by admin | Dec 18, 2015 | Artikel
Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)
Pada suatu hari, tahun 1950, sebuah cipta seni tari ditampilkan di depan Bung Karno dan tamu-tamunya di sebuah hotel di Denpasar. Presiden I Republik Indonesia yang dikenal sebagai penyayang seni itu tak menyembunyikan ekspresi takjubnya terhadap pentas tari yang begitu energik dengan dukungan tatabuhan gamelan yang gegap membuncah itu. Soekarno sangat mengagumi totalitas dan vitalitas sajian tari tunggal tersebut. Presiden yang berdarah Bali itulah yang kemudian memberi nama seni tari ciptaan I Gede Manik dari Desa Jagaraga, Buleleng, ini dengan sebutan Tarunajaya, taruna yang digjaya.
Tari Tarunajaya memang adalah karya tari unggul yang masih mempesona, sering dipentaskan hingga hari ini. Ekspresi estetik yang disajikan dan gelora optimistik yang dipancarkan masih menggugah. Cipta tari yang cikal bakalnya menguak dari Bali Utara sebelum zaman kemerdekaan itu, berhasil menembus selera estetik masyarakat Bali secara lintas zaman. Tari yang lazim dibawakan oleh penari wanita itu masih konsisten menunjukkan energisitasnya di tengah kompleksitas kehidupan. Tarunajaya dapat dipandang sebagai representasi dari konsistensi semangat pemuda Bali dalam rona artistik. Simaklah, betapa dinamisnya ungkapan estetik pada tari yang dibalut dengan busana ornamentik ini. Hayatilah, betapa berbinarnya semangat pantang menyerah yang terasa dalam tampilan gerak, mimik dan ayunan lincah iringan gamelannya.
Dibandingkan dengan tari sezamannya, Tarunajaya masih menunjukkan kedigjayaannya. Kini di usianya lebih dari setengah abad, tari Tarunajaya ternyata tetap monumental. Di sekolah dan institut seni dan sanggar-sanggar seni, tari ini diteruskan dari generasi ke generasi. Energisitas tari ini juga tak bosan-bosan ditampilkan dalam lomba-lomba tari Bali. Yang mengagumkan, daya pesonanya di tengah masyarakat tak pernah redup, tetap berbinar-binar. Pementasan seni kebyar sebagai balih-balihan saat odalan di pura misalnya, sering mempersembahkan sajian tari Tarunajaya. Di arena PKB, beberapa grup seni pertunjukan yang menguguhkan tari kreasi atau seni kebyar, banyak yang menjadikan Tarunajaya sebagai nomor pamungkas yang mampu memukau penonton. Padahal tari yang dibalut dengan busana perada meriah itu mungkin sudah berkali-kali disaksikan.
Cikal bakal munculnya tari Tarunajaya didahului oleh hadirnya tari Kebyar Legong. Tersebutlah seorang seniman dari Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng yang bernama I Wayan Paraupan atau Pan Wandres. Pada tahun 1915, seniman tabuh dan tari tersebut menciptakan sebuah tarian yang dibawakan oleh dua orang penari. Elemen-elemen yang dijadikan konstruksi tari yang berdurasi panjang itu merupakan kombinasi tari Baris, Jauk, dan Legong. Tak jelas, apakah karena ada penggalan pengawak Legong-nya yang menyebabkan tari ini disebut Kebyar Legong. Yang pasti tari ini sejak awal memang diiringi dengan Gong Kebyar, gamelan yang kini hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa di Bali.
I Gede Manik, bersama pasangannya, Mangku Ongka, adalah penari pertama dari tari Kebyar Legong. Pada tahun 1925, Gede Manik menunjukkan jati dirinya sebagai seorang kreator tari. Berorientasi dari tari Kebyar Legong yang sering dibawakannya, ia menggagas karya tari Kebyar Legong versi lain, lebih pendek durasinya namun tetap menunjukkan karakteristik tari yang dinamis. Tari yang bernuansa gelora taruna nan heroik yang belum diberinya nama itu–saat disaksikan pertama kali oleh presiden Soekarno–diberi nama Tarunajaya. Manik menerima dengan bangga.
