M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Pengumuman Pameran & Ujian TA Genap 2010/2011

PENGUMUMAN

Nomor: 931/IT5.1/DT/2011

Diberitahukan kepada Mahasiswa FSRD ISI Denpasar yang telah mendaftar Ujian Tugas Akhir (TA) Semester Genap 2010/2011 bahwa:

1.    Pameran akan diadakan tanggal 7 – 15 Juni 2011 bertempat di BENTARA BUDAYA, Jl. Prof. I.B. Mantra.

2.    Pengumpulan dan pemajangan karya dikoordinir oleh Bp. I Dewa Putu Gede Budiarta, S.Sn, M.Si.

3.    Seluruh mahasiswa TA wajib hadir pada pembukaan pameran yang akan diadakan  pada:

Hari/Tanggal   :  Selasa, 7 Juni 2011

Jam                      :  18.00 Wita

Pakaian               : Atasan putih, bawahan hitam & dasi   hitam lengkap dengan jas Almamater.

4.     Ujian TA akan dilaksanakan pada tanggal 6 sampai dengan 10 Juni  2011.

5.    Yudisium akan diadakan tanggal 23 Juni 2011.

Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan.

Terima kasih.

Denpasar, 24 Mei 2011

A.n. Dekan

Pembantu Dekan I,

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

NIP.  196107061990031005

Barisan Tari Baris Mengawal Pulau Bali

Barisan Tari Baris Mengawal Pulau Bali

Kiriman Kadek Suartaya, SSKar., MSi., Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

Pulau Bali rupanya sejak dulu dikawal oleh para prajurit yang tangguh dan gagah berani.  Bali Utara dijaga oleh pasukan yang siap siaga menyambut serangan musuh dengan presi atau tamiang. Bali Selatan dipertahankan oleh para prajurit bersenjata tombak. Bali Timur dibela mati-matian oleh pasukan rakyat dengan senjata gada. Bali Barat dikawal oleh para prajurit membawa pecut. Bali Tengah dijaga oleh pasukan tangkas membawa sanjata panah. Bahkan pulau Nusa Penida juga ditakuti musuh karena memiliki pasukan bersenjata tombak panjang. Para prajurit patriotik tanah Bali itu masih eksis hingga kini.

Para prajurit Bali masa lalu itu kini bermetamorfose menjadi puspa warna tari baris yang dipersembahkan dalam ritual keagamaan. Sebuah upacara ngaben besar di Singaraja lazim disertai dengan penampilan tari Baris Presi. Ketika piodalan penting di pura-pura besar di Denpasar selalu diikuti oleh penyajian tari Baris Gede.  Ritual bayar kaul di kalangan masyarakat Nusa Penida, Klungkung, akan terasa mantap bila disertai dengan suguhan tari Baris Jangkang. Prosesi keagaaman di Pura Batur, Kintamani, Bangli, tampak hikmat dengan kehadiran tari Baris Panah. Jika dulu–ketika sebagai prajurit kerajaan–tugasnya berperang atau menjaga keamanan wilayah, kini dalam pengejawantahan seni, berfungsi memperkukuh dan merupakan bagian penting dari upacara keagamaan.

Konon, seperti yang termuat dalam kidung Sunda, tari baris sudah dikenal pada zaman Majapahit abad ke-14, pemerintahan Rajasanegara atau Hayam Wuruk. Sebuah upacara pembakaran mayat seusai perang antara Majapahit dengan kerajaan Sunda, disertai dengan penampilan beberapa macam tari baris. Dinasti kerajaan Bali yang kemudian mendapat pengaruh langsung dari Majapahit, meneruskan sajian tari baris dalam beragam ritual keagamaan. Kini tak kurang dari 30-an tari baris diwarisi, dilestarikan dan senantiasa dihadirkan sebagai persembahan tari sakral seperti tampak  di Pura Besakih dan Puru Ulun Danu Batur dalam piodalan yang baru lalu.

