M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Bhisma Dewabharata, Ksatria Unggul Berbudi Luhur

Bhisma Dewabharata, Ksatria Unggul Berbudi Luhur

Kiriman: Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011 ini, mengangkat tema “Desa, Kala, Patra: Adaptasi Diri dalam Multikultur“. Desa, kala, patra adalah kearifan lokal masyarakat Bali yang menjunjung realitas keragaman budaya yang luwes yaitu senantiasa menyesuaikan diri terhadap tempat, waktu, dan situasi yang sedang berkembang. Berdasarkan bingkai tema tersebut, seluruh aktivitas dan kreativitas seni yang digelar dalam PKB 2011 wajib mengacu pada nilai-nilai multikulturalisme dimaksud. Sendratari “Bhisma Dewabharata“ garapan ISI Denpasar yang disuguhkan pada pembukaan PKB tanggal 10 Juni juga berorientasi kreatif dari tema itu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Gubernur Bali Mangku  Pastika, undangan kehormatan dan para penonton yang memadati panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, menyimak dengan tekun sendratari yang berdurasi hampir satu jam itu.

Lakon “Bhisma Dewabharata“ diangkat dari epos Mahabharata episode Adi Parwa. Secara etimologis, bhisma berarti sumpah suci, dewa adalah manifestasi Tuhan, dan bharata adalah kebenaran. Sebagai sebuah judul, “Bhisma Dewabharata“ bermakna “seorang kesatria keturunan  dewa,  tulus ikhlas mewujudkan  sumpah sucinya yang diabdikan untuk menegakkan kebenaran“. Dewabharata adalah putra raja Sentanu dari negeri Hastina. Nama Dewabharata diberikan oleh wanita yang melahirkannya, Dewi Gangga, penjelmaan bidadari. Dewabharata kemudian masyur sebagai Bhisma setelah mengucapkan ikrar sakral maha berat.

Alkisah, Dewabharata, seorang ksatria yaang cerdas dan gagah berani. Sebagai putra mahkota, ia diharapkan menjadi pemimpin agung Hastinapura. Suatu hari, ayahnya, Raja Sentanu jatuh cinta dengan seorang gadis jelita yang bernama Satyawati, anak seorang nelayan sungai Yamuna. Raja Sentanu ingin menjadikannya permaisuri. Tetapi karena syarat yang diajukan Satyawati terlalu berat menyebabkan sang raja sakit. Demi rasa kasih pada ayah tercinta, Dewabharata memboyong Satyawati ke istana, dihaturkan kepada rajanya. Kendati bersuka cita, Raja Sentanu  merasa gamang mengingat akan syarat yang pernah diajukan Dewi Satyawati. Benar saja, menjelang pernikhan agung akan digelar, Dasabala, ayah Satyawati, menuntut agar anak yang dilahirkan Satyawati harus menjadi raja pengganti Raja Sentanu, dan keturunan Dewabharta tidak menuntut haknya untuk menjadi raja Hastina. Tuntutan yang menggugat singgasana dan hak Dewabharata menggemparkan seluruh negeri Hastina. Akan tetapi dengan mantap dan meyakinkan Dewabharata mengumandangkan sumpah suci “tidak akan menjadi raja dan tidak akan kawin seumur hidupnya“ yang disambut koor haru para dewata: bhisma, bhisma, bhisma.

Babak pertama diawali dengan prolog yang merupakan visualisasi jati diri Dewabharata yang lahir dari buah cinta antara Maharaja Sentanu dengan wanita penjelmaan bidadari, Dewi Gangga. Adegan selanjutnya dilukiskan bagaimana Dewabharata yang tampan dan perkasa diharapkan menjadi pemimpin agung yang akan menurunkan sumber insani masa depan bangsa Bharata. Setelah dinobatkan menjadi yowanaraja, Dewabharata memperoleh mandat menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai raja muda, sedangkan ayahnya, Sentanu, bertindak selaku pendamping dan penasihat.