Bersama tari Kebyar Duduk atau Kebyar Terompong yang diciptakan I Ketut Marya, tari Tarunajaya karya Gede Manik mengibarkan sejarah baru seni pertunjukan Bali yaitu euporia Gong Kebyar yang menggelinding dari Bali Utara dan merebak hingga ke seluruh Bali. Tari Kebyar Duduk dan Tarunajaya adalah sebuah inovasi seni pentas yang berpengaruh besar terhadap kesenian Bali pada umumnya, khususnya dalam seni tari dan karawitan. Konsep artistik seni kebyar kemudian berlaku umum dalam paradigma berkesenian dan dunia penciptaan seni pentas di Bali. Dan, tari Tarunajaya adalah sang maskot.
Ketika Tarunajaya bertransformasi dari Kebyar Legong yang kemudian bergulir di tengah masyarakat, sudah pasti mengalami perubahan-perubahan, variasi, dan pengkristalan di beberapa komunitas. Namun yang tetap tampak membumbung dalam tari ini adalah kegairahan yang membuncah, ekspresi lugas dan lagak nan tangkas, serta berona humanis-romantis. Keseluruhan struktur koreografi tari ini dan komposisi musik pengiringnya, saat pementasan, menggiring penonton untuk tidak mengalihkan perhatian.
Di tengah kehidupan masyarakat masa kini yang demikian kompleks, tari Tarunajaya masih mampu mencuri perhatian penonton. Bagi generasi muda Bali, kandungan semangat, keuletan, sikap tahan banting yang disundut tari ini patut disimak, dijadikan inspirasi, dan diteladani. Mungkin, bagi masyarakat Bali pada umumnya yang dikenal sebagai penyayang seni, keindahan yang membinar dalam tari ini dapat membangun pencerahan diri. Khusus, bagi kreator tari dan karawitan masa kini, eksistensi tari Tarunajaya dapat menjadi cambuk untuk mengibarkan kejayaaan seni pertunjukan Bali, di masa kini dan ke depan.
Belakangan ini, tari Tarunajaya menerjang girang di seluruh penjuru Bali. Membumbungnya tari ini berkaitan dengan perayaan 100 tahun seni kebyar—seni kebyar lahir tahun 1915. Dalam PKB 2015, program pagelaran seni kebyar diberi porsi besar. Parade gong kebyar se-Bali yang menjadi salah satu pentas unggulan PKB, menjadikan tari Tarunajaya sebagai sajian tari pilihan. Oleh karena itu, tampak persiapan masing-masing duta gong kebyar kabupaten/kota cenderung lebih kepincut untuk menampilkan tari Tarunajaya.
Pekan seni dan olahraga pelajar (Porsenijar) se-Bali 2015 yang juga berlangsung pada bulan-bulan awal tahun ini sangat afdol bila memprogramkan tari Tarunajaya dan tari-tarian kebyar lainnya dalam materi lomba seni tarinya. Selain dapat menjadi wahana melibatkan generasi muda mengapresiasi seni kebyar yang telah mendunia, juga melalui gelora yang dikobarkan dalam aspek estetiknya dan pesan moral yang dilontarkan Tarunajaya—jagat seni pada umumnya–dapat mengisi sudut-sudut kekosongan batiniah generasi muda masa kini untuk berevolusi bahkan memancangkan revolusi mental, membenahi moralitas destruktif yang mendera dan mencederai harkat dan martabat bangsa kita ini.
by admin | Dec 17, 2015 | Artikel
Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)
Sebuah diskusi bertema “Menakar Nasib Seni dan Seniman Bali” berlangsung hangat di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Selasa (8/12) siang lalu. Penyelenggaraan diskusi atas kerja sama anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)-RI Gede Pasek Suardika, SH,MH dengan pihak ISI itu berlangsung hangat. Mengerucut opini dari para peserta diskusi yaitu belum maksimalnya peran negara pada jagat seni dan seniman. Keberpihakan negara atau pemerintah pada nasib seni dan seniman masih memperihatinkan, yang, sudah seharusnya memberikan pengayoman yang setimpal dengan kemuliaan dan keadaban yang telah dipersembahkan jagat seni dan seniman kepada negara.
