M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

eBook mulai Menggusur Buku Cetak

eBook mulai Menggusur Buku Cetak

LONDON: Data baru menunjukkan bahwa buku elektronik atau eBook untuk pertama kalinya masuk kategori penjualan terbaik di Amerika Serikat.

Menurut Telegraph, berdasarkan angka-angka baru yang dirilis Jumat (15/4), eBook sudah menjadi format tunggal dengan penjualan terbaik dalam penerbitan Amerika untuk pertama kalinya.
Association of American Publisher (AAP) mengungkapkan laporan terbaru mereka, yang mengumpulkan data penjualan dari para penerbit AS, total penjualan eBook pada Februari mencapai US$90,3 juta.
AAP mengatakan laporan ini menjadikan buku digital sebagai format tunggal terbesar di AS untuk pertama kalinya, mengambil alih buku bersampul yang hanya mencetak penjualan US$81,2 juta. Buku bersampul memimpin hingga Januari, dimana eBook berada di urutan kedua saat itu.
Asosiasi perdagangan buku mengungkapkan, eBook di Amerika mengalami pertumbuhan 202,3 persen dalam penjualan Februari dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu.
Sebaliknya, buku cetak lebih buruk, dengan kombinasi penjualan buku bersampul tebal dewasa dan buku bersampul tipis turun 34,4 persen menjadi US$156,8 juta pada Februari. Buku anak-anak dan orang dewasa muda kurang laku, dengan kemerosotan 16,1 persen menjadi US$58,5 juta.
AAP yakin pertumbuhan penjualan eBook pada Februari bisa disebabkan orang-orang membeli eBook pada perangakt eBook yang mereka terima pada Natal belum lama ini, sebagaimana seleksi lebih besar pada perangkat dan jajaran eBook lebih luas.
Bagaimanapun juga, angka mungkin naik karena cuaca musim dingin dan jaringan toko buku Borders yang bangkrut selama periode ini.
eBook tumbuh secara massal, tetapi mereka belum cocok secara keseluruhan dengan buku cetak dan juga tidak diperkirakan bila mereka akan cocok. Prediksi yang paling diharapkan menunjukkan bahwa eBook akan terhitung 50 persen dari pasar AS pada 2014 atau 2015, dan mereka mungkin akan stabil,” kata Phillip Jones, wakil editor Bookseller.
Di Inggris,”kami setahun di belakang saat ini dan menyusul dengan cukup cepat,” kata Jones, yang percaya berusaha melanjutkan lintasan yang sama dengan AS.
“Hasil Februari mencerminkan dua fakta inti: orang-orang menyukai buku dan para penerbit dengan aktif menyediakan pembaca di mana pun mereka berada,” kata Tom Allen, presiden AAP.
“Publik menganut luasnya dan keragaman pilihan bacaan yang tersedia untuk mereka. Mereka membuat eBook permanen tambahan bagi gaya hidup mereka sambil mempertahankan minat pada buku format cetak.”

Sumber: mediaindonesia.com

Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali

Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali

Kiriman Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn., Dosen PS. Desain Interior ISI Denpasar.

Pada mulanya penghayatan orang Bali terhadap ruang, sama dengan masyarakat dunia yang lain di zaman dulu, yaitu terbatas pada ruang di bumi yang dipijaknya dan langit jagat raya yang ada di atasnya. Dalam bentuknya yang tradisional, konsep ruang tradisional di Bali kemudian  berkembang dari Orientasi ruang: langit – bumi pada masa Bali Mula; gunung – laut pada masa Bali Aga; terbit – terbenamnya matahari pada masa Bali Arya/Majapahit (Gelebet, 1993: 5).

1. Falsafah Ruang

Falsafah ruang di Bali berkembang dari ajaran Tat Twam Asi dalam Hindu (Gelebet, 1993: 5). Tat Twam Asi berarti “itu adalah aku”. Inti ajaran Tat Twam Asi adalah menjaga keharmonisan dalam kehidupan, terhadap segala bentuk ciptaan Tuhan, termasuk dunia ini. Dalam keyakinan Hindu, dunia (alam semesta) ini diciptakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Brahma (Parisadha Hindu Dharma, 1968: 21), sehingga dunia ini disebut sebagai “Telur Brahma” (Brahma-Anda = Brahmanda). Dalam hal ini kita menemukan konsep ruang arsitektur dalam arti yang sejati, yakni konsep ruang yang diilhami oleh kedalaman jiwa manusia yang peka dimensi kosmologi, yang tumbuh dari penghayatan keagamaan (Mangunwijaya, 1988: 55).