Suatu ketika, Dewabharata begitu masgul dengan keberadaan ayahnya yang senantiasa bermuram durja. Melalui kusir kerajaan, Dewabharata mengetahui bahwa sumber kemurungan Raja Sentanu adalah Satyawati, gadis cantik putri seorang nelayan di tepi sungai Yamuna. Dikisahkan si kusir kereta, perjumpaan  Sentanu dengan gadis molek beraroma harum semerbak itu, membuat sang raja jatuh cinta dan berhasrat menjadikannya permaisuri tetapi sangat terpukul dengan persyaratan yang diajukan oleh Dewi Satyawati. Persyaratan yang mahaberat itu adalah: anak yang dilahirkan Satyawati harus menjadi raja pengganti Maharaja Sentanu.

Didorong oleh rasa hormat dan kasih sayangnya pada sang ayah, menuntun Dewabharata menjumpai Dasabala, ayah Satyawati. Dewabharata berjanji tidak akan menjadi raja Hastina dan akan memberikan kepada putra yang dilahirkan Satyawati. Dewabharata memboyong Satyawati ke istana dan menghaturkan kepada ayahnya. Setibanya di istana, sebuah persyaratan diajukan lagi oleh Dasabala: agar kelak keturunan Dewabharta tidak menuntut haknya untuk menjadi raja Hastina. Demi kebahagian sang ayah, Dewabharata bersumpah akan hidup membujang selama hayatnya. Ikrar Dewabharata disambut hujan bunga dari angkasa dan gaung suara bhisma…..bhisma…..bhisma! (Bhisma berarti kesatria sejati yang menepati sumpah suci). Maharaja Sentanu sangat terharu dengan ketulusan, jiwa besar, pengorbanan putra kebanggaannya, Bhisma Dewabharata.

Pesan yang terlontar dari sendratari kolosal ISI Denpasar ini yakni   tentang dedikasi dan pengorbanan tulus suci seorang putra bangsa terhadap negaranya. Pesan ini terasa kontekstual dengan tema PKB 2011 bahwasannya putra bangsa yang berkarakter dan berbudi luhur adalah sumber insani unggul yang mampu beradaptasi dengan tantangan kehidupan (desa), perubahan zaman (kala), dinamika budaya (patra) di tengah era globalisasi ini. Putra bangsa seperti Dewabharata yang cerdas, gagah berani, santun dan berakhlak patut dijadikan teladan oleh segenap masyarakat bhineka tunggal ika (multikultural) Indonesia menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermartabat dan berkeadaban, sejahtera, harmonis, humanis dan damai.

Bhisma Dewabharata, Ksatria Unggul Berbudi Luhur, Selengkapnya

Lomba Desain Motif Batik Mahasiswa

Lomba Desain Motif Batik Mahasiswa

Latar Belakang

Batik merupakan salah satu hasil karya bangsa Indonesia yang sampai saat ini banyak dikagumi oleh berbagai bangsa. Batik merupakan produk budaya Indonesia yang sangat unik dan merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan dan dibudidayakan. Salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan lebih mengenalkan batik kepada generasi muda yang menjadi sasaran dalam kegiatan lomba desain motif batik.  Sasaran lebih difokuskan kepada akademisi, yang mempunyai peluang menuangkan ide-ide kreatifnya sehingga dapat memperkaya nuansa batik daerah menjadi suatu karya yang lebih mudah diterima oleh kawula muda.

Tujuan

  • Menggali ide kreatif dari mahasiswa dalam merancang motif batik.
  • Meningkatkan kecintaan dan kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian budaya batik.
  • Meningkatkan promosi batik khususnya batik bernuasa kearifan lokal yang semakin luas dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Tema

“BATIK NUSANTARA WARISAN BUDAYA INDONESIA UNTUK DUNIA ”

Kategori Lomba

Mahasiswa Indonesia yang masih aktif terdaftar di Perguruan Tingginya.

