by admin | Apr 22, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Prihal keberadaan orang-orang Bali di Kota Mataram tidak terlepas dari catatan sejarah yang terjadi dari beberapa abad yang lalu. Dari catatan sejarah, masa lampau raja-raja yang berkuasa di Bali untuk alasan tertentu melakukan ekspansi ke beberapa wilayah di luar Bali, dan salah satunya adalah ke wilayah Lombok. Anak Agung Ketut Agung (1991) dalam bukunya Kupu-Kupu Kuning Yang Terbang Di Selat Lombok, Lintasan Sejarah Kerajaan Karangasem (1661-1950) banyak mengungkap tentang sejarah kedatangan orang-orang Bali di wilayah Lombok pada masa pemerintahan raja-raja di Bali. Sebagaimana diuraikan, gelombang kedatangan orang-orang Bali di Lombok di mulai pada abad ke 12, pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali, dimana pada saat itu pulau Lombok dapat ditaklukan oleh Bali. Selanjutnya pada tahun 1530 M, sebagaimana terdapat dalam Babad Sangupati, diungkapkan kedatangan Dang Hyang Nirarta (Pangeran Sangupati) yang merupakan utusan dari kerajaan Gelgel dalam penyebaran agama Hindu diwilayah tersebut. Gelombang ke tiga terjadi pada masa pemerintahan Raja Karangasem Tri Tunggal I (I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem) tahun 1692.
Dalam versi yang lain, Suyadnya (2006) dalam catatan budayanya menyebutkan bahwa, keberadaan warga Bali di Lombok secara garis besar di bagi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama, dari berbagai referensi sejarah disebutkan Kerajaan Gelgel Klungkung pernah mengutus Dang Hyang Dwijendra/Pedanda Sakti Wau Rauh yang akhirnya di Lombok dikenal dengan sebutan Pangeran Sangupati. Kedatangan Rsi tersebut di Lombok, mengajak sejumlah pengikut yang banyak diantaranya menetap di Lombok. Gelombang kedua, terjadi ketika Kerajaan Karangasem berkuasa di Lombok. Pada masa itu warga Bali, khususnya warga Karangasem berbondong-bondong datang ke Lombok ngiring sesuhunan raja yang berkuasa pada saat itu dan ada juga yang mengikuti keluarganya. Kedatangan mereka di Lombok akhirnya membuat pemukiman-pemukiman yang di sebut sebagai “Kampung Tua”. Gelombang ketiga terjadi di era kemerdekaan dimana kedatangan orang Bali di Lombok terkait dengan tugas-tugas baik sebagai PNS/TNI/POLRI serta sebagai wirausaha. Sebagaian besar diantara mereka memilih menetap di Lombok tinggal bergabung dengan masyarakat di Kampung Tua serta sebagaian lainnya membentuk pemukiman baru dengan cara membeli tanah tempat tinggal secara bersama-sama di wilayah-wilayah tertentu.
Kehidupan Sosial
Orang Bali, dimanapun keberadaan mereka baik secara individu maupun berkelompok akan senantiasa hidup sebagaimana di daerah asalnya yaitu Bali. Bagi yang hidup secara berkelompok atau tinggal pada suatu kawasan tertentu di luar Bali, akan senantiasa hidup dengan sistem yang telah melekat dari diwarisi oleh para leluhur mereka. Menyimak kehidupan masyarakat Bali di Mataram, dilihat dari sistem sosial yang dianut, mereka masih tetap mewarisi dan melaksanakan sistem sosial sebagaimana layaknya di Bali, bahkan dalam menjalankannya mereka lebih ketat, taat dan disiplin dari pada di daerah asalnya.
Kehidupan Masyarakat Bali di Kota Mataram, selengkapnya
by admin | Apr 21, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Purnawan, Dosen PS. Desain Interior ISI Denpasar.
