M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Norma

Norma

Kiriman: Lintang Arzia Nur Rachim, Siswa SMAN 1 Kuta Utara

Norma dalam sosiologi adalah seluruh kaidah dan peraturan yang diterapkan melaluilingkungan sosialnya. Sanksi yang diterapkan oleh norma ini membedakan norma denganproduk sosial lainnya seperti budaya dan adat. Ada/ tidaknya norma diperkirakanmempunyai dampak dan pengaruh atas bagaimana seseorang berperilaku.

Dalam kehidupannya, manusia sebagai mahluk sosial memiliki ketergantungan denganmanusia lainnya. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok, baik kelompok komunalmaupun kelompok materiil.

Kebutuhan yang berbeda-beda, secara individu/kelompok menyebabkan benturankepentingan. Untuk menghindari hal ini maka kelompok masyarakat membuat normasebagai pedoman perilaku dalam menjaga keseimbangan kepentingan dalam bermasyarakat.

 Yang membedakan nilai dan norma adalah nilai merupakan sesuatu yang baik, diinginkan, dicita-citakan dan dipentingkan oleh masyarakat . Sedangkan norma adalah kaidah atau pedoman, aturan berperilaku untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita tersebut, atau boleh dikatakan nilai adalah pola yang diinginkan sedangkan norma adalah pedomana atau cara-cara untuk mencapai nilai tersebut.

 Menurut kekuatan yang mengikatnya, norma dibedakan menjadi empat yaitu

  1. Cara (usage) ; cara ini menunjuk pada bentuk perbuatan . cara ini  lebih tamapak menonjol dalam hubungan antar individudalam masyrakat. Pelanggaran atau penyimpangan terhadap usage tidak menimbulkan sanksi hukum yang berat tapi hanya sekedar celaan, cemohoon, sindiran, ejekan dsb.
  2. Kebiasaan (folkways) yaitu perbuatan yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama  dan merupakan bukti bahwa orang banyak menyukai perbuatan tersebut.
  3. Tata kelakuan (mors) yaitu  kebiasaan yang diterima sebagai norma pengatur, atau pengawas secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya.
  4. adapt-istiadat (custum)  yaitu tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat. Anggota masyarakat yang melanggaradat-istiadat akan mendapat sanksi keras yang terkadang secara tidak langsung diperlukan.

Fungsi norma social dalam masyarakat.

Fungsi norma social dalam masyarakat secara umum sebagai berikut :

  1. Norma merupakan factor perilaku dalam kelompok tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakan akan dinilai orang lain.
  2. Norma merupakan aturan , pedoman, atau petunjuak hidup dengan sanksi-sanksi untuk mendorong seseorang, kelompok , dan masyarakat mencapai dan mewujudkan nilai-nilai social.
  3. Norma-norma merupaakan aturan-aturan yang tumbuh dan dan hidup dalam masyarakat sebagai unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup masyarakat.

3. Ciri-Ciri Nilai Sosial

Apa sajakah ciri-ciri nilai sosial itu? Sekarang kita akan mengidentifikasi beberapa ciri nilai sosial, di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi sosial antarwarga masyarakat. Artinya nilai sosial merupakan sebuah bangunan kukuh yang berisi kumpulan aspek moral dan mentalitas yang baik yang tercipta dalam sebuah masyarakat melalui interaksi yang dikembangkan oleh anggota kelompok tersebut.

b. Ditransformasikan dan bukan dibawa dari lahir. Artinya tidak ada seorangpun yang sejak lahir telah dibekali oleh nilai sosial. Mereka akan mendapatkannya setelah berada di dunia dan memasuki kehidupan nyata. Hal ini karena nilai sosial diteruskan dari satu orang atau kelompok kepada orang atau kelompok lain melalui proses sosial, seperti kontak sosial, komunikasi, interaksi, sosialisasi, difusi, dan lain-lain.

c. Terbentuk melalui proses belajar. Nilai sosial diperoleh individu atau kelompok melalui proses pembelajaran secara bertahap, dimulai dari lingkungan keluarga. Proses ini disebut dengan sosialisasi, di mana seseorang akan mendapatkan gambaran tentang nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

d. Nilai memuaskan manusia dan dapat membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosialnya. Artinya dengan nilai manusia mampu menentukan tingkat kebutuhan dan tingkat pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kesesuaian antara kemampuan dan tingkat kebutuhan ini akan mengakibatkan kepuasan bagi diri manusia.

e. Sistem nilai sosial bentuknya beragam dan berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Mengingat kebudayaan lahir dari perilaku kolektif yang dikembangkan dalam sebuah kelompok masyarakat, maka secara otomatis sistem nilai sosial yang terbentuk juga berbeda, sehingga terciptalah sistem nilai yang bervariasi.