Syarat Umum :

  • Desain motif batik adalah batik tulis  dan harus menggunakan malam/lilin.
  • Hasil karya harus orisinil, dibuat sendiri oleh mahasiswa, bukan tiruan dari desain batik lain dan belum pernah diikut sertakan dalam lomba/dipublikasikan.
  • Peserta atas nama perorangan.
  • Desain nominator (10 besar) menjadi hak milik panitia dan akan dipergunakan untuk berbagai kepentingan.
  • Mengisi formulir pendaftaran keikutsertaan (formulir dapat di download di : dikti.kemdiknas.go.id atau www.indonesia.worldbatiksummit.com).
  • Formulir dikirim paling lambat tanggal 1 Agustus 2011, melalui alamat email : [email protected].

Ketentuan Lomba

  • Desain motif batik mengambarkan budaya Nusantara berciri khas Batik
  • Desain motif batik harus  dikerjakan diatas kain  katun ukuran 0,5 x 0.7 meter (ukuran kalender dinding)
  • Desain tersebut diberi penjelasan peruntukannya  untuk karya busana atau desain interior.
  • Desain diberi deskripsi singkat yang mencakup  judul karya, sumber ide dan alasannya,  bahan pewarna dan proses pembuatannya,  yang dinarasikan di atas kertas HVS (A4) menggunakan huruf Times New Roman 12pt spasi 1.5, maksimal 4 halaman.
  • Karya desain, deskripsi dan bio data peserta dimasukkan didalam amplop tertutup dan dikirimkan  atau diserahkan secara langsung ke Sekretariat panitia.
  • Satu peserta maksimal dapat mengirimkan 2 (dua) desain
  • Karya sudah diterima panitia selambat-lambatnya 15 September 2011 (cap pos)
  • Karya desain yang masuk akan dinilai oleh tim juri dan diambil  10 (sepuluh) nominator terbaik,  dan karya menjadi hak panitia lomba.
  • Dewan Juri bekerja secara profesional dan keputusan Dewan Juri TIDAK dapat diganggu gugat
  • Hasil desain terbaik akan diajukan untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual

Kriteria Penilaian

  1. Motif  (keunikan, artistik) (20%).
  2. Komposisi warna (20%).
  3. Kreatifitas (proses pembuatan, pewarnaan) (30%).
  4. Keharmonisan antara judul, sumber ide, dan motif (30%).

Pemenang

  • Nominasi Pemenang (10 orang) akan diundang untuk menghadiri “World Batik Summit 2011” tanggal 28 s.d 30 September 2011 di JHCC Jakarta.
  • Karya Nominator akan dipamerkan pada acara “World Batik Summit 2011” untuk dipilih tiga terbaik oleh peserta seminar.
  • Pengumuman Pemenang dilaksanakan pada Malam Budaya tanggal 29 September 2011.

Hadiah

Pemenang akan memperoleh sertifikat dan dana pembinaan sebesar:

v  Juara 1 Rp. 10.000.000

v  Juara 2 Rp. 7.500.000

v  Juara 3 Rp. 5.000.000

v  Juara Harapan : Rp. 3.000.000 (7 orang)

Sekretariat  Panitia

Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi :

Gedung D Lt 7 Kompleks Kemdiknas

Jl . Jenderal Sudirman Pintu 1 Senayan Jakarta

Telepon: (021) 57946073

Fax: (021) 57946072

email: [email protected]

Contact Person:

Maslina Sembiring: 08179932981

Reny Herawati : 0811190863

Sumber: dikti.go.id

Mengenang Kejayaan Taman Ujung Karangasem Yang Menyimpan Kenangan Seni

Mengenang Kejayaan Taman Ujung Karangasem Yang Menyimpan Kenangan Seni

Kiriman: A.A.Ayu Kusuma Arini, SST.,MSi., Dosen PS. Seni Tari ISI Denpasar

Identitas dan jatidiri arsitektur merupakan instrumen yang sangat penting sebagai daya tarik wisatawan. Sejak dahulu kebudayaan Nusantara telah bersinggungan dengan budaya luar, namun pengaruh budaya luar tersebut selalu dapat diterima untuk mewarnai tradisi lokal, bahkan kehadirannya semakin memantapkan dominasi dan keunggulan kebudayaan lokal itu sendiri. Demikianlah yang terlihat pada sebuah taman, terletak di ujung Timur pulau Bali dengan panorama yang indah, dibangun tahun 1919 oleh raja Karangasem terakhir Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem yang semula bernama A.A.Bagus Djelantik..

