M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kajian Estetika Busana Tari Rejang Muani Di Pura Puseh Desa Pakraman Lumbuan Kabupaten Bangli

Jun 16, 2016 | Artikel

Kiriman : Komang Eva Susanti (Mahasiswa Program Studi S-2 Penciptaan/Pengkajian Seni)

ABSTRAK

Tata busana merupakan salah satu unsur pendukung yang sangat penting untuk menunjang keindahan pada suatu karya tari. Tata busana yang baik dan benar akan dapat membantu penyampaian pesan dari sebuah karya tari. Salah satunya adalah Tari Rejang Muani, sebuah tarian sakral di Desa Pakraman (Adat) Lumbuan. Kabupaten Bangli yaitu. Tari Rejang Muani sudah berkembang selama ratusan tahun di Kabupaten Bangli. Tarian ini dilakukan oleh penari remaja laki-laki dan memiliki tata busana yang unik. Pada umumnya tari rejang menggunakan hiasan kepala, lamak ataupun selendang yang menjuntai dan diikatkan di dada penari. Namun, kostum tari Rejang Muani selendangnya diikat menyilang ditubuh. Nilai estetik pada busana tari ini dapat dilihat dari cara pemilihan warna, bentuk, ukuran sampai pada tata cara pemakaiannya. Warna selendang merah muda yang dikenakan penarinya lebih berkesan feminine dibandingkan kemaskulinan remaja pria. Kesederhanaan dan cara pemakaian busana pada tari Rejang Muani ini memperlihatkan keunikan tersendiri. Meskipun tata busana tarian ini sederhana, tetapi tidak mengurangi pesan dan makna kesakralan dari tariannya.

Kata Kunci : Kesederhanaan, Selendang, Menyilang, Sakral.

Selengkapnya dapat unduh disini

Categories

Berita Terkini

Loading...