by admin | Jun 17, 2011 | Berita
Paduan suara ISI Denpasar dibawah komando dosen Jurusan Karawitan, I Komang Darmayuda dan Ni Wayan Ardini, mempesona penikmat Pesta Kesenian Bali (PKB), Kamis malam (16/6) di Gedung Ksirarnawa. Paduan Suara yang beranggotakan mahasiwa ISI Denpasar baik Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ini membawakan 5 lagu, yaitu Pesta Kesenian Bali karya Wedhasmara, LGM PulauBali, Enggung,Janger, serta Bungan Sandat.
Selain paduan suara ISI Denpasar, acara Musik Keroncong yang diiringi Orkes Keroncong “Pesona Dewata” ini juga menampilkan penyanyi keroncong ternama seperti Sefi Indah Prawasari, Ayu Sadha, Eka, Putri, serta Agung Wira Sutha. Sefi Indah Prawasari menampilkan lagu Hanoman Obong, Perahu Layar, Walang Kekek, Bengawan Solo, Kemuning, dan Aryati. Ayu Sadha melantunkan Indonesia Jelita dan Tanah Airku, Eka Putri melantunkan Dayung Sampandan Jali-Jali. Agung Wira Sutha yang juga menjadi pemandu acara (MC) dalam acara tersebut membawakan lagu Melati Pesanku.
Suasana hangat tercipta malam itu. Para penyanyi tersebut mengundang penonton untuk ikut bersenandung. Paduan suara ISI Denpasar yang malam itu peserta wanitanya mengenakan seragam pink-ungu,berpadan dengan peserta pria berseragam warna senada, semakin mempesonapenonton yang memenuhi Geduang Ksiarnawa malam itu. Komang Darmayuada dan Ni Wayan Ardini yang ditemui seusai pementasan, mengatakan sangat bangga dengan kerja keras para mahasiswa. “Mahasiswa sangat tekun dalam berlatih, sehingga malam ini kami bisa tampil maksimal.Yang terpenting adalah dukungan dan motivasi dari pimpinan, sehingga kami bisa sampai dipanggung ini”ujar Ardini yang malam itu menjadi dirigen.
Pementasan paduan suara ISI Denpasar ini dihadiri oleh Rektor ISI Denpasar,para Pembantu Rektor,serta pejabat struktural lainnya. Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan, I Made Suberatha sangat bangga dengan penampilan mahasiswanya malam itu. “Ini adalah hasil kerja keras kita bersama. Syukur dan terimakasih kita kepada Tuhan atas keberhasilan paduan suara ISI Denpasar, yang masih muda usia tapi mampu berkreasi maksimal,”ujar Suberatha bangga.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jun 17, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Fenomena umum menandakan bahwa masyarakat Bali baik secara individu maupun berkelompok, dimanapun mereka berada dan bertemu akan berinteraksi, berkomunikasi atau berhubungan secara intens. Apalagi keberadaan mereka dalam kelompok yang besar kebersamaan, sifat gotong royong dan kerja sama, menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka. Salah satu dari berbagai media komunikasi yang dipergunakan dalam kehidupan sosial adalah melalui kesenian Sebagaimana dikatakan Sumandyo Hadi (2000:332) seni menyandang fungsi sosial yaitu yang bersifat manusiawi, karena hakekat seni adalah untuk dikomunikasikan, berarti untuk dinikmati, ditonton, didengar,atau diresapkan. Kehadiran seni mencakup tiga faktor yang saling berhubungan yakni si pencipta, karya seni, dan pengamat atau penonton. Ketiga faktor itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Terkait dengan penjelasan tersebut, masyarakat selaku penikmat seni merupakan salah satu faktor yang juga penting dalam menjaga kelestarian dan perkembangan seni itu sendiri. Dalam konteks ini, masyarakat dapat memanfaatkan seni dalam berbagai aktivitas sosialnya. Kesenian sering dipergunakan sebagai sarana untuk penggalian dana-dana untuk pembangunan, sebagai sarana hiburan, serta memeriahkan berbagai acara seperti pernikahan, bayar kaul, syukuran dan acara lain yang lebih bersifat non religius.