Dalam wujudnya sebagai ekspresi keindahan, aneka ragam tari baris sakral yang diusung masyarakat Bali tersebut,  eksis dengan keunikannnya masing-masing, baik dari segi gerak maupun dari segi kostum dan propertinya. Tari Baris Jangkang yang terdapat di Nusa Penida misalnya, memakai busana sederhana serba putih dengan senjata tombak sepajang tiga meter. Gerak-geriknya yang natural dalam posisi berjinjit membungkuk dengan sorot mata yang tajam sungguh menggetarkan suasana magis. Tari Baris Cina yang terdapat di desa Blanjong, Sanur, juga tak kalah uniknya. Bila dalam keadaan kerauhan atau trance, tari sakral yang memakai busana dan senjata ala pendekar persilatan Tiongkok ini,  berkata-kata hai ya-hai ya bahasa Cina.

Kendati tampil dengan keunikannya masing-masing, penyajiannya tari baris pada umumnya adalah secara berkelompok dengan ayunan gerakan bersama-sama dalam posisi berbaris atau berjajar. Baris-baris sakral yang biasanya dibawakan para penari amatir tersebut sebagian besar memakai busana rumbai-rumbai yang terbuat dari kain, yaitu awir dan lelamakan. Kesamaan antara baris yang satu dengan yang lainnya juga dapat dilihat pada penutup kepalanya memakai udeng atau gelungan berbentuk kerucut bak piramid. Yang tampak berbinar mewah adalah tari baris yang memakai gelungan berperada dengan manik-manik kerang laut, cukli, bergetar gemerincing bila kepala penarinya bergerak-gerak.

Diduga, tari Baris Tunggal yang umum dikenal masyarakat Bali masa kini, tata busana dan gelungan-nya mengadopsi dari kebanyakan kostum dan penutup kepala tari-tarian baris wali tersebut. Berbedea dengan tari baris sakral,  tari Baris Tunggal, seperti namanya, dibawakan secara solo. Kendati termasuk tari profan, Baris Tunggal juga tampak disajikan di tengah khusuknya prosesi upacara keagamaan. Baris Tunggal biasanya ditampilkan sebagai tari lepas dalam beragam pagelaran seni pertunjukan balih-balihan.  Kini bahkan tari yang umumnya dibawakan oleh anak-anak atau remaja pria itu banyak digelar sebagai seni pentas turistik.

Adalah tari Baris Tunggal dipandang oleh para seniman Bali masa kini sebagai dasar tari Bali jenis tari pria. Penampilannya yang energik, lugas, dan dinamis mencerminkan seorang kesatria yang berkeperibadian tegas dan heroik. Sajiannya dibagi tiga yaitu bagian awal, tengah, dan akhir. Siapa sejatinya menggubah tari Baris Tunggal ini belum jelas. Ada sumber yang menyebutkan bahwa tari baris sekuler ini telah menguak pada tahun 1930-an yang mengkristal dari pemunculan tari Baris Melampahan yakni drama tari baris yang dibingkai oleh sebuah cerita dimana para penarinya memerankan tokoh-tokoh yang dilakonkan. Kiranya, tari Baris Tunggal adalah ungkapan estetik yang berevolusi dari tari baris sakral dan dientaskan oleh Baris Melampahan.

Barisan Tari Baris Mengawal Pulau Bali, Selengkapnya

3 Juni PNS Cuti Bersama Lagi

3 Juni PNS Cuti Bersama Lagi

JAKARTA — Pemerintah kembali menetapkan cuti bersama pada tanggal 3 Juni mendatang. Surat keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yakni dalam SKB Nomor 03/2011, Kep.135/MEN/V/2011 dan SKB/02/M.PAN-RB/05/2011.