f. Masing-masing nilai mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap setiap orang dalam masyarakat. Artinya tingkat penerimaan nilai antarmanusia dalam sebuah kelompok atau masyarakat tidak sama, sehingga menimbulkan pandangan yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.

g. Nilai-nilai sosial memengaruhi perkembangan pribadi seseorang, baik positif maupun negatif. Adanya pengaruh yang berbeda akan membentuk kepribadian individu yang berbeda pula. Nilai yang baik akan membentuk pribadipribadi yang baik, begitupun yang sebaliknya. Contohnya orang yang hidup dalam lingkungan yang lebih mengutamakan kepentingan individu daripada kepentingan kelompok mempunyai kecenderungan membentuk pribadi masyarakat yang egois dan ingin menang sendiri.

h. Asumsi-asumsi dari bermacam-macam objek dalam masyarakat. Asumsi adalah pandangan-pandangan orang mengenai suatu hal yang bersifat sementara karena belum dapat diuji kebenarannya. Biasanya asumsi-asumsi ini bersifat umum serta melihat objek-objek faktual yang ada dalam masyarakat.

Norma selengkapnya

Sesaji Dan Tempat Pementasan Tari Legong Sambeh Bintang

Sesaji Dan Tempat Pementasan Tari Legong Sambeh Bintang

Kiriman Ni Wayan Ekaliani, Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar

           Sesaji merupakan bentuk/sarana persembahan yang dihaturkan masyarakat setempat  kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Desa Bangle tampak selalu menghaturkan sesaji terlebih dahulu jika akan mementaskan tari Legong Sambeh Bintang ini di pura. Sesaji yang dihaturkan  tersebut antara lain :  pejati dan perani.

Di bawah ini adalah banten pejati yang dihaturkan masyarakat ketika mementaskan tari Legong Sambeh Bintang.

Banten Pejati tersebut terdiri dari : peras, kelanan, daksina, penyeg-jeg, sayut nasi, bayuan, pesucian, teenan, segehan. Banten ini dihaturkan setelah para penari selesai menari, sebagai persembahan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena pementasan yang dilakukan telah berjalan lancar.

Selain menghaturkan pejati, masyarakat setempat juga menghaturkan banten perani, yaitu  rangkaian  sesaji yang disusun dari buah-buahan yang ditusuk-tusuk dalam batang pisang memiliki ukuran tinggi kira-kira 15 cm, beralaskan dulang (alas sesaji berkaki). Oleh masyarakat setempat, sesaji seperti ini disebut sebagai pajegan.  Adapun bentuk pajegan tersebut adalah sebagaimana tampak dalam foto di bawah ini.

Setelah sesaji ini selesai dihaturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,  maka para penari tari Legong Sambeh Bintang dipersilakan untuk memakan buah dan jajanan yang ada disesaji tersebut bersama-sama. Buah-buahan yang dimakan tersebut oleh masyarakat setempat dianggap sebagai berkah agar para penari tersebut selalu dilindungi oleh Tuhan.

Tempat Pementasan Tari Legong Sambeh Bintang

Dalam seni pertunjukan terdapat beberapa jenis stage, antara lain seperti stage arena,  stage procenium, dan stage tapal kuda. Stage prosenium adalah sebuah tempat pementasan yang jarak antara penonton dan pertunjukan yang ditampilkan agak jauh serta penonton yang menikmati pertunjukan itu hanya dapat menonton pertunjukan itu dari satu arah saja. Contohnya seperti Panggung Natya Mandala ISI Denpasar. Sedangkan, stage tapal kuda adalah sebuah tempat pementasan yang bentuknya seperti tapal kuda. Jarak antara penonton dan pertunjukan yang ditampilkannya agak jauh sebagaimana stage prosenium serta penonton yang menikmati pertunjukan itu bisa menikmati pertunjukan dari tiga arah, yakni dari arah depan, samping kanan, dan samping kiri. Contohnya seperti Panggung Ardha Candra, Art Center. Stage arena adalah sebuah tempat menampilkan pertunjukan yang memper-gunakan area pentas berbentuk setengah lingkaran, jarak antara penonton dan penari sangat dekat, serta pertunjukan yang ditampilkan itu dapat dinikmati penontonnya dari tiga arah, yakni dari arah depan, samping kanan dan samping kiri.

