M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

“SEKALA NISKALA” KONSEP KESEIMBANGAN HIDUP MASYARAKAT HINDU BALI UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN DALAM KARYA INSTALASI FOTOGRAFI

Kiriman : I Made Saryana (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar) 

Abstrak

Berawal dari membaca sebuah buku tentang pengaruh globalisasi terhadap masyarakat Bali, yang diawali dengan dikembangkannya pariwisata budaya pada tahun 1950-an. Berdirinya hotel pertama bertingkat sepuluh di Sanur oleh presiden Soekarno, menandakan bahwa Bali sudah siap dengan kunjungan wisata dari berbagai belahan dunia. Seiring berjalannya waktu pariwisata Bali semakin berkembang pesat. Bersamaan dengan itu pula prilaku masyarakat Bali kini telah berubah pula. Banyak hal yang paradok terjadi  seperti: dulu masyarakat Bali terkenal ramah, kini banyak yang berubah menjadi pemarah, penipu serta pembohong. Dulu Bali dianggap daerah yang aman dan damai kini justru banyak terjadi pencurian, pembunuhan serta peredaran narkoba. Predikat Bali sebagai sorga terakhir bagi wisatawan, berubah menjadi sorga bagi penjahat. Kini masyarakat Bali cendrung  konsumtif dan konsumerisme. Hal tersebut terjadi karena masyarakat Bali mulai melupakan falsafah hidupnya yang percaya dengan adanya sesuatu yang sekala (kasat mata) dan niskala (maya). Agama Hindu Bali percaya dengan Panca Srada yaitu: Percaya adanya Tuhan, atman, reinkarnasi, karmaphala dan moksa. Untuk mencapai jagatdhita penting sekali adanya keseimbangan antara dua dunia yang sekala dan niskala,dengan menjalin hubungan harmonis antara Tuhan, Manusia dan Alam (Tri Hita Karana). Melihat fenomena seperti ini pencipta mencoba untuk mengingatkan kembali atau berupaya memberikan penyadaran melalui karya seni instalasi fotografi dengan konsep sekala dan niskala, agar falsafah hidup masyarakat Bali tetap melandasi setiap tingkah lakunya dalam menghadapi pengaruh globalisasi.

        Bedasarkan latar belakang di atas, maka permasalahannyaadalah: 1. Bagaimana memvisualisasikan sekala niskala dalam karya instalasi fotografi yang menarik dan kreatif, 2. Bagaimana memanfaatkan medium untuk mengartikulasikan ide yang dapat mencerminkan upaya penyadaran tentang pentingnya memahami sekala niskala yang seimbang untuk kesejahteraan hidup.

Metode yang digunakan dalam memvisualisasikan ide tersebut adalah observasi, eksplorasi, pemotretan, eksperimen, perwujudan dan pameran.

Tujuan dan manfaat penciptaan adalah sebagai media penyadaran, menciptakan karya yang kreatif, meningkatkan proses belajar mengajar, peningkatan kompetensi mahsiswa dan mengembangkan fotografi seni. Penciptaan ini manfaatnya: dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat Bali tentang pentingnya sekala dan niskala, memberikan kepuasan batin bagi pencipta, menambah wawasan pengetahuan mahasiswa serta memberikan sumbangan pengetahuan pada masyarakat Bali.

Kata-kata kunci: Sekala Niskala, Instalasi Fotografi, Keseimbangan dan Kesejahteraan Hidup

Selengkapnya dapat unduh disini

Pengumuman Perbaikan Data Mahasiswa Di jista.isi-dps.ac.id

pengumuman-perbaikan-data-di-jista.isi-dps.ac_.id_

Yth. Seluruh Mahasiswa ISI Denpasar

Menindaklanjuti surat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 331/E.E2/KM/2020 tertanggal 6 April 2020 tentang Bantuan Sarana Pembelajaran Daring kepada
Mahasiswa, bahwa ISI Denpasar merencanakan akan memberikan bantuan sarana pembelajaran daring berupa
subsidi/bantuan paket data internet kepada seluruh mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa aktif pada
Semester Genap 2019/2020 untuk fokus belajar di rumah.
Saat ini Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Kerja Sama (BAKPK) sedang mempersiap
dokumen yang diperlukan untuk mengusulkan subsidi/bantuan paket data internet sesuai kemampuan yang
dimiliki dalam DIPA ISI Denpasar.

EKSISTENSI DRAMATARI WAYANG WONG DESA BUALU KUTA SELATAN BADUNG DALAM ERA GLOBALISASI

Kiriman : I Kt. Suteja (Dosen FSP ISI Denpasar) 

ABSTRAK

            Daerah Bali sebagai salah satu pusat pariwisata Indonesia, komunikasi, dan interaksi internasional sangat rentan dengan pengaruh budaya global yang mengarah pada perubahan pola pikir, prilaku, tata ruang, struktur masyarakat, dan yang lainnya yang bersifat kompetitif. Perubahan secara total pada ekonomi, sosial, budaya, tata ruang, pola hidup, maka diperlukan media berkesenian guna menyadarkan manusia Bali telah dirasuki tatanan baru. Salah satu bentuk kesenian di jaman global ini adalah Wayang Wong Desa Bualu yang masih eksis sampai sekarang. Desa Adat Bualu merupakan daerah pariwisata di Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali yang bergulat dengan persaingan bisnis. Bisnis pariwisata merupakan salah satu bidang yang tidak mungkin membebaskan diri dari perkembangan dan pengaruh format global. Hampir 80% sekaa (kelompok) Wayang Wong Desa Bualu bekerja di sektor pariwisata. Desa Bualu telah dirambah industri pariwisata, kesenjangan berkesenianpun terjadi. Ini bukan memojokan pariwisata sebagai biang kerok dari sikap toleransi berkesenian maupun bermasyarakat. Pariwisata disyukuri dapat menumbuhkan perkembangan perekonomian dan kesejahtraan bagi masyarakat Desa Bualu, namun mereka yang terlibat dalam berkesenian hendaknya mampu menyiasati waktu demi lancarnya pelestarian wayang wong. Solusinya adalah kesepakatan waktu latihan memberi dampak positif  bagi pencapaian tujuan. Dikatakan demikian, karena sampai saat ini semangat mengemban misi pelestarian seni budaya dari leluhur mereka masih kental. Membangkitkan kembali wujud kesenian langka melalui proses revitalisasi yang bertujuan menghidupkan kembali roh Dramatari Wayang Wong Desa Bualu dengan memperhatikan, Konservasi yaitu kemampuan memelihara keberadaan Dramatari Wayang Wong dengan cara mempelajari secara filosofi maupun teknik dengan baik. Adaptasi adalah penyesuaian terhadap situasi perkembangan zaman yang menyebabkan penyesuaian itu dapat berfungsi lebih baik bagi masyarakat. Terakhir, menghidupkan kembali roh Dramatari Wayang Wong ke arah kemajuan atau lebih meningkat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Kata kunci: Eksistensi, globalisasi, Dramatari Wayang Wong.

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...