Pemerintah pun menetapkan 3 Juni yang jatuh pada hari Jumat sebagai hari libur, karena tanggal 2 Juni (hari Kamis) libur memperingati kenaikan Isa Almasih dan 4 Juni (Sabtu) memang hari libur kerja.
‘’Ini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan hari kerja di antara dua hari libur. Karena sebagian PNS tidak sepenuhnya memanfaatkan hak cuti tahunan, padahal cuti adalah momen untuk revitalisasi, rekreasi dan penyegaran bagi pegawai dan keluarganya,’’ kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono pada wartawan di Jakarta, Senin (23/5).
Dengan cuti bersama ini kata Agung, memberikan kesempatan pula bagi para orangtua untuk menyiapkan keperluan sekolah atau kuliah putra putri mereka memasuki tahun ajaran baru. ‘’Libur ini juga lebih baik karena diharapkan dapat meningkatkan kegiatan pariwisata dalam negeri,’’ kata Agung.
Namun untuk pelayanan umum yang bersifat strategis, seperti rumah sakit, perusahaan pelayanan telekomunikasi, listrik, air minum dan pemadam kebakaran, tetap akan berjalan seperti biasanya. Agung meminta PNS yang bekerja pada bidang-bidang tersebut untuk berkoordinasi dengan pimpinan mereka. ‘’Perlu kami tegaskan kembali, bahwa pelaksanaan cuti bersama ini merupakan bagian dari hak cuti tahunan pegawai,’’ tegas Agung.

Sumber: jpnn.com

“Going International”, ISI Denpasar dilirik UNISA

“Going International”, ISI Denpasar dilirik UNISA

Kiprah Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan ISI Denpasar diantaranya ujian TA, persiapan Pesta Kesenian Bali, dan kegiatan pengabdian masyarakat, kampus seni satu-satunya di Bali ini mendapat kunjungan dari University of South Africa, yang terdiri dari Prof Fred J Van Staden dan Mr. Hellnut Willheim, kedatangan ini merupakan awal terbukanya hubungan ke arah yang lebih serius.

Kedatangan salah satu universitas dari Afrika Selatan ini dilatarbelakangi oleh adanya kegiatan Dharmasiswa yang merupakan program pemerintah Indonesia untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa/i dari luar negeri untuk belajar di salah satu universitas di Indonesia dalam waktu setahun. Adapun salah satu peserta Dharmasiswa yang memilih ISI Denpasar sebagai tempat belajarnya adalah mahasiswa dari Afrika Selatan yang bernama David Maphonyane, pengalaman yang dirasakannya diceritakan kepada professor dan seorang dosennya di kampus UNISA, ternyata hal ini memberikan pengaruh yang luar biasa hingga memunculkan keinginan dari mereka untuk melihat secara langsung Institut Seni Indonesia Denpasar.

Dalam pertemuan ini, penjelasan mengenai kampus UNISA (University of South Africa) dibeberkan dalam presentasi singkat oleh Prof. Fred, dalam presentasi tersebut beliau menjelaskan mengenai sekilas profile universitasnya sebagai perkenalan. Pertemuan dengan Prof Rai merupakan hal yang membuat mereka bahagia hal ini seperti yang diungkapkan bahwa kedatangan mereka ke Pulau Bali dan ISI khususnya merupakan awal untuk menjalin kerjasama yang lebih baik baik dalam bidang seminar, workshop, pameran, hingga pertukaran pelajar. Tentu saja hal ini disambut baik oleh bapak Rektor ISI Denpasar yang dalam kesempatan ini mengungkapkan bahwa tentu saja kami membuka kesempatan untuk menjalin kerjasama dengan universitas manapun dalam bidang kebudayaan dan kesenian sehingga harapan besar ISI Denpasar untuk menambah jaringan/networking dengan universitas di dunia pun bisa meningkat.