Taman-taman yang menarik di Karangasem sebagian besar adalah hasil karya dari raja-raja Karangasem. Dua taman air nan luas masih marak dikunjungi pelancong dan wisatawan. Konsep istana taman kiranya menurun dari para leluhur raja-raja terdahulu yang pernah memerintah Lombok setelah mengalahkan kerajaan Selaparang dan Pejanggik tahun 1692. Hal ini dapat dilihat pada taman-taman yang ada di Pulau Lombok, seperti Taman Mayura, Narmada dan Suranadi, setelah terjadi migrasi dari Puri Karangasem sejak tahun 1722 sampai terbentuk kerajaan Cakranegara dan Mataram. Konon taman-taman itu dibangun tidak berdasarkan konsep gambar, tetapi berdasarkan Asta Kosala Kosali. Demikian pula kepekaan dalam memilih lokasi, baik ditinjau dari segi strategis maupun estetis, benar-benar memberikan daya tarik yang luar biasa..

Di Karangasem pernah dibangun Taman Sata Srengga yang terletak di desa Padang Kerta, dalam bentuk sebuah kolam besar yang dikitari pohon manggis dan leci, ditengah-tengahnya didirikan bangunan pemujaan. Sayang sekali peninggalan taman tersebut tertimbun lahar Gunung Agung lewat sungai di sebelah Timur-nya. Kini setelah tertimbun 40 tahun lebih, dicoba untuk digali dan dibangun kembali oleh pewarisnya. Demikian pula di tengah-tengah kota Amlapura terdapat Taman Sekuta yang berlokasi di Banjar Rata (masuk ke arah Barat) dan kini sudah berubah menjadi persawahan. Situs taman masih tampak berupa sisa-sisa reruntuhan tembok. Sampai kini sumber airnya masih dimanfaatkan oleh keluarga Puri sebagai Toya Ening untuk upacara Pitra Yadnya.

Taman Soekasada Ujung yang telah dipugar dengan bantuan Bank Dunia, sudah sangat dikenal oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara sebelum hancur diguncang gempa beberapa kali. Lokasi taman benar-benar amat strategis. Nun jauh di seberang Selat Lombok sayup-sayup nampak Gunung Rinjani. Apabila pandangan diarahkan ke sebelah Timur Laut, tampak berdiri tegak Gunung Seraya yang kembar, dan bila menoleh ke Barat Laut akan terlihat kekokohan tiga buah patung besar dari semen dengan lokasi bertingkat, yakni patung badak, singa bersayap dan sapi, yang memuntahkan air. Konon patung-patung tersebut sebagai peringatan Karya Maligia keluarga Puri Karangasem pada tahun 1937. Sisa bangunan paling atas yang dekat dengan jalan raya dari arah Amlapura menuju taman, sengaja tidak direnovasi, dibiarkan sebagai monumen untuk mengenang saat kejayaannya dahulu, mirip dengan monumen kantor Walikota Hiroshima – Jepang yang hancur karena bom atom Amerika Serikat.