Pedoman Ukuran dan Bentuk Bangunan Tradisional Bali
Konteks ukuran dan bentuk Bangunan Tradisional Bali mengacu pada Skala bagian – bagian tubuh manusia seperti ; lengan, tangan, jari , kaki dan telapak kaki. Jika yang dibangun rumah tinggal, maka yang menjadi skala pokok ukuran adalah si pemilik rumah atau kepala keluarga. Sedangkan untuk tempat suci ( Pura, Merjan dan lainnya ) mengacu pada ukuran pengemong tempat suci tersebut. Ukuran bentangan tangan ( depa agung, depa madya dan depa alit ) dipakai untuk mengukur panjang dan lebar pekarangan, tapak kaki dipakai untuk mengukur jarak anatra komponen bangunan dengan bangunan lain yang ada di halaman peumahan atau natah umah, dan jarak masa bangunan ke tembok – tembok pekarangan sekelilingnya. Sedangkan untuk tinggi bangunan dan atau dimensi bangunan sipakai satuan ukuran, dari bagian-bagian tangan, ruas-ruas jari, tebal jari yang masing-masing disebit dengan Aguli, agemel, acengkang dan amusti. Sebagai satuan ukuran bangunan tradisional Bali adalah Rai ( 1 rai = +_ 10cm )
Metode Penelitian
Penelitian tentang angkul-angkul menggunakan metode penelitian kualitatif yang dipayungi oleh Ilmu Kajian Budaya ( cultural studies ) terutama kajian budaya makna simbolik ( Sepradly, 1987: 121 )
Teknik pengumpulan data melalui ; Metode Kepustakaan ( Library Research ) dengan mengambil referensi dari sumber-sumber terkait pengkajian Ilmu Arsitektur Tradisonal Bali ( Terjemahan Lontar Asta kosala-kosali, ), makalah-makalah seminar.melakukan Observasi yaitu mengamati secara langsung obyek penelitian dengan sistematis tentang fenomena social dan gejala-gejala spikis di desa Adat Pengelipuran serta melakukan wawancara ( Indepth Interview ) untuk menggali informasi-informasi dari tokoh-tokoh masyarakat terutama terkait dengan analisis fungsi dan makna angkul-angkul dalam hubungannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat desa adat Penglipuran kabupaten Bangli.
Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data deskriptif kualitatif deangan fakta-fakta dan sifat-sifat dari obyek penelitian tersebut ( Suryabrata 1983 : 94 )
Hasil Dan Pembahasan
Desa Adat Penglipuran yang terletak di dataran tinggi ( perbukitan ) dikelilingi oleh hutan bambu dan hutan lindung tropis. Kawasan Desa Adat Penglipuran sebagai salah satu warisan kebudayaan Jaman Bali Age yang sampai sekarang masih tetap bertahan dan tetap terjaga keberadaannya.
Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Bagian II, selengkapnya
by admin | Apr 21, 2011 | Berita, pengumuman
Dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2011, dengan hormat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional secara nasional dilaksanakan dengan ketentuan:
- hari, tanggal : Senin, 2 Mei 2011
- pukul : 08.00 waktu setempat
- sifat upacara : Tertib, Khidmat, dan Sederhana
- tempat upacara : Lapangan Upacara (terbuka)
Adapun tema yang telah ditetapkan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2011 adalah Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dan subtema adalah Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti.
Kepada seluruh pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, kepala perwakilan Indonesia di luar negeri, kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota, rektor perguruan tinggi negeri/swasta, kepala unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan Nasional agar menyelenggarakan upacara bendera peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2011
Untuk lebih menyemarakkan peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2011 diharapkan masing-masing instansi memasang spanduk dengan tema tersebut di atas merangkaikan berbagai kegiatan dan lomba untuk meningkatkan prestasi dan mutu pendidikan
Untuk lebih memupuk rasa patriotisme, selain mengadakan upacara bendera, panitia nasional peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2011 akan melakukan ziarah ke makam Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Berkenaan dengan itu, dihimbau kiranya Bapak/Ibu Gubernur dan Bupati/Walikota juga berkenan melakukan ziarah ke taman makam pahlawan di wilayah masing-masing.
