genap 2010/2011 antar pembimbing dengan mahasiswa mulai tanggal 21– 25 Maret 2011 dengan catatan minimal bab 1.
Laporan Hasil Evaluasi berupa daftar mahasiswa yang boleh melanjutkan sampai ke ujian TA disampaikan pada Ka. Sub Bag. Akademik tanggal 4 April 2011.
Demikian kami sampaikan untuk dilaksanakan. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
a.n. Dekan,
Pembantu Dekan I,
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn.
NIP. 196107061990031005
by admin | Mar 21, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Partha, SSKar., M. Si., dosen PS Seni Karawitan
Realisasi pelestarian nilai-nilai tradisi dalam berkesenian, bersinergi dengan ajaran Tri Semaya, yaitu: atita, nagata, dan wartamana. Apapun yang dilakukan saat ini hendaknya berpedoman dengan nilai-nilai masa lalu (atita) dan ber-orientasi ke masa depan (wartamana). Dengan demikian apa yang kita lakukan pada saat ini tidak meninggalkan akar budaya masa lampau dan juga tidak kehilangan kreatifitas untuk masa yang akan datang (Asnawa, 2004 : 82).
1) Nilai Religius
Gamelan Semar Pagulingan memiliki ciri-ciri sebagai bentuk seni ritual sesuai dengan konsep desa, kala, patra (tempat, waktu, dan keadaan) masyarakat setempat. Pada prinsipnya eksistensi Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan telah menunjukan ciri-ciri sebagai seni ritual, penyajiannya difungsikan sebagai pendukung suasana yang dapat dijadikan salah satu ciri (cihna) bahwa ada upacara yang sedang berlangsung. Semar Pagulingan memiliki nuansa musikal yang lirih dan lembut, sehingga dapat menambah ketenangan dan suasana khusuk untuk melengkapi serta memeriahkan rangkaian ritual dalam rutinitas keseharian masyarakat Teges Kanginan.
Para penabuh Semara Pagulingan ketika terlibat dalam kegiatan ritual, mereka menyerahkan diri secara tulus demi suatu kepercayaan yang mereka yakini. Berpatisipasi megambel, selain untuk mengekpresikan naluri berkesenian pada intinya merupakan yadnya bagi kehidupannya dibawah perlindungan dari kekuatan Yang Maha Kuasa.
Penyajian Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan dalam kaitannya dengan aktivitas keagamaan, dapat dikatakan bahwa eksistensinya banyak terkondisi oleh tradisi ngayah. Sebagai seorang penabuh akan merasa bahagia bila dapat menyumbangkan ketrampilannya dengan menyajikan tabuh-tabuh yang dimiliki. Gamelan Semara Pagulingan dalam fungsinya mengiringi dan melengkapi aktivitas ritual adalah sebagai wujud ungkapan rasa bhakti yang bernilai ”relegius”. Penabuh Semara Pagulingan oleh puluhan partisipan mengikuti serta mengiringi ritual sesuai rangkaian acara dari awal sampai akhir. Kendatipun para penabuh tidak disakralkan, akan tetapi saat keterlibatan mereka ketika ngayah, baik sebelum memulai atau seusai menyajikan tabuh-tabuh Semara Pagulingan, para penabuh mendapatkan percikan air suci, mendapatkan berkah atau pembersihan diri secara niskala.
2) Nilai Solidaritas
Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan dalam aktivitas berkesenian selalu dapat mengukuhkan nilai-nilai solidaritas bagi masyarakat pendukungnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibentuklah organisasi yang mengelola barungan gamelan Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan yang diberi nama Sekaa Gunung Jati. Adanya rasa kebersamaan antara sesama anggota sekaa, secara implisit tercermin pada tatanan orkestrasi dalam memainkan gamelan. Dalam barungan gamelan Semara Pagulingan terdapat berjenis-jenis alat dengan bentuk serta fungsinya masing-masing yang saling ketergantungan. Hubungan yang spesifik ini mengandung nilai-nilai solidaritas sebagai tuntunan perilaku untuk melahirkan rasa kebersamaan, keterbukaan, kemandirian dan tanggung jawab.
3) Nilai Estetis
Pada umumnya di Bali, seni tidak dapat dipisahkan keberadaannya dengan masyarakat, seni dan masyarakat adalah satu. Oleh karena itu nilai estetis sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Bali. Kesadaran dan kehidupannya di bidang seni sangat tinggi, dan boleh dikatakan antara seniman dan masyarakat penontonnya terdapat komunikasi yang hidup (Mantra, 1993 : 32). Eksistensi seni tidak dapat dilepaskan dari fungsinya sebagai sarana interaksi dan komunikasi yang didalamnya mengandung keselarasan untuk melahirkan nilai-nilai estetis.