Taman yang juga dikenal dengan sebutan “istana air” itu, bangunan pokoknya adalah  Bale Kambang, yang bercorak arsitektur campuran tradisional Bali dengan Belanda. Pengaruh Belanda ini kentara dari bangunan jembatan yang sudah berteknologi Barat, pada puncak-puncak tiangnya meniru “mahkota” Ratu Wilhelmina, raja Belanda saat itu. Di samping itu, pada tembok-tembok bangunannya terdapat panel hias yang memakai motif singa bersayap dengan crown di kepalanya, seperti simbol kerajaan Belanda. Bentuk ornamen lainnya dari cetakan semen untuk dinding dan pot-pot bunga, merupakan kreasi dari pendiri taman tersebut yang bermotif bunga dan wayang dengan senjata-senjatanya. Wujud tersebut dapat dikatakan sebagai pelopor ukiran cetak semen di Bali, yang kini banyak dijumpai di desa Kapal. Setelah direnovasi dengan bantuan Bank Dunia, tampak Bale Kambang cantik di kolam Selatan dan sebuah jembatan beton dengan dinding panel singa bermahkota, sebagai penghubung areal parkir Timur menuju taman. Demikian pula areal taman yang luasnya hampir 10 ha ini sudah dipagari tembok artistik hingga dekat dengan Pura Manikan. Di ujung Utara taman ini telah berdiri pula sebuah Bale Lantang, yang dahulu dipakai tempat Ma-Tirta Yatra bagi keluarga raja.

Kenangan seni film “Panji Semirang”.

Keindahan Taman Soekasada Ujung sebagai perpaduan yang harmonis antara panorama alam dan corak arsitektur yang unik, ternyata menyimpan kenangan seni cinematografi yakni inspirasi lokasi shooting film kolosal “Panji Semirang” yang dilakukan PFN tahun 1955. Tergugah oleh pemugaran taman yang bersejarah ini, menggelitik hasrat untuk membuka kembali album lama yang disusun oleh ayah penulis (salah seorang putra beliau). Penulis bersama keluarga turut menyaksikan pembuatan film kolosal tersebut, yang merupakan awal dari film kolosal yang belakangan ini baru marak, baik dalam layar lebar maupun sinetron, seperti Saur Sepuh dan lainnya.

Ceritra Panji merupakan kisah yang sangat populer di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali sebagai Culture Hero, hasil cipta asli budaya Nusantara dengan tokoh sentral Raden Panji Inu Kertapati merupakan tokoh yang memiliki karakter yang anggun, arif dan patriotik. Sebagai tokoh protogonis dalam ceritra ini, Panji selalu digambarkan dalam keadaan mengembara untuk menemukan kekasihnya yang menghilang dari istananya, serta mendapat berbagai rintangan. Memperhatikan foto-foto tersebut, terlihat bahwa tokoh Panji dan Candra Kirana diperankan oleh aktor Dedi Sutomo dan aktris Sofia Waldi, sedangkan raja diperankan oleh Wim Umboh. Yang menarik adalah beberapa pengiring dayang-dayang disertakan para Deha dari Tenganan /Asak. Adapun inti ceritranya mengisahkan pelamaran Panji (Mantri Kuripan) kepada Candra Kirana (Galuh Deha) yang mempunyai saudara tiri Galuh Ajeng (Liku) dengan mengirim dua buah togog emas dan perak. Panji sudah mengadakan perjanjian rahasia dengan Candra Kirana bahwa togog emas dibungkus dengan kain kumal, sedangkan togog perak dibungkus dengan kain sutra. Maka serta merta si Galuh Ajeng memilih bungkusan kain sutra dan setelah dibuka ternyata isinya togog perak. Salah pilih itu memicu pertengkaran dan perebutan togog emas antara kedua putri raja. Akhirnya sang ayah sangat marah, seraya memotong rambut Candra Kirana dan mengusirnya dari istana.

Patut diketahui, bahwa kesuksesan film Panji Semirang mendorong gagasan sutradara lainnya dari Jakarta setahun kemudian untuk mengabadikan ceritra rakyat Bali “Jayaprana” dalam layar lebar, dengan lokasi shooting di Puri Gede Karangasem.