Di masa lalu, negara dalam representasi kerajaan menunjukkan perannya sebagai pelindung seni dan seniman yang cukup penting. Pengayom seni dan seniman pada era feodalisme ini memiliki perhatian dan respek yang besar bagi eksistensi jagat kesenian. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak kelahiran dan kebesaran para seniman didukung oleh tradisi perlindungan seni. Juga harus diakui tak sedikit cipta seni dan perjalanan suatu kesenian dikondisikan oleh system maesenas alias pelindung seni dan seniman.
Sejatinya, kedermawanan kepada seniman dan seni adalah dedikasi yang luhur. Betapa tidak. Banyak seniman berbakat dapat menyalurkan segala kemampuan yang dimilikinya karena simpati positif dari sang maesenas. Tak sedikit masterpiece yang menjadi kebanggaan dunia disebabkan oleh kebiasaan memberikan motivasi semangat dan materi dari para dermawan seni. Demikian pula andil para sponsor seni dalam pemeliharaan dan pelestarian ekspresi atau wujud-wujud karya seni.
Kedermawanan dan perlindungan terhadap seni dan seniman Bali dengan jelas dapat kita tarik dari masa keemasan raja-raja. Ini dapat direntang antara abad ke 16-19 pada pemerintahan Dalem Waturenggong (1416-1550), Dalem Bekung (1550-1580), Dalem Sagening (1580-1665), Dalem Dimade (1665-1685). Diduga kuat bahwa seni pertunjukan Bali seperti Gambuh, Topeng, Wayang Wong, Parwa, Arja, Legong Kraton dan seni klasik lainnya tumbuh dan berkembang pada era itu dengan gaya sponsor para penguasa saat itu. Demikian juga yang terjadi pada bidang kesenian lainnya seperti seni rupa, sastra, arsitektur dan lain-lainnya.
Kesenian pada masa itu bukan hanya sebagai hiburan atau bagian ritual semata, namun juga berdimensi politis dan prestise. Maka tak mengherankan bila setiap kraton atau puri memiliki tempat khusus untuk memajang atau mempertunjukan kesenian kebanggaannya sepertinya adanya bale pagambuhan misalnya. Para seniman menjadi insan yang sangat penting dan dibanggakan, dipuji, disayangi, dilindungi, diberikan gaji dan gelar bahkan dijamin masa tuanya.
Drama tari Gambuh yang dianggap sebagai sumber tari Bali rasanya tak mungkin memiliki kualitas seni dan nuansa klasik seperti itu tanpa ada campur tangan dan perlindungan kaum bangsawan. Kisah-kisah yang dituturkan Gambuh adalah romantika disekitar kaum bangsawan yang berisi puji-pujian terhadap para leluhur mereka, keluarga keraton. Lalu, tata penyajian drama tari ini sangat protokoler yang mencerminkan budaya keraton. Karenanya, teater tari yang pernah jadi primadona keluarga puri ini tentu mengalami pengayoman yang begitu asih dari elite penguasa. Kompleksitas ketatnya penyajian tari, sastra dan musiknya jelas mengalami masa perlindungan yang serius dan panjang. Dan para senimannya dari generasi ke generasi tentu juga adalah orang-orang yang dekat dengan pusat kekuasaan dan tokoh-tokoh terpandang di tengah masyarakat.
