Gending-gending kekebyaran mewarnai kreativitas penciptaan musik gamelan dewasa ini. Perkembangan penciptaan tersebut tidak bisa lepas dari tonggak era 1915-1960-an. Gamelan gong kebyar yang lahir awal abad 20 tersebut berhasil mendominasi penciptaan musik gamelan dan bahkan mampu “menampung” segala jenis gaya musik gamelan lain yang ada sebelumnya. Bahkan dewasa ini Gong Kebyar mampu “mempengaruhi” ensamble-ensamble lain yang nota bena memiliki chiri chas tersendiri, hingga akhirnya melahirkan gaya “kekebyaran”.
Dalam tulisan ini akan disampaikan kronologis penciptaan musik kekebyaran dalam gamelan Gong Kebyar yang menjadi tonggak-tonggak sejarah penciptaan yang tersebar luas di masyarakat. Adapun tonggak-tonggak tersebut dibagi dalam beberapa era yang memiliki genre dan konsep estetika dipandang dari jenis, bentuk dan gaya musiknya. Dalam penulisan kronologis ini, akan dibahas era atau tahun-tahun penting yang terjadi penciptaan gending kekebyaran yang menumental dan banyak menginspirasi pada penciptaan era berikutnya. Era-era tersebut disamping membicarakan karya-karya menumental, juga disampaikan sekilas tentang seniman penciptanya.
Kiriman : I Nyoman Payuyasa (Program Studi Produksi Film dan Televisi, FSRD ISI Denpasar)
Abstrak
Indonesia memiliki berbagai macam bentuk nilai kearifan lokal yang tersebar di berbagai wilayah. Di tengah perkembangan arus modern ini kearifan lokal adalah salah satu hal yang dapat dipandang sebagai sebuah benteng dari krisis modernitas dan kerusakan alam. Dewasa ini berbagai masalah kerusakan alam seperti perubahan iklim yang tak menentu, polusi udara yang tak bisa terbantahkan, dan pemanasan global tengah terjadi. Fenomena ini kemudian tervisualkan dengan baik dalam sebuah film berjudul “Semesta”. Film ini mengangkat cara-cara positif yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu memelankan dampak perubahan iklim. Film “Semesta” memberikan sebuah potret pembelajaran tentang betapa pentingnya memaksimalkan kearifan lokal, tradisi, dan kepercayaan untuk menjaga lingkungan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dalam film dokumenter “Semesta” terdapat beberapa kearifan lokal, tradisi, dan kepercayaan yang dapat membantu memelankan kerusakan alam dan perubahan iklim seperti kearifan lokal Nyepi di Bali, aturan-aturan tradisi adat di Sungai Utik, Kalimantan Barat, ajaran dan tatanan hidup dari gereja di Nusa Tenggara Timur, tradisi Sasi di Papua Barat, dan penceramahan tentang pelestarian lingkungan dan gajah khususnya di Aceh.
Kiriman : Ni Kadek Dwiyani (Jurusan Televisi dan Film, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar)
Abstrak
Secara umum, pengertian iklan adalah suatu bentuk informasi yang dilakukan oleh seseorang, instansi/ lembaga, atau perusahaan, yang isinya berupa pesan yang menarik tentang sebuah produk atau jasa yang ditujukan kepada khalayak. Adapun media yang digunakan untuk memasarkan iklan adalah media televisi (TV). Iklan televisi mengambil peran penting, dalam Membangun dan mengembangkan citra positif bagi suatu perusahaan dan produk yang dihasilkan sehingga terbentuk opini publik yang positif terhadap perusahaan atau produk tersebut. Iklan TV saat ini telah berkembang secara pesat dalam proses pemasaraanya, dimana selain iklan regular yang biasanya muncul pada jeda program TV, sekarang juga ditayangkan sebagai iklan sisipan saat tayangan program TV sedang berlangsung. RCTI merupakan salah satu stasiun Tv dengan program sinetron “Ikatan Cinta” yang cukup banyak memiliki durasi iklan sisipan, yang akhirnya memiliki dampak yang sangat besar akan keutuhan cerita yang tentunya berpengaruh pada tingkat kepuasan penonton.
Kata kunci: Iklan Sisipan, Program Sinetron Ikatan Cinta, RCTI