M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Dalang Mancanegara Rindu Tampil di Indonesia

Dalang Mancanegara Rindu Tampil di Indonesia

Bandung – Sejumlah dalang mancanegara mendambakan dapat menampilkan kebolehannya di hadapan publik di Indonesia sebagai wujud kecintaan dan kerinduannya akan wayang sebagai salah satu kekayaan budaya nasional dan internasional.

“Dalang mancanegara mendambakan tampil di Indonesia, tanah kelahiran wayang. Mereka selalu kontak,” kata Direktur Bandung Wayang Festival, Bambang Wijayanto di Bandung, Selasa.
Menurut Bambang sejumlah pelaku seni sejenis wayang di sejumlah daerah seperti Eropa, Asia Timur menyatakan minatnya untuk tampil di Indonesia, khususnya di Bandung.
Wayang saat ini sudah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, sehingga Indonesia merupakan tanah kelahiran wayang yang selama ini tetap eksis melahirkan karya dan pelaku pertunjukan wayang.
Untuk itu, Bandung Wayang Festival 2011 menyediakan ruang bagi dalang mancanegara untuk manggung. Beberapa diantaranya menampilkan karya mereka melalui tayangan digital maupun animasi.
“Dalang di luar negeri rindu tampil di Indonesia yang masih memiliki ruang untuk pentas seni tradisi itu, di negara mereka lebih banyak orang mensponsori band modern,” kata Bambang.
Khusus bagi Jawa Barat yang sejumlah jenis wayang seperti wayang golek, pantun, kulit dan lainnya memiliki potensi untuk mengangkat potensi daerah di pentas internasional.
“Saya kira saatnya sekarang wayang golek mengambil estafet wayang di Indonesia, sekaligus memastikan bisa mendorong sebagai industri yang bisa dikembangkan,” kata Bambang Wijayanto menambahkan.

Sumber: antaranews.com

Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Bagian III

Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Bagian III

Kiriman: Ida Bagus Purnawan, Dosen PS. Desain Interior ISI Denpasar

Fungsi, Bentuk dan Makna Angkul – angkul Rumah Adat Penglipuran

Pembagian daerah ruang rumah adat  penglipuran terdapat perbedaan komposisi bangunan pada daerah sisi Kauh ( barat ) dan daerah sisi Kangin ( timur ). Rumah adat di sisi Kauh ( Barat ) rurung gede tempat suci ( sanggah )  terletak disebelah Utara Angkul-angkul, dan Bale adat terletak di sebelah selatan berada satu garis lurus  dengan angkul-angkul sedangkan lumbung, Paon ( dapur ) terletak di sebelah barat sanggah dan loji menghadap ke timur di sebelah barat.

Angkul-angkul merupaka pintu masuk utama ke pekarangan rumah adat penglipuran di bagian depan rumah menghadap ke arah rurung gede. Angku-angkul di daerah penglipuran sedikit ada perbedaan dengan angkul –anagkul di desa seluruh bali. Angkul – angkul di desa penglipuran tidak berisikan pintu, seperti apa yang kita jumpai dibeberapa angkul – angkul rumah tradisional Bali lainnya, dimana angkul –angkul rumah tradisional Bali lainnya tertutup dengan pintu kwadi dan aling – aling untuk menghindari sirkulasi langsung dan akses langsung menuju tempat tujuan. Hal tersebut terkait dengan kepercayaan masyarakat desa adat penglipuran bahwa orang yang masuk dan berkunjung tersebut selalu bermaksud baik dan dengan konsep kerbukaan terhadap siapapun yang berkunjung ke rumah mereka tanpa ada halangan dan terbuka kepada siapapun. Ajaran Keagamaan dan Kepercayaan masyarakat desa Adat Penglipuran adalah ajaran Tantris dimana mereka memuja Leluhur dengan menganut paham Politheisme dengan Monumen pemujaan . Dengan masuknya ajaran Bali Arya dan pengaruh Hindu Majapahit, mereka mengenal Kayangan Tiga dan Padmasana.

Angkul –angkul di desa adat penglipuran merupakan orientasi utama pada tatanan ruang rumah adat desa penglipuran,  dimana angkul – angkul juga merupakan pusat central komposisi rumah linier, dimana setiap pertemuan angkul – angkulnya terdapat halaman antara jalan besar ( rurung gede ) dengan rumah adat yang disebut dengan Lebuh. Sebagai fungsi Utama sirkulasi dari rumah adat sisi Kauh ( Barat ) dengan sisi Kangin ( Timur ) dimana angkul – angkul sebagai penghubung menuju masuk pekarangan rumah adat dengan rumah adat yang lainnya dari sisi yang berbeda, tetapi tegak lurus dengan angkul – angkul dari rumah adat didepannya. Dan seterusnya pada seluruh angkul – angkul di pemukiman  rumah adat di desa adat penglipuran.