 Alam sakral dan alam profan masih berpengaruh pada seni pertunjukan daerah Bali. Orientasi arah kaja  (utara) dan kelod  (selatan), kepercayaan kepada adanya wilayah kekuasaan Dewa Siwa (siwaloka) dalam jagat raya, kepercayaan kepada wilayah lebih depan, lebih suci (luwanan), dan wilayah belakang, tidak suci (tebenan), serta sikap menghargai gunung dan laut sebagai bagian bumi yang dahsyat memberi landasan kuat untuk perkembangan seni pertunjukan sakral dan sekuler dalam masyarakat. Pementasan tari ditempatkan pada daerah aksis tertentu dari Tri Mandala, yaitu :

1.  Pembagian ruang atas (utama)  dipentaskan tari wali.

 2.  Pembagian ruang tingkat menengah (madya) dipentaskan tari bebali.

 3.  Pembagian ruang tingkat paling bawah (nista) dipentaskan tari sekuler.  Dari pembagian tata-ruang tersebut di atas tampak jelas adanya perbedaan antara tari sakral dan tari sekuler, sebagaimana tari Sambeh Bintang yang diciptakan untuk persembahan serta dipentaskan masyarakat setempat di area utama Pura Desa.

            Tempat pementasan tari Legong Sambeh Bintang ini adalah di halaman tengah (jaba tengah) Pura Desa. Sebagai sebuah tari sakral, tarian ini hanya dipentaskan di Pura Desa.

Sesaji Dan Tempat Pementasan Tari Legong Sambeh Bintang, selengkapnya

Undangan Peresmian Tugas Akhir (TA)

PENGUMUMAN

Nomor: 1229/IT5.1/DT/2011

Diberitahukan kepada Mahasiswa FSRD ISI Denpasar yang telah mendaftar Tugas Akhir (TA) Semester Ganjil 2011/2012 agar hadir pada:

Hari/Tanggal  :  Senin, 19 September 2011

Jam                 :  10.00 Wita

Tempat           :  Gedung PUSDOK ISI Denpasar

Pakaian          :  Atas Kemeja Putih Berdasi & Bawah Hitam

 

Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan.  Terima kasih.

Denpasar, 14 September 2011

A.n. Dekan

Pembantu Dekan I,

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

NIP.  196107061990031005

 

 

Undangan Peresmian Tugas Akhir

Kepada Yth.:  1. Seluruh Pejabat Struktural FSRD ISI Denpasar

2. Dosen Pembimbing TA

3. Senat Fakultas FSRD ISI Denpasar

 

Dengan hormat,

Dalam rangka Peresmian Tugas Akhir (TA) Semester Ganjil 2011/2012 FSRD ISI Denpasar, dengan ini kami mohon kehadiran Bapak/Ibu pada:

 

Hari/Tanggal : Senin,  19 September 2011

Pukul              : 10.00 Wita – selesai

Tempat           : Gedung PUSDOK ISI Denapasar

Demikian kami sampaikan, atas  perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

 

a.n. Dekan,

Pembantu Dekan I,

 

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

NIP. 196107061990031005

 

“Pendet Mahardhika” Menggedor Keindonesiaan

“Pendet Mahardhika” Menggedor Keindonesiaan

Kiriman Kadek Suartaya, SSKar., Msi., Dosen PS. Seni Karawitan.

Senyum ramah tari Pendet yang diciptakan I Wayan Rindi (almarhum) pada tahun 1950, kerlingnya telah memantul ke mancanegara. Tetapi relakah Anda bila cipta seni bangsa Indonesia tersebut diklaim oleh bangsa lain?  Pagelaran “Pendet Mahardhika” yang disajikan serangkaian dengan HUT ke-66 Kemerdekaan RI, mencoba menggedor rasa kebangsaan kita. Sore (17/8) itu, menjelang upacara penurunan bendera Merah-Putih, 200 orang gadis remaja pelajar SMP dan SMA membawakan tari Pendet di Lapangan Alit Saputra, Tabanan. “Sebagai bangsa yang merdeka berdaulat, relakah kita dipandang sebelah mata oleh bangsa lain?” tegas narasi deklamatis yang menggarisbawahi awal pentas tari berdurasi tujuh menit itu.

            I Made Wardana, S.S.Kar, M.Si, konseptor dan penggarap artistik “Pendet Mahardhika” ini, mengungkapkan bahwa pesan yang ingin dilontarkan di tengah perayaan hari kemerdekaaan RI ke-66, terinspirasi oleh peristiwa tiga tahun terakhir tentang diklaimnya beberapa bentuk ekspresi artistik bangsa kita seperti Reog, batik, lagu Rasa Sayange, dan tari Pendet oleh Negeri Jiran Malaysia. Dibantu dua koreografer muda, Ida Ayu Priatna, S.Sn dan Komang Ari Wira Kandraniati, S.Sn, Made Wardana ingin menggugah rasa kebangsaan melalui dan dengan topik rasa cinta terhadap seni budaya bangsa sendiri. “Sadarilah, jagat seni negeri ini masih setia menjaga citra bangsa kita dan dalam gelanggang kesejagatan, dunia seni kita masih punya jati diri mengawal martabat bangsa Indonesia,” ujar alumnus ISI Denpasar ini dengan lugas penuh semangat.