Dalam kehidupan sosial kesenian sering dipergunakan sebagai sarana untuk mempererat hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok baik dalam lingkup yang kecil hingga ruang lingkup yang lebih luas. Di Mataram kesenian Bali ternyata memiliki fungsi yang sangat penting dalam mempererat hubungan antara masyarakat Bali dengan masyarakat Sasak. Pelaksanaan upacara Perang Topat di Pura Lingsar dapat dijadikan indikator eratnya hubungan kekerabatan antara masyarakat Bali dengan masyarakat Sasak. Bahkan di kalangan masyarakat Sasak kesenian Bali mendapat tempat tersendiri dimana hal ini dapat dibuktikan adanya sekaa-sekaa Gong Kebyar seperti sekaa Gong Mekar Jaya di dusun Dasan Montor dan Sekaa Gong Kebon Ayu di Desa Kebon Ayu yang anggotanya dari kalangan masyarakat Sasak. Demikian pula sebaliknya, I Komang Kantun dari dusun Rendang Bajur salah seorang seniman yang nota bene orang Bali sangat menguasai budaya dan kesenian Sasak sehingga dalam beberapa karyanya sangat kental dengan budaya Sasak bahkan kini beliau adalah seorang dalang dari wayang sasak.
Terbukti bahwa melalui kesenian hubungan kemasyarakatan menjadi lebih erat dan terkadang berfungsi untuk meminimalisir konflik yang bernuansa RAS. Melalui seni, kerukunan, toleransi, kebersamaan di kalangan masyarakat Sasak dan Bali sudah mampu diwujudkan di bumi Lombok khususnya di Kota Mataram. Sebagaimana diuraikan Soedarsono dan The Liang Gie, di samping berfungsi dalam ritual keagamaan, kesenian juga berfungsi sebagai pengikat solidaritas, pembangkit rasa solidaritas serta media komunikasi. Terbukti dari fenomena yang ada di lapangan, di representasikannya kesenian Bali oleh sekelompok masyarakat (sekaa Gong) Sasak di wilayah Montor dan Gerung hal ini mencerminkan terjadinya komunikasi yang intens dan harmonis antara masyarakat Bali dan masayarakat suku Sasak dalam berbagai aspek kehidupan khususnya dalam berkesenian.
Seni Sebagai Representasi Estetik
Pembicaraan tentang kesenian tidak akan terlepas dari nuansa estetik karena keindahan (estetika) di samping bersifat alamiah seperti keindahan alam, gunung ,laut, karya seni atau benda-benda seni ciptaan manusia juga yang disebut dengan kesenian juga mengandung nilai keindahan tersendiri. Mengacu pada pandangan Jakob Sumarjo (2000:76), representasi estetik dapat dimaknai sebagai upaya mengungkap dan menikmati nilai-nilai keindahan yang terdapat pada objek seni. Pada umumnya membicarakan masalah objek seni pikiran kita akan menyasar pada karya seni yang dihasilkan oleh seniman. Diciptakannya karya seni tersebut merupakan representasi dari rasa indah yang selanjutnya melalui proses kreatif dituangkan melalui berbagai media.