Ditinjau dari fungsi tidaklah berbeda dengan angkul –angkul pemukiman lasimnya di Bali, tetapi ditinjau dari arah dan orientasi, posisi angkul – angkul secara  keseluruhan merupakan perlawanan dari landasan ashta kosali merupakan  arah Numbak Bala ( berhadap – hadapan ), ini disebabkan rumah adat penglipuran menggunakan pola linier dan angkul – angkul merupakan pusat orientasi setiap pekarangan rumah, dengan pertimbangan akses masuk dan silang poros Tampak Dara dengan konsep Wra Bhineda.

Makna yang tersimpan didalamnya adalah angkul – angkul rumah adat penglipuran merupakan pekarangan yang merupakan satu kesatuan dengan pekarangan rumah lainnya, dengan kata lain tanpa batas kepemilikan dan rurung gede merupakan poros penyeimbang dari posisi karang rumah dapt. Sehingga tidaklah tabu untuk meletakan angkul – angkul yang berhadap-hadapan dengan rumah di seberangan rurung gede, karena filosofi rumah adat penglipuran bagaikan manusia tidur terlentang kedua sisinya adalah seimbang.

Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran, Bagian III selengkapnya

Mayoritas Perguruan Tinggi tidak Terapkan Sistem Jaminan Mutu

Mayoritas Perguruan Tinggi tidak Terapkan Sistem Jaminan Mutu

YOGYAKARTA–Mayoritas perguruan tinggi di Indonesia tidak menerapkan sistem jaminan mutu. Dari 3.103 perguruan tinggi yang ada di Indonesia, tercatat hanya 24 perguruan tinggi saja yang berhasil menerapkan praktik baik dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Tahun ini jumlah perguruan tinggi yang melakukan sistem ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2008 tercatat 68 perguruan tinggi menyelenggarakan praktik baik pengelolaan perguruan tinggi, kemudian pada 2009 menurun menjadi 10 perguruan tinggi dan kini turun lagi.

Direktur Akademik DIKTI Illa Sailah mengatakan penurunan jumlah perguruan tinggi yang melakukan praktik baik dalam pelaksanaan kegiatan mutu akademik ini disebabkan tidak dilaksanakan proses penjaminan mutu secara internal dan eksternal di masing-masing perguruan tinggi dan tidak konsistennya dosen-dosen perguruan tinggi dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan belajar-mengajar.
“Kami banyak menemukan perencanaan itu baru disusun ketika akan ada proses assessment akreditasi dari BAN,” kata Illa dalam seminar Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi di gedung pertemuan UC UGM.
Ila menyebutkan 24 PT yang masuk daftar tersebut masih didominasi perguruan tinggi ternama. Proses penilaian praktik baik PT dinilai dari kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan dengan adanya dokumen dokumen mutu, manual mutu, kebijakan mutu, SOP mutu, dan formulir mutunya, baik dilakukan di tingkat universitas, fakultas hingga program studi. “Dan itulah yang disebut praktek baik,” katanya.
Namun demikian, Ila mengaku tidak mudah menerapkan penjaminan mutu di kalangan perguruan tinggi. Pihaknya terus menyosialisakan pentingnya penjaminan mutu lewat perguruan tinggi bersangkutan dan kopertis.
“Proses diseminasi masih terus kita lakukan. Kami menganjurkan kepada setiap perguruan tinggi dengan dasar hukum yang sudah ada untuk segera menerapkan sistem penjaminan mutu baik internal maupun ekternal,” ujarnya.

Sumber: mediaindonesia.com

Proses Pembuatan kerajinan relief kayu Di Desa Singakerta

Proses Pembuatan kerajinan relief kayu Di Desa Singakerta

Kiriman: Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar.

Proses pembuatan kerajinan relief kayu ini melalui beberapa tahapan :

a.  Penyiapan bahan

Sebelum proses pembuatan dilaksanakan diawali dengan penyiapan bahan baku. Pemilihan bahan yang tepat akan sangat menentukan kualitas  kerajinan relief kayu. Dalam kerajinan relief kayu ini ada yang menggunakan kayu suar dan ada pula kayu jempinis karena miliki serat yang sangat indah dan menarik serta harganya murah. Kayu yang telah disiapkan dibelah atau dipecah dalam bentuk papan sesuai dengan kebutuhan/ukuran desain yang akan dibuat (gambar no. 22).

b.  Pembuatan sket/mal

Untuk memudahkan dalam pembuatan bentuk global kerajinan relief ini, maka diawali dengan pembuatan sket diatas karton sesuai dengan ukuran desain kerajinan diinginkan. Kemudian sket tersebut dipotong atau ditoreh/dilubangi sesuai dengan bentuk binatang yang dibuat, sehingga kelihatan seperti seluwet binatang (lihat gambar no. 23).

