M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

DAMPAK LINGKUNGAN

ENERGI DAN PENGELOLAAN SAMPAH

Jumlah infrastruktur ramah lingkungan dengan sarana atau fasilitas yang mendukung energi terbarukan, efisiensi energi, pengurangan emisi, atau pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan terdiri dari fasilitas biodiesel, toilet hemat air, dan sistem lampu hemat air.

1. Biodiesel

Genzet 125 KVA tahun perolehan 2016 dengan bahan bakar bio solar, genzet ini digunakan untuk mengcover Gedung Niti Praja Mandala (Rektorat), Gedung Widya Niti Praja Mandala Dekanat FSRD, Gedung Dekanat FSP (Natya Parja Mandala), Gedung Ida Bagus Nyana, Gedung Cokot, Gedung Natya Mandal, Gedung Latta Mahosadhi, Gedung Reneng , Gedung I Wayan Berata, Gedung Gede Manik, Gedung Loka Widya Sastra, Gedung Lila Sanggraha, Gedung Nyoman Grayam, Gedung IGN Lempad, Gedung Nyoman Kaler, Gedung I Kt. Lotring, Panggung Terbuka Nretya Mandala, Gedung N-CAS, Gedung I Gede Geruh, Gedung I B Sidemen, Gedung I Gusti Putu Griya, Gedung Candra Metu, Gedung Loka Widya Sabha, Gedung Ida Bgs. Tugur, Gedung AA Gde Sobrat, Gedung LPPM, dan Gedung Jineng.

Program ini berfokus pada pemanfaatan bahan bakar nabati (biodiesel) untuk menyokong kebutuhan energi di lingkungan ISI Bali. Penerapan: Digunakan sebagai bahan bakar generator cadangan (genset) kampus saat terjadi pemadaman listrik. Bahan bakar kendaraan operasional kampus atau alat berat pemotong rumput/perawatan taman. Dampak Efisiensi Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil murni (solar), menekan emisi gas buang hingga 70%, dan menghemat anggaran belanja bahan bakar operasional. Program ini berfokus pada pemanfaatan bahan bakar nabati (biodiesel) untuk menyokong kebutuhan energi di lingkungan ISI Bali.

Sumber Bahan Baku: Memanfaatkan minyak jelantah (bekas) dari kantin-kantin kampus, area sekitar, maupun limbah domestik domestik masyarakat sekitar yang diolah kembali. Penerapan: Digunakan sebagai bahan bakar generator cadangan (genset) kampus saat terjadi pemadaman listrik. Bahan bakar kendaraan operasional kampus atau alat berat pemotong rumput/perawatan taman. Dampak Efisiensi: Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil murni (solar), menekan emisi gas buang hingga 70%, dan menghemat anggaran belanja bahan bakar operasional.

2. Green Building

Sistem pengelolaan air pada gedung menerapkan prinsip konservasi melalui pemanfaatan kembali air limbah domestik (greywater) yang berasal dari wastafel dan kamar mandi. Air limbah tersebut tidak langsung dibuang ke saluran pembuangan, melainkan ditampung dalam tangki khusus untuk kemudian melalui proses pengolahan. Proses ini bertujuan meningkatkan kualitas air sehingga aman digunakan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi di dalam gedung.

Setelah melalui proses pengolahan, air hasil daur ulang dimanfaatkan sebagai sumber air untuk sistem penyiraman (flush) toilet. Pemanfaatan air daur ulang ini dapat mengurangi penggunaan air bersih yang berasal dari sumber utama, sehingga konsumsi air bersih menjadi lebih efisien. Selain itu, sistem ini juga membantu mengurangi volume air limbah yang dibuang ke lingkungan, sehingga dapat menekan beban pada sistem pengolahan air limbah.

Penerapan sistem daur ulang air tersebut merupakan salah satu strategi dalam mendukung konsep green building atau bangunan hijau. Dengan memanfaatkan kembali air limbah untuk kebutuhan non-potabel, gedung dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air, mengurangi dampak lingkungan, serta mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan. Sistem ini juga menunjukkan komitmen pengelola gedung dalam menerapkan teknologi ramah lingkungan yang berfokus pada konservasi sumber daya dan efisiensi operasional bangunan.

3. Toilet Hemat Air

Toilet hemat air merupakan salah satu teknologi sanitasi yang diterapkan dalam konsep green building untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air bersih di dalam bangunan. Sistem ini menggunakan perlengkapan sanitasi yang dirancang untuk mengurangi konsumsi air tanpa mengurangi fungsi maupun kenyamanan pengguna. Salah satu teknologi yang umum digunakan adalah kloset dual flush, yang menyediakan dua pilihan volume pembilasan sesuai jenis limbah, sehingga pengguna dapat memilih jumlah air yang diperlukan secara lebih efisien. Selain itu, penggunaan urinoir hemat air, keran berdebit rendah (low-flow faucet), serta keran otomatis dengan sensor turut mendukung pengurangan konsumsi air pada area sanitasi. Penerapan teknologi tersebut mampu menekan penggunaan air bersih secara signifikan dibandingkan dengan sistem sanitasi konvensional, sehingga lebih efektif dalam mendukung upaya konservasi sumber daya air.