Respek dan kedermawanan terhadap seni dan seniman pada era kejayaan raja-raja dulu dapat pula kita kaji dari eksistensi lukisan gaya Kamasan. Gaya lukisan tradisional Kamasan meskipun pada mulanya adalah “lukisan kaum sudra”, namun sebagai akibat dari patronisasi para bangsawan kerajaan Klungkung terserap menjadi kesenian tradisi agung dari pusat kerajaan di Klungkung. Para maesenas pada zaman kejayaan kerajaan Klungkung selain bangsawan adalah juga para sastrawan yang mumpuni dalam hal agama dan kesenian klasik.
Hanya sayangnya, lehadiran kolonialisme yang menyebabkan berkurangnya bahkan hilangnya kekuasaan dan harta benda kaum bangsawan berpengaruh terhadap perhatian dan kedermawanan mereka terhadap seni dan seniman. Walau masih ada beberapa kaum bangsawan berusaha respek terhadap seni dan seniman namun hanya mampu sebatas apresiator atau pengagum saja. Sebagai dermawan yang memberikan jaminan hidup kepada seniman, mantan penguasa itu tak punya daya dan biaya lagi. Terjadilah kekosongan maesenasisme di Bali.
Kokosongan perlindungan seni dan seniman pasca zaman kerajaan tersebut mengalihkan perkembangan kesenian Bali ke tengah rangkulan masyarakat luas. Mantan seniman istana yang tak mutlak lagi dibawah pengayoman puri dan memiliki dedikasi tinggi terhadap kesenian menjadi pilar-pilar pengembang kesenian yang berpengaruh. Ini berarti wajah maesenas yang tadinya individual menjadi kolektif (masyarakat). Seni dan seniman Bali mendapat perlindungan dari masyarakat dalam wadah sekaa-sekaa kesenian. Baru sejak zaman kemerdekaan, negara atau pemerintah mulai unjuk perhatian, misalnya mendirikan sekolah seni. Idealisme Gubernur Bali Ida Bagus Mantra menggelindingkan Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 1979, menjadi salah satu wahana yang mencerahkan dunia seni dan arena berekspresi seniman Bali. Namun demikian, geliat seni dan kehidupan seniman masa kini tampaknya belum merasakan pengayoman kasih tulus dan kepedulian negara seperti pada masa lampau. Kenapa negara atau pemerintah kita terkesan kurang peduli dengan harkat seni dan martabat seniman sang pengawal jati diri bangsanya?
by admin | Dec 17, 2015 | Artikel
Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)
Sebuah sajian tari kontemporer menambat perhatian penonton pada akhir Mei lalu. Kamis (28/5) malam lalu, para penonton yang memadati pagelaran ujian akhir di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, menyimak penuh antusias karya seni tari bertajuk “Di Balik Boneka”. Dibawakan oleh sepasang penari putra dan putri, tari yang bergulir sekitar 13 menit tersebut menggiring penonton pada fantasi cinta seorang gadis dalam bingkai estetika seni tari yang menggugah, apik, dan unik. Ya, sebuah garapan tari kontemporer yang mengena, terkesan sederhana namun membuat hati terpana.
Tema cinta yang diusung garapan tari ciptaan Anak Agung Istri Inten Pradnyandari ini kisahnya sederhana, yaitu tentang fantasi seorang gadis kepada seorang laki-laki penjaga toko boneka. Namun kesederhanaan kisah ini mampu dituturkan secara naratif dalam ancangan kompleksitas koreografi yang menawan. Kedua orang penari, Inten Pradnyandari sendiri dan Anak Agung Gede Dalem Segara Putra, menunjukkan totalitasnya merangkai laku gerak tubuh, menjelajah ruang dan meniti waktu dalam sinergi dan interaksi yang padu. Imajinasi keindahan cinta sang gadis berpadu mesra dengan rona estetis kontemporer tata garap tarinya.
