by admin | Mar 26, 2011 | Berita
ISI Denpasar pada hari Rabu 23 Maret 2011 lalu menyambut kedatangan tamu perwakilan dari Campus France organization dan Alliance Francaise de Denpasar. Pada event kali ini Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai.S., MA beserta para staff menyambut dengan antusias. Rektor ISI Denpasar mengatakan tujuan diadakan sosialisasi ini adalah untuk dapat menjalin hubungan yang baik kedepannya dengan Perancis dan sangat besar harapan yang ingin diwujudkan adalah, mahasiswa maupun dosen di ISI Denpasar dapat melanjutkan kuliah di Perancis. Pada saat ini ISI Denpasar memiliki sekitar 1000 mahasiswa yang dimana 37 orang merupakan mahasiswa asing dari pelbagai negara, namun sampai saat ini belum ada dari Perancis.
Ini merupakan kesempatan yang baik pula bagi Campus France dan Alliance Francaise untuk dapat mengenalkan bagaimana cara dan kemudahan menjadi mahasiswa selama mengikuti program-program yang diajukan. Presentasi diawali oleh perwakilan dari Campus France Jakarta, Veronique Mathelin beserta asisten nya Anton Hilman yang mempresentasikan tentang program-program yang bisa diambil oleh para peminat antara lain untuk s1(license), s2 (Master) dan s3 (Doctorat). Selain itu presentasi juga dibawakan oleh Audrey Lamou, direktur dari Alliance Francaise Denpasar, yang dimana memperkenalkan bahwa bahasa Perancis merupakan bahasa kedua setelah bahasa Inggris yang di berbagai dunia orang-orang gunakan. Sehingga merupakan kesempatan yang baik pula untuk mahasiswa ISI Denpasar melangkah jauh kedepan agar dapat berbahasa Perancis sekaligus mampu menyelesaikan pendidikan di negara yang terkenal dengan fashionnya. Sosialisasi ini dihadiri oleh beberapa dosen, mahasiswa dan staff baik dari jurusan Seni Pertunjukkan, FSRD maupun yang lain di ISI Denpasar.
Untuk kedepannya, ISI Denpasar mengharapkan hubungan yang baik akan terjalin dengan erat dengan pihak Campus France apabila ada beberapa pelajar maupun dosen yang akan mengikuti program yang telah disosialisaikan.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Mar 26, 2011 | Berita
Jakarta–Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) berupaya meningkatkan pembinaan dan pengembangan karir, kompetensi, dan prestasi kerja pengawai negeri sipil (PNS), yang menduduki jabatan fungsional penilik, pamong belajar, dan pengawas sekolah. Jabatan fungsional ketiga unsur tersebut ditetapkan sebagai jabatan fungsional tingkat ahli dengan dasar pendidikan paling kurang sarjana (S1).
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan, pengembangan karir dan profesi pejabat fungsional perlu mendapatkan perhatian secara khusus. Mendiknas mendorong berbagai aktivitas yang dapat meningkatkan kinerja para pejabat fungsional. “Tolong terus kembangkan kemampuan dari kawan-kawan yang bergerak di bidang profesi,” katanya usai melakukan penandatanganan peraturan bersama dengan Kepala Badan Kepegawaian Negara (Ka BKN) di Kemdiknas, Jakarta, Kamis (24/3).
Peraturan bersama tersebut berisi petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional penilik dan angka kreditnya, jabatan fungsional pamong belajar dan angka kreditnya, serta jabatan fungsional pengawas sekolah dan angka kreditnya.
Peraturan bersama ini mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Meneg PAN dan RB) Nomor 14 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Penilik dan Angka Kreditnya, Peraturan Meneg PAN dan RB Nomor 15 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya, dan Peraturan Meneg PAN dan RB Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.
Kepala BKN Edy Topo Ashari menyampaikan, disamping penetapan jabatan fungsional tingkat ahli dengan dasar pendidikan paling kurang S1, ditetapkan juga jenjang jabatan penilik, pamong belajar, dan pengawas sekolah. Dia mengatakan, jenjang jabatan terendah adalah Penilik Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b dan jenjang jabatan tertinggi adalah Penilik Utama, pangkat Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d.
