by admin | Apr 11, 2011 | Berita
Kunjungan the Songkhla Rajabhat University ke ISI Denpasar Minggu (3/4) malam sebagai wujud implementasi MoU kedua Institusi seni ini, ditandai dengan pementasan 10 tarian yang dirangkai non-stop dalam tajuk “The Beautiful North of Thailand”. Tarian yang dibawakan oleh para penari cantik dan tampan asal Thailand ini memukau seluruh undangan dan penonton yang hadir memenuhi gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Tarian indah negeri Gajah Putih ini diakhiri dengan mengundang penonton untuk menari bersama seperti tari joged. Seusai menari, penonton dan tampak juga diantaranya Rektor ISI Denpasar beserta jajarannya mendapat cindera mata dari penari.
Rombongan kemudian menyaksikan pentas mebarung mahasiswa semester II dan IV dari Fakultas Seni Pertunjukan di jaba pura ISI Denpasar. Tari Sekar Jagat, Selat Segara, Barong, Truna Jaya, Jauk Manis, Telek, serta Satya Brasta ditampilkan walau hujan mengguyur tak mengurangi antusiasme rombongan Thailand serta pemedek. Hal menarik dalam acara mebarung tersebut adalah Tari Satya Brasta yang ditarikan oleh mahasiswi Tari semester II. Riuh tepuk tangan pemedek semakin seru ketika adegan terakhir pemeran Gatot Kaca berada di atas bahu penari lainnya.
Acara yang berakhir hingga dini hari tersebut, tak mengurangi semangat civitas akademika ISI Denpasar untuk kemudian langsung ngaturang ayah pada Senin (4/4) pagi di Pura Besakih. Rombongan kampus seni ini mempersembahkan tari Rejang Dewa, Baris Gede, Wayang, serta Tari Topeng. I Wayan Suharta dan Wardizal, Kejur dan sekjur Karawitan sangat bangga dengan mahasiswa yang selalu semangat “ngayah”. Saat tarian Topeng, hujan turun dengan derasnya, sehingga anak-anak yang menyewakan payung menuai rejeki dengan memayungi penari, yang mengundang tawa pemedek yang memenuhi pelataran Penataran Agung. Sungguh “ayah-ayahan” religious yang penuh nilai estetika dan entertainment.
Rektor ISI Denpasar, yang ikut dalam rombongan, mengaku sangat bangga dengan semangat para dosen, pegawai, maupun mahasiswa untuk ngaturang ayah. “Suksma ring Hyang Widhi, kita semua diberi kesehatan untuk ngaturang ayah dan juga terima kasih kepada panitia karya yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk “ngaturang ayah” serta bersama-sama memohon keselamatan”, ujar Prof.Rai didampingi I Wayan Suweca, PR IV ISI Depasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Apr 11, 2011 | Berita
Perhelatan acara yang bertajuk Love and Friendship for Japan (5/4), bertempat di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Lapangan Renon Denpasar dihadiri oleh Gurbernur Bali, beberapa Bupati, konsulat Jepang, konsulat Negara tetangga, serta mahasiswa dari beberapa universitas di Denpasar. Acara ini merupakan rangkaian dari acara Pray For Japan yang dilaksanakan di Pura Uluwatu sepuluh hari yang lalu, dibuka dengan pementasan tari Selat Segara yang diiringi oleh tabuhan gamelan dan karawitan dari ISI Denpasar.
Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan singkat dari Gurbernur Bali, Made Mangku Pastika, beliau mengungkapkan rasa prihatin dan kesedihan yang mendalam atas nama pribadi dan masyarakat Bali atas bencana alam gempa dan tsunami yang menimpa Negara Jepang, dimana antara Bali dan Jepang memiliki keterikatan emosional yang begitu mendalam sehingga diharapkan agar Jepang segera bangkit dan menata kembali kehidupan sosialnya.
Deretan acara yang cukup padat dengan pementasan nyanyian dari artis Bali kemudian dialanjutkan doa bersama dengan menghidupkan lilin yang telah dibagikan oleh panitia, acara doa bersama dipimpin oleh Sulinggih, Pendeta Jepang, serta didampingi oleh para Pendeta dan Rohaniawan.