Dalam kaitannya dengan ruang, ajaran Tat Twam Asi mengandung makna konsep ruang dalam keseimbangan kosmos (balance cosmologi). Dalam hal ini ruang makro (Bhuwana Agung) senantiasa harus seimbang dengan ruang mikro (Bhuwana Alit). Di dalam makrokosmos,  terdapat tiga struktur ruang secara vertikal yang dianalogikan sebagai tiga dunia (Tribhuwana). Struktur ruang Tri Bhuwana atau Tri Loka ini terdiri dari: Bumi dan alam lingkungannya sebagai “alam paling bawah”, disebut Bhur loka; “Alam tengah” adalah alam roh-roh suci, disebut Bhuwah loka; dan “Alam atas” adalah alam para Dewa, disebut Swah loka (Parisada Hindu Dharma, 1968: 22). Struktur Tri Bhuwana dalam kosmos juga dapat  dianalogikan dengan “litosfir” untuk “alam bawah”, “hydrosfir” untuk “alam tengah” dan “atmosfir” untuk “alam atas”.

Falsafah Tri Bhuwana kemudian dijabarkan ke dalam konsep Tri Hitakarana, yang pendekatannya dilakukan ke dalam perencanaan ruang secara makro (macro planing) dan perencanaan ruang mikro (micro design) menjadi tiga kelompok ruang (Tri Mandala): ruang sakral – ruang untuk aktivitas manusia – ruang yang bersifat pelayanan/servis. Pengelompokan ruang ini berlaku dari lingkungan terbesar sampai elemen ruang terkecil. Sedangkan secara filosofis, Tri Hitakarana sendiri mengandung pengertian sebagai  tiga kutub yang menjadikan suatu kehidupan di bumi (Bagus (ed.), 1986: 24), terdiri dari jiwa (atma), fisik (angga) dan tenaga (kaya).

Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali selengkapnya

Konjen Jepang Kunjungi ISI Denpasar

Konjen Jepang Kunjungi ISI Denpasar

Konsul Jendral Jepang, M. Shirota, kunjungi ISI Denpasar Senin (18/4). Pria yang pasih berbahasa Indonesia ini,diterima langsung oleh Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., beserta jajarannya. Pada kesempatan tersebut, Shirota mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya atas peran aktif ISI Denpasar dalam acara Love and Friendship for Japan, rangkaian acara Pray for Japan, yang diselenggarakan di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Lapangan Renon Denpasar beberapa waktu yang lalu.

“Terima kasih kepada ISI Denpasar dan seluruh masyarakat Bali yang telah memberi dukungan kepada negara kami.Walaupun jumlah kunjungan warga Jepang untuk sementara berkurang karena bencana alam yang terjadi, namun ikatan batin antara Indonesia dan Jepang tetap kuat. Bagi warga Jepang, Indonesia, Bali khusunya tidak hanya merupakan tourist destination tapi ketika kami ke Bali, kami merasa return home. Bahkan kami merasa memiliki DNA yang sama dengan masyarakat Bali,” tutur Shirota.

Rektor ISI Denpasar memaparkan jalinan kerjasama yang telah terjalin antara ISI Denpasar dengan beberapa Universitas di Jepang seperti Kanda University dan Tokyo University of Arts. Bahkan pada tahun 2009, ISI Denpasar berkunjung ke Jepang dan menciptakan  kolaborasi dengn Noh Jepang di Tokyo University of art. “Kami sangat berharap dengan kolaborasi tersebut,kita dapat melahirkan karya yang universal, dan hubungan baik antara ISI Denpasar dan jepang tetap dapat terjalin dengan baik,”harap Prof. Rai..

Shirota juga sangat antusias dengan kebudayaan Bali,dan ingin belajar menari. Jumlah mahasiswa Jepang yang belajar di ISI Denpasar melalui program Dharma Siswa, juga membuatnya berdecak kagum. Selain jumlahnya yang selalu terbesar dari pada negara lain, mahasiswa Jepang yang belajar di ISI Denpasar juga sangat piawai menari, dan aktif dalam kegiatan “ngayah”. Hal ini, tentu bukan hanya karena mereka tekun berlatih tari Bali, namun karna mereka juga mendalami budaya Bali, termasuk turut dalam persembahyangan sebelum menari.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Proses pembuatan Seni kerajinan kayu Di Desa Singakerta

Proses pembuatan Seni kerajinan kayu Di Desa Singakerta

Kiriman: Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar.