Nilai-nilai keindahan atau estetika sangat penting karena hal itu akan memberi bobot yang tinggi terhadap sebuah karya seni. Pentingnya keindahan tersebut karena terkadang ada objek seni atau karya seni yang sama sekali tidak mengandung nilai-nilai keindahan. Sebagaimana karya-karya teaterikal jalanan yang disajikan oleh para demonstran yang lazim dipertontonkan beberapa tahun belakangan ini. Karya-karya tersebut lebih distimulasi oleh perasaan emosional sehingga sering dianggap mengganggu ketertiban dan stabilitas moral. Di sini nilai-nilai keindahan dikesam-pingkan dan dikalahkan oleh nilai yang syarat dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan secara emosional. Sebagaimana dikatakan Cassier (1956), seni dalam proses kreatif bukan untuk merangsang emosi sehingga mengganggu stabilitas moral. Efek estetis tidak semata-mata dalam kaitannya dengan keindahan secara langsung, tetapi bagaimana karya seni dapat berperanan dalam menopang masyarakat menuju kemajuan. Ukuran karya seni dengan demikian bukan pada derajat penularannya melainkan intensifikasi dan pencerahan terhadap budi manusia (Kutha Ratna, 2007:15). Searah dengan itu Langer (dalam Kutha Ratna, 2007:16) mengatakan, ekspresi seni bukan ekspresi diri sebab apabila karya seni merupakan ekspresi diri berarti karya seni mengundang pembaca (penonton) untuk marah. Sebaliknya karya seni justru menjadikan komunikasi lebih bermakna, sehingga karya seni bersifat edukatif.
Kembali pada persoalan keindahan sebuah benda atau objek seni, hal ini akan dirasakan berbeda antara seniman dengan masyarakat. Walaupun secara bersama-sama mencari kenikmatan pada objek seni yang dipresentasikan, seniman lebih banyak berfungsi sebagai pencipta sekaligus penikmat keindahan, sedangkan pada sisi yang lain masyarakat lebih berfungsi sebagai penikmat saja atau menikmati nilai-nilai keindahan yang terdapat dalam seni itu sendiri. Jika pada satu sisi seniman berkarya dan menyajikan sebuah objek seni untuk merepresentasikan rasa indahnya, pada sisi yang lain masyarakat sebagai penikmat turut serta berapresiasi sesuai dengan pengalaman estetis yang diterima.
Seni Dalam Kehidupan Sosial di Kota Mataram, selengkapnya
by admin | Jun 17, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Gde Made Indra Sadguna, Alumni ISI Denpasar
Istilah kendang telah disebut-sebut dalam piagam Jawa Kuno yang berangka tahun 821 dan 850 masehi dengan istilah padahi dan muraba. Dalam Prasasti Bebetin, sebuah prasasti Bali yang berasal dari abad ke-9, kendang disebut dengan istilah papadaha. Berbicara mengenai kendang dalam karawitan Bali, Asnawa dalam master tesisnya mengemukakan ada enam jenis kendang, yaitu kendang mebarung, kendang cedugan, kendang gupekan, kendang krumpungan, kendang nyalah dan kendang angklung. Sedangkan Sukerta juga mengemukakan adanya enam jenis kendang yaitu kendang bedug, kendang cedugan, kendang centungan, kendang gupekan, kendang krumpungan dan kendang penyalah. Namun, berdasarkan penelitian yang penulis lakukan ternyata ditemukan adanya sembilan jenis kendang dalam karawitan Bali. Adapun kesembilan jenis kendang yang dimaksud adalah sebagai di bawah ini, diurut dari ukuran yang terbesar hingga terkecil.
- Kendang mebarung merupakan jenis kendang dengan ukuran yang terbesar dalam karawitan Bali. Ukuran kendang ini bisa mencapai panjang 185-200cm dengan diameter antara 74-80cm. Kendang mebarung merupakan salah satu instrumen dari barungan Gamelan Angklung (selendro empat nada). Jenis kendang ini hanya dapat ditemukan di satu daerah saja yakni di Kabupaten Jembrana.
- Kendang tambur merupakan jenis kendang dengan ukuran terbesar kedua. Kendang tambur dapat dijumpai di Kabupaten Karangasem dan dipergunakan untuk dua hal yaitu sebagai pelengkap dalam konteks upacara Dewa Yadnya dan juga untuk mengiringi prajurit kerajaan yang akan berangkat ke medan perang. Kendang tambur ini mempunyai ukuran panjang sekitar 72cm, diameter tebokan besar 54cm dan diameter tebokan kecil 44cm. Cara mempermainkan kendang ini dengan mempergunakan dua buah panggul dengan memukul kedua belah sisinya.