Kini keadaan Taman Ujung yang telah kembali bangun dari tidur lelapnya setelah seperempat abad dalam kondisi terlantar, telah marak dikunjungi wisatawan, baik domestic maupun mancanegara. Pada bangunan utama dipajang foto-foto pendiri taman dan juga foto taman sebelum rusak, sehingga bisa diketahui oleh para wisatawan. Bali sebagai ujung tombak pariwisata Indonesia yang telah dikenal dengan adat budaya yang unik dan bangunan-bangunan taman nan indah, akan tetap menjadi tujuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Mengenang Kejayaan Taman Ujung Karangasem Yang Menyimpan Kenangan Seni, Selengkapnya

Interpretasi Dalam Dunia Seni Pertunjukan

Interpretasi Dalam Dunia Seni Pertunjukan

Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha, S.Sn., Alumni ISI Denpasar

Interpretasi adalah seni yang menggambarkan komunikasi secara tidak langsung, namun dapat dipahami. Interpretasi berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subjek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat dalam kehidupan, sejarah, dan objektivitas (Kaelan 1998 :224). Dengan kata lain, interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan keseluruhan atas campuran bermacam-macam hal yang telah diketahui sebelumnya dan koreksi terhadap apa saja yang kemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi. Jelas, interpretasi adalah salah satu hal yang tersaji dalam proses komunikasi yang terjadi antara pelaku dengan penikmat. Pada kasus ini, interpretasi bisa berdiri di mana saja, tergantung sudut pandang kita dalam memahaminya.

Dari segi penikmat seni, interpretasi timbul dari hasil pengamatannya terhadap apa yang tertampil dalam karya seni. Seorang interpreter, harus menanggalkan keinginannya untuk mendukung atau menolak pesan yang berusaha dikomunikasikan oleh penampil, karena akan mempengaruhi sisi subjektivitas interpretasi yang dihasilkan. Interpretasi yang baik adalah interpretasi yang berhasil meminimalisasikan sifat subjektivitas dirinya, sehingga apa yang tertuang dari hasil interpretasinya menjadi objektif, sesuai apa yang diamati dan tidak diliputi susupan-susupan tertentu. Jadi, interpretasi dari sisi penikmat merupakan kelanjutan dari lontaran ekspresi simbol-simbol teks yang tersaji pada indera. Pada sisi ini, interpretasi akan menghasilkan sebuah kritik, esai atau masukan (evaluasi) dari penikmat kepada seniman.

Kita bersama tahu bahwa karya seni, tidak hanya seni tari, merupakan sesuatu yang bersifat ekspresif dan penuh makna. Makna-makna tersebut berusaha dikomunikasikan melalui berbagai media (dalam hal ini tari, dengan media ungkap utama gerak), dengan menempatkan simbol-simbol tertentu yang bersifat estetis. Dalam tari, yang tertuang tidak hanya sekedar kekuatan otot semata, namun lebih dari itu, ada sebuah kekuatan misteri yang diperuntukkan bagi persepsi penikmat sehingga mereka dibuat berpikir dan menggunakan nalar untuk mengungkap kekuatan misteri itu. Artinya, sebagai timbal balik dari ekspresi yang tertampil, dituntut adanya interpretasi atau penalaran untuk menghidupkan komunikasi antara seniman dan penikmat ataupun kritikus.

Karya seni yang ditangani dengan kesungguhan pastilah mengandung interpretasi si seniman terhadap kehidupan atau terhadap segi tertentu kehidupan, setidaknya terhadap tema yang ditampilkannya dalam karya yang bersangkutan. Di sini ditunjukkan bahwa, interpretasi juga terlibat dalam proses penciptaan karya seni. Tari adalah bentuk yang dapat dimengerti yang mengungkapkan perasaan insan di mana kekayaan kehidupan batiniah termasuk di dalamnya. Kehidupan batiniah adalah gambaran cerita dan riwayat hidup diri pribadi orang yang bersangkutan. Singkatnya, pengalaman batiniah yang dialami oleh seorang seniman, yang ketika diterjemahkan ke dalam kesenian, ia menjadi sebuah pengalaman estetis. Namun, lebih jauh lagi, tari bukanlah gejala perasaan penarinya, namun sebuah ekspresi dari pengetahuan penyusunnya tentang berbagai perasaan. Disini kita tidak dituntut untuk mengalami segala cobaan atau pengalaman inderawi sebelum menterjemahkannya ke dalam bentuk tari.