Bahan baku

Hasil pengamatan di lapangan untuk mewujudkan bentuk kerajinan patung dan relief di desa Singakerta para pengerajin/tukang membutuhkan bahan baku kayu. Bentuk kerajinan ini sangat ditentukan oleh jenis bahan baku kayu sebagai bahan utamanya, sehingga bisa melahirkan bentuk kerajinan yang baik. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kerajinan ini antara lain: kayu jempinis dan kayu suar adalah bahan yang paling murah dan lebih mudah mengolahnya. Bahan baku kayu tersebut  yang paling pokok digunakan karena lebih mudah mengolah dalam membuat bentuk global maupun bentuk detailnya (lihat gambar no . 12).

Alat

Berdasarkan dari hasil pengamatan di lapangan, alat untuk membuat kerajinan kayu di Desa Singakerta terdiri dari  jekso, berbagai bentuk dan jenis pahat, palu kayu, pemutik, ketam (serut yuyu). Masing-masing alat tersebut memiliki fungsi sesuai dengan bentuknya. Apabila diperhatikan secara keseluruhan jenis alat yang digunakan,  pahat, palu kayu, pemutik, ketam,  dan alat mesin memiliki fungsinya dan peran yang berbeda. Proses pembuatan kerajinan patung kayu banyak dapat dibentuk  dengan alat mesin. Proses pengolahan kerajinan tersebut dari membuat bentuk global sampai dengan menghaluskan menggunakan perpaduan alat-alat manual dan mesin. Proses pembuatan kerajinan patung kayu untuk membuat bentuk globalnya dibantu dengan menggunakan  gergaji sensor tangan sesuai dengan besar kecilnya patung. Biasanya pengerajin patung kayu di Desa Singakerta paling sedikit memiliki dua jenis sensor untuk pembuatan bentuk global (gambar no.  14)

1. Proses Pembuatan kerajinan patung kayu

Proses pembuatan merupakan langkah untuk mendapatkan kerajinan patung kayu  yang diinginkan. Adapun tahapan yang dilakukan dalam proses pembuatan kerajinan patung kayu ini sebagai berikut :

a.  Pemilihan bahan

Sebelum proses pembuatan dilaksanakan pemilihan bahan merupakan awal dari perwujudan. Pemilihan bahan yang tepat akan sangat menentukan kualitas  kerajinan patung kayu, baik kualitas dalam artian kekuatan material maupun nilai artistik yang dikandung dalam material tersebut. Dalam kerajinan patung kayu ini menggunakan kayu suar dan kayu jempinis dengan alasan kayu ini miliki tampilan serat yang sangat indah dan menarik serta harganya lebih murah. Kayu yang telah disiapkan dibelah atau dipotong sesuai dengan kebutuhan desain patung yang akan dibuat

b. Makalin

Makalin sama dengan membuat bentuk global. Dalam tahapan ini adalah proses pembuatan bentuk global, maksudnya membuat bentuk-bentuk ikan atau kura-kura secara global pada kayu yang telah disiapkan. Mewujudkan bentuk disain ke dalam sebuah media kayu sehingga bentuk global kerajinan patung tersebut benar-benar terwujud. Semua bentuk, gerak, komposisi ikan atau penyu pada desain diwujudkan sehingga bentuk keseluruhannya  dapat dilihat jelas. Proses pembuatan bentuk global ini di masa sekarang menggunakan gergaji mesin/jekso tangan. Pada masa yang lalu pekerjaan makalin/membuat bentuk global ini menggunakan alat Kapak, gergaji tangan, sehingga proses makalin sangat lambat.  Sekarang hampir lima puluh persen pekerjaan pembuatan bentuk global dapat diselesaikan dengan  alat gergaji mesin (jekso tangan) dengan proses yang sangat cepat. Misalnya pembuatan makalin patung dolpin  setinggi dua meter dengan menggunakan alat mesin membutuhkan waktu hanya  satu setangah hari. Proses membuat bentuk global dengan alat mesin (jekso tangan) dan hasil patung bentuk global dapat dilihat pada gambar no.  17).

Proses pembuatan Seni kerajinan kayu Di Desa Singakerta, selengkapnya

Kekawin Totaka

Kekawin Totaka

Kiriman Kadek Swartana, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar

Pengertian dan Asal-usul Kekawin

Kekawin berasal dari kata “kawi” mendapat awalan ke dan akhiran an, menjadi kekawin. Kawi artinya Buat, susun, gubah, karang. Jadi kekawin dapat diartikan buatan, susunan, gubahan, dan karangan. Atas dasar pengertian tersebut , maka kekawin adalah puisi yang dibuat atau disusun dengan menggunankan bahasa Jawa Kuno. Puisi ini mengambil bentuk dari puisi para pujangga India kuno yang berbahasa Sansekerta. Kekawin biasa juga disebut dengan istilah lain, yaitu wirama, tembang gede dan sekar agung.