- Kendang bedug atau bebedug adalah salah satu jenis kendang yang mirip bentuk dan cara permainannya dengan kendang tambur, akan tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil. Jenis kendang ini merupakan salah satu instrumen dari barungan gamelan Gong Beri. Jenis gamelan ini dipergunakan untuk musik tarian sakral Baris Cina. Perangkat barungan gamelan Gong Beri hanya dapat ditemukan di Desa Renon dan Banjar Semawang, Denpasar Selatan.
- Kendang cedugan adalah kendang yang dalam teknik permainannya menggunakan panggul. Oleh karena itu, kendang ini juga disebut dengan nama kendang pepanggulan. Kendang pepanggulan ini mempunyai ukuran panjang antara 69-72cm, garis tengah tebokan besar 29-32cm dan garis tengah tebokan kecil 22-26cm. Jenis kendang ini biasanya dipergunakan pada beberapa perangkat gamelan, misalnya Gong Kebyar, Baleganjur, dan Gong Gede. Kendang pepanggulan dimainkan secara berpasangan yang terdiri dari kendang lanang dan wadon.
- Kendang gupekan merupakan salah satu jenis kendang yang cara memainkannya adalah dengan memukul memakai tangan. Kendang ini digunakan untuk mengiringi gamelan Gong Kebyar. Kendang ini selain dapat disajikan dengan berpasangan dapat juga dimainkan secara mandiri atau kendang tunggal. Kendang wadon mempunyai ukuran panjang antara 67-72cm, diameter tebokan besar 27-32cm dan diameter tebokan kecil 21-25cm. Kendang lanang mempunyai ukuran serta suaranya lebih kecil dari kendang wadon. Ukuran panjangnya antara 65-70cm, diameter tebokan besar 26-29cm dan diameter tebokan kecil 19-22cm.
- Kendang bebarongan adalah kendang yang secara khusus terdapat dalam barungan gamelan Bebarongan. Jenis kendang ini mempunyai panjang sekitar 62-65cm, garis tengah tebokan besar 26-28cm dan garis tengah tebokan kecil sekitar 21,5-23cm. Kendang bebarongan ini termasuk dalam ukuran kendang yang tanggung (nyalah:Bahasa Bali), karena ukurannya yang tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil. Ada dua cara untuk memainkan kendang bebarongan, yakni bisa dengan mempergunakan panggul dan bisa juga dimainkan tanpa menggunakan panggul.
- Kendang krumpungan, kata krumpungan berasal dari kata pung yaitu menirukan suara kendang tersebut (onomatopea atau peniruan bunyi). Jenis kendang ini dipukul hanya menggunakan tangan. Kendang ini biasanya dipergunakan untuk mengiringi gamelan Pegambuhan dan gamelan Palegongan. Kendang krumpungan ini selalu dimainkan berpasangan yaitu kendang lanang dan kendang wadon. Kendang wadon mempunyai diameter tebokan besar 24,5-25cm, panjang antara 55-57cm dan diameter tebokan kecil 20cm. Sedangkan kendang lanang mempunyai diameter tebokan besar 23,5-24cm, panjang antara 55-57cm, diameter tebokan kecil 19,5-20cm.
Jenis-Jenis Kendang Bali, selengkapnya
by admin | Jun 16, 2011 | Berita, Galeri
Babak I
Alkisah Maharaja Sentanu sangat sulit melupakan istrinya yang cantik jelita, Dewi Gangga. Untuk melipur hatinya Sentanu menyusuri hutan belantara. Ditengah hutan Sentanu diterpa hembusan angin yang menebar aroma harum semerbak. Teryata arah datangnya sumber aroma wangi itu adalah tubuh seorang gadis molek bernama Satyawati ditepi sungai Yamuna. Raja Sentanu terpesona dan menyampaikan hasratnya untuk mejadikan istri. Ayah gadis itu, seorang nelayan cerdik, mengajukan syarat: putra yang dilahirkan Satyawati harus menggantikan Sentanu jadi raja Hastina.