Kesempatan ini juga digunakan juga untuk mengunjungi fasilitas atau gedung-gedung kampus ISI Denpasar, yaitu Gedung Latta Mahosadhi yang menyimpan berbagai koleksi dalam bidang kesenian Bali, studio keramik dan patung yang letaknya bersebelahan dengan gedung Lata Mahosadi, hingga akhirnya mengunjungi gedung Kriya Hasta Mandala yang menyimpan berbagai koleksi lukisan dan karya keramik maupun patung dari mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar. Kekaguman terlihat menghiasi wajah kedua orang tamu ini setelah mengunjungi beberapa fasilitas yang tersedia di kampus, kemudian karena keterbatasan waktu akhirnya beliau harus meninggalkan ISI Denpasar dengan membawa harapan untuk kembali lagi.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Tugas Akhir Mahasiswa ISI Sarat Kolaborasi

Tugas Akhir Mahasiswa ISI Sarat Kolaborasi

Denpasar- Penampilan karya seni yang adalah ujian tugas akhir mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sarat dengan nilai kolaborasi, namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisi.

Seniman muda itu mempunyai keberanian dan kemampuan memadukan dua unsur atau lebih ke dalam satu garapan karya seni, sehingga penyuguhannya lebih unik dan menarik, kata Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar I Ketut Garwa SSn, MSn, di Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, sebanyak 60 mahasiswa tercatat sebagai peserta ujian tugas akhir (TA) 2011.
Seperti yang telah dipersiapkan, mereka akan menyuguhkan karya ciptaan yang orisinil, dengan mengkolaborasikan atau menata dua perangkat gamelan atau lebih menjadi sebuah hiburan yang unik dan bermutu.
Perpaduan kedua jenis alat musik atau lebih tersebut mampu menciptakan alunan musik yang menyejukkan hati dan kedamaian dalam batin, seperti yang selama ini mereka lakukan, tutur I Ketut Garwa.
Luh Gede Candra Pratiwi, salah seorang mahasiswa program studi Seni Tari ISI Denpasar menuturkan, dalam memenuhi persyaratan mengikuti TA, dirinya menciptakan tari yang diberi judul “Ratna Wighna”.
“Tarian tersebut terinspirasi dari cinta kasih, kebersamaan, kedamaian dan saling menghargai antarwarga di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal saya,” katanya.
Namun cinta kasih itu bisa terkoyak oleh sebuah “cupu manik” yang tidak pantas mereka miliki. Akibat serakah, angkuh, irihati dan kedengkian, ternyata telah mampu meluluhlantakkan sebuah keharmonisan.
Pementasan tari kreasi “Ratna Wighna” dengan penata iringan I Made Subandi SSn, melibatkan mendukung tari I Gede Radiana Putra, pelajar SMAN 3 Denpasar dan Dewa Putu Selamat Raharja, pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Sukawati.
Pementasan tarian tersebut dimeriahkan Sanggar Ceraken, Batubulan, Kabupaten Gianyar yang tampil di hadapan tim dosen penguji pada hari pertama dari empat hari pelaksanaan ujian akhir, 24-27 Mei 2011.
Ke-60 mahasiswa dalam menampilkan karya seni ciptaan tari terbaik melibatkan puluhan sanggar seni maupun sekaa kesenian dari berbagai pelosok pedesaan di Pulau Dewata.
Tim dosen penguji terdiri atas unsur guru besar, dosen biasa yang mengajar sehari-hari menilai dari aspek gagasan, bentuk dan penampilan, tema, teknik, komposisi, kreativitas, busana serta tata cahaya saat pagelaran.
Pagelaran mahasiswa tersebut terdiri atas penciptaan dengan jurusan tari 22 orang, jurusan kerawitan 27 orang, jurusan pendalangan empat orang, pengkajian untuk jurusan tari empat orang, kerawitan seorang dan jurusan pedalangan dua orang.
Masyarakat luas diberikan kesempatan untuk menyaksikan kemampuan karya seni mahasiswa, tanpa mengganggu tim dosen melakukan penilaian ujian, tutur I Ketut Garwa.

Sumber: antaranews.com

Loading...