“Jenjang jabatan fungsional penilik yang semula jenjang jabatan tertinggi adalah Penilik Madya, pangkat Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c, tingkatkan menjadi Penilik Utama Madya, golongan ruang IV/d,” katanya.
Adapun batas usia pensiun penilik dapat diperpanjang sampai dengan 60 tahun sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2010 tentang Perpanjangan Batas Usia Pensiun bagi Pengawai Negeri Sipil, yang Menduduki Jabatan Fungsional Penilik.
Sementara, jenjang jabatan terendah pamong belajar adalah Pamong Belajar Pertama, pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a dan jenjang jabatan tertinggi Penilik Madya, pangkat Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c. Kemudian, jenjang jabatan terendah pengawas sekolah adalah Pengawas Sekolah Muda, pangkat Penata, golongan ruang III/c dan jenjang jabatan tertinggi Pengawas Sekolah Utama, pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e.
“Setiap kenaikan jabatan pangkat penilik, pamong belajar, dan pengawas sekolah disyaratkan sejumlah angka kredit tertentu dari unsur pengembangan profesi,” kata Edy.
Atas ditetapkannya tiga peraturan bersama ini, dilanjutkan dengan pembinaan karir pejabat fungsional terkait prosedur penilaian dan penetapan angka kredit, pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan jabatan/pangkat, perpindahan dalam dan dari jabatan, dan pembebasan sementara dan pemberhentian dalam dan dari jabatan. (arief/gloria/agung)
Sumber: kemdiknas.go.id
by admin | Mar 25, 2011 | Berita
Jakarta — Pemerintah Republik Federal Jerman menghapus hutang pemerintah Indonesia sebanyak 23 juta Euro melalui program Debt Swap II untuk pendidikan. Pemberian penghapusan hutang ini dilakukan setelah Indonesia memenuhi syarat untuk membangun sebanyak 100 unit sekolah baru sekolah menengah pertama (USB-SMP) di 36 kabupaten di kawasan Indonesia bagian timur. Nilai pokok hutang yang dihapus tersebut mencapai dua kali lipat dari dana yang dikeluarkan pemerintah sebanyak Rp 141,72 miliar.
Sertifikat Penghapusan Hutang Program Debt Swap IV untuk Education diserahkan oleh Direktur KfW (Kreditanstalt fur Wiederaufbau) Bjorn Thies kepada Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdiknas Suyanto disaksikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh di Kemdiknas, Jakarta, Kamis (24/3).
Mendiknas menyampaikan, program debt swap berikutnya yang dipersiapkan adalah untuk program beasiswa bagi dosen yang akan melakukan studi S2 dan S3 di Jerman. Tahun depan, kata Mendiknas, adalah 60 tahun hubungan Jerman dan Indonesia. “Pemerintah Jerman telah menunjukkan komitmennya bersama dengan pemerintah Indonesia mengembangkan hubungan baik salah satu contohnya adalah program debt swap,” katanya.
Program pembangunan 100 USB-SMP meliputi pembangunan unit gedung baru, mebeler, perpustakaan, dan buku teks. Selain itu, termasuk alat bantu belajar dan peralatan kantor untuk menunjang kegiatan administrasi sekolah. Adapun persyaratan lokasi pembangunan USB berada di daerah miskin, angka partisipasi kasar (APK) di bawah 70, dan tidak ada sekolah yang sama dalam radius lima kilometer.
Persyaratan lainnya, bagi kabupaten yang mendapatkan pembangunan USB bersedia menjamin beroperasinya sekolah tersebut minimal 20 tahun dengan mengacu pada standar pelayanan minimum, menyediakan lahan siap bangun minimal 6.000 meter persegi, menjamin dapat merekrut siswa baru minimal 30 siswa, menjamin kelancaran operasional USB melalui penyediaan guru, kepala sekolah, dan staf administrasi, serta mengalokasikan dana melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Suyanto menyampaikan, penghapusan hutang (debt swap) II merupakan kali ketiga. Program debt swap I for education pada 2006 sebanyak 25,56 juta Euro untuk pembangunan pusat sumber belajar di 511 sekolah dasar di 17 provinsi dengan nilai Rp 125 miliar. Kemudian program debt swap IV for education pada 2010 menghapus hutang pokok sebanyak 20 juta Euro untuk program peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pasca bencana gempa bumi. “Total untuk pendidikan dasar telah menghapuskan hutang pemerintah Rp 750 miliar,” katanya.(agung/gloria)
Sumber: kemdiknas.go.id
by admin | Mar 25, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Ardana, Dosen Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta.