Sebagai ilustrasi, lukisan fenomenal seniman Leonardo da Vinci yang bertajuk “Monalisa”, merupakan suatu mahakarya seni yang hingga kini masih mengundang misteri yang terkandung dalam senyuman dan juga sosok gadis yang dilukisnya. Senyum Monalisa yang demikian indah membuka ruang interpretasi yang sangat luas bagi para penikmatnya. Ada yang menangkap senyuman itu mengandung unsur kesedihan, kepasrahan dan juga kegembiraan. Begitu luas, sehingga kadang kala benturan pendapat atau sudut pandang menjadi tak terelakkan. Inilah indahnya interpretasi penikmat dalam menghayati seni. Dari satu objek dapat menimbulkan berbagai sudut pandang yang memungkinkan terjadinya diskusi ilmiah yang terarah.

Contoh di atas merupakan sudut pandang lain dari interpretasi. Hal tersebut pula menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan karya seni, interpretasi sang seniman akan fenomena di sekitarnya mutlak diperlukan. Sebab, kreativitas yang menjadi pokok utama dalam karya seni timbul dari pencarian seniman akan kemungkinan-kemungkinan baru yang ada meskipun dalam objek yang sama. Pada sisi ini, interpretasi timbul berdasarkan intuisi dan akan melahirkan sebuah ekspresi serta simbol-simbol tertentu yang disajikan melalui medianya masing-masing, dalam hal ini tari di atas panggung.

Interpretasi Dalam Dunia Seni Pertunjukan, Selengkapnya

Adi Merdangga, Inspirator Gengsi Balaganjur

Adi Merdangga, Inspirator Gengsi Balaganjur

Kiriman: Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Ketika Adi Merdangga berderap, itu artinya perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali (PKB) dimulai. Degub drumband tradisional ini menjadi penanda pesta seni tahunan kebanggaan masyarakat Bali. Musik prosesi yang didominasi oleh puluhan instrumen kendang ini lahir dari kandungan PKB pada tahun 1984. Sejak lahir dan hingga PKB ke-33 tahun 2011 ini, Adi Merdangga yang digarap dan disuguhkan ASTI (kini ISI Denpasar), menjadi ujung tombak pawai PKB. Dibawakan oleh ratusan penabuh dan penari, Adi Merdangga membuncah dengan nuansa modern namun sangat kental dengan identitas seni tradisi lokal Bali. Penampilannya sepanjang rute pawai selalu dielu-elukan penonton seperti terlihat pada pawai PKB, Sabtu (11/6) lalu.

Nama Adi Merdangga diambil dari bahasa sansekerta yaitu adi berarti utama dan merdangga adalah kendang, Jadi Adi Merdangga berarti sebuah ansambel yang didominasi oleh instrumen membranophone (alat musik yang sumber bunyinya dari kulit yang dicencang), terdiri dari beberapa jenis kendang Bali berukuran besar, sedang, dan kecil. Ketika menguak pertama kali pada PKB tahun 1984, Adi Merdangga tampil murni sebagai sajian musik. Tetapi dalam perjalanannya kemudian, komposisi musiknya dipadukan dengan pragmen tari. Sepuluh tahun terakhir, olahan musiknya disertai dengan penampilan figur Siwanataraja, lambang PKB. Dalam pawai PKB Sabtu siang lalu, Adi Merdangga berkisah tentang keperkasaan dan kepahlawan Burung Garuda.

Adalah pencetus PKB, Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra yang menstimulasi kelahiran Adi Merdangga. Ketika PKB menginjak usia ke-5 pada tahun 1983, Mantra berangan-angan adanya musik prosesi besar yang berkarakter kesenian Bali. Lontaran orang nomor satu Bali itu direspon kreatif para seniman ASTI Denpasar. Berangkat dari musik ritual Balaganjur, dalam tempo tak begitu lama terwujudlah ekspresi artistik musik baru. Konsep musikalnya dikembangkan dari Balaganjur dengan  melipatgandakan instrumen kendang dan cengceng. Disertai semangat berkesenian, Adi Merdangga hadir kreatif, baik dari tata musikalnya maupun tampilan inovatif dari atraksi bermain musiknya nan apik.