Untuk Bahan Pedoman Upacara Hardiknas 2011 bisa di Unduh dibawah ini:
Pedoman Upacara Hardiknas 2011
Sumber: kemdiknas.go.id
by admin | Apr 21, 2011 | Berita
Kegiatan “ngaturang ayah” adalah bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni implementasi dari pengabdian masyarakat, yang dilaksanakan kampus ISI Denpasar secara rutin. Baru-baru ini ISI Denpasar ngayah di pura Bujangga Waisnawa Gunung Sari dalam acara Tawur Agung, pecaruan, pelaspasan pedagingan yang diselenggarakan dari taggal 12 s/d 17 april yang lalu. Dalam Karya suci tersebut, ISI mempersembahkan tarian Rejang Dewa, Baris Gede, dan Wayang yang ditarikan oleh mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI, serta Tari Topeng yang dimainkan oleh dosen FSP diantaranya Dalang ternama I Ketut Kodi dan I Nyoman Sukerta.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota Denpasar, PHDI se Bali, serta para masyarakat Bujangga Waisnawa seluruh Indionesia diantaranya berasal dari Banyuwangi, Lampung, Sulawesi yang juga turut serta dalam perembahyangan di pura tersebut. Hujan deras yang mengguyur pada saat berlangsung upacara, tidak mengurangi kekhusukan para pemedek ngaturang bakti. Acara tersebut dipuput oleh Para Resi Bujangga Waisnawa yang datang dari berbagai kabupaten di Bali.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., yang juga hadir dalam acara ngayah tersebut mengucapkan terima kasih kepada panitya karya atas kesempatan yang diberikan untuk ISI Denpasar dalam ngaturang ayah pada acara tersebut.”Atas nama Pimpinan, kami mengucapkan terima kasih kepada Panitia, ISI Denpasar telah diberi kesempatan untuk turut serta dalam upacara, ngaturang ilen-ilen, serta berdoa bersama untuk memohon keselamatan, agar kita semua selalu dalam lindungan Ida Sang Hyang widhi,”papar Prof. Rai.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Apr 20, 2011 | Artikel, Berita
Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Di Desa Adat Penglipuran – Kecamatan Kubu Kabupaten Bangli, Bagian I
Kiriman: Ida Bagus Purnawan, Dosen PS. Desain Interior ISI Denpasar
Abstract : Rumah adat penglipuran di desa adat penglipuran kecamatan kubu, kabupaten Bangli merupakan kompleks pemukiman tradisional terpadu dan mempunyai keunikan arsitektur yang keberadaannya masih tetap terjaga sampai saat ini. Angkul –angkul di desa adat penglipuran dalam tata ruang pemukiman terkait dengan tata kondisi lingkungan alami menganut konsep Tri Hita Karana, adat istiadat, kehidupan social masyarakat dengan konsep Desa Kala Patra yang berorientasi pada Tri Mandala, Tri Angga dan Bhuanaanda serta system kemasyarakatannya berpedoman pada konsep Tat Twam Asi. Angkul –angkul rumah adat penglipuran merupakan cerminan masyarakat gotong royong dan mempunyai nilai kebersamaan dan kesederhanaan dalam bentuk atau wujud dari angkul –angkul tersebut seragam dan tidak memiliki nilai perbedaan, baik bahan maupun besarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metide kualitatif yang dipayungi oleh Ilmu Kajian Budaya ( cultural studies ) terutama kajian budaya makna simbolik. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk memporoleh pengetahuan secara empiris melalui pengamatan langsung dengan kaidah – kaidah perancanagan tata ruang dan mempelajari nilai fungsi, bentuk dan makna dari angkul – angkul yang merupakan komponen bangununan dalam pekarangan rumah adat di desa penglipuran. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rumah adat penglipuran menjaga kelestarian alam lingkungannya sejalan dengan konsep – konsep tata ruang pemukiman yang hiharkinya adalah nilai makna yang terkandung dalam Tri mandala ; Utama mandala, madya Mandala, Nista Mandala. Berdasarkan Fungsi, bentuk dan Maknanya. Fungsi angkul –angkul di desa penglipuran dimana orang yang akan masuk kepekarangan rumah dapat dicapai dengan bebas dan terbuka, Bentuk angkul – angkulnya tidak memiliki aling-aling dan tidak memiliki pintu, makna yang terkandung adalah mereka dalam suatu pekarangan dan dalam satu kawasan adalah milik bersama masyarakat adat penglipuran. Angkul-angkul desa adat penglipuran memiliki bentuk, motif, letak dan ukuran yang sama serta seragam di seluruh pekarangan perumahan, sehingga konsep pemukiman rumah adat penglipuran tidak memiliki perbedaan status social dan mereka adalah satu dalam kebersamaan.
Keyword : Rumah adat, adat istiadat, identitas angkul – angkul dan nilai kebersamaan
Pendahuluan
Desa Adat Penglipuran dibentuk pada jaman Bali Mula, Masyarakat desa adat penglipuran mengakui bahwa leluhur mereka berasal dari Desa Bayung Gede Kintamani.