Alam ritual dengan gending leluangan adalah bagian yang tak terpisahkan. Para seniman meyakini, bermain gending leluangan dalam upacara ritual adalah sebagai wujud bakti manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widi Wasa). Keberadaan gending merupakan faktor keindahan, hal ini sangat mempengaruhi para umat dalam menyatukan diri kepada Nya. Dari keindahan juga akan menghadirkan suatu ketenangan dalam melakukan yadnya. Hadirnya gending leluangan merupakan salah satu pengimplementasian keindahan dalam upacara. Gending leluangan itu indah. Keindahan gending muncul dari bunyi-bunyian yang tertata berbentuk sebuah aroma bunyi-bunyian yang melankolis. Memiliki melodi, ritme, dinamika, dan harmoni yang dapat menyentuh hati bagi si pendengarnya.
Sejak jaman dulu sudah berkembang pemahaman bahwa gamelan Bali selalu digunakan dalam mengiringi upacara keagamaan. Bahkan ada pendapat mengatakan, eksistensi gamelan Bali saat ini sangat besar disebabkan oleh budaya Bali yang selalu melibatkan kesenian. Dari fenomena ini keberadaan gending leluangan dalam upacara salah satunya digunakan untuk mengiringi ritual pangilen-ngilen. Besar keyakinan para umat bahwa gending juga sangat mempengaruhi tercapainya alam ritual bagi masyarakat.
Pada setiap proses persembahan pangilen-ngilen yang dilakukan oleh Pemangku pura diawali dengan memberikan koordinasi pada para Sekehe Gong untuk memulai gending iringan. Seandainya gending tidak dimainkan oleh para pengrawit, maka para Pemangku juga tidak memulai upacara. Mulainya gending dapat merespon para Pemangku untuk memulai berdoa, mengheningkan pikiran agar mencapai alam kerawuhuan (trans). Dalam konteks ini, gending sebagai iringan dimainkan dengan irama cepat dan memiliki dinamika yang keras. Gending mengalun berulang kali sambil mengiringi para Pemangku untuk mempersembahkan sesajen yang merupakan bagian dari proses ritual.
Leluangan Sebagai Sarana Membangun Suasana Ritual
Ada sebuah asumsi, Kemantapan dalam melakukan proses persembahan upacara Ritual sangat dipengaruhi oleh keberadaan musikal dalam upacara. Tentu saja asumsi ini ada benarnya jika berangkat dari pernyataan Hazrat Inayat Khan yang mengatakan bahwa “… penyembuhan melalui musik dalam kenyataannya merupakan awal dari perkembangan seni musik, yang tujuannya adalah mencapai sesuatu yang dalam bahasa Wedanta disebut samadhi” (Khan, 2002:130). Pencapain alam samadhi adalah salah satu harapan yang ingin dicapai masyarakat dalam upacara ritual. Pencapaian ini sangat dibantu oleh keberadaan gending leluangan sehingga bisa membantu para pemedek (umat) dalam menyatukan diri kepada Nya. Dalam upacara ritual masyarakat memberikan suatu persembahan yadnya sembari memohon kepada Nya untuk diberikan kehidupan yang damai, tenang, dan sejahtera.
Leluangan Dan Upacara Piodalan Di Desa Kesiman Selengkapnya
by admin | Mar 23, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman, I Wayan Mudra, PS Kriya Seni ISI Denpasar.