Pada pertengahan Agustus 2009, tari Pendet tiba-tiba  mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Ini gara-gara ditampilkannya salah satu tari kreasi dari Pulau Dewata tersebut dalam iklan pariwisata negeri jiran Malaysia. Promosi Visit Malaysia Year yang sekelebat menghadirkan lenggang gemulai dan senyum manis empat penari Bali itu membuat masyarakat Indonesia gerah. Iklan pariwisata yang disebar gencar secara internasional itu ditengarai sebagai upaya Malaysia mengklaim tari Pendet sebagai seni budayanya sendiri.

            Banyak yang beropini pendakuan tari Pendet oleh Malaysia dipicu oleh kepentingan pragmatis-ekonomis, dalam konteks ini industri keparawisataan yang memang dikelola amat sungguh-sungguh negeri tetangga itu dengan mempromosikan  bangsanya sebagai  Truly Asia. Pendet sebagai salah satu tari Bali yang sudah sangat familiar menyongsong wisatawan mancanegara,  mereka pinjam tanpa permisi untuk pencitraan eksistensi nilai keindahan budaya. Tetapi karena tari Pendet–seperti juga Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, batik yang sebelumnya pernah didaku Malaysia—adalah ekspresi sub kebudayaan Indonesia, tentu saja  ulah dan sepak terjang bangsa serumpun itu tak etis bahkan diteriaki sebagai maling siang bolong.  Hasrat dan agresifitas kapitalisme dunia pariwisata rupanya membuat Malaysia kehilangan urat malu.

            Namun isu tari Pendet dalam iklan pariwisata Malaysia itu justru berhasil menggugah bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Bali, akan keberadaan seni budayanya. Masyarakat Indonesia kebanyakan menjadi mulai benar melafalkan nama tari dari pulau Bali ini. Masyarakat Bali yang kurang begitu akrab dengan seni tari jadi ingin tahu sosok tari Pendet itu. Nama sang pencipta tari itu, I Wayan Rindi, kini menjadi agak dikenal. Wacana yang mengarah pada kesadaran akan seni budaya bangsa yang muncul dalam representasi media massa terasa begitu hangat dengan semangat sarat kepedulian.

Sumber inspirasi lahirnya tari Pendet adalah sebuah ritual sakral odalan di pura yang disebut mamendet atau mendet. Prosesi mendet  berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan dan seusai pementasan  topeng Sidakarya—teater sakral yang secara filosofis melegitimasi upacara keagamaan. Hampir setiap pura besar hingga kecil di Bali disertai dengan aktivitas mamendet. Tari ini dibawakan secara berpasangan atau secara masal oleh kaum pria dan wanita dengan membawakan perlengkapan sesajen dan bunga.

 Pendet sebagai tari selamat datang kini telah menabur bunga perdamaian, menjalin komunikasi estetik di tengah pluralitas bangsa Indonesia dan dalam mulikulturalitas masyarakat dunia. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tari berkarakter wanita ini cukup intim dengan peminat tari Bali. Demikian pula di luar negeri, tari Pendet bak menjadi identitas seni pertunjukan Bali.  Lewat doa dan persembahan semerbak bunganya, tari Pendet telah merajut harmoni dan menjadi jempatan toleransi dalam realita kebhinekaan kita mengapresiasi suatu ekspresi kesenian.

            Kesenian adalah keseharian masyarakat Bali dan seni jua merupakan kristalisasi kebudayaan. Karena itu, gelora kebangsaan kita  juga dapat disulut melalui media khasanah kesenian bangsa. Tengoklah kembali penampilan tari “Pendet Mahardhika“, mempesona secara artistik dan menggedor cinta keindonesiaan kita. Dibawah pandangan  ribuan penonton, hamparan para penari Pendet itu tampak bak puspa ragam bunga di sebuah taman yang indah. Puncaknya adalah ketika seluruh penari berleret membuat konfigurasi, 100 penari berjongkok dengan lembaran kain putih dan 100 penari bendiri dengan lembaran kain merah, disatukan menjadi bendera Merah-Putih kolosal. Adegan menggetarkan tersebut ditegaskan dengan narasi: Jayalah negeriku, mulialah tanah airku, majulah Indonesiaku, Sang Merah Putih benderaku,  rakyat Idonesia siap membelamu!

“Pendet Mahardhika” Menggedor Keindonesiaan, selengkapnya

Loading...