Penerapan toilet hemat air akan memberikan manfaat yang lebih optimal apabila dipadukan dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah (greywater). Air yang berasal dari wastafel dan kamar mandi dapat ditampung, diolah, kemudian digunakan kembali sebagai air pembilas (flush) toilet. Dengan cara ini, kebutuhan air bersih untuk keperluan sanitasi dapat dikurangi tanpa mengganggu kualitas pelayanan kepada pengguna. Selain menghemat penggunaan air bersih, sistem ini juga mengurangi volume air limbah yang dibuang ke lingkungan serta menurunkan biaya operasional bangunan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, toilet hemat air menjadi salah satu komponen penting dalam penerapan green building karena mendukung konservasi air, meningkatkan efisiensi operasional bangunan, dan berkontribusi terhadap terciptanya pembangunan yang berkelanjutan.

4. Sistem Lampu Hemat Energi

Lampu hemat energi dengan sensor telah dimanfaatkan pada beberapa Gedung di ISI Bali sebanyak 366 titik. Gedung Desain Hub memiliki 288 titik dan Gedung parkir memiliki 48 titik. Perancangan penggunaan lampu hemat energi dimaksud merupakan terjemahan konsep desain gedung yang dirancang tim ISI Bali oleh Perusahaan Konsultan Perencana (PT. Tata Rancana Hijau).

KONSUMSI ENERGI YANG BERTANGGUNG JAWAB

Jumlah produk daur ulang dan/atau fasilitas pengolahan limbah yang dihasilkan, dibangun dan dikembangkan. ISI BALI memiliki 2 fasilitas teba modern dan eco-enzim dan beberapa produk daur ulang.

1. Teba Modern

Sebagai bagian dari upaya untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan serta mendukung gerakan kampus hijau, Teba Modern ISI Bali turut mendukung implementasi Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penerapan konsep Teba Modern yang bertujuan mengelola sampah organik di lingkungan ISI Bali dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Teba Modern ISI Bali difungsikan sebagai tempat penampungan sampah organik, khususnya sampah daun, sisa tanaman, dan sisa makanan. Sampah organik tersebut nantinya akan diproses menjadi kompos alami yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian atau penghijauan. Dengan sistem ini, ISI Bali berkomitmen untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengoptimalkan potensi sampah organik yang ada.

Konsep Teba Modern yang diterapkan pada Teba Modern ISI Bali memanfaatkan struktur sederhana namun efektif. Teba tersebut dibangun dengan kedalaman sekitar dua meter, berbentuk tabung dengan diameter sekitar satu meter. Pada setiap Teba dibangun dengan pola, dinding dibuat dengan susunan buis beton, bagian dasar tetap dibiarkan tanah, dan bagian permukaan ditutup plat beton setinggi 60 cm dari permukaan tanah. Lapisan beton ini membantu menjaga kestabilan teba serta mempercepat proses pembusukan sampah di dalamnya, sehingga sampah organik dapat terurai dengan optimal. Dengan cara ini, sampah organik yang terkumpul dapat terolah menjadi kompos yang berguna bagi lingkungan sekitar. Permukaan tutup beton ini juga dimanfaatkan sebagai tempat duduk taman.

Inisiatif ini tidak hanya mendukung kebijakan pemerintah daerah tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi ISI Bali dalam menjaga kelestarian alam dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan hijau. Diharapkan dengan penerapan Teba Modern dan konsep Teba Modern ini, gerakan Bali Bersih Sampah dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak positif bagi pengelolaan sampah berbasis sumber di Bali.

ISI BALI menyediakan tempat sampah terpilah (Organik, Anorganik/Plastik, Kertas, dan Residu) di setiap sudut strategis, koridor gedung kuliah, serta area studio praktik seni. Edukasi visual berupa infografis dipasang untuk membiasakan civitas akademika melakukan pemilahan mandiri.

2. Eco Enzym

ISI Bali bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dan Volunteer Eco Enzym Ni Wayan Yuli Ekayani mengembangkan produk Eco Enzym untuk menunjang keberlanjutan Teba Modern. Produk Eco Enzym dipergunakan sebagai cairan pengurai sampah organik yang telah dimasukkan ke dalam Teba Modern, sehingga mempercepat penguraian menjadi kompos. Pencanangan pengembangan Produk Eco Enzym ini dilaksanakan pada acara workshop bertajuk “Pengolahan Sampah Organik menjadi Eco Enzym” pada Jumat, 10 Oktober 2025, bertempat di Gedung Desain Hub ISI Bali.