Papeson/plot :
- (prolog) Raja Sentanu menghalangi Dewi Gangga untuk membuang bayinya.
- Sungai Yamuna yang asri
- Raja Sentanu menyusuri tepi sungai Yamuna (naik kereta kuda)
- Para nelayan dan Dewi Satyawati
- Pertemuan Sentanu dengan Satyawati (roman)
- Ayah Setyawati mengajukan persyaratan kepada Raja Sentanu
Babak II
Setelah pertemuannya dengan Satyawati, Raja Sentanu bermuram durja dan jatuh sakit. Dewabharata binung memikirkan sebab musabab kemurungan ayah tercintanya. Kepada sang putra mahkota, Raja Sentanu hanya mengatakan terlalu berpikir berat mengenai masa depan kerajaan jika ternyata terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap penerus dinasti kerajaan satu-satunya yaitu Dewabharata sendiri. Tetapi Dewabharata menangkap ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya.
Pepeson/plot:
- Prajurit kebesaran Hastina
- Dewabharata berlatih senjata (ada laporan ayahnya sakit)
- Dayang-dayang
- Para patih + raja Sentanu sakit
- Pertemuan Sentanu dan Dewabharata
Babak III
Melalui kusir kerajaan, Dewabharata mengetahui bahwa sumber kemurungan Raja Sentanu adalah Satyawati, gadis cantik putrid seorang nelayan di tepi sungan Yamuna. Sang raja jatuh cinta dan berhasrat menjadikannya permaisuri tetapi sangat terpukul dengan persyaratan yang diajukan ayah Satyawati. Didorong oleh rasa hormat dan kasih sayangnya pada sang ayah, menuntun Dewabharata menjumpai ayah Satyawati. Dewabharata berjanji tidak akan menjadi raja Hastina dan akan memberikan kepada putra yang dilahirkan Satyawati.
Pepeson/plot:
- Pertemuan Dewabharata dengan kusir kerajaan
- Pertemuan Dewabharata dengan Satyawati dan ayah Satyawati
- Sumpah Dewabharata untuk tidak jadi raja Hastina
Babak IV
Dikisahkan raksasa Gorawisesa sangat murka akan rencana pernikahan Raja Sentanu dengan Satyawati. Raksasa yang telah lama tergila-gila dengan kecantikan Satyawati itu bertekad merampasnya dari Dewabharata yang sedang dalam perjalanan menuju Hastina. Penghadangan dari raksasa Gorawisesa dihadapi oleh Dewabharata dengan sigap. Gorawisesa dapat ditaklukkan. Dewabharata kemudian menghaturkan Satyawati kepada ayahnya. Perkawinan agung Sentanu dengan Satyawati dipersiapkan besar-besaran. Atas permintaan ayah Satyawati Dewabharata bersumpah akan hidup membujang selama hayatya. Maharaja Sentanu sangat terharu dengan ketulusan, jiwa besar, pengorbanan putra kebanggaannya, Bhisma Dewabharata.
Pepeson/plot:
- Raksasa Gorawisesa murka akan diboyongnya Satyawati ke Hastina
- Raksasa Gorawisesa merampas Satyawati dari tangan Dewabharata
- Dewabharata menumpas kejahatan Gorawisesa
- Dewabharata menghaturkan Dewi Satyawati kepada Raja Sentanu
- Persiapan perkawinan agung Maharaja Sentanu dengan Satyawati
- Ayah Satyawati mengajukan syarat agar keturunan Dewabharata tak jadi raja
- Dewabharata bersumpah tidak kawin diiringi suara gaib: bhisma, bhisma, bhisma