Dalam perkembangannya, Adi Merdangga kemudian menggebrak tampil   sebagai   marchingband yang   dalam penampilannya dilengkapi dengan  penari  dan  peraga   properti seperti tombak, payung, kipas, dan umbul-umbul. Ketika  meragakan demontrasi penampilan atau display di depan tamu-tamu  kehormatan dengan  koreografi  yang dibingkai oleh komposisi  musik,  sering memanen aplaus penonton, terutama ketika para penari membentuk  sebuah figurasi  tari dan para penabuh bermain musik sembari  melakukan gerak-gerik atraktif, meragakan aksen-aksen tari.

Pamor Adi Merdangga membumbung.  Pada tahun 1987, tak kurang dari 300 orang mahasiswa ASTI/STSI Denpasar pernah diundang  menyuguhkan Adi Merdangga di  Istora Bung Karno Senayan, Jakarta pada pembukaan Sea Games ke-14. Pada tahun 1995, saat perayaan emas kemerdekaan RI, kembali pasukan drumband tradisional perguruan tinggi seni di Bali ini didaulat datang ke Jakarta menyuguhkan kebolehannya saat upacara penurunan bendera pusaka di Istana Merdeka. Kini di ISI Denpasar sendiri,  Adi Merdangga terus  dipoles. Setiap tampil menjadi pengawal pawai PKB, insan-insan seni perguruan tinggi seni tersebut selalu berusaha menampilkan nuansa baru.

Inovasi musik dan tata kreativitas Adi Merdangga yang selalu ditampilkan pada  pawai PKB, mengusik dan menyadarkan  Balaganjur akan potensi dirinya. Menjamurlah  kemudian  gelar Balaganjur  di desa-desa, sekolah-sekolah  hingga  kampus-kampus.  Penyelenggaraan Porseni  (Pekan Olah Raga dan  Seni)  di  Bali biasanya selalu menyertakan lomba Balaganjur sebagai sebuah mata acara yang sangat diminati. Yang menarik, kehadiran Adi Merdangga mendongkrak gengsi gamelan Balaganjur di kalangan generasi  muda Bali. Musik tradisi yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap ritual adat dan keagamaan itu serta merta  menggeliat bergairah.  Inovasi olah musik yang ditawarkan dalam Adi Merdangga dikembangkan  dan dijadikan model orientasi kreativitas musik Balaganjur. Rekaman komersial, CD dan VCD Balaganjur, banyak diminati  masyarakat Bali.

Perkembangannya belakangan, kini Balaganjur  menggeliat dan menggebrak menjadi seni pertunjukan yang layak disimak. Karena itu, sejak empat tahun terakhir ini, PKB memberikan ruang khusus pada seni pentas ini. Dalam PKB ke-33 ini ditampilkan sembilan grup Balaganjur persembahan kabupaten/kota se-Bali. Sajian seni yang disebut Parade Balaganjur Pragmentari tersebut dapat disimak penonton di panggung terbuka Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Senin (20/6) besok malam akan unjuk kebolehan duta Kabupaten Gianyar, Karangasem, dan Badung.

Lahir dari rahim PKB, Adi Merdangga menjadi inspirator pembaharuan signifikan kebangkitan Balaganjur. Dibawah pangkuan masyarakat Bali yang kasih akan nilai seni, Balaganjur kini menjadi kesayangan segenap lapisan masyarakat, khususnya menjadi kebanggaan insan-insan muda Bali, sumber insani penyangga kejayaan seni budaya bangsa. Bukahkah penjelajahan jati diri di era globalisasi ini, sari patinya ada dalam asuhan nilai-nilai lokal? Kemesraan generasi muda Bali dengan seni pertunjukan Balaganjur-nya patut disyukuri dan dijadikan wahana pembentukan karakter.

Adi Merdangga, Inspirator Gengsi Balaganjur selengkapnya

Loading...