Narasumber Ni Wayan Yuli Ekayani dalam paparannya menjelaskan bahwa Eco Enzym merupakan cairan alami hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayur dengan gula merah dan air. Cairan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai pembersih alami, pupuk cair, dan pengurai limbah.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik langsung, yang dilaksanakan di Teba Modern yang dikelola oleh ISI Bali sebagai tempat pengelolaan sampah organik. Dalam kegiatan ini, peserta diajak membuat Eco Enzym menggunakan bahan-bahan sederhana dari sisa dapur. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan serta partisipasi aktif selama sesi seminar dan workshop berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan DWP ISI Denpasar dapat menjadi pelopor dalam gerakan pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus serta menginspirasi masyarakat luas untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan

3. Produk Daur Ulang

ISI Bali berkomitmen membangun orientasi pembelajaran pada upaya pengembangan kreativitas dan inovasi berbasis spirit keberlanjutan, ramah lingkungan, dan sirkular. Orientasi pembelajaran ini telah menghasilkan produk daur ulang yang mendapat apresiasi secara meluas. Terdapat 426 karya beragam jenis merupakan produk daur ulang yang dihasilkan mahasiswa ISI Bali Tahun 2025.

TRANSPORTASI DAN AKSESIBILITAS

Penyediaan Jalur Sepeda, Akses Disabilitas, dan Dukungan Mobilitas Hijau

ISI Bali berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang ramah lingkungan, sehat, dan inklusif bagi seluruh civitas akademika, termasuk mahasiswa, staf, dosen, serta masyarakat umum yang berkunjung, dengan memfasilitasi jalur pejalan kaki dan sepeda sepanjang 1.424 meter, dengan luasan 5.564,1 m2 (sekitar 11% dari total luasan kampus 51.000 m2).

KEANEKARAGAMAN HAYATI

Rehabilitasi dan Restorasi Lingkungan Melalui Penanaman Pohon dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Sebagai kampus perkotaan (urban campus) di Denpasar, pelestarian keanekaragaman hayati merupakan prioritas penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem mikro, mereduksi efek pulau panas perkotaan (urban heat island), dan menjaga estetika lingkungan:

1. Program Penanaman Pohon

Dalam rangka Hari Sejuta Pohon Sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Januari, Pimpinan, Dosen, Tenaga Kependidikan bersama Mapala Maha Loka ISI Bali menyelenggarakan penanaman pohon Alpukat, Longan, dan Sawo Kecik di area ISI Bali.

Kegiatan yang bertajuk Taru-Natah-Tuwuh untuk mengawali Tahun 2025, sebagai bentuk komitmen ISI Bali sebagai Green Campus yang dalam UI GreenMetric berhasil meraih peringkat 88 Nasional (100 besar) dari seluruh Institusi Pendidikan di Indonesia. Di tingkat internasional, ISI Bali berada di posisi 1028. Raihan ini menunjukkan posisi aktual kampus ISI Bali pada kategori Kampus Hijau Tahun 2024.

2. Program Penanaman Bibit Pohon kerja sama ISI Bali dengan KPU Provinsi Bali

ISI Bali bekerja sama dengan KPU Provinsi Bali melakukan penanaman bibit pohon sebagai bentuk simbolik pengganti penggunaan kulit pohon untuk kertas selama Pilkada Serentak 2024.

3. Program Taman Zaman ISI BALI

ISI Bali melakukan upaya konservasi pohon langka, dengan menanam bibit pohon dimaksud secara berkala sekaligus juga melakukan pendataan, terutama terkait pohon endemik Bali. Terinventaris sebanyak 676 pohon: 8 Pole, 23 Palem Kuning, 21 Ketapang, 53 Cemara Norfolk, 1 Akasia, 1 Intaran, 10 Palem Hijau, 35 Tanjung, 10 Kayu Santen, 17 Parasok, 23 Palem Putri, 1 Bengkel, 2 Mojopait, 17 Palem Botol, 3 Aren, 1 Tayuman, 5 Palem Sadeng, 1 Beringin, 1 Suar, 8 Manggis, 13 Badung, 12 Sirsak, 34 Pinang (Buwah), 3 Cendana, 4 Purna Jiwa, 7 Nangka, 3 Kepundung, 1 Mangga, 10 Kelengkeng, 6 Belimbing, 2 Camplung, 16 Sawo Kecik, 5 Kelapa, 17 Alpokat, 2 Sentul, 3 Durian, 2 Gatep, 1 Matoa, 208 Jepun, 2 Cerme, 2 Belimbing Wuluh, 1 Juwet, 1 Boni, 2 Jambu, 13 sirsak, 2 Mengkudu, 15 Cempaka, 3 Pudak, 4 Majegau, 7 Rijase, dan 31 Kenanga.

PENDIDIKAN DAN PENELITIAN METODE ILMIAH

Kesadaran lingkungan dibentuk secara akademis melalui integrasi isu-isu lingkungan, keberlanjutan, dan biodiversitas ke dalam kurikulum pembelajaran serta penelitian ilmiah:

Dari 1.041 jumlah Mata Kuliah, sebanyak 309 Matakuliah yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan (besaran dalam persentase mencapai 29,68%).

Loading...