Setelah acara doa bersama salah satu perwakilan dari Konsulat Jenderal Jepang yang tergabung dalam masyarakat Jepang di Bali memberikan pesan dan kesan dalam bahasa Indonesia yang lancar, beliau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya serta mengungkapkan lubuk hatinya tersentuh cukup dalam atas pagelaran yang dipersembahkan untuk masyarakat Jepang, pagelaran ini membuktikan bahwa Jepang tidak berdiri sendiri dan Bali bersedia mengulurkan tangan untuk membangkitkan semangat baru bagi masyarakat Jepang. Sebagai acara balasan, seniman yang tergabung dalam komunitas Jepang di Bali menyumbangkan pertunjukan untuk menghibur masyarakat Denpasar dan sekitarnya.
Acara ditutup dengan penyalaan lilin kembali serta menyanyikan bersama lagu Imagine dan Heal The World oleh artis Bali, undangan dan masyarakat mengikuti alunan lagu dengan mengangkat tangan dan melambai-lambaikan sambil menghayati lagu yang ditujukan untuk membangkitkan semangat saudara kita yang mengalami bencana di Jepang.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Apr 11, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman; AAA Kusuma Arini, SST., MS.i., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar.
Tersebutlah tiga raja bersaudara sebagai raja II kerajaan Karangasem yang berpusat di puri Amlaraja yakni I Gusti Bagus Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Bagus Anglurah Nengah Karangasem dan I Gusti Bagus Anglurah Ketut Karangasem yang ingin mengembangkan daerah kekuasaan.
Dalam hal ini ada dua versi. Ada berupa cerita orang-orang tua dan ada pula yang termuat dalam Babad. Menurut versi pertama disebutkan sebagai berikut. Untuk keinginannya itu, ketiga raja menghadap kemenakannya yang telah menjadi Betara bersemayam di Pura Bukit. Ida Betara Bagus Alit adalah kemenakan raja, putra dari satu-satunya saudara perempuan raja yang bernama I Gusti Ayu Rai Ratna Inten. Beliau sebagai seorang yang sakti karena merupakan putra dari Betara Gede Gunung Agung, sudah tahu gelagat pamannya ingin mengembangkan kekuasaan kearah Barat. Kemenakannya kemudian menjawab: “Tidak ada gunanya karena berani melawan raja penguasa Bali yaitu Ida Dewa Agung di Klungkung. Lihatlah ke seberang lautan di Timur kita, tanahnya luas dan subur, bisa akan dikuasai. Arahkan perhatian Uwa ke Nusa Sasak”
Versi kedua menyebutkan adanya keresahan dan perpecahan di pulau Lombok antara kerajaan Selaparang dan Pejanggik. Adalah seorang yang berpengaruh di kerajaan Selaparang bernama Arya Banjar Getas yang diusir oleh raja karena persoalan wanita. Dia seorang yang tampan, pintar dan berwbawa. Suatu saat putri raja jatuh dari tangga lantaran melihat Banjar Getas sedang menghadap ayahnya di balairung. Raja murka mengira Banjar Getas bisa ilmu sihir dan hendak dibunuh kemudian diusir. Banjar Getas kemudian lari kearah Timur sampai di kerajaan Pejanggik. Disini ia juga disayang raja dan diangkat menjadi adipati. Lantaran wanita pula, tatkala istrinya diganggu raja, Banjar Getas berontak dan mengutus adiknya Arya Kertawaksa minta bantuan pada raja Karangasem untuk menyerang kedua kerajaan di Lombok.tersebut. Selanjutnya raja I Gusti Bagus Anglurah Nengah Karangasem meyuruh adiknya I Gusti Bagus Anglurah Ketut Karangasem yang memegang pasukan kerajaan untuk membantu Arya Banjar Getas. Segera raja menentukan hari baik untuk berangkat ke Lombok bersama Arya Kertawaksa. Anglurah Ketut Karangasem yang menjadi pimpinan pasukan, mohon restu dan jimat kekebalan pada Betara Bagus Alit agar selamat diperjalanan sehingga dapat menguasai Lombok. Permohonan itu dijawab oleh beliau, tidak usah membawa jimat dan pergilah ke seberang jangan banyak membawa laskar, nanti akan saya ikuti perjalananmu. Atas petunjuk keponakannya itu, berangkatlah pada hari yang telah ditentukan yaitu Anggara Umanis Perangbakat saka 1614 atau 1692 M.