Gamelan Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan bernilai artistik bertumpu kepada masalah rasa, selalu mengacu kepada dua sisi yang terkait, yaitu objektivitas dan subjektivitas. Sisi yang pertama menyangkut realita atau kenyataan dari bentuk fisik Semara Pagulingan, sedangkan sisi yang kedua menyangkut kesan penyajian yang ditimbulkan oleh Semara Pagulingan tersebut. Oleh sebab itu, hasil penilaian estetis yang optimal dapat dicapai dengan memadukan kedua sisi, yaitu objektif dan subjektif.
Nilai Nilai Gamelan Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan selengkapnya
by admin | Mar 19, 2011 | Berita
Kisah Purusadasantha dengan pesan moral melawan kejahatan dengan kebajikan akan tersebar di Gedung Olah Raga Ahmad Yani MABES TNI Jakarta serangkaian perayaan Dharma Santi Nasional yang akan digelar Senin (21/03), yang akan dihadiri oleh Bapak Presiden SBY. Sabtu/Minggu (19-20 Maret), rombongan seniman ISI Denpasar berjumlah 125 orang ini, mengikuti gladi serangkaian acara nasional tersebut.
Oratorium yang dibawakan oleh ISI Denpasar berkisah tentang seorang pangeran Hastina bernama Sutasoma,yang menegakkan dharma tanpa hasrat dan laku kekerasan, kisah tentang kearifan budi yang bertalian dengan kedamaian. Sebuah kisah keteladanan yang tidak penah sepi dari rintangan. Cerita tentang kepemimpinan yang tak pernah lekang dari tantangan.
I Gusti Ayu Sri Widya Ningsih, mahasiswa Jurusan Tari semester 6 yang memerankan tokoh Diah Candrawati istri Sutasoma, merasa sangat senang mendapatkan peran yang anggun, lemah lembut, serta setia mendampingi Sutasoma tokoh yang rendah hati dan melawan kejahatan dengan kebajikan.” Tokoh Sutasoma adalah tokoh yang sangat saya kagumi dan merupakan figur yang sudah seharusnya kita teladani untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis,” ungkap I Gusti Ngurah Gede Dharma Widnyana mahasiswa Jurusan Tari semester 2 yang mengaku sangat bangga dapat memerankan tokoh Sutasoma dengan karakter tersebut. Baik Ngurah maupun Widya mengaku sudah siap untuk pentas pada malam (21/03) nanti.
Menurut I Gusti Kompiang Kutri, pria asal Kutri Gianyar Bali yang bertindak sebagai panitia bidang kesenian mengatakan bahwa acara ini akan dihadiri oleh Presiden SBY, Mentri Kabinet Pembangunan II, Para Duta Besar, Para Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, Tokoh- Tokoh Umat, yang seluruhnya berjumlah 4000 orang termasuk umat hindu yang berada di Jabotabek. Acara akan diawali dengan Tri Sandya pada jam 4 sore, sebelum acara puncak umat akan dihibur dengan tari India, lagu-lagu oleh Dewa Bhujana, dan tari Kadnya Kasura.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. dalam pengarahannya sebelum acara gladi dimulai menghimbau seluruh dosen, pegawai dan mahasiswa untuk memberikan yang terbaik dalam acara tersebut demi pencitraan lembaga. “ Saya sangat berterima kasih kepada seluruh dosen, pegawai, dan mahasiswa yang telah bekerja keras untuk mensukseskan acara nasional ini” ujarnya.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Mar 19, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: A.A.Ayu Kusuma Arini, SST.,M.Si. Indonesian Institute of the Art Denpasar
Pendahuluan
Satu diantara dramatari klasik Bali yang dianggap bermutu tinggi oleh para budayawan asing adalah Gambuh. Kesenian ini mengingatkan akan kebangkitan kerajaan Bali masa lampau dan merupakan warisan budaya yang paling indah dari semua teater Bali. Di atas segalanya Gambuh adalah tarian luar biasa, terkadang lucu dan keras, terkadang kasar dan sengit, terkadang dilakonkan oleh penari lanjut usia dengan keanggunan yang menghanyutkan, namun terkendali.
Pada jaman kerajaan, peranan puri / raja dalam kehidupan seni budaya sangat besar. Raja merupakan pengayom, pembina, dan pemelihara kehidupan seni budaya, termasuk tari pada khususnya. Sebagai teater istana, hampir setiap puri memiliki bangunan yang disebut Bale Pegambuhan. Namun kini kesenian Gambuh telah menjadi milik desa yang tetap dipertahankan untuk kepentingan upacara.