Penglipuran ini berasal dari kata Lipur yang berarti Menghibur hati, jadi penglipuran artinya Tempat untuk menghibur hati sambil bekerja di ladang, lama – kelamaan menjadilah Penglipuran. Para pemuka adat setempat menuturkan bahwa nama Penglipuran mengandung makna Pengeliling Pura, sebuah tempat suci untuk mengenang lelulur. Konon penduduk desa penglipuran pernah diminta bantuannya oleh Raja Bangli untuk bertempur melawan kerajaan Gianyar, karena keberaniannya, penduduk desa diberikan jasa oleh raja Bangli berupa tanah yang lokasinya sekarang disebut desa adat Penglipuran.
Desa adat Penglipuran berkembang dari tradisi yang dibawa dari Kebudayaan Bali Aga ( Bali Mula ). Seiring dengan masuknya jaman Bali Aga perkembangan kebudayaan dengan membentuk benda-benda alam dalam susunan yang harmonis dalam fungsinya menjaga keseimbangan manusia dengan lngkungannya. Semakin berkembangnya jaman maka kebudayaan Bali Aga dipengaruhi dengan perkembangan jaman Bali Arya dengan pembaharuan kebudayaan dibidang social dan ekonomi dengan menonjolkan bidang Budaya Arsitektur dengan pengkajian dan pemahaman bidang ilmu bangunan dan pemukiman seperti adanya Lontar- lontar Asta Bumi dan Asta Kosali sebagai pedoman teori pelaksanaan bidang Arsitektur.
Ditinjau dari aspek geografis desa adat penglipuran terdiri dari satu banjar adat dan termasuk dalam batas administratif pemerintahan wilayah desa Kubu, kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli. Desa adat penglipuran memiliki luas wilayah 160,627 hektar denga rincian sebagai berikut : Pekarangan 14,805 Hektar, Tegalan : 49,47 hektar, Laba Pura : 15 hektar, Kuburan : 0.70 Kektar, Hutan 75 hektar dan lain-lainnya 5.4 hektar. Desa adat Penglipuran terletak 5,5 km sebelah Utara Kota Bangli, serta memiliki batas-batas fisik wilayah sebagai berikut ;
Sebelah Utara : Desa Adat Kayang
Sebelah Timur : Desa Adat Kubu
Sebelah Selatan : Desa Adat Gunaksa
Sebelah Barat : Desa Adat Cekeng
Desa adat penglipuran terletak 500 – 600 meter di atas permukaan laut, Suhu rata-rata 18o – 32o Celcius, dengan curah hujan rata-rata setiap tahunnya antara 2.000 – 2500 milimeter per tahun, sehingga daerah ini termasuk dalam katagori wilayah sejuk dan meliliki cadangan air dlam jumlah cukup besar. ( Sumber Data Kantor kepala desa penglipuran )
Desa penglipuran adalah merupakan Desa Adat sehingga memiliki Hak Otonomi yang memiliki kontribusi yang sangat besar membantu pemerintahan Desa baik dalam pembangunan fisik dan non fisik. Kelembagaan Desa Adat penglipuran secara Struktur Vertikal dan horizontal terdiri dari kelompok – kelompok profesi / fungsional dengan pokok – pokok pelaksanaan tugas sebagai prejuru desa adat. Krama desa adat penglipuran terdiri dari : Krama Pengarep dan Krama Pengerob. Krama Pengarep merupakan keluarga yang mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk menyungsung Pura Kahyangan Tiga, karma pengerep menurut awig – awig mereka menempati karang Ayahan Desa. Kewajiban karma pengarep adalah menyungsung pura dan melola asset – aset desa adat serta membayar iuran ( urunan ) dan karma Pengerob adalah keluarga Desa adat yang membantu keluarga pengarep untuk ngayah ( gotong royong ) keluarga pengerob terdiri dari Sekehe Baris dgn tugas mengatur kelangsungan upacara berupa tari- tarian, Sekehe Gong bertugas untuk mengatur gambelan dalam pelaksanaan upacara, Sekehe Pratengan bertugas sebagai juru masak dalam persiapan upacara dan sekehe Taruna/ni adalah warga desa yang belum menikah.
Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Bagian I, selengkapnya