Pagi-pagi hari itu berangkatlah empat buah perahu berlayar dari pantai Jasri yang dipimpin raja Anglurah Ketut Karangasem bersama Arya Kertawaksa serta diiringi oleh 40 orang prajurit kebal dari desa Seraya. Mula-mula menyusuri pantai, kemudian mengarungi samudra lepas Selat Lombok. Waktu itulah nampak diangkasa yang cerah, ribuan kupu-kupu kuning terbang bergelombang ikut menyeberangi selat Lombok yang terkenal deras arusnya. Kupu-kupu itu datang dari arah Barat Laut mengikuti perahu yang meniti arus, terbang menatap cahaya surya, nampak bagaikan emas gemerlap. Ada beberapa kelompok mendahului perahu, seakan-akan sebagai petunjuk jalan, penunjuk arah yang harus diikuti. Beberapa kelompok yang lebih besar jumlahnya berada di belakang perahu, kadang-kadang melaju ke depan, lagi ke belakang, seolah-olah menjadi tunggul dan bendera kerajaan. Semua orang di atas perahu menjadi heran memandang ribuan kupu-kupu kuning terbang memenuhi angkasa menyertai perjalanan mereka.
Ternyata kupu-kupu kuning yang jumlahnya ribuan inilah diberikan oleh Ida Betara Alit Sakti di Pura Bukit untuk mengikuti perjalanan pamannya. Sesaat setelah keberangkatan perahu yang mengangkut laskar Karangasem itu, daun kayu kepel yang lebat di Pura Bukit, berguguran menjelma menjadi kupu-kupu kuning yang terbang memenuhi angkasa, mengikuti perjalanan raja Anglurah Ketut Karangasem mengembangkan daerah kekuasaan ke Pulau Lombok. Konon pohon kayu kepel yang hingga kini masih kokoh berdiri di Pura Bukit adalah tongkat dari ibunda Betara Alit Sakti tatkala berjalan dari puri Amlaraja menuju arah Timur hingga sampai ke sebuah dataran tinggi yang kemudian disebut Pura Bukit dimana akhirnya tongkat itu ditancapkan.
Sinopsis Tari Kupu-Kupu Kuning Angarung Samudra selengkapnya
by admin | Apr 11, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Tri Haryanto, SKar., MS.i. Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.
Setelah melakukan pelatihan ada beberapa kata kunci yang dapat diungkapkan dalam penguasaan kendang Gupekan Nunggal oleh Gung Aji Mangku Dalem. Secara basix yang dikuasai adalah style kendang Gupekan Nunggal gaya Batubulan. Kekayaan motif-motif kendang gupekan diolah dan dimodifikasi serta ditranspormasikan menjadi bentuk dan motif-motif yang sangat menarik dan terstruktur sesuai dengan warnanya tersendiri. Namun dalam pelatihan ini, Gung Aji Mangku Dalem juga memberikan disamping dasar-dasar juga pengembangan-pengembangan atau improfisasi, sebagai latihan pengembangan per motif kekendangan.
Sebagai dasar pemula dalam kendang Gupekan Nunggal, menurut sumber diungkapkan bahwa memainkan kendang Gupekan Nunggal harus memakai aturan dan pupuh sesuai dengan instrumen yang mengikutinya. Jatuhnya pukulan kemong, gong serta jegogan harus diikuti oleh pupuh kakendangan yang berbeda pula. Disamping itu jatuhnya bebaton kakendangannya harus imbal dengan pukulan kajar. Jenis-jenis pukulan tersebut bisa menghindari kesan monoton dan juga pukulan imbal dapat memperkaya teknik dan kesan ritmik.
Beberapa motif yang dapat dicatat dalam pelatihan ini antara lain:
Motif-Motif Kendang Gupekan Nunggal selengkapnya
by admin | Apr 10, 2011 | Berita
Pembelajaran seni merupakan suatu proses yang sangat penting dijalani oleh calon seniman tradisional di Bali. Banyak nilai luhur terkandung di dalamnya yang harus dipelajari secara bertahap untuk mendapatkan kualitas yang baik. Inilah yang terjadi di Geriya Bongkasa selama bertahun-tahun hingga lintas generasi. Perjalanan kesenian yang diwariskan secara turun-temurun ini merupakan suatu hikayat yang bisa dimaknai sebagai sebuah identitas bagi pribadi masing-masing di lingkungan setempat.
Sebuah karya seni yang mencoba untuk menggali nilai-nilai spiritual dan budaya yang terjadi di Geriya Bongkasa termasuk pula merekonstruksi aktivitas kesenian dari masing-masing maestro seni mendiang (Alm.) Ida Pedanda Gede Putra Singarsa, (Alm.) Ida Bagus Made Raka, dan (Alm.) Ida Bagus Karang Arnawa, yang digelar pada :
Hari : Senin, 11 April 2011
Tempat : Geriya Bongkasa, Kec. Abiansemal, Kab. Badung
Waktu : 16.00 WITA-selesai
Pakaian : Adat Madya