Ruang untuk merambah tari kontemporer dibuka lebar dalam ujian seniman akademis di ISI Denpasar. Gung Is, demikian sapaan akrab koreografer muda itu, memilih bentuk tari kontemporer, bersama sejumlah temannya. Sebuah pilihan yang kurang populer, jika dibandingkan menggarap cipta tari dengan sumber pijak kreasi dari seni tradisi. Sebab di tengah jagat berkesenian di Bali, garapan seni kontemporer, termasuk dalam dunia seni tari, hingga kini masih megap-megap keberadaannya. Penonton, masyarakat Bali pada umumnya, belum begitu banyak melirik aksi-aksi tari kontemporer. Simaklah di arena PKB, pementasan garapan seni pertunjukan kontemporer, kalau ada, tidak begitu diperhitungkan.
Diperhitungkan atau tidak, di ISI Denpasar, tari kontemporer tak pernah henti menggeliat. Dalam setiap pagelaran ujian akhirnya, baik untuk strata S1 maupun S2, tidak sedikit mahasiswanya bergairah menampilkan tari kontemporer. Pradnyandari, salah satunya, dengan ciptaannya “Di Balik Boneka” seperti ingin menyapa penonton agar bersemangat mengapresiasi tari kontemporer. Tampaknya, sapaan Gung Is tak bertepuk sebelah tangan. Garapan tarinya banyak menuai pujian penonton. Artinya, tari kontemporer besutannya layak simak, menarik plus komunikatif.
Mempergunakan iringan sejumlah alat musik modern seperti keyboard, havy, biola, frogy dan chime yang ditata oleh I Wayan Diana Putra, S.Sn, M.Sn, “Di Balik Boneka” bergulir dengan kisah kehadiran seorang gadis di sebuah toko boneka, berharap bersua dengan pemuda penjaga toko yang telah menambat hatinya. Ketika sang pria muncul, si gadis berpura-pura menjadi boneka menggenggam boneka kecil. Kepintaran si gadis menjadi boneka mengundang rasa penasaran penjaga toko yang seakan dipermaiankan oleh salah satu boneka jualannya. Kesal dengan ulah boneka yang tak diketahuinya adalah seorang gadis yang jatuh cinta padanya, pria penjaga toko marah, merebut boneka kecil dari sang gadis hingga robek berkeping-keping.
Memakai asesories kepala, baju, dan sepatu berwarna pink, sang gadis hadir di tengah panggung di atas kursi panjang. Untaian geraknya berkelebat di sekitar kursi mengekspresikan kegelisahan dan harapan untuk segera bertemu dengan pria penjaga toko. Sang pria, menggunakan bareta, celana panjang, dan sepatu, berinsut hadir melangkah dalam beberapa sepakan gerak menghampiri lemari pajangan bonekanya. Selanjutnya kedua penari dalam penokohannya masing-masing, dengan bahasa ragawi, berungkap simbolik, maknawi, stailistik merangkai adegan per adegan, menyembur lembut, elastis, gesit, lugas, akrobatis, kocak, dan menggemaskan.
Tari kontemporer “Di Balik Boneka” menunjukkan kebebasannya merangkum beragam estetika gerak. Namun tampaknya Gung Is terlihat dominan mengeksplorasi tari ballet dan dansa latin walls. Gerakan serempak dan gerakan seimbang yang diperagakan kedua penari tampak rapi dengan selingan desain gerak herisontal, vertikal, dan kontras yang begitu terukur proporsinya, menjadikan garapan tari ini tampil memukau. Bagian adegan tari humoristik, ketika pria penjaga toko menggotong dan memindahkan berkali-kali si gadis boneka, mengundang gelak dan senyum simpul penonton. Keseriusan tari kontemporer yang dipersepsikan selama ini menjadi ringan menyegarkan. Malam itu, tari “Di Balik Boneka” mampu membalik pandangan para penonton.
