M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Peranan Art Therapy pada Psikologis Anak – Anak

Kiriman : Luluk Mukhita Lailatul isnaini (Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Seni ISI Denpasar)

Abstract

Coloring or doodling for adults are also becomes a way to escape from the everyday stresses. It is not surprising if the coloring activity for adults is often labeled as an art therapy, because it has a calming effect and helps to relieve the adverse effects of stress. Coloring and the other form of art expression could give a calling effect for some people or even therapeutic, however there are some important elements which are distinguishing between art as therapy (therapeutic art) with art therapy or art therapy. The main difference between a therapeutic art with an art therapy is that art activities has the psychotherapeutic element in it.

Keywords: Art therapy, Coloring for adult, Doodling, Stress relieve, Art expression

Selengkapnya dapat unduh disini

Kalender dalam Sejarah Kebudayaan

Kiriman: I Gede Mugi Raharja ( Dosen Prodi Desain Interior)

Abstrak

Sejak zaman purba telah dilakukan usaha untuk memahami waktu dan gerak waktu oleh para ahli astronomi, ahli astrologi, serta oleh para pemimpin keagamaan. Diketahuilah  bahwa daur astronomi yang menentukan tahun, bulan dan hari, ternyata tidak tergantung satu sama lain dan tidak bersesuaian. Penyempurnaan penyusunan rangkaian hari dan bulan, agar cocok dengan kegiatan keagamaan dalam satu tahun serta musim, terus dilakukan. Kalender bangsa Babilonia lahir pada 2000 SM untuk membantu kegiatan pertanian. Orang Yahudi menetapkan 1 pekan sama dengan 7 hari. Umat Islam menetapkan kalender Kamariah, yang dihitung menurut peredaran bulan. Bangsa Mesir purba memulai tahun barunya setelah muncul bintang Sirius. Suku bangsa Maya menyusun kalender sebagai bagian dari kegiatan keagamaan dan ketepatannya mengalahkan perhitungan orang Eropa. Peradaban Eropa menggunakan kalender bangsa Romawi yang dibuat oleh Julius Caesar dan disebut kalender Julian. Konsep kalender Julian dilengkapi tahun kabisat. Pada 527 Masehi, Dionisius Exiguus, seorang pemuka biara, menetapkan Hari Raya Natal jatuh pada 25 Desember. Kalender tercetak mulai muncul pada abad pertengahan dan sangat diminati masyarakat Eropa, karena diberi dekorasi indah. Pada Oktober 1582 Paus Gregorius XIII melakukan perubahan kalender, dengan memotong tahun yang berjalan 10 hari dan menetapkan Tahun Baru pada 1 Januari. Konsep kalender ini disebut kalender Gregorian.

Kata Kunci: Astronomi, Kamariah, Julian, Kabisat, Gregorian.

Selengkapnya dapat di unduh disini

Urgensi Pendidikan Toleransi Di Indonesia

Kiriman: I Nyoman Payuyasa (Dosen Film danTelevisi)

Abstrak

Berbagai persoalan tengah melanda Indonesia. Riuh dunia politik semakin hari semakin menampilkan sisi kelam. Ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia juga ikut dipertaruhkan. Di media sosial, televisi, dan media cetak wacana tentang rasisme juga mulai bermunculan. Perang intoleran semakin menjadi-jadi. Hal ini menjadi konsumsi warga Indonesia, khususnya remaja Indonesia. Dunia pendidikan sebagai lini dasar kehidupan berbangsa ini juga tak luput dari perhatian. Sekolah sudah sepantasnya kembali menegakkan pendidikan toleransi kepada peserta didik. Pendidikan harus netral dan bukan menjadi lahan tumbuh suburnya rasa intoleran tersebut. Remaja dan anak sekolahan harus mendapatkan pencerahan kembali bahwa segala perbedaan yang melekat pada Indonesia, baik ras, agama, golongan, suku, adat, dan lainnya adalah anugerah indah untuk Indonesia.

Kata kunci : pendidikan, toleransi

Selengkapnya dapat di unduh disini

Tarian Tarian Dari Papua

Kiriman: Alan Gustav Mahuze (Mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar)

Pendahuluan

Papua adalah sebuah provinsi sekaligus pulau yang pernah dikenal dengan sebutan Irian Jaya, dan sejak 2002 Irian Jaya dimekarkan menjadi 2 Provinsi. Bagian timur menjadi Provinsi Papua dan bagian barat menjadi Provinsi Papua Barat. Oleh karena kedua provinsi itu belum terlalu lama membelah diri, maka shareSENBUD putuskan sementara ini bahwa tari-tarian dari dua daerah itu masih digabung di dalam satu posting, dengan judul Tarian tarian yang berasal dari daerah Papua.

Papua memiliki beberapa tari tradisional yang sebenarnya telah dikenal luas, baik terkenal di Indonesia maupun di mancanegara. Namun, tetap saja shareSENBUD posting dengan tujuan untuk membantu mempermudah pelajar yang sedang mencari referensi utamanya, atau siapa saja yang sedang membutuhkan informasi ini.

Selengkapnya dapat di unduh disini

Loading...