Kain batik tua atau kain batik habis pakai mempunyai nilai tersendiri bagi orang-orang kreatif. Peningkatan nilai ekonomis, dan estetis benda kriya akan muncul dari pemanfaatan benda-benda yang unik, baik sebagai bahan utama atau hanya sekedar sebagai media hias.
Siapa menyangka kain tua habis pakai yang sudah lusuh dan tidak layak pakai berguna sebagai media hias keramik. Kerap kali kain ini menjadi incaran para pembuat kriya bukan saja untuk media hias keramik, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk lain. Walaupun wujud fisiknya terkesan remeh dan sepele ternyata untuk mendapatkannya tidak mudah. Kain yang sering disebut “kain bekas” di mata perajin ini, sering memberikan kesan kurang baik ditelinga orang seperti kain yang kotor, robek, lusuh dan terkadang menjijikkan. Karena mendengar kata “kain batik bekas” mengisyaratkan kepada orang bahwa kain tersebut adalah kain yang habis dipakai oleh orang tua bahkan nenek, yang badannya kotor dan kurus, keadaannya lusuh, kotor dan berbau tidak sedap karena tidak pernah dicuci. Namun ditangan para perajin justru keadaan ini bisa menjadi nilai tersendiri dalam membuat karya-karya yang unik dan menarik, seperti halnya perajin keramik. Mereka sengaja memang mencari kain bekas untuk media hias. Menjadi pertanyaan kenapa perajin memilih kain bekas bukan kain batik yang baru dengan kondisi yang lebih baik. Pertimbangannya pertama tentu selera konsumen dan yang kedua harganya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan kain yang baru, walaupun untuk mendapatkannya terkadang sulit. Dengan pertimbangan bahan lebih murah sehingga akan bisa menekan harga produksi dan meningkatkan harga produk kriya tersebut.
Kain batik bekas diterapkan sebagai altenatif media hias karena memberikan nuansa antik pada produk yang dihias. Nuansa antik untuk pasaran di Bali yang konsumennya wisatawan asing sering kali menjadi suatu hal penting dan dicari oleh perajin.
Pemanfaatan kain batik habis pakai sebagai media hias keramik yang terlihat di pasar selama ini adalah keramik-keramik Lombok tingkatan gerabah yang dipasarkan di Bali.. Gerabah merah tanpa dekorasi didatangkan dari Lombok, kemudian proses pendekorasiannya dilakukan di Bali. Jenis gerabah dengan dekorasi semacam ini terlihat dibuat dan dipasarkan tempat-tempat penjualan gerabah di kawasan Suwung. Hal ini mengindikasikan sasaran konsumen gerabah jenis ini adalah wisatan asing
Bahan utama dekorasi ini selain kain batik bekas juga diperlukan lem sebagai bahan perekat. Teknik penerapan dekorasi ini adalah pertama menentukan jenis motif kain dan posisi motif pada badan gerabah. Perajin dituntut memiliki ketrampilan yang cukup untuk mencapai kualitas dekorasi yang baik, baik dilihat dari sisi kualitas penerapan maupun kualitas penampilan motif. Penentuan motif dilakukan untuk memilih mana motif yang cocok untuk gerabah berbadan melebar (horisontal) dan mana motif kain yang cocok untuk badan gerabah meninggi (vertikal). Pemilihan motif seperti ini tidak mutlak dilakukan, karena penentuan motif terkadang ditentukan oleh pesanan konsumen. Setelah motif kain ditentukan dilanjutkan dengan pemotongan kain. Teknik penerapan kain pada badan gerabah dilakukan dengan teknik tempel dengan perekat lem. Lem yang cukup baik digunakan adalah lem kastol yang dijual bebas dipasaran. Proses penempelan disebut berhasil bila hasil tempelan melekat dengan baik dan tidak terjadi gelembung-gelembung kain. Proses akhir /finishing, hasil tempelan kain yang sudah kering dilapisi dengan cat transparan. Penggunaan kain batik bekas sebagai bahan hias dapat dilakukan terhadap semua bentuk gerabah. Namun yang paling penting diperhatikan adalah ketelitian dan ketelatenan prases penerapannya.
Kain Batik Tua, Media Hias Alternatif Produk Gerabah selengkapnya