Penonton kita memang perlu lebih diperbanyak menyimak letupan-letupan seni dari jagat tari kontemporer. Gung Is dengan tari “Di Balik Boneka”-nya telah berhasil mencuri perhatian masyarakat penonton untuk mengapresiasi ekspresi seni dengan gaya ungkap kontemporer. Memang, bentuk-bentuk ekspresi seni kontemporer, cenderung hanya hadir dan diterima dengan kementaraannya, namun sejatinya ia (seni kontemporer) memancarkan makna kultural dan bahkan bisa menorehkan sejarah seni budaya yang fenomenal. Tari kontemporer “Di Balik Boneka” telah terpajang manis di ruangan segar rumah seni kita.
by admin | Dec 16, 2015 | Artikel
Kiriman : Kadek Suartaya, SSKar., M.Si (Dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar)
Kecipak semburan air mancur di halaman Istana Negara Jakarta dan tugu Monumen Nasonal (Monas) nan menjulang menjadi latar atraksi utama Pawai Seni dan Budaya Kreatif Tahun 2015 pada Senin (18/8) sore yang cerah itu. Karnaval yang rutin digelar setiap tahun serangkaian dengan HUT Kemerdekaan RI tersebut, kali ini mengusung tema “Indonesia Bersatu”. Para kontingen pawai yang didatangkan dari seluruh penjuru Nusantara itu disatukan dalam sebuah perhelatan yang digadang sebagai alat pemersatu bangsa. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono, para pejabat Negara serta undangan lainnya menyimak satu persatu atraksi yang dipersembahkan oleh duta 33 provinsi dan dua perusahan negara. Masing-masing kontingen tampil hanya 2,5 menit.
Kebhinekaan budaya bangsa Indonesia terekspresi dari keberagaman keseniannya. Sebagai mutumanikam yang sering dibanggakan mengawal martabat bangsa, puspa ragam kesenian Nusantara menerima apresiasi yang istimewa pada perayaan kemerdekaan ke-69 itu. Melalui sajian pawai, masyarakat penonton dapat menyimak aneka seni tari dan musik dalam pertunjukan bergerak, yang berawal dari Istana Negara menuju Jalan Merdeka Barat dan berakhir di silang Monas. Diapresiasi oleh petingggi negara hingga rakyat jelata, tentu menggetarkan kebanggaan pelaku seni peserta pawai. Tampak mereka menunjukan kebolehan dan keindahan keseniannya dengan penuh kesungguhan.
Tapi, betulkah kita sungguh-sungguh menghargai kesenian kita? Semestinya begitu. Tengoklah antusiasnya Ibu Negara Ani Yudhoyono yang sibuk mengabadikan dengan kameranya penampilan para peserta pawai. Lalu, tidakkah pawai seni di halaman Istana Negara hanya merupakan media pengindahan, sebuah estetisasi politik kekuasaan seperti halnya pada zaman raja-raja di masa lampau? Tentu, terserah saja. Namun bagi I Nyoman Jegu, seorang petani dari Tabanan, Bali—salah satu penabuh gamelan okokan (sejenis musik masyarakat agraris tradisional)–yang sengaja diboyong ke Jakarta oleh PLN, hal itu tak terpikirkan. “Tiang demen polih pentas di istana presiden (saya suka dapat kesempatan tampil di istana presiden),” ujarnya polos sembari terengah usai pentas menggoyang instrumen yang terbuat dari kayu dengan berat sekitar 15 kilogram.
Para peserta pawai yang datang jauh-jauh dari pelosok daerah kiranya tak berbeda jauh dengan Nyoman Jegu, yang bangga ke Jakarta dan yang bangga “menguasai” halaman sakral Istana Negara, kendati hanya dua setengah menit. Kendati sesaat, hampir semua kontingen menunjukkan totalitasnya. Kontingen Bali misalnya, menyergap perhatian penonton dengan garapan “Garuda Jaya” yang sarat spectacle berdaya pukau. Kontingen Jambi yang tampil di halaman istana dengan karya seni bertajuk “Kakitau” juga tak kalah mempesona dengan semburan pesan kepedulian terhadap budaya agraris tradisional yang sarat kearifan. Demikian pula Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mengetengahkan garapan “Mutiara Laut Selatan”, mengetuk perhatian penonton dengan kisah kemilau mutiara sebagai potensi yang menjanjikan masyarakat setempat.
Selengkapnya dapat unduh disini