Dalam bahasa sehari-hari, ada beberapa istilah dalam menembangkan karya sastra, seperti kekawin, yaitu mabebasan, mapepaosan dan makekawin. Mabebasan artinya melagukan kekawin dengan terjemahannya. Dengan kata lain mabebasan berarrti kegiatan menyanyikan teks kekawin, kidung, atau macepat yang di ikuti dengan terjemahannya. Mapepaosan artinya melakukan kegiatan atau aktivitas pembacaan kekawin serta terjemahannya. Makekawin artinya melakukan hasil karya penyanyi atau melagukan puisi Jawa kuno, dengan memakai tembang India, yang diikat oleh aturan Guru Laghu. Dalam makekawin belum terkandung unsur penerjemahannya. Jadi makekawin belum dapat dikatakan mabebasan.

Menurut dugaan kekawin digubah di Jawa, pada abad IX – XV. Sekitar abad XVI, di Bali tumbuh dan berkembang pesat sampai saat ini, khususnya dalam rangkaian upacara adat dan upacara agama, kekawin di bacakan dengan pepaosan dan mabebasan. Kekawin atau puisi-puisi India Kuno ini dibawakan berdasarkan guru laghu  dan wretta matra.

Fungsi Kekawin

Seperi halnya sekar alit, kidung, maka kekawin digunakan sebagai pengiring upacara yadnya (panca yadnya). Dalam kehidupan masyarakat Bali, aktivitas makekawin lebih di titik beratkan pada kegiatan upacara pitra yadnya. Kegiatan tersebut di mulai dari meninggal, ngeringkes, berangkat ke kuburan, penguburan / pembakaran jenasah, ngereka, nganyut, ngerorasin sampai ngelinggihang. Kekawin tersebut dinamakan kekawin Pitra Yadnya.

Kegiatan mabebasan dilakukan semalam suntuk. Keahlian tata bahasa kawi dan tata bahasa Bali amat diperlukan oleh pembaca maupun paneges kekawin. Kekawin yang biasa digunakan  dalam upacara Dewa Yadnya adalah Merdukomala, Totaka, Indrawangsa, Pratiwitala. Untuk upacara Manusa Yadnya, adalah Wangsastha, Seronca, Wipula, Sardula, Sekarini. Dan kekawin yang biasa difungsikan dalamupacara Pitra Yadnya adalah wirama Indrawangsa, Aswalalita dan Girisa.

Syarat-syarat Kekawin

Dalam mempelajari kekawin ada berbagai cara, antara lain dengan system guru laghu, dengan pola melodi, dan biasa pula dengan cara pemberian tanda-tanda garis lurus, naik dan turun. Masalah Ritme dapat diatur dalam penulisan melodi dengan menyesuaikan guru laghu kekawin yang bersangkutan.

Syarat-syarat kekawin :

  1. Tiap bait kekawin terdiri atas 4 baris ( kecuali kekawin Raitiga memiliki 3 baris dalam tiap baitnya ) keempat baris tersebut memiliki :
  2. Pengawit ( penyemah atau pembuka )
  3. Penampi ( Pengisep )
  4. Pengumbang
  5. Pemalet ( penutup )
    1. Tiap baris suku katanya tetap sama sesuai dengan ketentuan yang ada pada tiap         jenis kekawin kecuali Seronca.
    2. Memakai Guru dan Laghu.
    3. Suku kata terakhir boleh Guru, boleh Laghu

Guru dan laghu dalam kekawin merupakan pola dasar dalam pembentukan puisi Jawa kuno atau kekawin. Secara Etimologhi guru laghu terdiri dari dua kata, yaitu guru dan laghu. Dalam hubungannya dengan kekawin, maka Guru itu artinya suara berat, suara panjang dan beraturan. Dalam hukum kekawin maka guru diberi tanda garis datar ( — ), sedangkan kata Laghu sehubungan dengan aktivitas mabebasan artinya suara pendek, kencang dan ringan. Dalam hukum kekawin laghu ditandai dengan tanda garis melengkung ( È ). Berdasarkan pengertian tersebut maka dikatakan bahwa guru laghu berarti hukum kekawin tentang berat, ringan, panjang, pendek dan kencangnya suara dalam menyanyikan kekawin.

Kekawin Totaka selengkapnya

Loading...