c.   Ngemal

Ngemal (bahasa Bali) maksudnya menempelkan sket yang telah dilubangi diatas kayu papan yang telah disiapkan, dan goreskan dengan spidol mengikuti bentuk binatang sehingga gambar sket tadi tersalin diatas papan (teknik sablon). (Lihat gambar no. 25).

d.  Bentuk Global

Dalam tahapan ini adalah proses pembuatan bentuk global, maksudnya membuat bentuk-bentuk ikan atau kura-kura dengan cara melubangi atau memotong celah-celah bentuk binatang pada kayu papan dengan alat bor mesin, gergaji/jekso

tangan. Untuk memudahkan prosesnya diawali dengan melubangi latar binatang yang akan hilang dengan menggunakan alat bor mesin. Selanjutnya memotong latar binatang tersebut  sehingga kelihatan bentuk global relief binatang yang akan dibuat (lihat gambar no. 26).

e.  Bentuk detail

Tahap ini kelanjutan dari pembuatan bentuk global. Pada tahapan ini membuat bentuk-bentuk yang lebih detail. Dalam proses ini ketrampilan tangan sangat berperan. Masing-masing pengerajin memperlihatkan ketrampilan dan keahliannya dalam menggunakan alat. Dalam proses pembuatan bentuk detail ini dominan menggunakan pahat dengan berbagai jenis dan palu kayu/semati (pengotok) (lihat gambar no. 28).

f.  Ngerot

Tahap ini masih dalam pembuatan bentuk detail yang halus dan alat yang digunakan adalah pemutik (semacam pisau kecil) yang dikombinasikan dengan menggunakan pahat, serut yuyu (kepiting). Karena tahap ini lebih banyak menghandalkan kemampuan dan keahlian teknik menggunakan ketam/serut, pemutik, maka tahap ini disebut ngerot. Ketem (serut yuyu) ini dipakai menghaluskan pada bagian-bagian yang cembung, lebar dan datar. Bentuk-bentuk detail sirip ikan, mata, mulut,  atau cangkang kura-kura diselesaikan pada tahap ini sehingga wajah relief ikan atau kura-kura menjadi jelas dan terkesan selesai (lihat gambar no. 30)

Proses Pembuatan kerajinan relief kayu Di Desa Singakerta selengkapnya

Warisan Budaya Indonesia Diakui Dunia

Warisan Budaya Indonesia Diakui Dunia

Solo – Organisasi PBB untuk ususan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, UNESCO, telah mengakui 850 situs di dunia menjadi warisan budaya, termasuk diantaranya 11 situs yang ada di Indonesia.

Ke-850 situs yang diakui menjadi warisan budaya dunia itu terdiri dari 689 mengenai budaya dan 176 alam, kata Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Jero Wacik dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Dirjen Nilai Seni Budaya Dan Film, Ukus Kuswara, pada Kongres Sekretariatan Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) di Solo, Rabu.
Sebanyak 11 situs budaya Indonesia yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia, antara lain mengenai Batik, Wayang, Keris, Angklung, dan situs manusia purba Sangiran.
Mengenai batik, dalam menjaga dan mengembangkannya kedepan tidak ada masalah, karena sekarang tidak hanya kaum tua, generasi muda pun sudah memakai kain batik, sementara keris hanya digunakan sebatas sebagai pelengkap pakaian adat.
“Untuk mempertahankan keris sebagai warisan budaya dunia, memang tidak mudah dan ini menjadi tantangan tersendiri, maka lewat kongres ini harus bisa dijabarkan untuk keris agar tidak saja menjadi pelengkap pakaian adat. Tapi juga bisa sebagai benda seni dan bisa menjadi nilai tambah dan tidak hanya generasi tua, tetapi juga muda yang menyenangi,” katanya.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahlinya Bidang Politik Maryanto mengatakan bahwa keris memang pada awalnya sebagai senjata untuk melindungi diri, tetapi sekarang sudah tidak terbatas pada fungsi tersebut saja.
Keris selain untuk senjata melindungi diri, dan simbol status sosial juga sebagai barang seni yang bernila tinggi dan juga sebagai barang sovenir yang bisa mendatangkan keuntungan bagi perajin keris.
“Jadi mengenai pelestarian keris itu apa bila dikelola dengan baik juga bisa mendatangkan kesejateraan bagi masyarakat,” katanya.
Kongres SNKI perta yang berlangsung dari 19-21 April 2011 di Solo, itu selain untuk memilih pengurus baru, juga menysun program kerjas.
Bersama kongres SNKI tersebut juga digelar pameran dan bursa keris dan juga diadakan demontrasi membuat keris oleh para empu-empu muda.

Sumber: antaranews.com

Loading...