Seni pentas total
Dilihat dari wujud seni yang membangunnya, Gambuh merupakan seni pentas yang berbentuk total teater. Di samping unsur seni tari yang dominan, terdapat juga unsur-unsur seni lainnya seperti seni tabuh, seni sastra, seni vocal / dialog, seni rupa, dan seni rias yang terpadu secara harmonis dan indah. Demikian pula Gambuh didukung oleh berbagai karakter, seperti karakter halus (tokoh Rangkesari dan Panji), karakter keras para patih Arya dan Prabangsa karakter lucu Demang Tumenggung dan lainnya. Masing-masing tokoh memiliki gending iringan tersendiri yang dipimpin oleh suling panjang hingga 90 cm dengan karakter agung, dinamis dan manis. Di samping itu ditengah-tengah penabuh duduk satu atau dua orang juru tandak yang berfungsi untuk menghidupkan suasana dalam dramatisasi pertunjukan seperti sedih, gembira, marah, lucu dan sebagainya. Sebagai dramatari tertua, setiap tokoh karakter putra maupun putri memiliki tatanan busana tersendiri. Perpaduan seni yang kompleks itulah membangkitkan inspirasi empu-empu seni berikutnya untuk mentransformasikan ke dalam bentuk tari-tarian baru yang lahir belakangan.
Bila dihubungkan dengan peristiwa sejarah dikala Majapahit runtuh pada pertengahan abad XV dimana khasanah sastra Jawa termasuk ceritra Panji diboyong ke Bali, maka kesenian Gambuh diperkirakan muncul di Bali sekitar abad XV. Gambuh merupakan tarian yang sulit dipelajari karena memerlukan penghayatan dramatisasi, perbendaharaan gerak tari, maupun ucapan yang telah dipolakan. Setiap tokoh utama harus mampu berbahasa kawi atau Jawa kuno yang akan diterjemahkan oleh para panakawan. Di samping itu Gambuh sangat ekspresiv karena mengutamakan ekspresi muka dan banyak memakai gerakan mata yang disebut nelik, nyureng, gagilehan, nyerere dan sebagainya. Tanpa ekspresi utama ini, dramatari Gambuh tidak akan kelihatan hidup. Hal ini akan memberikan kendala pada generasi muda, bila diarahkan untuk mempelajari kesenian yang sulit dan kurang menarik baginya. Pementasan Gambuh terbatas untuk kepentingan Yadnya yang besar, seperti Tawur Agung / Ngenteg Linggih pada pura Kahyangan Jagat dan upacara Maligia.. Saat ini seka Gambuh yang masih aktif, antara lain dari Batuan (Gianyar), Pedungan (Kota Denpasar) dan Padangaji (Karangasem). Di daerah lain sesungguhnya pernah juga ada seka Gambuh, namun yang tersisa kini hanya beberapa instrument gamelan dan kostum tari yang tidak lengkap.
Lakon utama Gambuh adalah cerita Panji yang mengisahkan kehidupan, romantika dan peperangan dari kerajaan di Jawa Timur pada abad XII – XIV. Di Bali cerita itu disebut Malat sesuai dengan nama tokoh sentral yakni Panji Amalat Rasmi. Cerita Panji merupakan kisah yang sangat populer dalam masyarakat Indonesia, khususnya Bali. Cerita ini adalah karya cipta asli budaya Nusantara, bukan import seperti Mahabharata dan Ramayana. Episod-episod ceritranya sangat menarik dengan struktur naratif yang memikat atau struktur dramatik yang memukau, bila disajikan dalam bentuk seni pertunjukan. Di Bali ceritra Panji memiliki pengaruh yang sangat luas dan menunjukkan perkembangan yang amat kompleks karena cerita itu berkembang dalam berbagai jalur dan kreativitas seni. Misalnya dijumpai pada seni sastra berbentuk gaguritan / kidung, seni pertunjukan yang bersumber pada Gambuh. Dalam seni rupa berwujud relief dan lukisan yang berkisah tentang Panji sebagai tokoh utama dalam berbagai versi. Selain cerita Panji, Gambuh pernah melakonkan cerita jaman Majapahit yaitu Ranggalawe, Damarwulan dan sebuah ceritra Islam setelah keruntuhan Majapahit yakni Amad Muhamad.
Gambuh Sebagai Inspirator Seni Pertunjukan Bali selanjutnya